
Ilmol yang diselimuti api menerjang maju dan membakar Vatra, namun Vatra lebih cepat bergerak dengan membuat perisai batu di sekelilingnya.
"Kau pikir kau lolos dariku?" tanya Ilmol sembari meningkatkan panas tubuhnya hingga melelehkan perisai Vatra. Selesai beregenerasi seutuhnya, ia melompat mundur dan mengikat Ilmol dengan rantai sihirnya. Ilmol mencoba melelehkan rantainya, namun gagal dan terbelenggu.
"Ilmol!" sahut Istvan.
"Jangan maju! Suhunya masih terlalu tinggi," sahut Ilmol.
"Nii, biarkan aku membantu mereka," rengek Kezia sembari menarik lengan baju sang kakak.
"Tidak bisa, Kezia. Kau sudah dengar kalau tempat itu masih terlalu panas, bisa-bisa kita terpanggang," ujar Nero sembari mengelus kepala gadis itu. Vatra tak hanya diam saja. Ia melempar kembali rantainya untuk menangkap Istvan, namun gagal karena pemuda itu lebih cepat dari rantainya.
"Dasar monyet sialan," keluh Vatra. Istvan hanya diam sembari mempersiapkan ratusan pedang untuk menyerang. Ilmol masih diam di tempat sembari mencari cara untuk melepaskan diri. Sementara Vatra teralihkan dengan Istvan, ia menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati agar rantai tidak membelitnya semakin kuat.
"Padahal kalau rantai sihir sekalipun aku masih bisa menghancurkannya, tapi kenapa yang ini tidak bisa?" keluh Ilmol lirih. Ia mulai menurunkan suhu tubuhnya, namun masih tetap panas agar Vatra tidak bisa menggunakan darahnya. "Tenang Ilmol, kamu bisa melakukannya."
"Nii, bantu mereka," rengeknya lagi.
"Kezia, aku ke sana sama saja mati di tempat," ujar Nero sembari berpikir. "Tenanglah, Kezia. Semakin kamu panik, semakin sulit bertahan hidup."
"Maaf, nii," ujar Kezia lirih. Nero mengulum senyum dan memanggil beberapa golem. "Golem?"
"Bantu mereka menjatuhkan orang itu," ujar Nero sembari menunjuk Vatra. Para golem itu bergegas menyeberangi sungai dan mengubah susunan tanah menjadi lumpur hisap yang membuat Vatra kesulitan bergerak. Saat berpaling ia melempar beberapa batu kecil dan menghancurkan para golem.
"Sialan," keluh Nero.
"Bagaimana ini?" celetuk Kezia cemas. Istvan berhenti di sebuah pohon ek besar sembari menarik greatsword dari dimensi lain.
"Berat," keluhnya lirih. "Ilmol masih belum bisa, ya?"
"Apa yang kau gumamkan, bocah?" tanya Vatra. Ia sudah ada di belakangnya dengan separuh tubuh penuh lumpur. Istvan tersentak dan berpaling, namun ia sudah mendapat pukulan keras tepat di hidungnya. "Baru pertama kali aku kesulitan melawan kalian, memalukan. Mati saja kalian."
"Enak saja!" sahut Kezia sembari menancapkan sabitnya pada pundak Vatra. "Jangan seenaknya menyakiti orang!"
Ia menarik sabitnya dan memutarnya, menghasilkan luka lebih banyak di tubuhnya. Ia tidak memberikan celah bagi pria itu untuk menyerang dengan terus menggerakkan sabitnya dengan cepat. Nero yang terperangah tersadar jika adik sepupunya sudah pergi dari sisinya.
"Hah? Eh? Astaga anak itu. Max bisa marah kalau sampai terjadi apa-apa dengannya. Ugh, terserahlah. Terpaksa harus memakai dia," keluh Nero sembari menggigit ujung jari hingga berdarah dan membuat simbol di punggung tangannya. "Jika kau mendengar panggilanku, kemarilah. Siren!"
Ia mencelupkan tangan di sungai dan seekor siren muncul dari kepulan asap pada sungai. Ia berpaling pada Nero dengan tatapan marah.
"Percuma kau menyerangku, kau tidak akan bisa melakukannya. Kau lihat pria di sana? Bawa dia ke dalam ilusimu," ujar Nero dingin. Siren itu mendesis, namun ia sudah berada dalam kontrak yang mustahil untuk dilepaskan. Ia berenang sedekat mungkin dengan Vatra dan mulai menyanyi. Suara merdu yang memikat hati berhasil membuat Vatra berpaling padanya. Istvan langsung mematikan indra pendengarannya dengan sihir.
