
"Tidak bisakah kalian tinggal sejenak untuk menemani wanita tua dan renta ini?" tanya si wanita setengah menggoda. Saciel mengulum senyum dan menepuk tangan berkerut miliknya dengan lembut.
"Kami harus pergi untuk menyelesaikan urusan. Setelah semuanya berakhir, aku pasti akan berkunjung lagi," ujarnya. Wanita itu mengangguk, tanpa ia sadari setetes air mata jatuh. Ia segera menghapus jejak air mata dan menyunggingkan senyum lebar untuk membuatnya lega. "Terima kasih atas kebaikannya."
"Pergilah. Semoga apa yang kau cari dapat ditemukan," ujarnya lembut. Saciel mengangguk dan meninggalkan rumah itu, disusul oleh Phillip dan 3 demi human bersaudara. Langkah mereka terhenti ketika kembali ke ladang teh dengan cepat, seakan-akan mereka dipindahkan ke tempat itu. Ketika mereka berbalik, rumah yang tadinya terlihat kini menghilang bagai ditelan bumi.
"...kita tadi minum teh kan?" tanya Phillip gemetar. Yang lain mengangguk, ketakutan dengan kejadian itu. Saciel menggenggam kunci itu kuat-kuat dan menghela napas.
"Ayo jalan. Terlalu lama di sini hanya akan membuang waktu. Tujuan kita sepertinya cukup jauh," ujar Saciel. Nero merampas peta dengan cepat dan telinganya bergerak cepat.
"Oh? Setelah ini kita akan sampai di tempat yang sangat berbahaya. Hei penyihir, kau pernah dengar tentang siren?" tanya Nero.
"Siren? Bukannya yang mirip putri duyung itu?" celetuk Phillip.
"Mirip sih iya, tapi banyak perbedaanya. Mereka tidak secantik putri duyung, namun suara mereka adalah senjata mematikan bagi pelaut dan nelayan. Kau bisa saja terhipnotis hanya dengan mendengar mereka bernyanyi," papar Max.
"Bagaimana bisa mematikan?" tanya Saciel.
"Mereka...suka makan daging kami demi human dan makhluk lainnya," cicit Kezia. Saciel dan Phillip terdiam, membuat Max sedikit senang dengan reaksi itu.
"Kenapa, takut?" goda Max.
"Ngapain takut? Mereka hanya lawan yang mudah," balas Saciel kesal. Max hanya mengerucutkan bibir dan berjalan cepat, disusul dengan yang lain dengan langkah secepat yang mereka bisa. Mereka berjalan menyusuri lembah dan sampai di bibir pantai yang suram dan kotor dipenuhi tulang belulang dan daging busuk. Para demi human langsung menutup rapat-rapat hidungnya, sementara para penyihir hanya bisa mengernyitkan kening.
"Sepertinya di sini adalah sarang mereka," celetuk Saciel. Ia tahu betapa tersiksanya Kezia dan saudara-saudaranya akibat aroma busuk yang menguar, ia bahkan bisa saja memuntahkan isi perutnya. Namun ia menahan diri agar tidak menambah runyam keadaan yang sudah parah. Ia melihat beberapa kepala muncul di permukaan air dengan tatapan penasaran sekaligus polos.
"Apa itu siren?" tanya Saciel.
"Sepertinya begitu. Siren dan putri duyung tidak pernah berada dalam satu wilayah. Jangan sampai tertipu oleh penampilan polosnya. Kita tidak tau kapan mereka memamerkan taringnya," balas Nero tersendat. Phillip melambaikan tangan dan menunjuk sebuah perahu usang dan terbengkalai di balik batu besar. Ukuran perahu itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung mereka. Phillip dengan cepat memperbaiki perahu itu dengan sihir, lalu mengisyaratkan yang lain untuk masuk ke dalam perahu. Setelah semuanya naik, Phillip mendorong sedikit perahunya melompat masuk, lalu mengetuk perahu agar membuatnya bergerak ke tengah.
"Tujuan kita selanjutnya adalah Kota Mizuki. Tempatnya berada di dasar laut," ujar Nero.
"Dasar laut? Tapi kenapa peta menunjukkan sebuah pulau?" tanya Saciel.
"Karena jalan masuknya ada di pulau tak berpenghuni, jadi mempermudah kami makhluk darat untuk menyapa kawan-kawan kami di bawah laut," celetuk Max. "Sst, diam."
Semuanya terdiam saat suara merdu mengalun lembut di tengah lautan luas. Kezia mengedarkan pandangan dan mendapati seekor siren tengah menyanyi di atas batu karang. Ekornya yang mengkilap keperakan sesekali bergoyang dan mencipratkan air.
"Merepotkan," gumam Saciel lirih. Ia menjentikkan jemarinya di balik perahu dan menutup indra pendengaran semua penumpang.
