The Two Empresses

The Two Empresses
Kisah Sang Gadis Penyihir



Careol City, 5 tahun kemudian


Suasana tegang dan hawa berat mengisi ruangan sebesar 30 meter persegi tersebut. Para peserta yang terdiri dari sepuluh orang tua dan seorang gadis berambut merah ikal sedada tengah fokus pada sang pembicara dengan wajah separuh ditutupi luka bakar dengan nada yang kurang menyenangkan bagi sang gadis.


"Jadi kesimpulan dari pembicaraan kita adalah bagaimana caranya agar para manusia setengah hewan mati dan..."


Gadis penyihir hanya bisa menguap dan memasang wajah kantuk, mencoba mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh si narasumber, membuat wanita tua itu kesal dan memukul meja dengan tumpukan buku di dekatnya.


BAM


"Saciel Arakawa! Beraninya kamu mengabaikanku? Apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun?" sentaknya kasar. Si gadis nyaris jatuh dari kursinya, namun berhasil menguasai diri. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menatap wanita tua yang berdiri cukup jauh darinya. Ia hanya berdiri dan mengulum senyum tipis.


"Mohon maaf, Tetua Erika. orang tua saya tewas di medan pertempuran, jadi tidak ada yang mengajari saya tata krama," balasnya riang. Semua orang yang ada di dalam terkejut dan tersinggung.


"Apa kau mengejek kami?" tanya Erika sembari menahan amarah. Perlahan senyum si gadis berambut merah berubah menjadi senyum sinis.


"Oh, apa aku terkesan menyinggungmu? Padahal aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Tetua Erika, kalau kau sering marah nanti keriputmu bertambah lho~," sindirnya pedas.


"Kurang ajar!"


"Memalukan!"


"Dasar sampah!"


"Sampah? Kau memanggilku sampah?" tanyanya, mengalihkan pandangan kepada seorang lelaki ringkih bertubuh kecil. "Orang yang kalian panggil sampah ini adalah yang terkuat diantara kalian. Bahkan," ujarnya sembari mengangkat tangan kirinya, "dia bisa saja membakar habis tubuh kalian hanya dengan satu jentikan."


Semua terdiam, bahkan beberapa menundukkan kepala. Tetua Erika diam, tapi wajahnya merah padam. Ia mengulum senyum penuh kemenangan, lalu berjalan keluar tanpa menoleh sekalipun. Langkahnya terhenti ketika seorang lelaki sepantaran menghadang jalurnya.


"Oh, kumohon menyingkirlah, Arlestine. Aku mau pulang," cemoohnya. Yang dipanggil hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Bukannya rapat masih berlangsung? Kenapa kau di sini, Saciel?" tanyanya. Saciel hanya menghela dan mengibaskan rambut panjang bergelombangnya.


"Mereka membuatku kesal, jadinya kutinggal," jawabnya santai, "daripada itu, apa yang kau lakukan di sini, Phillip?"


"Aku bekerja di sini, ingat? Aku baru mau mengantarkan berkas-berkas yang dibutuhkan," balasnya ringan. Ia mengerutkan kening mendengarnya


"Begitu? Coba kulihat," ujarnya sembari menyambar selembar kertas dan dibacanya cepat, namun yang ia temukan hanyalah kertas kosong tanpa noda sedikitpun.


"Tapi bohong," ujarnya sembari tertawa. Ia menjentikkan jarinya dan menghilang tanpa jejak. Saciel hanya tertawa dan membakar kertas itu dengan api dari tangannya.


"Dasar sialan," makinya. Ia berjalan menuju tangga dan turun ke lantai dasar. Matanya menangkap sosok Phillip di depan resepsionis dengan wajah jahilnya. Ia berlari dan menendangnya hingga pemuda itu terlempar dan menabrak tembok.


"Aduh~ sakit banget," keluhnya sambil mengelus kepala. Si pelaku hanya tertawa dan membusungkan dada.


"Makanya, jangan menantangku bodoh. Kau pasti kalah," ujarnya. "Hei, sebentar lagi festival Matahari Merah, bukan? Ayo kita pergi ke kuil."


"Sebentar, ke kuil? Jangan bilang kau ingin bertemu dengan Cerlina. Para tetua sudah bilang untuk tidak menemuinya, bukan?" tanya Phillip.


"Mereka tidak punya hak untuk menghentikanku. Dia saudariku, satu-satunya keluargaku yang hidup," balasnya sendu. Phillip menghela napas dan mengelus kepala Saciel dengan lembut.


"Baiklah, ayo pergi. Dasar, kau ini paling tau untuk membuatku menurutimu kan?" sindirnya.


"Begitulah," balasnya dengan senyum sumringah. Mereka berjalan menuju halaman depan dan sebuah kereta kuda mewah berhenti tepat di depan mereka.


"Ke mana tujuan Anda?" tanya si kusir ramah.


"Kuil Oorun," jawab Phillip. Sang kusir mengerutkan kening.


"Mohon maaf, bukankah sebentar lagi..."


Sang kusir segera turun dan membukakan pintu kereta dengan elegan. Keduanya langsung naik dan duduk tanpa sepatah kata pun. Perlahan kuda-kuda berlari meninggalkan gedung tersebut.


"Sudah berapa lama kita tidak bertemu dengannya?" kenang Phillip.


