
"Resonansi...melalui sulur?" tanya Julian penasaran. Jegudiel mengangguk.
"Pastikan ada ujung sulur yang menempel di tanah Avant Heim," balas Jegudiel. "Sisanya biar Avant Heim yang urus."
"Wow, sistem yang menarik. Kalian memilih penguasa berdasarkan kecocokan dengan Avant Heim," gumam Phillip.
"Karena tidak semua dewa bisa mengendalikan Avant Heim, bahkan Oorun sekalipun," celetuk Jegudiel.
"Sial, dia dengar?"
"Suaramu cukup keras, Marquess Arlestine," ujar Jegudiel santai. Julian meletakkan ujung sulur yang ia pegang pada tanah yang ia pijak dan menatap para lelaki yang memasang dinding tak terlihat, membuat Ilmol sedikit tak nyaman.
"Marquess, kau pulang saja. Kurasa tugasmu di sini sudah selesai," ujar Julian.
"Mauku juga begitu, tapi setelah membuat petir sebesar itu aku kehabisan mana," balas Phillip sembari menggaruk belakang kepalanya.
"Biar kubantu," ujar Ilmol sembari maju dan mengulum senyum. Ia mengarahkan energinya pada Phillip dan memindahkannya dengan teleportasi.
"Wah, penyihir memang enak ya? Bisa berpindah tempat secepat itu," puji Jegudiel, setengah menyindir.
"...kau ada masalah dengan penyihir?" tanya Ilmol dingin.
"Tidak, tidak. Aku hanya bercanda, jangan diambil hati," ujar Jegudiel cepat, raut wajahnya mulai terlihat ketakutan. Julian tidak ambil pusing dan mengedarkan pandangan pada beberapa flügel yang masih bertahan dalam kristal.
"Mereka tidak akan keluar meski kau menatap mereka secara intens, Julian," celetuk Jegudiel.
"Iya, aku tahu. Oh iya, sebaiknya kita bereskan pekerjaan di sini dan kembali ke rumah," jawab Julian.
"Pulang? Perang belum berakhir, kawan. Kau yakin bisa sesantai itu?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Lagipula aku merindukan ratuku, dia pasti kesepian," balasnya.
"Memangnya ratu peduli padamu?" seloroh Ilmol. Julian cengengesan dan berpaling pada Ilmol.
"Jangan gitu, dong. Harusnya kamu mendukungku, bukannya malah menjatuhkanku," bujuk Julian. Ilmol menghela napas dan menepuk pundaknya.
"Percuma, Julian. Lupakan ratu, dia sudah ada yang lebih cocok untuknya. Ayo bereskan dan kita pulang."
...****************...
Saciel tengah kerepotan mengurus dokumen dan prajurit ketika mereka kembali. Phillip sampai turun tangan untuk menyambut mereka dengan wajah lelah yang tidak bisa ia tutupi.
"Halo, maaf membuat kalian menunggu. Saat ini Yang Mulia sedang tidak bisa diganggu, jadi kalian bisa menyampaikan laporannya padaku," ujarnya kalem. Julian dan Ilmol hanya saling pandang.
"Kurasa akan lebih baik jika Yang Mulia langsung mendengarnya, tapi karena masih dalam situasi kacau begini baiklah. Jadi..."
"Ah, kalian sudah kembali?" sapa Saciel sembari berjalan mendekat dan mengulum senyum. Mereka langsung memberi hormat padanya."Bagaimana Avant Heim?"
"Kondisi mereka cukup stabil, Yang Mulia. Saat ini mereka tengah sibuk mencari pengganti Ex Machina untuk mempertahankan negara," lapor Ilmol. Saciel mengangguk.
"Terima kasih untuk kerja keras kalian. Beristirahatlah," titahnya.
"Bagaimana dengan Yang Mulia sendiri? Anda terlihat pucat dan kelelahan," tanya Julian. Saciel menyentuh wajahnya dan tertawa kecil.
"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Pulang dan istirahat, kau juga Phillip," ujarnya.
"Saya tidak mungkin meninggalkan Anda, Yang Mulia. Setidaknya sampai pekerjaan Anda beres," tolak Phillip.
