
Seminggu setelah Festival Matahari Merah
Hujan deras mengguyur seluruh kota. Orang-orang memilih melakukan sihir teleportasi, tapi tidak dengan Saciel. Ia berjalan dibawah hujan deras hanya bermodalkan payung di tangannya. Pikiran dan hatinya kosong, tak ingin meninggalkan mansion dan juga Kezia. Masih segar di pikirannya Kezia yang merengek memintanya di rumah.
"Apa sebaiknya aku pulang saja? Ah, tidak. Aku tak mau dengar omelan Erika. Pekerjaan hari ini lumayan banyak, ditambah lagi Yorktown sialan itu menambah perkara pula," omelnya. Ia tetap berjalan hingga tiba di gedung pusat.
"Hei, kudengar ada demi human lagi yang masuk ke wilayah kita."
"Benarkah? Di mana?" balas si resepsionis. Saciel yang berniat melewati langsung berhenti dan berpaling kepada dua resepsionis yang asyik bergosip.
"Di mana?" celetuk Saciel. Keduanya tersentak dan terdiam. "Hei, kalian tuli?"
"Tidak, Nona. Hanya saja...itu..."
"Aku tidak menghukummu, oke? Katakan saja di mana kau lihat demi human?"
"Di...dia ada di desa manusia," cicit si resepsionis bermuka tikus.
"Desa manusia? Bukannya itu memakan waktu sehari dari sini?" tanya Saciel sembari mengerutkan kening.
"S...saudara saya ada yang murni manusia. Dia bilang...seorang pemuda demi human sekarat di tepi sungai, berbatasan dengan Hutan Suci," bisiknya.
"Sekarat? Apa mungkin..." kalimatnya terhenti begitu melihat Tetua Yorktown berjalan memasuki gedung. Sorot matanya yang dingin membuat kedua resepsionis ketakutan, namun pandangannya terarah pada sang penyihir yang membalas dengan tak kalah dingin.
"Apa lukamu membaik?" tanyanya setengah menyindir. Saciel terkikik dan mengulum senyum licik.
"Sangat baik~ ahli medis terbaik di kerajaan ini ada di bawah kekuasaanku."
"Jadi Claudia masih hidup sampai sekarang? Hmph, padahal hidupnya akan jauh lebih makmur jika bekerja..."
"Jika bekerja pada keluarga kerajaan, begitu? Halo~ tidak ada lagi keluarga kerajaan yang masih hidup setelah perang kemarin bodoh. Kau tidak ingat mereka mati karena racun?" cemoohnya.
"Tapi kerajaan ini sekarang dipegang oleh 7 Eternal Wizards, yang menjadi representasi dari keluarga kerajaan," balas Yorktown tak kalah pedas.
"Tapi Bibi tidak bahagia di bawah kekuasaan kalian. Dia lebih bahagia dan sehat sebagai bagian dari keluarga Arakawa."
"Keluarga cacat," makinya. Hawa dingin tiba-tiba keluar dari diri Saciel. Wajahnya datar, namun sorot mata penuh kebencian tersirat jelas. Beberapa orang yang lalu lalang mundur perlahan, takut akan dua orang berkuasa yang tengah larut dalam perang dingin.
"Cacat ya? Keluarga cacat ini padahal lebih kuat dibanding kalian yang hanya bisa merapal mantra api untuk menyalakan tungku."
"Mulutmu benar-benar kurang dididik ya?" tanya Tetua Yorktown.
"Yah, soalnya tidak ada yang mengajari mulut tak berpendidikan ini," pancing Saciel.
"Lancang!" sahut Tetua Yorktown sembari melemparkan panah petir ke arah Saciel, namun dengan cepat sang penyihir itu membuat perisai. Gadis itu tertawa keras, tawa mengejek yang mampu memanaskan suasana. Beberapa penjaga bersiaga di sekeliling mereka.
"Perempuan tidak tahu tata krama! Kau benar-benar berbanding terbalik dengan Pendeta Agung."
"Hm? Maksudmu adik kecilku yang kau rampas puluhan tahun yang lalu? Kau memanggilnya apa? Pendeta Agung? Otakmu rusak?" ujar Saciel setengah mengompori. "Memangnya Dewa Oorun itu ada?"
"Kau gila! Perempuan sepertimu bukanlah keturunan Arakawa!"
"Yah, sayangnya seberapa keras usahamu untuk menolak, aku tetaplah gadis bangsawan keluarga Arakawa. Yang terkuat diantara lainnya. Kau bisa lihat bagaimana aku menangkis semua seranganmu."
