
Hutan Suci
Ekor besar itu perlahan menyingkir, lalu sebuah kepala naga berukuran raksasa muncul dari kejauhan. Mereka segera berlutut dan menundukkan kepala, ketakutan menyelimuti mereka. Namun hanya sang maid yang dengan tenang mengangkat kepala dan mengelus kepala naga itu.
"Wow, apakah kau ini seorang tamer?" tanya Phillip terpana. Parvati hanya tertawa kecil dan menggeleng.
"Hanya seorang maid kerajaan, Tuan Arlestine," balas Parvati. Sang alpha melirik ke arah mereka, lalu menghembuskan angin sedingin es. Rambut dan wajah mereka kini diselimuti oleh salju tipis. Öh, kurasa dia menyukai kalian."
"Baguslah kalau dia suka. Dan tempat ini terlihat nyaman sekali," ujar Saciel tenang. Ia bangkit berdiri dan melihat sekelilingnya. "Apa kita bisa tinggal di sini untuk sementara waktu?"
Parvati menatap mata hijau mint sang alpha dan mengangguk. Mereka lega dan duduk di tanah. Kezia malah kabur dan bermain dengan bayi-bayi naga tidak jauh dari sang alpha. Max melirik ke arah Saciel, namun segera berpaling begitu sang penyihir cantik itu menyadari.
"Tidak usah malu, sana dekati...maafkan aku," celetuk Phillip setelah mendapat tatapan maut dari Max.
"Parvati, apa tidak masalah jika kau berada di sini terlalu lama?" tanya Saciel.
"Jangan cemas, tidak akan ada masalah meski saya ada di sini. Istana memang sudah lama kosong, tidak akan ada orang yang akan peduli dengan hal itu," balas Parvati ringan.
"Bagaimana dengan Steven?"
"Dia ada di istana," balas Parvati. "Nona tidak perlu cemas, kami bisa melindungi diri."
"...baiklah, aku percaya padamu. Terima kasih sudah menolong kami, Parvati," ujar Saciel tulus. Parvati hanya mengulum senyum dan memberi hormat dengan elegan.
"Oi, penyihir, kita harus buat kemah di sini. Kau tidak mau tidur beralaskan rumput kan?" panggil Max.
"Kau benar. Sebaiknya kita buat tenda di sini. Apa kau sudah menemukan sumber air terdekat di sini?" tanya Saciel. Max mengangguk dan menunjuk ke arah pepohonan palem, di bawahnya terdapat kolam bening yang cukup besar.
"Lumayan," celetuk Saciel sembari menjentikkan jemarinya. Sebuah tenda cukup besar berdiri tegak di bibir kolam, dengan api unggun yang siap untuk dinyalakan kapan pun.
"Penyihir memang mengerikan. Mereka bisa melakukan apapun untuk bertahan hidup dengan mengandalkan sihir mereka," sindir Max. Saciel tidak mampu berkata-kata, namun ia menendang tulang keringnya dan pergi menjauh.
'Kurasa mereka memang cocok deh. Serius, kalian nikah saja gimana?' ujar Phillip dalam hati. Ia tahu diri untuk menahan lidahnya mengatakan isi hatinya. Ia berpaling pada Parvati yang masih mengelus sang alpha dengan penuh kasih sayang. Ia berjalan menghampiri Parvati dengan muka sedatar mungkin.
"Bisa kita bicara?" tanya Phillip lirih. Parvati mengangguk, lalu mengajak Phillip menjauh dari kerumunan di balik tubuh sang alpha.
"Apa Tuan Arlestine mencurigai saya?" tanya Parvati to the point. Phillip hanya diam, namun tangannya menggenggam sebilah belati.
"Kau ini sebenarnya siapa?" tanya Phillip tajam. "Kau terlalu banyak tahu untuk seorang maid di kerajaan.''
"...anda benar. Memang aneh seorang maid bisa tahu lebih banyak dibanding dengan penyihir lainnya, tetapi saya bisa membuktikan bahwa saya hanyalah seorang maid biasa yang punya banyak ilmu," balas Parvati tenang. Phillip tak bergeming, tatapannya mulai terlihat seperti seorang pemburu yang siap menghabisi buruannya.
"Kau tidak berniat untuk menyakiti kami, kan?" tanya Phillip. Parvati mengangguk, lalu menunjukkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk tetesan air yang terbuat dari permata Mata Oorun. Phillip tersentak dan mundur selangkah, wajahnya memucat.
"Tidak. Kau tidak mungkin memiliki benda itu. Kau ini...apa?"
"Tuan Arlestine, saya benar-benar minta maaf. Saat ini saya tidak bisa memberitahu fakta tentang saya. Ini belum waktunya," ujar Parvati. Ia memberi hormat dan berjalan kembali ke perkemahan. Phillip menjatuhkan belatinya dan jatuh berlutut. Tubuhnya gemetar, napasnya tersengal, pikirannya kacau.
"Hahaha, ternyata...mereka masih ada," gumam Phillip. "Kupikir mereka sudah punah."
"Phillip! Kemarilah, bantu aku membereskan si anjing liar ini!" seru Saciel geram.
"Siapa yang kau panggil anjing liar, penyihir ******?!" sahut Max tak kalah kesal. Phillip yang mendengarnya hanya bisa pasrah. Ia bergegas kembali dan mendapati Saciel dan Max bersiap untuk bertarung sembari memegang senjata masing-masing.
"Aduh, kalian ini. Bisa tidak berhenti mencari masalah? Kalian..."