"Siren? Heh, kukira apa. Serangan mereka tidak...hah?"
Vatra berhenti berkata-kata, tubuhnya mendadak lumpuh hingga ia terjatuh. Siren itu masih terus melantunkan nyanyian, membuat Istvan mau tak mau mundur karena takut terjebak dalam ilusi mematikan. Vatra mencoba memfokuskan diri, namun otaknya tak mau bekerja sama. Di lain tempat, rantai yang mengikat Ilmol mulai mengendur, membuatnya bergerak cepat meloloskan diri. Setelah berhasil lolos, Ilmol meraih pedang kembarnya dan berjalan mendekati Vatra, namun berhenti ketika matanya menangkap siren yang tengah sibuk menyanyi.
"Psst, Ilmol. Kau dengar aku?" bisik Istvan. Ilmol berbalik dan menemukan pemuda itu berdiri di balik pohon dengan sihir es untuk menstabilkan suhu tinggi. "Jangan dekat mereka dulu, bisa-bisa kau malah terbawa dalam ilusi."
"Aku baru tahu siren bisa dijadikan makhluk panggilan," bisik Ilmol.
"Aku juga. Kurasa dia bukan tamer biasa," balas Istvan. "Bisakah...Ilmol, belakang!"
"Eh?" celetuk Ilmol sembari berpaling dan terkejut melihat Vatra di belakangnya membawa kepala siren yang sudah terpisah dengan tubuhnya. Ia menghantam gadis itu hingga terpental menabrak pohon sekitar 10 meter.
"Trik kalian benar-benar merepotkan," ujar Vatra dingin. Ia menatap Istvan dan menyerang, namun dengan cepat pemuda itu berkelit dan menusukkan sebilah pisau di sikunya. Baru mau menancapkan pisau lain, sebuah tendangan mendarat tepat di wajahnya hingga terpental. Vatra membuang kepala siren itu dan mencabut pisau itu dengan kasar. Ia berpaling pada dua bersaudara dengan tatapan bengis. "Berikutnya kalian yang mati."
"Boleh saja," balas Nero sembari melepaskan segelnya dan berubah menjadi demi human yang lebih menyerupai serigala sungguhan. Matanya menghitam, dengan iris berbentuk berlian sewarna dengan rambutnya yang merah menyala. Moncongnya meruncing, asap tipis menguar dari moncong tersebut. Ia langsung melolong keras layaknya serigala.
"Heh, anjing tetaplah anjing ya?" sindir Vatra sembari meregangkan semua ototnya. Nero berlari menerjang dan menerkam lehernya, namun Vatra berhasil bertahan dengan menendangnya sekuat mungkin. Nero tetap bangkit dan kembali menyerangnya dengan cakar yang panjang dan kokoh, namun ia hanya berhasil melukai dadanya. Vatra mundur selangkah, mematahkan batang pohon di dekatnya dan mengayunkan benda itu untuk menjaga jarak dengan Nero. Kezia langsung meraih sabitnya dan menerjang, mengayunkan senjatanya hingga berhasil menebas dadanya sedalam mungkin. Tulang dan daging terkoyak, darah mengalir deras layaknya air. Yang mengagetkan, terlihat sebuah benda kecil berdetak cepat di dekat lambungnya.
"Itu jantung?!" sahut Kezia. Vatra tertawa keras dan melempar batang pohon di tangannya hingga mengenai dahi gadis itu. "Argh!"
"Benar, bocah. Itu adalah salah satu dari 5 jantungku," ujarnya sembari menutup lukanya secepat mungkin.
"Grr, jadi untuk mengalahkanmu kami harus menghancurkan semua jantungmu secara bersamaan?" celetuk Nero disela geraman.
"Entahlah. Kenapa tidak dicoba?" tanya Vatra menantang. Nero semakin kesal mendengarnya, namun sebuah tepukan pelan di pundaknya membuyarkan konsentrasinya.
"Kau bisa membantu kami?" tanya Istvan.
"Bantuan apa?" tanya Kezia. Istvan menunjuk Ilmol yang berusaha bangun dari tempatnya.
"Gadis itu akan menyerangnya, kalian bantu dari belakang," ujar Istvan.
"Enak saja kau bilang begitu, kami tidak mau," balas Nero kesal.
"Berarti kau siap terpanggang?"
