The Two Empresses

The Two Empresses
The Rebirth of Tania Schariac



"Apa?" tanya Tania, masih berlinang air mata. Phillip bangkit berdiri dan menatap Tania dengan tatapan dingin.


"Mari bertarung, Nona," ujar Phillip dingin. Tania ternganga mendengarnya, bahkan membuat bonekanya terjatuh.


"Kenapa?"


"Karena kau saat ini terlihat menyedihkan. Siapkan tempat untuk kami bertarung," ujar Phillip sembari berjalan keluar bersama dengan kepala pelayan. Tania masih diam di tempat, tidak menyangka Phillip akan mengajaknya bertarung di kediamannya sendiri.


"Nona?" panggil pelayan.


"Aku ingin ganti baju," ujar Tania lirih, lalu berjalan lunglai menuju ke kamarnya. Sang kepala keluarga Schariac menghambur keluar dan menarik Phillip dengan sekali sentak.


"Apa yang kau lakukan pada putriku?" bentaknya. Phillip hanya diam dan menatapnya tajam. "Marquess!"


"Dia tidak memiliki semangat di hatinya. Aku hanya membantunya untuk mengembangkan potensinya, itu saja," ujar Phillip kalem.


"Tapi tidak begini caranya! Dia masih terlalu muda!"


"Memang, tapi perang tidak memandang muda atau tua, kuat atau lemah. Ah, dia sudah di sini," ujar Phillip sembari mengeluarkan rapier saat melihat Tania keluar dengan baju yang berbeda.


"Marquess! Saya akan melaporkan Anda pada..."


"Pada siapa?" potong Phillip.


"...kh!" geram kepala keluarga Schariac. Phillip mendorongnya agar menjauh dan berdiri di depan Tania dengan kilat menyelimuti tubuhnya. "Tania!"


"Aku akan baik-baik saja, Ayah," ujar Tania tenang. Ia melempar bonekanya dan menjentikkan jemarinya. Tiga lingkaran sihir muncul di tanah, perlahan tiga boneka berukuran manusia muncul dari lingkaran sihir. "Aku tidak akan segan-segan."


"Anak pintar," puji Phillip setengah hati. Ia menerjang dengan cepat dan mengarahkan ujung rapiernya pada Tania, namun salah satu boneka berbadan tambun langsung berdiri di depan dan mendorongnya menjauh. "Tidak buruk."


"Itu belum apa-apa," ujar Tania sembari menggerakkan dua boneka yang lain untuk menyerang Phillip. Kelincahan bonekanya nyaris menyamai manusia biasa, membuat Phillip kagum dengan peningkatan sihirnya. Boneka tambun maju dan berniat menghantamnya, namun Phillip dengan cepat berkelit dan menghancurkannya dengan sekali sentuh.


"Coba lagi," sindir Phillip. Tania diam sejenak dan menggerakkan boneka yang ia lempar. "Oh, sudah lama aku tidak melihat boneka itu."


Boneka itu tumbuh menjadi besar dan membawa parang,cocok dengan tampilannya yang menyeramkan. Ia maju dan melayangkan parangnya, namun Phillip mampu menangkisnya dengan rapiernya. Tania mengulum senyum dan menggerakkan boneka yang lain untuk menyerang diam-diam di belakang Phillip, namun instingnya yang kuat mampu membuatnya bergerak cepat dan menebas boneka di belakangnya menjadi tiga bagian.


"Lagi. Masih jauh dari yang kuharapkan. Aku yakin sebenarnya sihir boneka tidak cocok denganmu," ujar Phillip. Tania tersentak, lalu melihat ayahnya yang diam. "Apa Anda memaksanya, Duke?"


"...ya, kau benar Marquess. Aku yang mendorongnya ke dalam jurang keputusasaan karena aku ingin dia mengikuti jejakku sebagai magic puppeter, tapi kurasa...apa yang kau lakukan malah membuatnya tertekan," jawab kepala keluarga Schariac. Tania terdiam mendengarnya.


"Tania, tunjukkan sihirmu yang sesungguhnya," ujar Phillip kalem.


"Tapi ini sihirku!" sahut Tania.


"Apa kau nyaman dengan sihirmu?" tanya Phillip. Tania menggeleng pelan, membuat senyum perlahan terpatri di wajah Phillip. "Tidak apa, tunjukkan saja apa yang kau bisa."


Tania menghela napas dan menjentikkan jarinya. Tiba-tiba di belakangnya muncul sebuah jam raksasa dengan roda gigi berputar di belakangnya. Phillip tercengang melihatnya.


"Dia benar-benar mirip denganmu, Rena," ujar kepala keluarga lirih. Phillip berlari menerjang, namun Tania lebih cepat. Ia mengganti posisinya dan kini berada di belakang Phillip dengan sebuah senapan laras panjang. Phillip tersentak dan berbalik, namun Tania sudah berpindah lagi dan menembakkan timah panas ke arah kepala Phillip. Pemuda itu langsung berbalik dan menangkis pelurunya.