"Ke-te-mu~" celetuk seseorang. Mereka terkejut dan berbalik, mendapati Tania berdiri tak jauh dari mereka dengan memeluk boneka beruang yang cukup menyeramkan.
"Tania...Schariac?" celetuk Phillip kaget. "Kenapa harus dia yang datang?!"
"Halo, Kakak. Senang melihatmu di sini," sapa Tania manis. Saciel hanya bergidik dan mundur beberapa langkah.
"Cukup dengan basa-basimu, Tania. Apa yang kau inginkan?" tanya Saciel.
"Perintah dari Kak Lao. Untuk menangkap dua demi human di sana," balas Tania sembari mengarahkan telunjuknya pada Max dan Kezia. "Tolong jangan ganggu saya bekerja."
"Maaf, aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya," ujar Saciel sembari berdiri di hadapan Tania. "Jika kau ingin menangkap mereka, lawan aku dulu."
"Duh, Kakak kok begitu, sih? Ini perintah dari Kak Lao, lho. Aku tidak bisa membantahnya," balas Tania. "Tapi aku memang ingin melawan Kak Saciel, sih. Jangan mundur, ya?"
"T-tunggu sebentar! Ini wilayah suci, kau tidak bisa melakukan itu seenaknya," ujar Phillip. Tania melirik dan mendapati sang alpha menatapnya tajam.
"Yah, kau ada benarnya juga. Jadi~ bagaimana jika kita pindah tempat?" ujar Tania ringan. Sebelum Phillip bertanya, Tania sudah menjentikkan jemarinya yang mungil dan memindahkan semua orang di luar Hutan Suci. "Nah, kita bisa bertarung sepuas hati tanpa takut akan kutukan atau si naga raksasa itu."
"Ide yang menarik, aku suka dengan otakmu yang bisa berpikir jernih. Tidak seperti Comet," ujar Saciel santai. "Jangan setengah-setengah, ya?"
"Tidak akan, ehe," balas Tania sembari melempar bonekanya. Boneka itu tiba-tiba membesar dan memegang sebuah parang besar di tangan kirinya.
"Seru juga, apa aku boleh ikut?" celetuk Max sembari berdiri di samping Saciel. "Aku butuh olahraga sih, jika tidak keberatan."
"Tentu saja, Tuan~. Kau malah menghemat waktuku untuk menangkap kalian," ujar Tania kalem namun dalam. Max menyeringai dan mengeluarkan sabitnya.
"Nii! Nee!" panggil Kezia. Ia mencoba maju, namun Parvati menahannya.
"Nona, sebaiknya kita mundur. Tidak baik mengganggu konsentrasi mereka," ujar Parvati lembut. Kezia hendak membantah, namun ia mengurungkan niatnya dan mengangguk. Saciel mengeluarkan sebilah pedang dan mengarahkan pada Tania.
"Jangan salahkan aku jika aku menghancurkan bonekamu," sindir Saciel.
"Ehehe, kau tidak akan bisa menghancurkannya. Mau tahu?" balas Tania. Saciel hanya terdiam, lalu maju secepat kilat dan menebasnya. Namun boneka itu dengan cepat menahan serangannya dengan parang dan mendorongnya mundur.
"Eh? Bagaimana bisa?" celetuk Saciel kaget. "Tidak biasanya dia cepat tanggap dengan seranganku."
"Kan sudah kubilang, Kak. Kau tidak akan bisa menghancurkannya," ujar Tania tenang.
"Kalau dia tidak bisa, berarti aku bisa," celetuk Max mencemooh. Tania hanya tersenyum sinis, namun tatapannya tidak menunjukkan kesombongan. Max melompat dan mencoba menebasnya, namun boneka itu menahan serangannya dan mencoba memotong kepalanya. Max berkelit dan meninjunya, namun tangannya terluka dan berdarah.
"Keras sekali. Memangnya dia batu?" celetuk Max heran. "Sakit banget setelah memukulnya."
"Hahaha! Kau tak akan bisa mengalahkanku, Kak Saciel! Aku sudah menguasai sihir keluarga Schariac," ujar Tania sombong. Saciel hanya ber-o kecil dan menyarungkan pedangnya.
"Oh? Berarti tidak perlu setengah-setengah untuk menghadapi bocah sepertimu," ujar Saciel santai. Tatapannya mulai terlihat sadis, begitu pula Max.
"Astaga, mata mereka mirip sekali," celetuk Parvati riang.
'Aku setuju denganmu," batin Phillip.
"Oi ******, bagaiman jika kita bekerjasama?" tanya Max.
"Boleh juga, anjing liar. Sihirnya cukup rumit, lebih baik bekerjasama," balas Saciel. Max maju menerjang, namun boneka itu menangkap pergerakannya dan menahan Max. Dengan cepat Max mencabiknya dengan cakarnya yang diperkuat dengan sihir. Tangan boneka itu tergores, namun belum cukup dalam untuk memutuskan lengannya.
"Hmm, kerjasama yang baik. Namun itu belum cukup, Kak Saciel," ujar Tania.
"Aku tahu. Aku hanya mengukur seberapa besar mana yang kuperlukan untuk menghancurkan boneka itu," ujar Saciel.
"Satu lawan dua sepertinya kurang adil. Apa aku boleh ikut?" celetuk seseorang. Ia berdiri di samping Tania, mengenakan gaun pernikahan berwarna hitam kelam dengan tudung yang menutupi separuh wajahnya. Saciel dan Phillip pucat melihatnya.
"Vristhi...Rosemary?"