The Two Empresses

The Two Empresses
Gorgon's Curse



"...bagaimana caranya kau menemukanku?" tanya Saciel tanpa menjawab pertanyaan dari Jegudiel. Yang ditanya hanya angkat bahu dan mengarahkan tatapannya pada Dark.


"Flügel? Sialan" maki Dark lirih.


"Anda percaya jika Dewa Deus Ex Machina melempar saya kemari untuk menolong Anda?" tanya Jegudiel santai.


"Deus melemparmu?"


"Yah begitulah. Padahal saya sedang asyik membaca bukuu filsafat terbaru, malah harus menolong Anda pula. Tapi...saat ini dia juga musuh negara, jadi sebisa mungkin jangan membuat saya kesulitan melawannya," gerutu Jegudiel. Saciel terenyak, namun sebuah senyum puas terlukis di wajahnya.


"Hah, harusnya aku yang bicara begitu. Tapi berhubung kau cukup baik, kumaafkan," ujar Saciel sembari mengganti baju dengan cepat. Dark menyeringai.


"Kalian pikir bisa mengalahkanku semudah itu?" tanyanya sembari memasang kuda-kuda. Jegudiel kembali angkat bahu, namun dengan cepat melempar pedang di tangannya. Dark berkelit, namun ia tidak menyadari Saciel sudah berada di belakang dan menusuknya dengan pedang yang dilempar Jegudiel.


"Kh!"


"Aku belum selesai, pangeran buangan," bisik Saciel sembari menusuk perutnya dengan pedang lainnya secepat kilat. Dark menendang gadis itu untuk menjaga jarak dan mengerahkan tenaga untuk melakukan penyembuhan, namun Jegudiel langsung mengikatnya dengan rantai sihir serta menghentikan aliran mana.


"Sialan!" maki Dark sembari mencoba melepaskan diri dengan segala cara, namun Saciel yang tidak bisa melepaskan kesempatan langsung menjentikkan jemarinya. Ratusan es tajam melayang di sekeliling Dark, siap membuat lubang di sekujur tubuhnya. Ia dengan cepat langsung melempar semuanya hingga beberapa menancap di tubuh sang mantan pangeran. Darah mulai mewarnai tubuhnya, namun tidak ada ketakutan di wajahnya.


"...heh, hanya segini saja?" gumam Dark. Sebelum menyadarinya, Jegudiel mendadak diselimuti api hitam.


"Ah! Jegudiel!" sahut Saciel. Yang dipanggil segera memadamkan api sebisa mungkin, tanpa sadar mengendurkan rantainya. Dark langsung mengambil kesempatan itu untuk lepas dan menerjang Saciel. Gadis itu menyadarinya, namun tubuhnya terlambat bereaksi sehingga ia terpental ketika Dark menabraknya. Jegudiel yang baru saja lolos dari kematian langsung menarik Dark kembali dan mengikatnya kuat-kuat.


"Kau terluka?" tanya Saciel sembari mencoba bangkit.


"Beruntungnya aku bisa membuat perisai sebelum api itu benar-benar melalapku. Aku tidak tahu dia bisa menggunakan sihir hitam," balas Jegudiel. Dark hanya diam, namun senyum masih menempel di wajahnya. "Apa yang lucu?


"Meski kalian mencoba menghentikanku, masih banyak penyihir lain yang bisa menghancurkan benua ini. Tolong jangan sebodoh itu," cibir Dark. Saciel menggigit bibir bawahnya, tahu betul apa yang diucapkannya bukanlah ancaman belaka. Ia dengan cepat menebas kepala Dark, namun bukannya kepala yang ditebas malah sebuah kepala boneka dengan wajah dirusak dengan alat tajam.


"Wah~ sayang sekali kau tidak bisa melukaiku, Sayang. Rantai sihir itu sudah kuno, aku hanya bermain-main saja dengan kalian."


"Begitukah?" celetuk Jegudiel sembari menjentikkan jemarinya. Ratusan sulur langsung membelit Dark dan mengeluarkan getah beracun yang berhasil melukai kulitnya. Tanpa ampun Dark membakar sulur itu dan menatap Jegudiel dengan tatapan dingin.


"Flügel yang kutahu adalah ras haus akan perang, kenapa kau malah terlihat lemah?" celetuk Dark. Jegudiel tersindir, namun menjaga diri agar tidak lepas kendali. Ia melebarkan sayapnya dengan memasang senyum lebar yang terlihat mengerikan.


"Kau serius dengan kata-kata dari mulutmu itu?" tanyanya. Dark hanya mendengus dan bersiap menyerang, sementara Jegudiel melayang tepat di hadapannya. Sebelum Dark menyerang, Jegudiel langsung mengurungnya dengan perisai keras dan meningkatkan tekanan di dalamnya. Suara erangan dan tulang yang patah mulai terdengar, membuat Saciel mulai terlihat senang. Jegudiel meningkatkan intensitas tekanan hingga beberapa tulangnya patah dan menembus kulit. Darah mulai mengotori perisai itu, namun tiba-tiba Jegudiel ambruk hingga perisainya pudar. Saciel buru-buru menahannya agar ia tidak langsung membentur tanah dan mengeceknya.


