The Two Empresses

The Two Empresses
Luka Lama



"Jadi...apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Phillip hati-hati. "Di luar masih ada pasukan orang itu kan?"


"Kau benar, akan berbahaya jika kita salah langkah. Tapi kita juga tidak bisa diam di sini," balas Saciel.


"Nee, apa yang akan kita lakukan?" tanya Kezia sembari memeluk ekornya.


"Kenapa kita tidak membunuh pasukan mereka saja?" tanya Max dingin. "Ah, kutukannya."


"Kau bisa jadi buronan di benua ini," ujar Phillip.


"Bodoh, mereka memang buronan di benua ini," koreksi Saciel. "Daripada memusingkan pasukan, lebih baik obati lukamu dan bersembunyilah. Aku yang akan mengurus mereka."


"Baiklah~ terima kasih penyihir cengeng," sindir Max. Saciel hanya bisa mengepalkan tangan dan berdecih.


"Nii, kau kenal dengan Saciel nee?" tanya Kezia.


"Oh, kami pernah berjumpa di medan perang, Kezia," ujar Max.


"Aku tidak bisa memaafkanmu, setan!" maki Saciel. Max hanya mengangkat bahu dan berjalan menuju bagian dalam hutan, diikuti Kezia dan Phillip. Saciel mengelus Comet yang kini menjadi patung kristal dengan tatapan dingin.


"Terima kasih atas kebodohanmu, Comet. Dan juga apa yang pernah kau buat dalam hidupku," bisik Saciel. Ia bergegas meninggalkan hutan dan mendapati pasukan tengah bersantai tanpa beban sedikit pun. Pasukan itu terkejut dan segera bersiaga untuk menyerang.


"Kalian yakin akan menyerang di tempat suci ini?" tanya Saciel. Beberapa orang mulai goyah, diliputi ketakutan dan kecemasan.


"Dimana Tuan Muda Comet?" tanya salah satu prajurit.


"Dia baru saja kena kutukan," balas Saciel tenang. Semua prajurit terkejut dan bersiap menyerang lagi, namun Saciel tetap tenang dengan senyum tipis.


"Apa yang bisa menjadi bukti bahwa Tuan Muda Comet terkena kutukan?" tanya kepala pasukan.


"Kau bisa masuk ke dalam dan melihat sendiri."


"Kami tidak mungkin masuk tanpa berkat dari Pendeta Agung!"


"Dan bagaimana bisa orang seperti Anda tidak dikutuk sama sekali?!"


"Kau meremehkan diriku, pasukan lemah? Tolong pastikan tata kramamu, aku masih merupakan bangsawan dan juga anggota 7 Eternal Wizards," ujar Saciel pongah. Mereka terdiam sejenak, lalu mundur dan meninggalkan Saciel begitu saja.


"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja?" celetuk Saciel. Tangannya mengeluarkan panah cahaya dan mengarahkannya pada pasukan. "Lupakan kejadian hari ini tuan-tuan."


Beberapa anak panah berkilau mengenai kepala para prajurit dan membuat mereka bengong beberapa detik. Setelah tersadar mereka kebingungan, bertanya satu sama lain untuk mencari tahu apa yang mereka lakukan di situ.


"Misi selesai, ehe. Nah, sekarang pertanyaannya bagaimana kami kembali ke Careol dengan dua demi human?" gumam Saciel. Ia kembali masuk ke dalam hutan, namun langkahnya terhenti. Telinganya mendengar suara rintihan hewan, is mulai bergerak mencarinya. Matanya terpaku pada sesosok bayi naga yang terjebak di semak berduri. Tubuhnya berkilau seperti permata, matanya tajam dan bersinar layaknya mata kucing, duri-duri kristal memenuhi punggungnya.


"Astaga, mereka benar-benar ada? Imutnya~" celetuk Saciel. Ia menarik bayi naga itu dari semak-semak dan memeluknya.


"Bagaimana bisa kau terjebak di situ, bayi naga? Uhh kuharap aku bisa memeliharamu, tapi tidak baik memisahkanmu dari mamamu," ujarnya sembari berjalan. Langkahnya terhenti begitu sosok besar Max menghadangnya.


"Selamat siang, Tuan Putri~ Kau terlihat senang. Hm? Benda apa yang kau bawa itu?" tanyanya dengan sorot mata dingin.


"Bukan urusanmu. Minggirlah, kau membuatku muak," balas Saciel dingin.


"Astaga, sebesar itukah rasa bencimu padaku?"


"Kau sadar posisimu dimana?" tanya Saciel setengah menggeram.


"Aku? Posisiku selalu berada di atas, lebih tinggi darimu Tuan Putri. Lagipula, tidak ada yang salah dengan membunuh mereka."


PLAK!!


"********! Seharusnya kau yang mati di medan perang! Kau biadab! Iblis! Keparat!"