"Jangan ada yang bicara. Kalian belum mau mati kan?" ujar Saciel melalui telepati.
"Hah! penyihir lacur ini pintar juga," balas Max.
"Sekali lagi kau panggil aku lacur, siap-siap saja jadi umpan siren," balas Saciel geram. Mereka tidak menyadari beberapa tangan mulai merambat di belakang mereka dan menarik Kezia ke dalam air.
"Celaka, ketahuan!" maki Phillip sembari menangkap lengan kecil dan kurus milik Kezia, namun ia malah ikut terseret ke dalam air.
"Phillip! Kezia!"
"Undine!" panggil Nero. Segera dewi air itu muncul dari laut dan menghempaskan siren sejauh mungkin. Max langsung menceburkan diri ke laut dan menarik kedua orang yang tak sadarkan diri. Belum sampai ke permukaan, seekor siren memegangi kakinya dan menghujamkan gigi tajamnya hingga darah mengotori pandangannya. Max berusaha menjatuhkan siren itu, namun ia makin tak berdaya ketika beberapa siren yang selamat maju menyerang dengan menyabetkan tulang hiu gergaji hingga tubuhnya mulai terkoyak. Dengan sisa tenaganya ia melempar Phillip dan Kezia ke dalam perahu dan ia ditarik ke kedalaman laut bersama para siren.
"Max!" panggil Nero. Saciel langsung terjun ke dalam laut dan menahan Max, melemparkan panah beracun dari tangannya pada siren. Ia langsung menggunakan sihir teleportasi dan keduanya kembali ke dalam perahu dengan pakaian basah kuyub dan bercak darah menempel.
"Nero! Dorong perahu ini dengan tenaga Undine!" sahut Saciel. Undine langsung membuat ombak dan menghanyutkan perahu hingga sampai di tepi pantai. Saciel segera meletakkan yang pingsan dan terluka di pasir berwarna merah gelap dengan sedikit kasar.
"Oh sial, di mana kita sekarang?" maki Saciel sembari melakukan sihir penyembuhan. Nero melemparkan pandangannya dan menghela napas.
"Kita ada di pulau tak berpenghuni. Sayangnya bukan pulau tujuan kita," ujar Nero. "Sebisa mungkin jangan berjalan masuk ke hutan atau kau mati. Di dalam banyak tanaman beracun dan tanaman karnivora."
"Eh? Beracun dan karnivora katamu?" tanya Saciel kaget. Ia mengambil segenggam pasir dan mengendusnya. Aroma besi yang kuat dan anyir membuatnya pusing. "Darah."
"Nutrisi yang paling dibutuhkan tanaman di pulau ini. Banyak makhluk bodoh yang berani menginjakkan kaki di pulau ini tanpa tahu apa-apa dan tidak pernah kembali," ujar Nero. "Berhubung mereka tak sadarkan diri, sebaiknya kita membuat rencana untuk meninggalkan tempat ini tanpa diketahui siren."
"Sulit sekali. Siren sialan, menyusahkan saja," maki Saciel. "Apa sebaiknya kita melakukan teleportasi?"
"Kurasa itu bukan hal yang buruk, hanya saja beban yang kau bawa bakalan lebih berat. Gunakan saja kemampuan itu untuk hal yang lebih mendesak. Mana petanya?"
Saciel dengan cepat membentangkan peta yang kering, seakan-akan air laut yang membasahi Saciel tidak mempengaruhinya.
"Posisi kita tidak jauh dari jalan masuk ke Kota Mizuki. Hanya saja...kita harus menyeberangi laut sekali lagi untuk sampai ke pulau itu. Dan yah... kemungkinan bertemu siren juga cukup tinggi," ujar Nero ragu.
"Tidak bisakah Undine menahan mereka?"
"Bisa. Dia bahkan bisa membelah lautan," jawab Nero santai.
"Hah, itu yang kubutuhkan. Tapi...bagaimana dengan manamu?" tanya Saciel.
"Cukup kurasa. Kami demi human tidak terlalu membutuhkan mana untuk memanggil makhluk panggilan. Kau bisa mengeksploitasi kami sesuka hatimu," ujar Nero meremehkan.
"Kita lanjutkan ini setelah mereka sadar. Aku mau memancing dulu," ujar Saciel sembari bangkit berdiri dan menarik sebilah tombak dari balik bajunya.
"Memancing apa hah? Kau gila," maki Nero.
"Memancing siren duh. Aku penasaran bagaimana rasa dagingnya," balas Saciel. Hati-hati dilepasnya sendal dan berjalan di atas air. Beberapa siren berhati-hati mencari kelemahan sang penyihir, namun tidak ada celah.
"Siren, keluarlah sebelum aku yang menarikmu keluar," ujar Saciel bengis.