
Saciel kembali membuka matanya, namun kali ini ia tersadar dari tidur panjangnya. Phillip yang kebetulan masuk terkejut dan menghampirinya.
"Saciel?"
"Ngh, di mana aku?" tanyanya lirih.
"Kau sedang di ruang perawatan. Apa kau lupa kemarin kau pingsan?" tanya Phillip. Saciel terdiam sejenak dan menghela napas. "Dan beberapa tulang rusukmu patah hingga menembus jantung. Nasib baik kau selamat."
"Haha, kurasa alam baka tidak berniat menerimaku," gurau Saciel. "Bagaimana dengan yang lain?"
"Sedang beristirahat di penginapan. Jika tidak kupindahkan mereka bakal bikin rusuh kurasa."
"Benar juga. Lalu...sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Saciel.
"Er...setelah kau dirasuki will-o'-the-wisp, kurasa hampir 2 minggu?" jawab Phillip ragu.
"Lama juga," keluhnya. "Apa ada masalah selama aku tak sadarkan diri?"
"Selain keluarga demi human itu, tidak banyak yang berubah. Dan anehnya tidak ada satupun prajurit kerajaan yang datang menangkap kita."
"Aneh. Padahal Erika sudah melihat kita," gumam Saciel. "Kenapa mereka tidak langsung mengirim..."
"Sudah, istirahat sana. Kau seakan-akan sudah sehat saja," potong Phillip. "Besok kita bahas ini lagi."
"Baiklah, lagipula aku tidak mau membuatmu repot. Oh, jangan beritahu yang lain soal ini ya?"
"Kuusahakan. Kau tahu betapa repotnya mengurus Kezia saat dia merengek layaknya bocah umur 7 tahun. Dia kangen padamu," papar Phillip.
"Ah, begitu? Pokoknya jangan beritahu dia, paham?"
"Paham. Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Phillip. Ia berjalan meninggalkan klinik dan mendapati Max berdiri di bawah pohon dengan gaya cool.
"Mau apa kau?" tanya Phillip.
"Aku penasaran dengan wanita jalang itu," jawab Max santai.
'Ngaku saja kau ingin tahu keadaannya,' ujar Phillip dalam batin. "Dia baik-baik saja."
"Kau tahu bukan itu pertanyaannya," balas Max. "Dia sadar?"
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Begitu?"
"Beritahu saja keadaannya yang sebenarnya, Phillip. Aku nggak suka sama pembohong," ujar Julian sembari menodongkan pisau beracun di punggungnya.
"Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Phillip dingin. "Apa kau berniat menyeretnya pulang?"
"Jangan kaku begitu. Aku tidak ada niat untuk melakukan itu. Malahan aku kemari untuk berbagi informasi."
"Hah! Mana ada yang percaya dengan kata-katamu, brengsek," maki Phillip. Julian mengerutkan kening, lalu tersadar dan menyimpan pisaunya di balik jubahnya.
"Jadi informasi apa yang kau punya?" tanya Max dingin. "Jika kudapati ada kepalsuan di dalam infomu, kucabik-cabik kau."
"Woah, santai dulu dong. Kau tahu, saat ini kuil sedang dalam kekacauan akibat sabda Dewa Oorun turun. Cerlina kini tengah dalam pengawasan ketat para tetua."
"Cerlina? Apa yang terjadi padanya?" tanya Phillip panik.
"Sabda yang dikatakan Cerlina malah memancing konflik di Kota Careol, bahkan para tetua kewalahan mengatasi rakyat yang berdemo perihal itu."
"Memang apa isi sabda yang kalian maksud itu?" tanya Max.
"Kerajaan akan bangkit kembali dan para tetua akan kehilangan kuasa untuk memimpin negara ini," ujar Julian dengan senyum licik.
"Entahlah, aku tidak terlalu paham perkara itu. Tapi yang jelas, Cerlina berada dalam situasi yang kurang menguntungkan baginya. Mereka akan terus mengawasinya hingga tidak ada satupun info yang terlewat," jawab Julian.
"Apa info itu benar keluar dari bibir er...siapa tadi?" tanya Max.
"Oh, Cerlina itu saudara kembar dari Saciel. Dan yah, apa yang dikatakan Pendeta Agung selalu benar," jawab Julian santai. Max mundur sesaat setelah mendengar jawabannya.
"Saudara kembar katamu? Jangan bilang ada 2 orang gila dalam keluarga itu."
