The Two Empresses

The Two Empresses
Kiss Under the Moonlight



Saciel menikmati angin dingin malam sembari duduk di balkon. Wajahnya terlihat muram, kilat kesedihan tak mampu ia tutupi. Ia mengangkat wajahnya dan menikmati cahaya bulan yang lembut, namun sesekali awan hitam menutupinya.


"Mendadak aku merindukan Kezia," gumam Saciel. Ia menoleh dan mendapati Julian berdiri di atas pagar balkon dengan sebuket bunga mawar merah. "Ngapain kau?"


"Mengunjungimu, memang tidak boleh?" tanya Julian sembari duduk dan memberikan buket. "Kau terlihat murung."


"Aku kangen Kezia," ujar Saciel.


"Kau tahu mereka berada jauh dari sini bukan?"


"Tanpa kau beritahu aku juga tau kok," keluh Saciel. "Apa kau menemukan cara untuk menyembuhkan Lao?"


"Sayangnya tidak. Tanamanku tidak ada yang bagus untuk menghancurkan sihir hitam," keluh Julian. "Hanya ada satu cara."


"Apa?"


"Pergi ke taman kahyangan. Kudengar ada satu tanaman yang ampuh menghancurkan sihir hitam. Hanya saja...tidak ada yang tahu di mana pastinya tempat itu," papar Julian.


"Yah, payah. Kupikir kau tahu," keluh Saciel. Julian cemberut dan turun dari pagar, lalu mencubit pipi gadis itu. "Aduh!"


"Mulutmu itu memang butuh disekolahkan ya?" ujar Julian. "Sini kuajarin."


"Aduh, sakit!" jerit Saciel sembari menepis tangan Julian dan mundur perlahan. "Mau kubunuh kau?"


"Oh? Kau mau berantem?" tanya Julian. Saciel menarik keluar pedangnya, sementara Julian menarik sebilah belati berukiran sulur. "Ayo kita bertarung."


"Kalian sedang apa?" celetuk seseorang. Keduanya menoleh dan mendapati Max berdiri di atas pagar dengan wajah ditekuk.


"Ngapain kau di sini? Bentar, gimana caranya kau ke sini?" tanya Saciel heran. Max duduk di pagar dan mengulum senyum sinis.


"Penasaran?" godanya.


"...lumayan," celetuk Saciel. Max menatap tajam ke arah Julian, membuat yang ditatap kaget. Namun ide jahil muncul di benaknya.


"Kau punya urusan penting di sini?" tanya Julian sembari memeluk Saciel dari belakang. Max tergelitik, namun berusaha menahan diri.


"Sangat penting. Dan aku ada perlu dengan gadis itu," balasnya sembari menunjuk Saciel. Julian perlahan mengeratkan pelukannya, membuat Saciel sedikit berjengit dan heran.


"Hmm? Seingatku tidak ada hubungan diplomatik antara Ceshier dan Respher."


"Kau ada masalah dengan kehadiranku?" tanya Max.


"Oh tidak, biasa saja," goda Julian. Saciel perlahan mendorong Julian menjauh dengan wajah juteknya. "Hm? Aku ditolak nih?"


"Sudah kubilang aku tidak tertarik padamu, pria flamboyan. Jadi menjauhlah," ujar Saciel dalam. Julian tertawa kecil dan mengelus kepalanya dengan lembut. "Hei."


"Padahal aku serius denganmu, lho. Sayang selalu ditolak," bisik Julian. Perlahan serabut merah menghiasi wajah Saciel, membuat Julian tersenyum kecil dan mencium pipi Saciel. Max langsung naik pitam, namun ia berusaha menahan diri untuk tidak meledak di hadapan mereka. "Bisakah kau melihatku sebagai seorang lelaki?"


"...akan kupikirkan," ujar Saciel sembari mengalihkan wajahnya. Julian menghela napas dan menatap Max dengan ekspresi puas.


"Kalau begitu sampai jumpa lagi, Manis. Selamat bersenang-senang," pamit Julian sembari menjentikkan jemarinya dan menghilang begitu saja. Max langsung maju mendekati Saciel dan mengelap pipinya dengan saputangan lain.


"Diam dulu," potong Max sembari terus mengelap hingga pipinya merah. "...terlalu keras ya?"


"Kau baru bertanya seperti itu, brengsek? Ada apa sih denganmu?"


"...entahlah, aku kesal saja," jawab Max. Ia mengusap perlahan pipi yang ia sakiti secara hati-hati, wajahnya terlihat nelangsa. "Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan lelaki lain."