"Kurasa hampir 20 tahun. Sebelum perang aku tidak diizinkan untuk menemuinya, bahkan memberikan boneka kesayangannya," jawabnya lirih. "Aku tidak mengerti kenapa mereka menjadikan Cerlina sebagai Pendeta Agung."


"Aku sependapat denganmu. Terkadang kita masih dibutakan oleh para tetua tentang ras kita. Padahal di luar sana masih banyak ras lain yang membutuhkan."


"Kita penyihir memiliki umur yang cukup panjang, meski tidak sepanjang ras elf dan demi human," keluhnya. "Kudengar ada beberapa diantara kita yang merupakan ras manusia."


"Benar. Ada sebuah desa jauh di sana yang seluruhnya merupakan manusia, tapi aku juga tidak pernah ke sana sekalipun," balas Phillip. Keduanya kembali larut dalam keheningan dan menikmati perjalanan yang dipenuhi oleh gunung dan dataran luas.


Kereta kuda tersebut berhenti di depan sebuah bangunan kuil dengan arsitektur Romawi. Saciel mengernyitkan kening melihatnya.


"Perasaanku atau kuil ini berubah total?" tanyanya sembari turun dari kereta kuda, disusul Phillip yang segera membayar ongkos kereta kudanya.


"Itu karena mereka meminta para tetua untuk merehabilitasi bangunan kuno mereka," jawabnya. Saciel hanya tertawa mengejek dan berjalan masuk. Langkahnya terhenti di depan gerbang oleh dua biarawan dengan tudung menutupi separuh wajah.


"Selamat datang, Archduchess Arakawa dan Marquess Arlestine. Suatu kehormatan bisa menyambut kalian di kuil kami," ujar salah seorang biarawan.


"Ya ya terima kasih atas sambutannya. Mana Cerlina?" tanya Saciel.


"Pendeta Agung tengah bermeditasi untuk perayaan Matahari Merah. Saya sarankan untuk kembali lagi lain waktu," ujar yang lain.


"Oh? Kalian mengusirku? Berani sekali," gertak Saciel. Phillip menahannya dan memberi isyarat untuk diam. Ia berpaling kepada para biarawan dan mengulum senyum. Keduanya berpandangan dan mengangguk, mempersilakan mereka untuk masuk.


"Ba...bagaimana bisa?!" jerit Saciel.


"Ra-ha-si-a," balas Phillip. Tanpa menunggu lama mereka melewati gerbang dengan cepat, namun terhenti lagi oleh dua biarawati di anak tangga.


"Oke, apalagi ini?" keluh Saciel.


"Kalian harus disucikan dulu sebelum menemui Pendeta Agung. Karena kalian datang menjelang hari suci, kami tidak bisa membiarkan tamu yang penuh dosa masuk sebelum disucikan," ujar seorang biarawati. Saciel mengerang protes, namun tak bisa menolak aturan yang berlaku. Kedua biarawati tersebut menarik Saciel ke timur, sementara biarawan beserta Phillip ke arah sebaliknya. Ketiganya berhenti tak jauh dari patung wanita yang membawa kendi di atas kepala. Dengan cepat kedua biarawati tersebut melepaskan baju Saciel hingga tak ada benang tersisa di tubuhnya.


"Apa kalian harus menelanjangiku?" tanyanya menahan emosi yang berkecamuk.


"Untuk kepentingan ritual ini adalah hal dasar, jadi tolong bekerja samalah," ujar salah satu biarawati dengan ketus. Saciel memberikan tatapan mautnya, berharap biarawati tersebut untuk tutup mulut. Seorang yang lain membawa seember air beserta beberapa rempah di dalamnya.


"Silakan tutup mata Anda dan renungkan dosa-dosa Anda," ujarnya ramah. Si gadis berambut merah menuruti, dalam hati merutuki ritual yang berlangsung cukup lama. Satu biarawati menyiraminya, sementara yang satu membacakan doa-doa. Selesai ritual mereka memberikannya sebuah tudung besar berwarna cokelat gelap.


"Di mana pakaianku?" Saciel bertanya.


"Pakaian Anda aman di loker. Pakailah ini untuk masuk," ujar biarawati judes.


"Tanpa baju dalam?! Tidak akan!" protesnya.


"Kalau begitu Anda tidak bisa masuk," ujar biarawati ramah. Saciel merampas jubah itu dan mengenakannya dengan cepat. Kedua biarawati menuntunnya ke kuil utama, di mana Phillip telah menunggu dengan pakaian yang sama dengannya.


"Akhirnya datang juga. Kupikir kau sedang dalam masalah," ujar Phillip.


"Tidak, tidak sekarang," ujar Saciel sarkastik. Para biarawan-biarawati membukakan pintu dan mempersilakan mereka untuk masuk.


"Pendeta Agung akan segera tiba, mohon menunggu di sini," ujar seorang biarawan sembari menutup pintu. Kedua insan tersebut hanya berpandangan keheranan.


"Sayang bahan jubah ini cukup tebal. Padahal aku ingin sekali melihat tubuhmu tanpa benang sekalipun," ujar Phillip dengan senyum jahilnya.


"Kau beruntung kita di dalam kuil, brengsek. Kalau tidak mungkin sudah kubakar aset masa depanmu," balasnya sadis. Phillip menelan ludah ketakutan, lalu berpaling dan menangkap bayangan seseorang berjalan masuk dari belakang tahta Pendeta Agung.