"Otakmu konslet? Yang satu ini tidak separah Saciel oke? Jadi tolong pilih kata-kata yang cukup enak didengar," balas Phillip.
"Terserah," jawab Max.
"Jadi, kenapa tidak ada yang datang menangkap kalian karena situasi di Careol sangat panas dan prajurit tidak bisa meninggalkan posnya begitu saja. Berterimakasihlah pada Cerlina," papar Julian.
"Heh, menarik," ujar Max.
"Hmph, kalau urusanmu sudah selesai, pergi sana. Kau mengganggu saja di sini," usir Phillip.
"Sadisnya. Tapi benar juga kata-katamu. Aku pergi dulu," pamit Julian. Ia berbalik dan menghilang dari hadapan mereka. Sebelum Phillip melangkahkan kakinya, suara Max menghentikannya.
"Jadi...kebohongan apa yang kau katakan padaku hah?" tanya Max dingin.
"...dia sudah sadar, tapi masih terlalu lemah untuk diajak bicara. Puas?" jawab Phillip sambil melirik ke arahnya.
"Hm, lumayan. Kalau begitu bagaimana jika kau temani aku minum? Kudengar elf punya bir enak di negara ini."
"Tidak buruk. Ayo pergi," ujar Phillip menyetujui. Keduanya berjalan menuju pub yang tak jauh dari klinik. Semua orang yang melihat Max langsung was-was, sesekali beringsut untuk meninggalkan pub.
"Kurasa aku tidak diterima di sini," ujar Max.
"Siapa peduli? Selama kau memiliki uang, mereka tidak akan berani mengusirmu," jawab Phillip kalem. "Bartender! Dua gelas besar bir terbaik yang kau punya!"
Bartender dengan cepat menuangkan bir ke dalam gelas besar dan membawanya ke meja Phillip dengan ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia menjerit kecil ketika Max meraih segelas dan meminumnya dengan beberapa tegukan.
"Ambilkan lagi," titah Max sembari memberikan gelas kosong pada bartender. Setelah bartender itu pergi, Phillip langsung menenggak habis isi gelasnya hanya dalam beberapa tegukan.
"Heh! Kau ternyata kuat minum?"
"Apa imej tuan mudaku luntur setelah aku minum?" tanya Phillip.
"Yah, soalnya kau terlalu kaku untuk bisa minum ini," balas Max. Phillip hanya tertawa kecil dan meminta bartender untuk mengisi ulang gelasnya.
"Apa yang membuatmu menolong kami? Aku yakin kau hanya ingin menemani si gadis jalang itu kan?"
"Sudah kubilang perbaiki kata-katamu, tapi ya sudahlah. Aku hanya tidak mau melihatnya menderita lagi. Aku sudah dekat dengan Saciel dan Cerlina sejak kecil, jadi aku tahu apapun tentangnya. Dia dipisahkan dengan saudarinya saat masih kecil karena yah...kau sudah dengar dari Julian. Aku tidak mau...meninggalkanya sendirian."
"Terakhir aku melihatnya saat di medan perang, dia sangat terpukul setelah kematian teman dan keluarganya. Menyedihkan."
"Bukankah kau yang membunuhnya?" tanya Phillip tajam. Max terdiam, tangannya hanya memainkan gelasnya. "Jawab aku."
"...kau benar. Aku yang membunuhnya," ujar Max. Phillip terdiam dan meneguk birnya. "Tapi...ah tidak, tidak apa-apa."
"Kau seakan menyembunyikan sesuatu," ujar Phillip.
"Semua orang memiliki rahasianya sendiri bukan? Kau, aku dan juga mereka sama saja. Ahh aku lapar. Oi bartender! Bawakan aku makanan terbaik milik kalian!"
"Heh, kau benar. Tidak ada seorang pun yang tidak memiliki rahasia," gumam Phillip sendu. Ia menghabiskan birnya dan menepuk pundak Max. "Aku duluan."
"Hei, lantas siapa yang membayar ini semua?" tanya Max panik. Phillip menghela napas dan memberikan sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk membeli sebuah bar kepada bartender.
"Layani orang ini dengan baik. Paham kan?" ancam Phillip dingin. Sang bartender hanya mengangguk ketakutan. Dengan cepat Phillip berjalan keluar meninggalkan Max yang masih asyik dengan alkoholnya.