The Two Empresses

The Two Empresses
The Heir of Phoenix



"Kau mengakui yang lain? Kupikir kau akan mengambil tahtanya," tanya Lao heran. Vristhi menyeruput teh dan menatap Lao lekat-lekat.


"Tidak semudah itu. Aku tidak punya kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin. Lagipula, aku tidak suka urusan politik kekaisaran yang terlalu banyak manipulasi dan korupsi," balas Vristhi kalem. "Apa masih ada lagi yang ingin kau bicarakan?"


"Tidak ada. Kalau begitu aku pamit. Aku perlu mengawasi tingkah para tetua yang makin tidak beres," ujar Lao sembari bangkit berdiri. "Sisanya kuserahkan padamu."


"Baiklah Tuan Muda. Siapkan kereta kuda, aku akan pergi ke kediaman Phoenix. Bawakan juga beberapa hadiah untuk sedikit kebaikanku," ujar Vristhi tegas. Kepala pelayan segera pergi menuju kandang kuda, sementara para pelayan menyiapkan hadiah. Vristhi mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sederhana namun tetap memikat meski rata-rata bajunya berwarna hitam. Ia berjalan menuju pintu depan, dimana para pelayan siap melayani. Kusir dengan kereta kudanya siap sedia untuk mengantarnya.


"Jika ada tamu, tolak saja. Aku hari ini sibuk," ujar Vristhi. Kepala pelayan menunduk dan membantu Vristhi masuk ke dalam kereta kuda. Sang kusir langsung mengendalikan kudanya untuk bergerak meninggalkan mansion Rosemary.


......................


"Nona, ada yang ingin bertemu denganmu," ujar kepala pelayan sembari membungkuk. Seorang gadis berambut orange layaknya matahari terbenam menoleh dan memiringkan kepala.


"Aku tidak ingat punya janji dengan siapapun," ujarnya. "Siapa?"


"Nona Vristhi Rosemary," jawab kepala pelayan. Wanita itu tersentak dan bangkit berdiri, wajahnya pucat.


"Apa yang dia inginkan?" tanyanya. Kepala pelayan hanya menggelengkan kepala, membuat wanita itu ketakutan dan menggigit bibir bawahnya. "Apa Ayah tahu?"


"Tuan sudah mengetahuinya. Namun Nona Rosemary bersikukuh untuk bertemu dengan Anda," ujar kepala pelayan.


"Aku akan bersiap," ujarnya mantap. Ia bergegas mengganti pakaiannya dan mengikuti kepala pelayan menuju ruang tamu, dimana Vristhi tengah menyesap tehnya dengan elegan. "Nona Ilmol sudah datang."


"Setelah cukup lama menunggu akhirnya kau menampakkan wajahmu, Ilmol. Kau punya nyali melawan kata-kataku?" sindir Vristhi. Ilmol menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya sampai amarah Vristhi mereda. "Duduklah. Ada yang ingin kusampaikan padamu dan juga ayahmu." Setelah mendapat izin, ia segera duduk di samping ayahnya dengan tatapan penasaran.


"Aku ingin Ilmol menjadi pengganti Comet sebagai bagian dari 7 Eternal Wizards," ujar Vristhi tegas. Sang kepala keluarga terkejut setengah mati dan berdiri cepat, sementara Ilmol terdiam ketakutan.


"Nona! Sangatlah tabu bagi seorang wanita menjadi kepala..."


"Diamlah. Aku sudah tahu tradisi keluarga ini, jadi kuharap kau duduk dan dengarkan aku berbicara hingga selesai. Kau sangat paham tidak ada lagi yang bisa menggantikan Comet selain kakak kandungnya sendiri bukan?" potong Vristhi. Sang kepala keluarga terdiam, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.


"Tidak bisa. Keluarga kami tidak akan melanggar tradisi itu hingga akhir zaman," tolak sang kepala keluarga.


