The Two Empresses

The Two Empresses
Another Monster



"Hah? Sekarang? Apa yang kau inginkan?" tanya Dark kesal. Sosok itu mendekati Dark dan berbisik, membuat Saciel mengerutkan kening ketika Dark terlihat semakin kesal namun pasrah. "Sialan."


"Apa yang kalian bicarakan di belakangku?" tanya Saciel. Sosok itu berbalik dan menguarkan aura mematikan, membuat Saciel merinding dan jatuh karena kakinya lemas.


"Ini bukan urusanmu, bocah. Kau beruntung tidak mati hari ini. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja. Paling tidak...sebuah bola mata sebagai oleh-oleh cukup juga," ujarnya dengan seringai mengerikan. Hellhound segera menggigit bajunya dan menariknya keluar dari tempat itu, berlari sejauh mungkin hingga menghilang dari pandangan. "Heh, sudah kabur."


"Sialan. Aku baru saja mau menikmatinya," keluh Dark.


"Masih ada waktu untuk itu, tapi kita tidak punya banyak waktu untuk hal yang lebih penting. Ayo pergi dan hancurkan tempat ini," ujar si bertudung sembari berbalik dan menghilang begitu saja. Dark menjatuhkan lilin dan membakar tempat itu, lalu ikut menghilang di balik kobaran api.


Hellhound masih terus berlari hingga mencapai sungai dan melempar Saciel begitu saja.


"Hei!"


"Kau beruntung dia tidak membunuhmu. Dia bukan makhluk biasa," ujar Hellhound.


"Apa dia...dewa?" tanya Saciel hati-hati. Hellhound menggelengkan kepala, membuat Saciel sedikit lega.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Manamu sudah habis dan aku hanya tinggal punya waktu kurang dari 10 menit."


"Aku...tidak tahu. Badanku...masih kaku...karena...racun," jawab Saciel tersengal. Ia jatuh terduduk di hadapan Hellhound dengan wajah pucat dan keringat dingin menetes di wajahnya.


"Tidak ada cara lain. Terpaksa kau harus kubawa dengan melewati jalur pemanggilan," ujar Hellhound sedikit kesal. "Berterimakasihlah aku masih mau menolong, bocah tengik."


"Akan...ku...berikan...hadiah," balas Saciel. Hellhound itu kembali mengangkat dengan menggigit bajunya dan menghilang di balik kepulan asap.


...****************...


"Saciel tidak bersamamu?" tanya Cerlina panik. Lao menggelengkan kepala dan menghela napas.


"Dark membawanya pergi, tapi aku tidak tahu ke mana. Maaf, seharusnya aku menjaganya."


"...kau masih punya tanggungan lain, bukan?" ujar Cerlina kecewa. "Para bangsawan tidak bisa diandalkan."


"Cerlina, tenanglah. Kita pasti akan menemukan Saciel," ujar Vristhi menenangkan. Cerlina menggelengkan kepala dan mulai terisak, membuat Nero sedih.


"Dia selalu saja hilang. Kenapa?" isak Cerlina. Lao tidak bisa berkata-kata, takut semakin membuat keadaan memburuk. Phillip perlahan meraih Cerlina dan mengelus kepalanya dengan hati-hati.


"Dia pasti kembali, percayalah," hibur Phillip. Nero hendak bersuara, namun mendadak ia berhenti dan diam sejenak. "Ada apa dengan dirimu."


"Umm...sepertinya ada tamu," ujar Nero sembari menjentikkan jemari dan mendadak Hellhound berdiri di belakangnya sambil menggendong Saciel yang kelelahan. Lao terkejut dan segera membuat barikade agar tidak ada yang melihat sosok besar dan menyeramkan itu.


"Saciel!" jerit Cerlina sembari berlari dan memeganginya. "Aku di sini! Saciel!"


"Ih, tak...perlu berteriak...bisa?" tanya Saciel kesal, namun ia tidak bisa mengatakan itu dengan lancar. "Dark...kabur...dengan...orang...lain."


"Siapa?" tanya Lao. Saciel menggelengkan kepala, membuat Lao menyerah bertanya dan memalingkan wajahnya menatap hellhound. "Terima kasih sudah membawanya pulang."


"Terima kasih tidak cukup untuk membayarku. Berikan aku jiwa manusia yang kotor dan bernoda," ujar Hellhound. Lao mengulum senyum sinis dan mengangkat sebelah tangannya.


"Berapa yang kau minta? Akan kuberikan berapapun."