"Er...tidak. Tidak bisa apa suhunya dibuat sedingin mungkin?" keluh Kezia.
"Bisa, tapi nanti darahnya bisa digunakan untuk menyerang kita. Satu-satunya yang bisa dan berkemungkinan menyerang dengan jarak dekat ya si Ilmol. Tapi kurasa kalian bisa membantu secara dekat," jawab Istvan sembari melapisi kedua demi human itu dengan sihir es. "Itu akan menjaga kalian dari suhu panas."
"Ilmol! Menarilah!" sahut Istvan. Ilmol berlari cepat dan menyergap Vatra, menghunjamkan kedua pedangnya pada pahanya. Ia melepaskan pedangnya dan mengambil pedang dari ratusan pedang yang dipersiapkan Istvan di dekatnya, lalu berputar dan merobek perutnya. Sebelum Vatra menjentikkan jemarinya, Ilmol menancapkan lengan pria itu pada pohon dengan pedang di tangannya sedalam mungkin.
"Kh!" erang Vatra. Ilmol mundur dan mengambil pedang, kali ini ia memotong sendi di kakinya dan menusuk telapak kakinya. Darah segar menghiasi wajah wanita itu, namun langsung menguap dalam hitungan detik. Ilmol terus menerus menancapkan pedang-pedang tersebut hampir ke seluruh tubuh Vatra, menyisakan bagian dada hingga perut yang nyaris tak tertikam.
"Hah...hah... sekarang masih ada 4 jantung yang belum ditusuk, bukan?" ujar Ilmol lirih. Ia melepaskan sihir api dan menggenggam sebilah pisau, lalu memberikannya pada Kezia.
"Eh?"
"Tugasku selesai, kau boleh membunuhnya," ujar Ilmol. Ia mendekati Istvan dan ambruk, namun pemuda itu berhasil menangkapnya sebelum kepalanya menghantam tanah. Kezia diam sejenak dan menusuk satu jantung yang ia lihat sebelumnya. Vatra memuntahkan darah cukup banyak, hingga ia kehabisan napas.
"Dimana sisanya?" tanya Kezia.
"Gunakan indra pendengaranmu," celetuk Nero. Kezia menajamkan indra pendengarannya untuk mendeteksi sisa jantungnya, lalu menyiapkan 3 jarum panjang. Vatra menyeringai, membuat Kezia bergidik melihatnya. Namun ia memantapkan hati dan mengayunkan jarumnya. Sebelum jarum itu menyentuh kulitnya, sebuah katana menepisnya hingga jarumnya terjatuh. Kezia langsung mendongak dan terkejut melihat sesosok wanita tua yang familiar baginya. Yang lain langsung mendongak dan syok.
"Nenek!" sahut Istvan.
"Hah? Nenek katamu?" celetuk Nero. Erika melompat turun dan melempar Kezia hanya dengan sekali jentikan. Dengan instingnya Nero bergegas melompat dan menangkapnya. "Kau baik-baik saja?"
"I...iya," cicit Kezia. Erika melirik Vatra dengan tatapan heran, sementara yang ditatap hanya membalas dengan tatapan dingin.
"Berhentilah bermain-main, Tuan. Anda sudah kehilangan 2 jantung," ujar Erika. Puluhan pedang yang menancap di tubuhnya mendadak terlontar, luka menganga dan luka kecil langsung menutup dengan cepat. Vatra menggaruk kepalanya dan meregangkan ototnya dengan santai.
"Aku ingin membuat mereka merasa kuat, itu saja. Seru juga menipu mereka dengan cara ini," balas Vatra. "Yah, bodohnya aku mengorbankan jantungku, tapi tak apalah."
"Jadi...selama ini kau hanya... berpura-pura?" tanah Istvan.
"Tentu saja. Kau pikir aku selemah itu?" balas Vatra. Istvan menggigit bibir bawahnya hingga berdarah dan bersiap menyerang, namun sebuah jarum sudah siap bersarang di lehernya.
"Tidak secepat itu, Nak," ujar Erika dingin. Istvan tidak bisa berkutik, ia hanya menggeram dan menatap neneknya dengan kebencian mendalam.
"Kenapa Nenek berkhianat?" tanya Istvan. Ada jeda cukup panjang, membuat suasana semakin tegang.
"Karena aku ingin mengubah dunia ini," jawab Erika.
"Mengubah dunia? Seperti apa?" tanya Nero sembari bertransformasi menjadi normal dan memeluk Kezia.
