
"Saciel, kau serius membiarkan Lao yang pergi?" tanya Cerlina gelisah.
"Karena satu-satunya orang yang bisa menghentikan Vristhi hanyalah Lao. Kau kuat, tapi masih jauh dibandingkan Vristhi. Phillip masih dalam perawatan, Tania masih harus belajar lagi dari awal dan Julian pasti memilih mundur jika disuruh berhadapan dengan Vristhi," ujar Saciel sembari menyesap teh.
"Kau benar. Dan selamat atas terpilihnya dirimu sebagai ratu," ujar Cerlina. Saciel tertawa kecil dan mengelus kepala Cerlina dengan penuh sayang.
"Ini hanya sementara saja," ujar Saciel. Ia berpaling pada Parvati yang menanti di sampingnya. "Aku harus pergi sekarang?"
"Benar, Yang Mulia. Pekerjaan sudah menanti untuk Anda," jawab Parvati senang. Saciel melepas tawa canggung dan menghela napas. "Besok Anda akan dinobatkan."
"Cepat sekali," celetuk Cerlina.
"Karena semakin lama kita menunda, mungkin saja ada pihak ketiga yang mengacaukan," balas Parvati. Cerlina manggut-manggut mendengarnya. Saciel bangkit berdiri dan menatap Bibi yang menahan air mata jatuh di pipinya.
"Bibi, aku hanya pergi menjadi ratu, bukan ke medan perang," hibur Saciel sembari memberikan sehelai saputangan padanya. Tangis Bibi pecah dan langsung mendekapnya erat.
"Nona, saya sangat bahagia melihat Nona menjadi ratu, tapi saya takut itu hanya akan membawa Nona ke dalam keputusasaan," ujar Bibi disela tangisnya. Saciel tertawa kecil dan menepuk punggung Bibi untuk menenangkannya.
"Keputusasaan ya? Tidak buruk," gumam Saciel. Setelah 10 menit berada dalam dekapan Bibi, Saciel melepaskan diri dan pergi bersama Parvati, diikuti isak tangis dan ratapan dari semua orang di kediaman Arakawa. "Aku merasa seperti berada di pemakaman."
"Analogi yang menarik, Yang Mulia," ujar Parvati. "Stevan sudah selesai mengurus administrasinya dan undangan untuk beberapa negara di Respher yang masih menjadi sekutu kita."
"Apa elf termasuk?" tanya Saciel.
"Sebaiknya nanti kita cek bersama saat bertemu Stevan," jawab Parvati. Saciel hanya memutar matanya dan masuk ke dalam kereta, disusul Parvati. Kereta langsung bergerak dengan kecepatan sedang menuju istana.
...****************...
"Istriku akan menjadi ratu dan aku akan menjadi raja," ujar Dark girang. "Raja!"
"Tenanglah, kau terlihat seperti orang tidak waras," ujar Vatra sembari memainkan pisau di tangannya. "Jangan gegabah, ingat kau hampir mati di tangan demi human."
"Huh, aku tahu. Ngomong-ngomong, kenapa dia ada di sini?" tanya Dark sembari melirik ke arah Vristhi yang diam seribu bahasa di pojokan.
"Karena dia cukup berguna untuk kita."
"Bagaimana caranya kau bisa mendapatkan dia? Kupikir dia tipenya loyal pada kerajaan," tanyanya lagi.
"Ada sesuatu yang penting untuknya," jawab Vatra. Dark hanya diam, namun matanya fokus pada Vristhi. "Dia tidak akan berkhianat."
"Kau yakin sekali dengan itu," celetuk Dark. Vatra hanya angkat bahu dan pergi, disusul Vristhi yang memasang muka bete. Dark hanya menggerutu melihatnya.
"Percaya diri sekali dirimu," celetuk Vristhi. Vatra menyeringai mendengarnya.
"Karena aku punya jaminan agar kau tidak membelot, bocah. Dan aku yakin kau tahu hal itu, bukan?" ujar Vatra pongah. Vristhi terdiam, tangannya mengepal kuat hingga ujung jarinya memutih. "Kau pikir aku bodoh membiarkanmu ikut tanpa jaminan?"
"Ternyata kau pintar juga," puji Vristhi dengan senyum culasnya. Vatra tidak menggubrisnya, melainkan kembali berjalan meninggalkan Vristhi yang berdecih.
"Sialan," keluh Vristhi. Ia berjalan ke arah berlawanan menuju balkon. Matanya menangkap sesosok burung gagak bertengger tak jauh darinya. Di kakinya terikat sebuah kertas kecil. "Hm? Kau burung punya siapa?"