"Apa kau menggunakan teleportasi?" tanya Phillip.


"Tidak, aku hanya membuat waktumu melambat," jawab Tania dengan senyum manis. Phillip tertawa mendengarnya.


"Wah, lawan berat ini," ujar Phillip. Tania tertawa kecil mendengarnya. "Kurasa Saciel bisa kalah melawanmu."


"Entahlah," celetuk Tania sembari menghentikan waktu. Tidak ada yang bergerak, bahkan jarum jam yang ada di menara keluarga Schariac terkena dampaknya. Gadis kecil itu perlahan mendekati Phillip dan mengelus pipinya, lalu menembakkan timah panas hingga menembus perutnya. Tania menjentikkan jemarinya dan semua kembali normal. Phillip jatuh berlutut dan menahan perutnya yang terus mengalirkan darah dengan jumlah yang tidak sedikit.


"Heh, seharusnya aku tidak meremehkanmu," celetuk Phillip sembari menyembuhkan lukanya. "Tapi ini masih belum seberapa, Nona. Mari kita selesaikan semuanya dengan cepat."


"Kau sudah gila?" tanya Tania. Phillip menyeringai mendengarnya.


"Kurasa kegilaan Saciel mulai menggerogoti saya, Tania," balas Phillip. Ia kembali mengaktifkan petirnya, membuat Tania mengerutkan kening.


"Kau serius? Aku berhasil melukaimu dan kau masih berniat melawanku? Kau tidak takut dengan kekuatanku?"


"Kenapa harus takut?" tanya Phillip sembari melempar pedangnya secepat kilat, namun Tania berhasil menghentikannya. "Aku tidak takut lagi mulai detik ini."


Ia berpindah cepat dan menghancurkan jam besar di belakang Tania dan mendorong gadis itu hingga menabrak dinding. Tidak hanya itu, ia mengambil pedang yang terhenti di udara dan melemparnya ke arah Tania, namun berhasil dielaknya. Sayangnya dinding hingga beberapa bagian rumahnya hancur akibat serangan itu. Tania kembali menyerang, namun Phillip sudah ada di belakangnya dengan tangan berada di tengkuknya.


"Kalau saya musuh, kurasa sudah kupatahkan lehermu," ujar Phillip. Tania diam, tidak sanggup bergerak lagi. "Tubuhmu sudah di ambang batas."


"Bagaimana kau tahu?" tanya Tania sembari menoleh dengan keringat bercucuran di pelipisnya.


"Dari awal kau menggunakan sihir barumu. Kau terlihat kesakitan dan kelelahan, meski kau sudah memundurkan waktumu kembali ke titik dimana staminamu masih oke. Sayangnya kau tidak bisa mempertahankan sihir itu," ujar Phillip. Tania tertawa kecil mendengarnya, lalu menjatuhkan diri di pelukan Phillip.


"Tania!" sahut kepala keluarga sembari berlari ke arah mereka. Phillip dengan hati-hati membopongnya dan menatap kepala keluarga dengan tatapan teduh.


"Dia kelelahan," ujarnya sembari berjalan masuk ke mansion, disusul kepala keluarga dan pelayan. Setelah membaringkan Tania di ranjangnya, ia bergegas keluar dan melihat kerusakan yang ia hasilkan. "Duh, mesti diperbaiki secepatnya."


"Marquess, sisanya biar saya yang urus," ujar kepala pelayan sembari berjalan bersama beberapa tukang bangunan. "Tuan sudah memprediksi semua ini, jadi Marquess tidak perlu risau."


"Oh, begitukah? Tagihannya tolong kirim ke tempatku," ujar Phillip. "Aku harus pergi untuk mengurus yang lain."


"Baik, Marquess. Akan saya antar sampai ke depan."


"Oh, tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri, kau fokus saja mengurus di sini. Lagipula aku merasa tidak enak hati merusak rumah ini," balas Phillip. Ia berjalan cepat meninggalkan kediaman Schariac dan masuk ke dalam kereta kuda. "Gawat, Saciel bakal marah kalau tahu aku membuat Tania sakit."


Kereta kuda yang membawanya bergerak meninggalkan kediaman Schariac. Belum lama mereka pergi, tiba-tiba seseorang berdiri menghadang kereta hingga membuat sang kusir menghentikannya secara mendadak. Phillip yang nyaris terjatuh dari kursi langsung menyembulkan kepalanya untuk melihat apa yang membuat perjalanannya tertunda. Orang itu berjalan mendekati kereta dan berlutut di depan pintu.


"Marquess, tolong! Archduchess Rosemary mengamuk!"