"Berarti kau siap mencabut hak 7 Eternal Wizards milik kalian?" tanya Vristhi kalem. Sang kepala keluarga terdiam, pikirannya kalut karena melepas hak 7 Eternal Wizards berarti sama saja kehilangan harga diri sebagai yang terkuat diantara penyihir biasa.


"...biarkan aku berpikir..."


"Tidak bisa, waktunya terlalu mepet. Kau hanya bisa menerima atau menolak. Buatlah keputusan yang tepat," potong Vristhi lagi. "Dan kudengar, Ilmol lebih berbakat dibandingkan Comet."


"I...itu tidak benar," cicitnya sembari menundukkan kepala. Vristhi mengerutkan kening dan mengangkat wajahnya hanya dengan jarinya.


"Biasakan untuk menatap lawan bicara ketika bersosialisasi. Semakin kau merendahkan dirimu, semakin orang akan meremehkanmu," ujar Vristhi Ilmol tersipu malu, namun mengangguk perlahan. "Bagus."


"Ini terlalu sulit. Tidak mudah bagi kami untuk membuat wanita di keluarga Phoenix sebagai bagian dari 7 Eternal Wizards. Tabu!"


"Kau masih mengoceh hal konyol seperti itu? Kau bodoh. Hei, bawakan hadiah dari keretaku," ujar Vristhi sembari menunjuk kepala pelayan. Setelah ia keluar, Vristhi kembali melanjutkan topiknya. "Lau sudah menaruh perhatiannya pada Ilmol."


"Bahkan ketua 7 Eternal Wizards pun berpendapat seperti itu?" tanya Ilmol meragukan.


"Ilmol, sayangku. Kau ini berbakat, lebih pantas menyandang gelar 7 Eternal Wizards dibanding pengkhianat itu," ujar Vristhi.


"Jangan menghina Comet di depanku," ujar Ilmol tegas. Vristhi diam, namun perlahan senyum menghina terukir di wajahnya.


"Begitukah? Jika kau ingin aku menarik kata-kataku, bagaimana jika kita berduel? Siapa yang menang harus menuruti perintah penenang."


"Ilmol, sayangku. Berhati-hatilah, wanita itu adalah yang terkuat setelah keluarga Arakawa," bisik kepala keluarga. Ilmol mengangguk dan berdiri di hadapan Vristhi dengan penuh percaya diri.


"Kesombongan kalian memang sudah mendarah daging ya?" tanya Vristhi kalem. Ilmol hanya diam, memegang dual blade di tangannya. "Wow, tidak kusangka aku bisa melihat ini."


"Tidak usah seperti itu, Nona Vristhi. Mari kita mulai saja," ujar Ilmol. Vristhi mengulum senyum dan langsung memanggil beberapa undead miliknya, namun Ilmol membatalkannya hanya dengan sekali ayunan pedang. Tangan ramping milik Vristhi terpotong, namun ia tidak bergeming.


"Kecepatanmu sangat berbahaya, kuyakin Saciel mati kutu jika berhadapan denganmu," puji Vristhi. Ia mengembalikan tangannya hingga tersambung kembali dengan sihir, lalu menatap Ilmol dengan heran. "Jika kau hanya berdiam diri seperti itu di medan perang, kau akan mati."


"Tidak akan. Kami menyandang nama Phoenix yang berarti 'keabadian', jadi kami sulit dihancurkan," ujar Ilmol. Vristhi tertawa dan mengeluarkan sebuah peti mati.


"Tidak salah, tapi juga tidak benar. Meski kalian abadi sekalipun, akan ada waktu kalian menjadi lemah dan tidak berdaya," ujar Vristhi sembari membuka peti mati itu dengan sekali jentikan. Namun tidak ada apa-apa di dalam.


"Apa maksudmu membuka peti kosong?"


"Tadinya aku ingin menggunakan mayat Comet, tapi sayang aku tidak punya," koar Vristhi. Api mendadak menyulut tubuh Ilmol, tatapannya kini semakin mengerikan.


