The Two Empresses

The Two Empresses
Benda Pusaka



"Sudah lama tidak berjumpa, Uskup Made. Aku ingin meminta tolong padamu," ujar Marchioness Geliza dengan senyum tipis.


"Silakan katakan saja apa yang Marchioness inginkan, akan saya lakukan meski harus mempertaruhkan nyawa saya," ujar Uskup Made riang. Saciel yang penasaran menyejajarkan tingginya agar Uskup Made tidak mendongak terlalu tinggi.


"Anak kecil seperti kamu bisa menjadi uskup? Luar biasa," gumam Saciel. Uskup Made tersinggung dan langsung mencubit pipi Saciel sekeras mungkin. "Aduh!"


"Yang kau panggil anak kecil siapa, hah? Umurku ini lebih tua dari kamu, jadi jangan panggil aku anak kecil," bentak Uskup Made.


"Memangnya berapa umurmu?" tanya Saciel sembari mengelus pipinya yang merah.


"80 tahun," ujar Uskup. Saciel dan Phillip ternganga mendengarnya, mencermati setiap bagian dari Uskup dengan seksama, membuatnya menjadi tidak nyaman. "Bocah, menjauhlah. Kau menjijikan."


"Demi human apa dirimu?" tanya Saciel.


"...aku ini ras manusia," ujar Uskup.


"...eh apa? Kupingku tidak rusak kan?" celetuk Phillip terkejut setengah mati. Para demi human hanya diam dengan wajah lempeng, seakan sudah bosan dengan reaksi itu.


"Bagaimana bisa manusia punya baby face seperti itu?" tanya Saciel heran. Sang uskup menyeringai puas mendengarnya.


"Yah, aku kan utusan dewa, jelas saja aku lebih muda," balasnya pongah. Saciel terdiam, dalam hati mengumpat pada kesombongan Uskup Made.


"Lalu bagaimana bisa manusia ada di sini? Kupikir mereka semua ada di Respher," celetuk Phillip.


"Hah, tidak juga. Beberapa wilayah di Ceshier dihuni manusia dan kami diperlakukan sangat manusiawi dibandingkan di Respher. Kau tahu kebanyakan penyihir dan elf rasis terhadap inferior," ujar Uskup Made santai.


"Aku setuju denganmu, Kakek," ujar Saciel.


"Siapa yang kau panggil 'kakek', bocah tengik?" balas Uskup Made garang. Sebelum terjadi adu mulut berkepanjangan, Marchioness Geliza langsung mengangkat kipasnya dan membuat semuanya senyap.


"Uskup, bisakah kau menemani mereka pergi ke bagian tenggara? Nona penyihir itu ingin mengambil kembali benda pusaka milik keluarganya," tanya Marchioness Geliza lembut. Uskup Made mengerutkan kening mendengarnya.


"Untuk apa kau mengambil benda itu?"


"...aku ingin mengambil alih tahta," ujar Saciel. Uskup Made terenyak dan tertawa keras hingga mengejutkan semua orang.


"Hahaha, duh perutku. Sudah lama aku tidak tertawa sekeras ini. Kau mau mengambil alih tahta? Memangnya kau siapa?" tanya Uskup Made disela tawanya.


"Hanya seorang gadis yang ingin menyelamatkan saudarinya," jawab Saciel dingin. "Aku juga tidak mau tahta, tapi aku tidak bisa membiarkan orang lain menyandera adikku."


"Kau tahu resiko menjadi penguasa bukan? Belum tentu rakyat mencintaimu."


"Selama aku bisa melindungi rakyat meski mereka membenciku, aku tidak peduli," ujarnya tegas. Uskup Made terdiam, lalu menghela napas dan menatap Saciel lekat-lekat.


"Perjalananmu sangatlah sulit. Rintangan terus menaungimu, tapi kau masih sanggup berdiri. Baiklah, aku akan mengantarmu ke sana. Sepertinya kau cukup tangguh untuk itu," ujar Uskup Made. "Berhubung tempatnya tidak jauh, kita bisa berjalan atau berenang."


"Berhati-hatilah," ujar Marchioness Geliza tulus. Mereka segera pergi ke arah tenggara, di mana tempat itu sangat kontras dengan Kota Mizuki. Wilayah kosong namun gersang, bahkan tidak ada terumbu karang satupun. Tempat itu lebih cocok sebagai kuburan karena banyak tulang belulang ikan dan makhluk lain tertancap di pasir. Tidak ada apapun selain pasir dan tulang.


"Kau yakin di sini tempatnya?" tanya Phillip ragu.


"Benar kok, tidak usah takut aku menipumu," balas Uskup Made sembari menghentakkan kakinya. Perlahan sebuah mulut gua berukuran kecil muncul dari balik pasir.


"Wow, keren," puji Saciel. "Apa aku juga bisa melakukannya?"