"Ah, apa-apaan ini?" tanyanya setelah menemukan beberapa tulangnya patah, posisinya sama persis dengan tulang Dark. Tawa keras menggema, membuat gadis itu berpaling dan mendapati Dark sudah menyembuhkan diri dengan cepat.


"Mau tahu kenapa dia bisa terluka seperti itu?" tanya Dark sembari berjalan mendekat dan mengangkat dagu Saciel dengan telunjuknya. "Hm?"


"Sihir pembalik?" tanya Saciel.


"Hah, lalu? Kau berpikir aku akan berlutut memohon pengampunan darimu? Mimpi saja sana!"


"Oh, aku tidak menginginkannya, tapi aku menginginkan air mata yang kau tumpahkan akibat kelalaianmu," balas Dark. Gadis itu marah dan mulai melempar pedangnya, namun dengan cepat ditangkis.


"Astaga, apa aku menyakitimu?"


"Tidak sama sekali," balas Saciel dalam. Ia membuat klon untuk menyembuhkan Jegudiel, mengambil kembali pedangnya dan mulai menyerang. Ayunan pedang yang cepat masih belum mengimbangi kecepatan lawannya yang berhasil mengelak, sesekali ia menyerang hingga mampu melukainya. Gadis itu tidak menyerah. Ia melapisi pedangnya dengan sihir dan mulai menyerang. Saat pedangnya berhasil merobek lengannya, ia merasakan sengatan di lengan yang sama. Perlahan darah mengucur dari balik lengan bajunya.


"Sudah kubilang, bukan? Saat ini tidak ada yang bisa mengalahkanku," ujar Dark. Saciel tidak mempedulikannya. Ia terus menyerang dengan cepat, namun semakin lama tubuhnya mulai dipenuhi luka yang ia berikan pada Dark.


"...sialan," maki Saciel. Dark semakin di atas angin, sementara Saciel terjebak dalam perangkap. Ia menghela napas dan menggenggam pedangnya erat-erat.


"Kalau sudah begini, mau tidak mau harus dilakukan," ujarnya lirih. Perlahan tato tribal merah darah menghiasi wajahnya, membuat Dark penasaran.


"Apa itu?"


Yang ditanya tidak menjawab, melainkan menghembuskan napas pada pedangnya. Ia menatap Dark dengan tatapan berbeda, dingin namun sorot pemburu mulai terlihat. Ia menerjang dengan cepat dan berhasil melukai dadanya, namun tubuhnya masih terkena efek kutukan.


"Hah, kupikir ada yang spesial dari tato konyol itu, ternyata...kh!"


Ia jatuh berlutut dan menahan lukanya yang mulai terasa panas. Meski ia mencoba menyembuhkan, tetapi luka itu tidak menutup sama sekali. Berbeda dengan Saciel yang tetap santai, lukanya menutup dengan cepat tanpa bekas sedikitpun.


"Kau kira aku sebodoh itu?" tanyanya dengan suara yang jauh berbeda dari biasanya. Dark tidak bisa menyembunyikan keheranannya.


"...penyihir apa kau ini?"


"Kurasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan konyol itu," balasnya sembari menghujam pedang di dadanya sedalam yang ia bisa. Darah merembes dengan cepat hingga membuat Dark pucat. Anehnya tidak ada darah mengalir di dada Saciel, meski kutukannya masih aktif.


"Sialan! Sialan! Sialan! Aku tidak akan mati semudah ini!" sahut Dark sembari menendang Saciel sejauh mungkin dan mencabut pedangnya, namun pedang itu mengeluarkan sulur berduri yang mengikat kuat jantungnya agar tidak bisa ditarik. "Agh!"


Saciel hanya menonton dengan tatapan yang masih sama, membuat Jegudiel merinding melihatnya. Klon di sampingnya hanya diam sembari terus melakukan pengobatan.


"Tato itu...bukan tato biasa, bukan?" tanya Jegudiel. Si klon tidak bersuara, namun itu adalah jawaban yang cukup untuk Jegudiel. Dark tidak bisa berkutik, tubuhnya semakin melemah akibat cairan kehidupannya mulai habis. Ia memasang senyum lebar dan menatap Saciel dengan kilat kegilaan.


"Kalau...aku mati....kau harus mati juga," ujarnya sembari memusatkan seluruh mana pada jantungnya dan membuat bom sihir berkekuatan besar. Jegudiel terkejut luar biasa dan melompat.


"Lari!" sahutnya. Namun terlambat. Bom itu meledak lebih dulu. Saciel memutar telunjuknya dan membuat perisai besar yang melingkupi dia dan Jegudiel. Ledakan besar itu berhasil menghancurkan wilayah itu tanpa sisa, kecuali pedang Saciel yang masih utuh tanpa cacat. Setelah ledakan berakhir, perisai itu memudar.


"...kau ini apa?" tanya Jegudiel. Saciel hanya berpaling dan memamerkan wajahnya yang tanpa tato. Seulas senyum manis terpatri sebelum ia ambruk dan tak sadarkan diri.