"Sombong untuk bocah sepertimu," balas Tetua Yorktown. Sebelum Saciel melancarkan kata beracunnya, Parvati muncul bersama seorang butler bertampang datar.
"Kita adalah penyihir beradab, jadi bisakah tidak menimbulkan kekacauan di gedung ini?" tanya Parvati sembari memberikan hormat, bersamaan dengan butler yang ada di sampingnya. Saciel hanya melirik dan menegakkan tubuhnya kembali.
"Apa yang dilakukan kepala maid dan butler kerajaan di sini?" sindir Tetua Yorktown.
"Kami kebetulan hanya mampir mengantarkan tamu penting dari Kota Solus," balas Parvati santai.
"Kebetulan kau di sini Parvati. Aku butuh akses untuk mengambil berkas penting di perpustakaan kerajaan. Kode naga merah," ujar Saciel.
"Apa kau berniat kabur?" ujar Tetua Yorktown mengompori. Yang disindir hanya mengangkat bahu.
"Jika demikian biarkan Steven mengantar Nona untuk mengakses perpustakaan."
"Baguslah. Oh iya, pertarungan ini bisa dilanjut nanti siang. Jika encok Anda tidak kambuh," sindir Saciel dengan senyum culasnya.
"Kau..."
"Tetua Yorktown," tegur Steven pelan, tiba-tiba berdiri di samping Tetua Yorktown, "sebaiknya Anda tidak melanjutkan pertarungan ini. Kesehatan Anda adalah yang utama."
"...kau benar. Sungguh memalukan bertarung dengan wanita muda sepertinya," ujar Tetua Yorktown. Saciel hanya diam, pikirannya sedikit terpecah dengan berdirinya Steven di samping Tetua Yorktown.
'Yah, memang semua yang ada di Careol adalah penyihir. Tapi entah kenapa, aura orang ini berbeda. Bahkan Parvati,' pikirnya.
"Nona Arakawa, mari ikuti saya," celetuk Steven. Saciel mengangguk dan berjalan mengikuti Steven layaknya anak ayam yang mengikuti induknya.
Sementara itu di kediaman Arakawa, terlihat Kezia memeluk bonekanya dan berguling di lantai berkali-kali. Matanya merah dan sembab, bibirnya mengerucut, ekornya meyusut dan telinganya turun. Phillip dan Bibi yang melihatnya bingung untuk membuat si gadis serigala kecil ceria lagi.
"Aku mau nee!" jeritnya.
"Saciel masih kerja, Kezia. Ayo sini, kuberikan makanan manis jika kau tersenyum," bujuk Phillip.
"Tidak mau! Wahhhh!" tangisnya keras. Phillip segera menggendongnya dan mengayun pelan.
"Hiks, mana nee ku?"
"Uh? kelinci?" tanyanya, ekornya bergoyang cepat. Mukanya mulai cerah dan matanya berbinar.
"Iya, macaroon kelinci," goda Bibi.
"Uh! Aku mau!" balasnya riang. "Mau yang imut!"
"Anak pintar," ujar Phillip sembari menurunkan Kezia perlahan agar dia tidak menangis lagi. Bibi menyodorkan sepiring macaroon berbentuk kelinci kepada Kezia.
"Wah~ ini punyaku semua?" tanya Kezia.
"Iya, ini punya Nona Kezia semua."
"Ihi!" celetuknya. Ia mengambil piring itu dan memakan satu. Ekornya kembali bergoyang dengan cepat dan telinganya tegak. "Enak! Manis dan lembut!"
"Syukurlah Nona suka dengan macaroonnya," celetuk Bibi tenang. Kezia mengangguk dan duduk di sofa, mengunyah dan menikmati macaroon miliknya. "Saya membuatkan sandwich daging asap untuk Tuan Muda. Apa mau ditemani dengan secangkir kopi?"
"Oh, itu tawaran menarik, tentu saja aku mau," balas Phillip. Bibi segera pergi ke dapur, sementara Phillip duduk dan membuka lembaran koran yang ia dapat. "Ah?"
"Ada apa nii?" tanya Kezia.
"Ada demi human yang terdampar di desa manusia."
"Mungkinkah itu kakakku?!" tanya Kezia setengah menjerit.
"Aku tidak tau. Belum bisa dipastikan karena tidak ada penjaga di sana, mungkin kita bisa pergi melihatnya," balas Phillip. "Sihir teleportasi untuk ke sana akan berbahaya, mengingat desa manusia agak sedikit takut dengan penyihir. Pilihan kita hanya dengan menggunakan kereta."