"Uh, pengap sekali," keluh Kezia.


"Bertahanlah, Nona kecil. Kita hampir sampai," ujar Uskup Made menenangkan. Mereka berjalan hingga sampai di gua besar dengan peti berukuran sedang terbaring di atas meja batu. "Kau punya kuncinya bukan?"


"Eh? Ah," celetuk Saciel sembari merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kunci yang ia dapat di Lumos. "Apa ini yang kau maksud?"


"Memang ada kunci lain? Lucu sekali. Nah pergilah ke sana, kami akan menunggu di sini," ujar Uskup Made.


"Eh? Aku tidak boleh ikut nee?" tanya Kezia.


"Tidak. Sihirnya terlalu kuat, aku ragu meski kau kuat tetap saja bakal terluka. Iya kan, Tu-an Pu-tri," bisik Uskup Made dengan senyum culas. Kezia terdiam dan memberikan lirikan maut, membuat sang uskup mundur perlahan. Saciel segera maju, namun detik berikutnya tubuhnya sudah penuh luka gores.


"Saciel!" panggil Phillip dan Max bersamaan.


"Kenapa juga kau manggil dia?" tanya Max.


"Ada masalah kalau aku memanggilnya?" balas Phillip ketus. Saciel tidak menghiraukan mereka, masih terus menerjang sihir pelindung meski tubuhnya mulai terkoyak sedikit demi sedikit.


"Ugh, sihir ini...milik kakek. Aku harus...agh! Mengambil...benda terkutuk itu," ujar Saciel tersengal. Setelah dirinya lebih dekat dengan peti, Saciel langsung memasukkan kunci dan memutarnya hingga terdengar suara 'klik' dan membukanya dengan cepat. Sebuah cincin berlambang emblem keluarga dengan permata Mata Oorun menghiasi sekeliling emblem terbaring di atas secarik kain beludru hitam.


"Ini...cincinnya?" gumam Saciel sembari meraihnya, namun terhenti ketika ia merasakan aliran listrik menyakitinya. "Pelindung lagi?"


"Kenapa lama sekali?" keluh Nero.


"Sihir pelindungnya masih aktif, jadinya dia tidak bisa mengambil benda pusaka itu," jawab Uskup Made. "Meski dia kuat, aku ragu dia bertahan."


"Nee," panggil Kezia lirih. Saciel terdiam cukup lama, lalu di tangannya terdapat sebuah palu kecil dari listrik.


"Ah? Sejak kapan dia membuatnya?" celetuk Nero. Phillip pucat melihat palu itu.


"Itu...palu listrikku," gumamnya. "Jangan bilang dia mau menghancurkan pelindung dengan benda berbahaya itu," celetuk Phillip


"...apa? Berbahaya? Semuanya berdiri di belakangku!" sahut Uskup Made sembari mengeluarkan tongkat dan menghentakkan di bebatuan, tepat bersamaan dengan Saciel mengayunkan palu itu di atas pelindung. Petir besar menyambar sekitarnya, bahkan menabrak pelindung yang dibuat Uskup Made. Pelindung yang melindungi cincin itu tidak bereaksi sama sekali, membuat Saciel kesal dan melayangkan pukulan lagi.


"Oi, bocah gila! Percuma saja kau menghancurkannya!" sahut Uskup Made. Saciel tersengal dan menjatuhkan palunya, tubuhnya sudah di ambang batas.


"Nee! Nee!" panggil Kezia. Ia berniat menerjang, namun Nero menahannya dan menggelengkan kepala. "Tapi nee..."


"Jangan Kezia, tubuhnya saja sudah seperti itu," ujar Nero. "Kita tidak tahu seberapa berbahaya pelindung itu."


"Tuan Kousuke Arakawa adalah yang terkuat di masa hidupnya. Belum ada yang pernah mengalahkannya," ujar Phillip.


"Tidak, nee bisa mati! Bawa nee pulang!" jerit Kezia.


"Kezia, diamlah sebentar," tegur Max. Matanya masih terpaku pada Saciel yang melemah, namun ia tidak melakukan apa-apa. Dia tahu, jika ia maju sama saja menambah beban untuk gadis itu.


"...sihir kakek...pembatalan...ah?" gumam Saciel. Ia bangkit berdiri dan menorehkan darahnya pada pelindung itu. Perlahan pelindung itu retak dan musnah menjadi butiran cahaya yang terbang tertiup angin. "Heh, dasar sadis. Beruntung aku masih ingat sihir payah itu." Hati-hati diambilnya cincin itu dan mengeceknya kembali.


"Nee! Nee!" panggilnya sembari berlari dan lompat memeluknya. Saciel segera menangkap dan memeluknya dengan erat. "Huwe! Kupikir nee akan terluka lagi."


"Ahaha, tidak juga. Phillip, bersiaplah. Kita akan pulang sekarang juga," ujar Saciel tenang.