"Aku hargai niatmu, Julian. Tapi kau sudah menghabiskan banyak tenaga di Avant Heim. Mana mungkin aku menyuruhmu bekerja keras sampai kau mati kelelahan?"
"Biasanya gadis yang kukenal suka menindas orang sepertiku," godanya. Saciel tertawa kecil.
"...baiklah, kau boleh membantu. Kemarilah," ujarnya sembari berjalan masuk ke dalam ruangan dan memamerkan tumpukan bahan pangan yang masih berantakan.
"Kau bereskan ini dan bantu para prajurit untuk memindahkannya ke berbagai wilayah yang terkena teror Vatra dan kroninya. Bisa kan?"
"Apapun bisa saya lakukan untuk Yang Mulia," ujarnya sombong. Saciel mengangguk dan meninggalkan pria itu begitu saja. Senyumnya langsung hilang.
"Ah, lagi-lagi begitu. Yah, sudahlah. Aku harus segera menyelesaikan tempat ini dan istirahat," bisiknya.
Saciel berjalan cepat meninggalkan istana dan berdiri di tengah taman dengan Lao yang sudah menunggu cukup lama di bawah matahari terik.
"Maaf aku terlambat," ujarnya lirih.
"Tidak apa, Yang Mulia. Apa Anda yakin tidak ingin rehat sejenak? Wajah Anda pucat sekali," balas Lao cemas. Saciel menggelengkan kepala.
"Tidak, aku baik-baik saja. Waktu kita tidak banyak, Lao. Sudah kau temukan posisi si keparat itu?"
"Ya, Yang Mulia. Pegang tanganku, kita akan menemuinya," ujar Lao. Saciel menggenggam tangannya seerat mungkin dan keduanya menghilang dalam sekejap, lalu mendarat di sebuah wilayah suram dengan tanaman mati dan sulur yang terlihat seperti ular. Sang ratu muda mengernyit.
"Tempat apaan ini?"
"Tempat dimana kematian akan selalu kau ingat, Nona Arakawa. Ah, seharusnya aku memanggilmu Yang Mulia, bukan?" balas Vatra. Mereka berbalik dan memasang kuda-kuda ketika sang dalang berjalan mendekat dengan sebilah pedang di tangannya. Senyum sinis terpampang di wajahnya.
"Tidak usah tegang begitu, bocah. Aku belum ada niat membunuh kalian sekarang," ujarnya. "Tapi sepertinya kalian datang di saat yang tidak tepat."
"Aku menantangmu berduel, Vatra," sahut Saciel. Lao dan Vatra terkejut mendengarnya.
"Hah? Apa?! Kau gila?" maki Lao, sementara Vatra terkikik mendengarnya.
"Kau mengajakku berduel? Apa otakmu sudah rusak akibat festival ini?"
"Kurasa yang rusak itu kau, membunuh orang-orang tak berdosa tanpa rasa bersalah sedikit pun," balas Saciel dingin. Vatra memainkan pedangnya dengan tenang.
"Tawaran yang menarik, Nona. Hanya saja melawanmu tidak akan memuaskanku. Kurasa sebuah tim kecil akan memeriahkan duel ini."
"Lawanmu cukup aku saja," balasnya.
"Ah, tidak tidak. Pemainnya kurang banyak," Vatra menolak. "Masih ada yang harus kau bawa untuk menantangku."
"Jangan seret orang lain ke dalam urusan kita!"
"Jangan membentakku, bocah. Apa kau lupa aku bisa saja langsung menebasmu tanpa ampun?" ancamnya sembari berdiri di depannya dengan pedang siap memotong lehernya kapan saja dengan tatapan dingin. Lao berniat untuk maju, namun Saciel membuat gerakan untuk tetap di tempat. Vatra mengulum senyum.
"Kau cukup pintar untuk bertahan hidup, ya?" pujinya.
"...aku tidak berniat mati sia-sia sebelum membunuhmu."
"Semangat yang bagus. Akan kutunggu saat itu, di mana kita semua mengakhiri permainan ini dengan nyawa kita. Kuharap permainannya akan seru," ujar Vatra kalem. Saciel hanya mendengus, lalu mendorong pedang itu menjauh dari lehernya.
"Ingat saja, Vatra. Kematianmu akan menjadi sejarah terkelam di Eurashia."