Max mengelus pipinya yang merah akibat tamparan sang penyihir dan menyeringai. Ia menggenggam pergelangannya dan memojokkannya pada pohon besar.


"Kau benar-benar menarik. Sorot matamu...tidak seperti pembunuh. Lembut dan penuh belas kasih. Meski begitu, dendam dan amarahmu terlihat berkilat meski sekilas."


"Lepaskan aku!"


"Oh, tapi sebenarnya aku penasaran, kau ini apa?" tanya Max tanpa mengendorkan cengkeramannya. "Aku ingat kau memiliki tato menarik di wajahmu."


"Hmph, mungkin. Kau bukan dari klan itu," celetuk Max.


"Aku tidak mengerti dengan omong kosongmu," cibir Saciel.


"Kau tidak perlu tahu," balasnya sembari melepaskan gadis itu dengan hentakan yang cukup kasar hingga membuatnya terjatuh.


"Aww! Kasar sekali!"


"Bukan urusanku. Lagipula aku tidak sudi bertingkah ramah pada musuhku."


"Nii! Nee! Apa yang kalian lakukan?" tanya Kezia sembari muncul dari balik pohon. Matanya terpaku pada bayi naga yang ada di pelukan Saciel. "Imut! Berikan padaku!"


"Tidak boleh. Aku mau mengembalikannya," ujar Saciel.


"Mau peluk!"


"Tidak."


"Huwe!!!!" tangis Kezia. Saciel bergegas memberi bayi naga itu ke pelukan gadis serigala kecil itu. "Uhh~ punyaku."


"Ya ampun, kau tidak boleh membawanya pulang oke?" ujar Saciel. Kezia hanya mengangguk dan menggosokkan pipinya pada bayi naga.


"Heh, kau lemah pada tangisan adikku?" sindir Max. Yang disindir hanya melengos dan berjalan cepat, disusul Kezia yang asyik bermain dengan bayi naga. "Oi, kau tuli?"


"Oh diamlah, brengsek. Kau ini cerewet sekali," balas Saciel pedas. Max tersentak dan menarik belati dari balik jubahnya.


"Nii! Jangan!" teriak Kezia.


"Diamlah sebentar, Kezia. Aku perlu memberinya pelajaran untuk mulutnya yang kasar," potong Max. Saciel hanya tersenyum dan menarik sebilah pisau dari pinggangnya.


"Tidak masalah, asal dendamku terbalaskan," balas Saciel.


"Woah, bisakah kita tidak berkelahi di sini? Kau mau dikutuk seperti Comet?" tanya Phillip sembari mencoba menengahi. "Kau mau menyerang orang lemah seperti dia?"


"Aku tidak lemah, cacing. Kau...ugh!" desisnya. Ia jatuh berlutut dan memegangi perutnya yang terluka. Perlahan darah merembes dari balik perban.


"Ah~ lukanya terbuka lagi," sindir Saciel senang. Max hanya bisa mendelik, namun tak berdaya bahkan sekedar untuk berdiri. "Perlu bantuan, Tuan Muda?"


"Heh, ****** sepertimu?" balas Max.


"Nii, cukup!" gertak Kezia sembari memukul kepala Max cukup keras. "Jangan buat masalah!"


"Hei, kau membelanya? Kau ini adikku apa bukan?" balas Max.


"Nii~" geram Kezia. Max sedikit pucat dan menunduk, tak berani menatap adiknya yang marah.


"Oh baiklah, biar kuobati," ujar Saciel lirih. Ia mengarahkan tangannya dan menyelimuti Max dengan cahaya putih lembut. Luka menganga di perutnya perlahan menutup, darah yang membasahi perban perlahan kembali ke dalam tubuhnya.


"Hmph, aku tidak butuh bantuanmu," celetuk Max.


"Terima kasih kembali," balas Saciel santai. Ia menarik tangannya kembali dan melihat ke sebuah gunung tak jauh dari hutan. "Sebaiknya kita bermalam di sana."


"Serius?" tanya Phillip.


"Kita tidak ada pilihan, oke? Kecuali jika kita menemukan tempat yang cocok untuk mereka," balasnya sembari memandangi Kezia dan Max.


"Apa nee tidak bisa mengantar kami ke perbatasan?" tanya Kezia.


"Akan sulit mencapai ke sana, penjaga pasti akan bersiaga untuk memastikan tidak akan membiarkan kalian lolos begitu saja," ujar Saciel. Mereka menghela napas panjang dan duduk, mencoba menenangkan diri.


"Uhh bayi naga imut, biarkan aku memeliharamu," ujar Kezia.


"Hei, sudah kubilang untuk tidak memeliharanya. Lebih baik kita segera mengembalikannya ke..." kalimatnya terputus begitu seekor naga besar mirip dengan bayi naga mendarat tepat di tengah mereka. Matanya berkilat marah, memandangi Kezia yang masih memeluk bayi naga.


"Oh sial."