"Necromancer bedebah! Mati saja kau!" maki Ilmol sembari maju dan siap menebas lagi, namun kali ini Vristhi mampu mengelak dan meninjunya hingga terbang cukup jauh. "Agh!"


Sebuah undead muncul dari balik punggungnya dan menikam perutnya dengan sebilah pedang berkarat. Ilmol segera membakarnya, menutup luka secepat mungkin dan menyulut api di sekitar Vristhi. Sebelum Vristhi mampu memadamkannya, Ilmol kembali berdiri di hadapannya dan menghujamkan belati ke arah mata ungu gelap tersebut, namun belatinya terhenti di udara.


"Menarik sekali, kau memang lebih berbakat dibanding Comet. Nah, Ilmol, mari kita akhiri semua ini," ujar Vristhi. Ia menendang Ilmol hingga jatuh tersungkur di hadapannya, lalu menancapkan pedang di sisi kepala. "Menyerahlah."


"Tidak...akan! Tidak akan kubiarkan kau menang!" balas Ilmol. Ia bangkit dan berputar dengan kedua pedang masih di genggamannya, menorehkan luka di tubuh Vristhi meski tidak cukup dalam. Namun belum cukup sampai di situ, Ilmol menghujamkan dual blade miliknya di tubuh Vristhi. Darah mulai mengalir deras dari luka tersebut.


"Ugh," erang Vristhi. Ilmol menarik kedua pedangnya dengan kasar dan menyentaknya agar darah tidak menempel.


"Menyerahlah," ujar Ilmol tegas. Vristhi mengulum senyum dan perlahan melebur menjadi lumpur. Ilmol terkejut dan mencari ke segala arah untuk menemukan wanita itu.


"Mencariku?" tanya Vristhi kalem. Ia duduk di samping kepala keluarga sembari menyesap tehnya. Tidak ada tanda-tanda tubuhnya baru saja ditusuk.


"Apa maksudnya ini?" bentak Ilmol.


"Kau baru saja melawanku bukan? Kenapa kau marah?" tanya Vristhi heran.


"Kau bercanda? Lalu ini apa?" balas Ilmol sembari menunjuk pada genangan lumpur yang terbentuk. Vristhi mengulum senyum dan berdiri dengan anggun.


"Salah satu bonekaku," balas Vristhi. "Tapi sayang kita harus segera mengakhiri semua ini. Skakmat," ujar Vristhi sembari menunjuk Ilmol. Mendadak tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan, bahkan bibirnya sekalipun. Perlahan ia melihat benang tipis bagai jaring laba-laba membelit tubuhnya seperti boneka marionette.


"Kau masuk dalam perangkapku, Ilmol. Kau pikir aku hanya diam saja sambil menghina Comet? Kau tidak akan bisa lepas dari genggamanku dan sampai saat ini belum ada yang bisa. Aku belum pernah mencobanya pada Saciel sih," ujar Vristhi. "Pilihlah, kau menyerah atau mau meneruskan pertarungan kita?"


Ilmol sadar ia tidak punya pilihan, namun ia tidak mau mengakui. Ia mencoba membakar benang itu, namun sama sekali tidak mempan, seolah benang itu bukanlah benda padat.


"Percuma kau membakarnya. Itu adalah benang sihir," ujar Vristhi sembari membuka kuncian mulutnya. "Nah, Ilmol. Katakan."


"...aku menyerah," ujarnya pasrah. Vristhi tersenyum puas dan melepaskan Ilmol, lalu berbalik menghadap kepala keluarga.


"Ilmol Phoenix akan menjadi kepala keluarga baru di sini, ada atau tanpa izinmu," ujar Vristhi tegas. "Berterimakasihlah aku tidak melaporkan ini pada Lao."


"Saya mengerti, Nona Rosemary," ujar kepala keluarga lemas. "Saya akan menghapus tradisi itu mulai detik ini."


"Datanglah ke kediaman Requiem malam ini, Ilmol. Kami akan menyambutmu dengan tangan terbuka," ujar Vristhi sembari meninggalkan tempat itu.