"Hah? Kau ini kenapa sih?" bentak Saciel. Max terdiam, mencoba menyusun kata-kata yang ingin ia ucapkan. "Jawab."


"Aku merasa panas ketika ada pria lain mendekatimu. Aku tidak suka kau akrab dengan bocah petir itu, apalagi bergantung padanya," ujar Max. Saciel ternganga dan mundur selangkah.


"Entah kenapa pengakuanmu lebih seperti...pernyataan cinta," ujar Saciel.


"... pernyataan cinta, eh? Mungkin saja," ujar Max serius. Saciel mendongak dan mendapati Max menatapnya lekat-lekat, membuatnya tak nyaman. Jantungnya berdebar kencang tidak seperti biasanya, wajahnya makin merah.


"Kita ini musuh," celetuk Saciel.


"Bukan kita yang memulai perang," balas Max. Saciel makin panas dan mengalihkan perhatiannya pada taman. "Kau tidak suka mendengarnya?"


"Entahlah, aku bingung," ujar Saciel. Ia mencoba menenangkan diri dengan menarik napas beberapa kali, namun gagal ketika Max perlahan menggenggam tangannya. "Ah?"


"Lihat aku, penyihir bodoh. Aku ada di sini," ujar Max kalem. Saciel berjengit dan menoleh cepat, mendapati wajah tampan Max terlihat serius di bawah pantulan sinar rembulan. "Bagus, sikap inilah yang kukenal dari penyihir."


"Enak saja, nggak semua penyihir itu sama sepertiku," keluh Saciel sembari mencoba menarik tangannya, namun Max mengeratkan genggamannya dan mengecup punggung tangannya. "Hei!"


"Heh, tidak pernah diperlakukan seperti ini?" tanya Max.


"Siapa bilang? Aku sering kok mendapat perlakuan ini," balas Saciel ketus. Max terkekeh dan melepaskan tangan itu.


"Begitukah? Sekarang ini kau terlihat seperti anak gadis yang baru saja menerima pernyataan cinta. Polos," goda Max. Saciel cemberut dan mencubit pipi Max sekeras mungkin. "Aduh!"


"Berani juga kau, serigala kampung," gerutu Saciel. "Sana pergi, ini sudah malam. Aku tidak mau dengar gosip aneh-aneh di sini."


"Hm? Kupikir kau ini orangnya tidak peduli pada gosip."


"...itu...iya! Aku tidak peduli dengan gosip!" sergah Saciel. Max memasang ekspresi tidak percaya, namun memilih diam dan menghela napas. Ia mengeluarkan setangkai mawar merah dan memberikannya pada Saciel. "Eh? Untukku?"


"Siapa lagi?" balas Max keki. Saciel menerima bunga itu, menghirup aroma lembut mawar yang khas dengan senyum manisnya. "Cantik."


"Eh, apa?" tanya Saciel. Max menghela napas dan menariknya mendekat, lalu mengecup lembut bibir Saciel. Saciel yang terkejut dengan perubahan suasana mencoba memberontak, namun tenaganya hilang bersamaan dengan ciuman yang membuatnya mabuk kepayang. Perlahan Max melepaskan gadis itu dan mengulum senyum.


"Apa kau memakai lipgloss madu?" tanya Max. Saciel menunduk dan menggumam tak jelas, mencoba menghalangi Max untuk tidak melihat wajahnya yang sudah merah padam. "Ciuman pertama ya?"


"Sialan, pulang sana!" bentak Saciel sembari berlari masuk dan menutup pintu, meninggalkan Max yang bengong dengan sikapnya. Saciel jatuh terduduk dan memeluk boneka di dekatnya, berteriak saat membenamkan kepalanya pada boneka agar tidak ada yang mendengarnya. Max menghela napas dan berbalik, meninggalkan kediaman Arakawa dengan sekali lompatan. Ia tidak sadar seseorang mengawasi dari kejauhan dengan tatapan bengis.


"Seenaknya saja dia melakukan hal itu pada istriku. Akan kubunuh dia," gumamnya sembari mencakar pohon di sisinya.


"Dark, jangan sampai kau menghancurkan rencana kita. Lagipula, Saciel Arakawa bukan istrimu" celetuk Vatra sembari memainkan belati. Dark menghantam pohon itu hingga berlubang dan menatap Vatra dengan ekspresi gila.


"Dia istriku, ayahku yang menjodohkan dia padaku. Takkan kubiarkan makhluk rendah itu menodainya lagi. Tidak akan pernah."