"Pantas saja kematian juga berada di dekatmu. Dasar iblis," sindir hellhound dengan seringainya. Lao hanya menyeringai dan mengelus hellhound dengan tatapan dingin.


"Sudah bagus aku tidak membunuhmu. Pergilah, tugasmu sudah selesai."


Hellhound segera melahap semua jiwa itu dalam satu suapan dan menghilang di balik kepulan asap tebal. Lao segera menghilangkan barikade dan terkejut mendapat para prajurit mengelilingi mereka dengan ujung tombak terarah pada mereka.


"Apa-apaan ini?" tanya Vristhi. Seorang tetua maju dengan langkah secepat yang ia bisa dan seluruh tubuhnya gemetar layaknya orang tua biasa.


"Kalian telah melakukan kesalahan terberat di Careol dengan membawa buronan dan menjadikannya calon penguasa."


"Heh? Benarkah?" tanya Lao. "Lalu bagaimana dengan Erika dan Yorktown yang kabur begitu saja setelah masalah ini? Bukannya mereka punya kesalahan lebih berat dan fatal dibandingkan yang kami lakukan?"


"Mereka melakukannya demi kebaikan Careol," balas si tetua. Lao mengernyitkan kening dan mengulum senyum tipis.


"Kebaikan Careol yang mana?"


"Mereka telah berani mengambil resiko untuk mendapatkan kembali pewaris tahta yang sebenarnya."


"Hmm, kau sudah gila ya? Menyerahkan tahta pada Dominic yang sudah membunuh Putra Mahkota, tapi juga seluruh keluarga kerajaan?" balas Lao. Tetua itu menggigit bibir bawahnya, membuat para prajurit ragu dan mulai melirik ke segala arah.


"Duke Requiem, saya kehilangan jejak Tetua Erika dan Tetua Yorktown," ujar Steven sembari membungkuk. "Tapi saya menemukan portal sihir hitam di Pantai Loreta."


"Nah para prajurit yang kubanggakan, buatlah pilihanmu sekarang. Kau ingin melindungi rakyat atau menghancurkan?" tanya Lao kalem. Para prajurit terdiam, bingung dan stres. Vristhi maju dan menepuk pundak Lao.


"Ayo pergi," ujar Vristhi.


"Cerlina, kau pulanglah bersama Saciel dan Phillip. Jangan keluar dari rumah, meski hanya untuk ke pasar sekalipun. Panggil Ilmol untuk ikut. Julian, tetap di sini dan memantau ke segala arah. Berhubung Istvan tepar, biarkan dia di rumah juga," titah Lao tegas.


"Apa aku tidak bisa membantu?" tanya Cerlina.


"Maaf Cerlina, kau adalah Pendeta Agung yang sangat krusial di sini. Tetaplah di sini, aku tidak mau dikutuk oleh Oorun," jawab Lao setengah bergurau. Cerlina mengangguk dan memeluk Saciel. Phillip segera menggotongnya dan membawanya ke dalam kereta. "Dan kau, segera kembali ke negaramu sebelum kau dieksekusi."


"Enak saja, aku di sini untuk Cerlina," tolak Nero.


"Hei anjing kampung, kau sudah ditolak di sini. Pergi sebelum aku yang mengusirmu," balas Lao.


"Penyihir gigolo diam saja. Kau bukan siapa-siapa."


"Nero, kurasa kau harus pulang," tegur Cerlina sembari menggenggam tangannya. "Aku akan baik-baik saja."


"Uhh, aku masih kepikiran. Tapi ya sudahlah, apa boleh buat," ujar Nero pasrah. Ia menggenggam tangan Cerlina dan membawanya dalam sebuah ciuman. "Andai saja aku bisa di sini, akan kujaga dirimu."


"Hei, aku tidak mau melihat drama di sini. Sana pulang," usir Lao. Nero mengerutkan kening dan memeluk Cerlina dengan gaya maskulin, membuat Cerlina luluh. "Hei!"


"Iri bilang, sialan. Aku pergi dulu, Manis. Sampai jumpa di lain waktu," pamit Nero. Ia menghilang di balik kepulan asap, membuat Cerlina memasang wajah sedih.


"Yang benar saja Cerlina? Dia hanya pergi, bukan mati," keluh Lao. Cerlina mengangguk dan mengulum senyum. "Pulang dan istirahat, penjagaan akan kuperketat di sini."


Setelah Cerlina pergi, Lao mendekati Vristhi dan memasang wajah sedatar mungkin. Ia tahu perasaannya saat ini hanya akan menghalanginya membuat keputusan. "Mari kita pergi, Vristhi."