The Two Empresses

The Two Empresses
The Coronation



D Day


Raz berhati-hati membuka pintu ruang ganti dan membiarkan para pelayan dan Saciel masuk. Ia membungkuk dan meninggalkan mereka. Para pelayan langsung bergerak mengurus sang bintang dengan penuh perjuangan.


"Aku ngantuk," keluh Saciel sembari menguap lebar.


"Bersabarlah, Yang Mulia. Hari ini akan lebih panjang lagi perawatannya," ujar Parvati kalem. Para pelayan bergegas memijat seluruh tubuh Saciel dengan minyak wangi, sementara yang lain mempersiapkan pakaian serta perlengkapannya dengan hati-hati.


"Parvati, aku lapar."


"Bersabarlah~" balas Parvati riang. Saciel menggumam tak jelas dan berhenti bicara ketika seorang pelayan memijat wajahnya. "Saya siapkan teh untuk Yang Mulia."


"Mn," balas Saciel. Ia kembali diam sembari membiarkan tubuhnya dipijat hingga menjadi halus. Selesai pijat para pelayan langsung mendudukkan gadis itu dan mulai membantunya berdandan.


"Bedaknya mana? Yang aroma mawar!"


"Parfum, cepat!"


"Jepit rambutnya mana?"


Para pelayan sibuk bolak-balik demi mengurus sang penguasa Careol yang baru dengan sedikit teriakan, tekanan dan kepanikan yang melanda. Saciel menahan tawa, namun berhenti ketika seorang pelayan menegurnya.


"Ini hanya penobatan, bukan?"


"Ini bukan hanya penobatan, Yang Mulia. Anda akan menunjukkan wajah Anda ke seluruh Respher. Jadi biarkan kami melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. Paham?"


"Baiklah, maafkan aku," ujar Saciel setengah hati. Para pelayan kembali mengurus gadis itu dengan penuh hati-hati. Selesai mendandaninya, gadis itu dibawa ke dekat cermin untuk berganti pakaian.


"Aduh, hati-hati dengan gaunnya."


"Cepat, waktunya tidak banyak."


"Mulai lagi," keluh Saciel lirih. Ia hanya diam seribu bahasa, namun tubuhnya tetap bergerak agar para pelayan bisa leluasa membantunya berganti pakaian. Selesai berganti dan memasang aksesori pelengkap, semua langsung mendesah puas. Gaun off-shoulder tanpa lengan dengan model ball gown berwarna putih gading terlihat elegan karena dihiasi oleh sulaman kerajaan. Lengannya dibalut sarung tangan senada dari beludru. Di pundaknya tersampir jubah dari bulu rasfur berwarna merah dengan pinggiran berwarna putih. Rambut yang biasanya diikat asal-asalan kini tergelung rapi dengan jepit rambut sederhana.


"Yang Mulia sudah siap!" sahut seorang pelayan. Yang lain bergegas membuka pintu dan mendapati Stevan beserta Parvati mengulum senyum.


"Sangat menawan, Yang Mulia. Kami sudah tidak sabar melihat Yang Mulia," puji Stevan. Saciel mengulum senyum, sementara seorang yang ia kenal datang dan terpana.


"Terlihat menawan, my lady," sapa Julian. Saciel tertawa kecil dan mengulurkan tangan, disambut dengan kecupan ringan di atas punggung tangannya. "Izinkan saya mengantar Anda sampai di depan, Yang Mulia."


"Silakan saja," balas Saciel tenang. Julian menggenggam tangannya dan menuntunnya menuju ruang tahta. Begitu tiba di depan ruang tahta, Julian perlahan melepas tangannya.


"Tetap tenang, semua media dan orang-orang mengawasimu, Saciel. Sayang Lao tidak ada di sini," ujar Julian.


"Aku akan baik-baik saja," ujar Saciel sembari memberi isyarat pada penjaga pintu. Sang penjaga pintu mengangguk dan membuka pintu, lalu yang lain meneriakkan namanya.


"Archduchess Saciel Arakawa memasuki ruangan!"


Semua mata langsung tertuju pada Saciel yang berjalan masuk di atas karpet merah. Tak sedikit yang kagum melihat kecantikannya yang sepadan dengan saudari kembarnya. Sesampainya di podium, Saciel mendapati Cerlina berdiri di sana dengan pakaian kebesarannya dan tongkat kebanggaan Pendeta Agung. Ia berlutut di hadapan Cerlina sembari menutup mata, sementara Cerlina merentangkan tangan di atasnya dan membacakan pujian untuk dewa.


"Nii, Saciel nee terlihat cantik," puji Kezia sembari menonton siaran melalui televisi.


"Ya, kau benar Kezia. Dia cantik," balas Max.


"Tidak kusangka dia akan menjadi ratu, padahal temperamental seperti itu," keluh Nero.


"Benar juga," balas Max sembari tertawa kecil. Jauh di sana Lao tengah duduk sembari menonton melalui bola kristal yang ia simpan dengan senyum penuh bangga.


"Akhirnya gadis kecil itu berhasil," gumam Lao. Selesai membacakan pujian, Cerlina meraih mahkota yang dipenuhi berlian dan permata Mata Oorun besar di tengahnya, lalu hati-hati meletakkan di atas kepala Saciel. Parvati bergerak maju untuk membantu Saciel berdiri, sementara Stevan membawakan tongkat kerajaan dan bola kerajaan dengan matahari di bagian puncaknya. Saciel mengambil kedua benda itu di tangannya dan berbalik.