"Ayo ke sana! Ayo! Ayo!" ajaknya sembari menarik lengan baju Phillip. Pria muda itu menahan Kezia dan menggeleng.
"Kita tidak bisa gegabah, Manis. Tunggulah Saciel sebentar. Jangan sampai penyihir di kota ini tahu kamu adalah seorang demi human," ujar Phillip.
"Hiks, uhh," isak Kezia. Tiba-tiba pintu depan terbuka dengan cukup keras dan Saciel masuk sembari setengah berlari.
"Phillip, Kezia. Apa...kurasa kau sudah dengar beritanya ya?"
"Baru saja aku membuka koran. Jadi apa ada perkembangan mengenai demi human itu?" tanya Phillip.
"Umm saat ini belum ada. Pihak kerajaan berencana untuk mengirim penjaga untuk memastikannya. Tapi kau tahulah, Erika tidak akan tinggal diam akan berita ini."
"Lalu bagaimana? Kita tidak mungkin...ke sana kan?" Phillip membalas.
"Mustahil. Penjagaan ketat sekali di stasiun. Aku baru saja dari sana," ujar Saciel.
"Nee, aku mau pergi," isak Kezia. Saciel segera merengkuh dan menepuk pelan punggung gadis serigala kecil itu.
"Iya sayang, sabar ya. Nanti nee cari tahu jalan keluarnya."
"Bagaimana dengan sihir teleportasi?" celetuk Phillip.
"Bisa saja, tapi kita harus melakukan di luar batas desa. Tapi aku yakin penjaga sudah berada di sana," ujar Saciel. "Dan aku tidak mungkin membiarkan mereka melihat Kezia."
"Nee! Aku mau pergi!" jerit Kezia.
"Sayang, sebentar ya? Nee..." kalimatnya terputus saat ada seseorang yang mengetuk pintu. "Bawa dia ke kamarnya. Sekarang!"
Phillip segera menggendong Kezia dan berlari naik ke lantai dua, sementara Saciel bergegas membuka pintu dan mendapati Parvati berdiri di sana dengan senyum ramahnya.
"Selamat siang, Nona Arakawa. Kuharap kedatanganku tidak mengganggu Anda."
"O-oh tidak sama sekali. Masuklah, di luar terlalu dingin untuk mengobrol," ujar Saciel sembari mempersilakan sang maid masuk dan menutup pintu.
"Jadi, ada keperluan apa hingga jauh-jauh datang kemari?" tanya Saciel setelah Parvati duduk.
"Ini mengenai rumor yang sedang beredar. Saya ingin Nona bergegas pergi ke desa manusia untuk menemui demi human tersebut," ujar Parvati. Saciel terkejut, namun ia hanya terdiam sejenak.
"Apa maksudmu?"
"Nona, saya tahu persis Nona tidak suka dengan perang. Maka dari itu, akan sangat bijak jika saya meminta Anda untuk pergi ke sana dibandingkan mengutus para tetua. Terlebih, saya bisa merasakan aura demi human di sini," ujar Parvati. Saciel tegang, tangannya mulai mengeluarkan petir.
"Maid keluarga kerajaan memang beda. Bahkan aura demi human bisa terasa olehmu," ujar Saciel kaku.
"Nona, saya tidak ada niat untuk melaporkan demi human itu kepada para tetua. Malah, saya membantu Anda untuk bisa menyelamatkan demi human yang lain."
Saciel terdiam, perlahan petir yang menyelimuti tangannya memudar. Ia hanya menghela napas dan menatap Parvati lekat-lekat.
"Kau tau apa yang kau lakukan merupakan kejahatan terbesar di sini?"
"Itu berlaku untuk Anda juga, Nona. Kita sama-sama ada di situasi berbahaya, termasuk Steven. Jika Anda menerima tawaran saya untuk pergi, saya akan mencoba menahan penjaga untuk tidak pergi," ujar Parvati.
"Berapa lama?"
"Sekitar dua jam. Terlalu lama hanya beresiko mengundang kecurigaan para tetua."
"Itu lebih dari cukup. Sebaiknya aku segera bersiap untuk pergi. Terima kasih atas bantuannya," ujar Saciel rileks.
"Tidak perlu berterima kasih Nona. Ini belum apa-apa. Badai masih berlanjut, jadi saya harap Anda berhati-hati."