"Menjadikan dunia ini hanya dihuni oleh penyihir murni dan terkuat. Kebetulan saja tujuanku dengan Tuan Vatra hampir searah, jadi kami bekerja sama," ujar Erika.
"Psikopat!" maki Istvan.
"Masih lebih psikopat Tuan Vatra yang berambisi membantai semua dewa di dunia ini, Istvan. Kau tidak tahu rasanya membenci dan mengutuk seseorang terlalu dalam," ujar Erika dingin. "Mari kita pergi, Tuan. Pangeran Dominic sudah menunggu untuk rencana berikutnya."
"Lalu penyihir kematian itu?"
"Saya belum bisa menghubunginya," balas Erika. Vatra berbalik dan berniat berjalan, namun sahutan Kezia menghentikannya.
"Aku akan membunuhmu!"
"Heh, menarik. Sampai jumpa di medan perang, bocah," ujar Vatra sembari membuka portal dimensi dan berjalan masuk, diikuti Erika dan menghilang. Istvan menundukkan kepala, logikanya sudah tidak mau bekerja sama akibat perasaannya hancur akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh kerabatnya sendiri. Ketika pasukan bantuan datang, mereka bersiaga menyerang saat melihat dua penyihir tersebut, namun Nero mengangkat tangannya.
"Mereka tidak akan menyerang kita. Siapkan kereta kuda untuk mereka, yang lain tolong bantu aku membereskan...jenazah teman kita. Kezia, temani mereka ke istana ya?"
"Baik, Nii. Umm, maaf, mari kita pergi dari sini," ujar Kezia sembari mendekati Istvan dengan hati-hati. Yang diajak mengangkat kepala dengan tatapan nelangsa.
"Baiklah," jawabnya lirih. Ia menggendong Ilmol yang tak sadarkan diri masuk ke dalam kereta, disusul Kezia dan mereka langsung pergi menuju istana. Sementara itu Nero dan yang lain mengangkut potongan tubuh para prajurit yang gugur ke dalam kereta terbuka tanpa suara, beberapa menahan diri untuk tidak menitikkan air mata.
...****************...
Max yang berdiri menyambut di pintu terkejut ketika melihat Kezia kembali bersama dua orang asing baginya. Ia mengerutkan kening dan berpaling pada Kezia meminta penjelasan.
"Mereka menolong kami saat menyerang musuh, Nii. Nii kan pernah bertemu."
"Hanya satu dari mereka, Kezia. Aku tidak akan lupa waktu itu," geram Max. "Pelayan, layani mereka sebaik mungkin. Mereka adalah tamu kehormatan kita di sini karena telah membantu kerajaan untuk melindungi rakyat."
Para pelayan bergegas melayani kedua penyihir itu, membawa Ilmol ke ruang tamu sementara Istvan dibawa ke ruangan lain untuk berganti pakaian. Ketika pelayan mendekati Kezia, ia membuat gestur agar tidak melayaninya.
"Nii, banyak prajurit kita yang gugur," ujar Kezia sendu. Max menghela napas dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
"Mereka adalah prajurit terbaik kita. Persiapkan upacara pemakaman untuk besok. Mereka layak menerima penghormatan terakhir yang terbaik," ujar Max. Sang ajudan mengangguk dan pergi ke dalam. "Kau perlu berganti baju, Kezia. Darahnya cukup membuat kami mual."
"Ah, Nii benar. Aku akan kembali secepat mungkin," ujar Kezia sembari berjalan masuk bersama dengan beberapa pelayan. Max menghela napas dan menundukkan kepala, mencoba menahan diri untuk tidak menunjukkan kelemahan pada yang lain. Ia masih berdiri di depan sampai rombongan Nero datang lengkap dengan jenazah yang berhasil mereka kumpulkan. Nero melompat turun dari kudanya dan memberi hormat pada Max.
"Berapa banyak prajurit kita yang gugur?"
"Kurang lebih sekitar 180 orang," jawab Nero pahit. "Seandainya saja aku dan Kezia bisa lebih cepat sampai di sana, mungkin saja mereka masih hidup."
"Itu bukan salahmu. Masuk dan bersihkan dirimu, aku akan mengurus sisanya," ujar Max lembut. Nero mengangguk dan masuk, sementara Max dan beberapa prajurit memasukkan potongan tubuh yang terhampar dalam ratusan peti mati yang sudah disiapkan oleh ajudannya.
"Aku mau nama mereka tertulis di nisannya besok. Malam ini, kita akan berduka."