"Sambutlah sang ratu Careol, Ratu Saciel!" sahut Cerlina. Semua orang langsung memberi hormat padanya, sementara rakyat di luar bersorak-sorai. Ia mengembalikan kedua benda itu dan berdiri di atas tahta dan mengulum senyum.


"Rakyatku yang tercinta, sudah lama sekali kita berada dalam ketakutan akan perang dengan Ceshier. Mulai detik ini, sebagai ratu kalian aku mendeklarasikan gencatan senjata!"


"Hah, wanita gila," celetuk Jegudiel sembari menutup bukunya. "Kau harus berjuang keras untuk bisa meluluhkan hati semua orang di Respher."


Semua orang kembali bersorak, berharap apa yang dideklarasikan sang ratu muda akan benar-benar terwujud. Di satu tempat, Vatra dan Dark memasang seringai mengerikan.


"Kuharap kau mampu bertahan dari semua serangan, bocah," sindir Vatra.


"Ratu naif, dia masih terlalu polos," celetuk Dark. "Sebentar lagi aku akan berada di sisinya."


"Hmph, tidak secepat itu. Ayo pergi, panggung kita belum rampung," ujar Vatra sembari berbalik dan menghilang dalam gelapnya hutan, disusul Dark yang melepaskan seekor gagak dengan cincin di cakarnya.


...****************...


Selesai acara penobatan, tibalah jamuan untuk seluruh tamu undangan serta rakyat. Namun rakyat lebih suka berpesta di alun-alun kota dengan kemeriahan yang sama seperti festival, tidak seperti para bangsawan yang berpesta di dalam istana. Saciel terlihat sibuk bertegur sapa dengan para bangsawan dan tamu undangan yang hadir.


"Saya mengucapkan selamat untuk Anda, Yang Mulia. Semoga Anda mampu memimpin Careol dengan bijak," sapa perwakilan flügel sembari berjabat tangan.


"Terima kasih. Kuharap kita bisa bekerja sama tanpa ada intervensi," balas Saciel kalem. Ia masih belum bisa memaafkan atas apa yang terjadi di Avant Heim, tapi dia juga tidak bisa memancing perang di wilayahnya sendiri. Phillip berdiri di sampingnya dan mengulurkan tangan.


"Izinkan saya mengantar Yang Mulia untuk beristirahat sejenak," ujar Phillip. Saciel tertawa kecil dan menerima uluran tangan itu, lalu mereka berjalan menuju tahta.


"Kau tahu, aku selalu berpikir mereka cocok."


"Benarkah? Memang terlihat cocok, tapi entahlah "


"Hei, mereka itu serasi. Kenapa tidak segera menikah saja ya?"


"Sejak kapan hubungan kita jadi gosip?" tanya Saciel lirih.


"Entahlah, yang pasti aku tidak peduli. Kau mau minum?" balas Phillip sembari mengulum senyum pada beberapa gadis yang meliriknya. "Padahal kita akrab bukan karena cinta, dasar."


"Wanita itu suka bergosip," balas Saciel. "Aku mau segelas anggur."


"Kalau bisa yang lain dulu, kau belum makan bukan?" balas Phillip ketus. Saciel mengangguk cepat. "Teh?"


"Dan kue. Tolong ya," balas Saciel girang. Phillip mengangguk dan pergi, lalu Cerlina hadir dan memberi hormat.


"Salam untuk Yang Mulia Ratu," sapa Cerlina. Saciel tertawa kecil dan melambaikan tangan.


"Tidak perlu formal di depanku."


"Tidak bisa, mau bagaimanapun Anda tetaplah ratu," balas Cerlina. "Selamat atas penobatannya."


"Terima kasih. Bagaimana keadaanmu? Kau siap menjadi Archduchess Arakawa yang baru?" tanya Saciel.


"Entahlah, menjadi archduchess berarti aku harus melepas gelarku sebagai Pendeta Agung, bukan? Kurasa belum saatnya."


"Jika demikian gelar itu akan kusimpan sampai kau siap mengisinya. Apa kalian sudah menyiapkan calon Pendeta Agung yang baru?"


"Sampai saat ini belum ada," balas Cerlina. "Oh iya, apa kau akan berganti nama keluarga?"


"Soal itu hanya aku yang bisa memutuskannya, anak-anakku," sahut Oorun sembari berjalan masuk dan menghentikan waktu. Si kembar terkejut dan berdiri, namun Oorun mengangkat sebelah tangannya. "Tenang, aku tidak ada niat aneh-aneh."


"Heh, sulit untuk dipercaya, Oorun. Terakhir kau datang padaku dengan niat membunuh, sekarang kau datang untuk apa?" tanya Saciel.


"Memberimu nama, bukan? Keluarga kerajaan sudah tidak ada, ah kecuali yang satu itu. Nama keluarga milikmu akan diganti dengan yang baru," ujar Oorun.


"Bisakah aku memakai nama keluargaku saja? Rasanya aneh jika mengganti nama keluarga lain," balas Saciel. Oorun menggelengkan kepala dan menatap Cerlina.


"Dan untukmu, aku sudah menyiapkan seseorang sebagai penggantimu. Kau akan bertemu dengannya di luar Careol."


"Bagus, akhirnya aku bebas juga," sambut Cerlina girang. Saciel menghela napas dan menatap Oorun dengan tatapan malas.


"Lalu namanya?"


"Kau akan tahu nanti. Bersiap saja," balas Oorun sembari pergi dan mengembalikan semuanya menjadi normal. Saciel menghela napas panjang dan mengakhiri pesta lebih awal untuk beristirahat.