Hati-hati didekatinya burung itu dan berusaha melepaskan ikatan itu. Begitu ia membuka kertas kecil itu, ia terperangah membaca isinya.
"...bodoh, kenapa juga kau datang menjemput bahaya?" bisik Vristhi. Ia membakar surat itu dan memberikan pakan serta air untuk burung gagak itu. "Setelah kau puas, pergilah. Aku tidak punya apa-apa untuknya."
Setelah puas menikmati imbalannya, burung itu mengusap kepalanya pada tangan ramping Vristhi dan terbang menuju cakrawala yang luas, membuat Vristhi sedikit sedih. Ia tak tahu si pemilik burung sudah menanti dengan senyum bahagia.
"Ketemu juga. Sekarang bagaimana caranya aku menarikmu dari para iblis itu?" gumam Lao sembari merentangkan lengannya. Burung gagak tadi langsung melesat turun ke dalam hutan dan bertengger di lengannya. "Cukup jauh juga ya? Kerja bagus, kawan."
Ia mengelus burung itu dengan penuh sayang, lalu hati-hati mencabut sebuah bulu berwarna cokelat yang tersamar diantara bulu hitamnya.
"Dia tidak tahu aku menaruh pelacak. Bersiaplah untuk pergi lagi, kawan. Bisa saja mereka akan berpindah lagi," ujar Lao. Seakan paham dengan keinginan tuannya, ia merentangkan kedua sayapnya dan berenang melintasi cakrawala. Lao menutupi wajahnya dengan kain hitam dan berjalan melintasi hutan.
...****************...
"Bagaimana keadaanmu, Phillip?" sapa Julian sembari meletakkan sebuket bunga lili putih pada vas. Phillip cemberut melihatnya.
"Sialan, aku belum mati," keluh Phillip sembari mencoba membakarnya, namun Julian lebih cepat bergerak. Ia mengunci pemuda itu dengan tanaman sulur yang muncul dari balik kasurnya. "Ah?"
"Berani kau bunuh tanaman ini, kupatahkan lehermu," ancam Julian.
"Kau ini mengejekku atau bagaimana? Aku lagi sakit malah diperlakukan seperti ini," keluh Phillip. Julian langsung menarik kembali sulurnya dan duduk di kursi dekat tempatnya berbaring.
"Maaf, aku ke sini hanya untuk menghiburmu kok. Bagaimana keadaanmu?" tanya Julian tulus.
"Yah, kau bisa lihat aku baik-baik saja. Setelah menyerang Vristhi dengan petir sebesar itu, aku langsung tepar," balas Phillip. Julian ber-o kecil mendengarnya, namun perlahan seringai menghiasi wajahnya.
"Kau serius? Bukan karena dihajar Vatra?" sindir Julian.
"...kalau sudah tahu jangan tanya," balas Phillip kesal. Julian tertawa keras dan menepuk pundak Phillip. "Sakit."
"Tapi harus kuakui, petirmu semakin lama semakin kuat. Aku saja merinding mendengarnya dari jauh, apalagi tanaman yang berada di dekatmu," ujar Julian. "Kayaknya sebentar lagi kau bakal mengalahkan Saciel."
"Hahaha, bisa jadi," ujar Phillip kaku. "Apa benar Saciel terpilih jadi ratu? Kupikir Cerlina yang menjadi kandidat terkuat."
"Tadinya kupikir begitu. Saat kutanyakan pada warga, mereka berpendapat kalau Cerlina masih lemah dalam urusan politik," jawab Julian. "Mau memberinya hadiah?"
"Ide menarik, tapi apa?"
"Apa saja yang penting bisa membuat Saciel senang," balas Julian.
"Semakin rumit sekali. Nantilah kupikirkan," balas Phillip. "Oh iya, kau sudah mampir ke rumah Tania?"
"Sudah. Saat ini dia sedang berlatih keras untuk menyusul kita. Harus kuakui, kekuatan waktunya lebih mengerikan dibanding mengendalikan boneka. Tapi bisa jadi dia akan menjadi penyihir yang luar biasa," balas Julian.
"Kau benar. Aku tidak sabar melihatnya tumbuh menjadi penyihir mumpuni. Waktu berjalan dengan cepat ya?"
"Kau terdengar seperti orang tua saja," keluh Julian.
"Enak saja, kau itu yang tua," balas Phillip. Ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju balkon. "Semoga saja besok akan menjadi hari yang baik."
"Semoga saja."