The Two Empresses

The Two Empresses
Ramuan



"Aduh, kau gila apa? Kalian yang merupakan calon putri mahkota malah mau pergi?" keluh Julian.


"Kita kehabisan waktu, oke? Tidak bisakah kau menjalankan kewajibanmu sebagai seorang bangsawan?" balas Saciel ketus.


"Kacau," gumam Julian. "Saciel, aku masih sibuk menyiapkan ramuannya dan meski memang aku sangat membutuhkan air mata peri hutan, bukan berarti aku bisa membiarkanmu dan Cerlina pergi begitu saja."


"Julian, aku serius di sini," ujar Saciel tegas.


"Tidak tetaplah tidak."


"...kau berani menentangku?" tanya Saciel dengan mata tajam dan dingin. Julian tersentak dan memberi hormat.


"Mohon maaf atas ketidaksopanan saya, Archduchess," ujar Julian kaku. Saciel menghela napas dan mengibaskan tangannya.


"Aku tidak bermaksud begitu. Kau lakukan saja apa yang menurutmu terbaik. Aku juga akan melakukan apa yang menurutku terbaik," ujar Saciel kalem. Ia berjalan meninggalkan kediaman Zografos, diikuti Cerlina yang melambaikan tangan pada Julian.


"Ah, sialan," keluh Julian. "Ya sudahlah, aku bisa melakukannya. Sekarang..."


"Mana Tuan Putri?" tanya Nero sembari berdiri di depan Julian secara tiba-tiba. Julian terkejut dan terjatuh, membuat Nero heran melihatnya. "Kenapa kau?"


"Tidak bisakah kau muncul secara beradab?" tanya Julian. Nero hanya mengangkat bahu dan membantunya berdiri. "Apa yang kau inginkan?"


"Kau bilang butuh darah duyung kan?" tanya Nero. Ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan merah pekat. "Ini."


"Oh iya, kau benar juga. Sini berikan padaku," ujar Julian sembari mencoba meraihnya, namun Nero menariknya.


"Mana Cerlina?" tanya Nero.


"Dia...sibuk? Saat ini dia berada di luar jangkauan," ujar Julian.


"Apa maksudmu di luar jangkauan?"


"Saat ini dia pergi bersama Saciel untuk mengambil air mata peri hutan, puas?" tanya Julian sembari merampas botol kaca kecil itu dan berjalan menuju ruang kerjanya yang dipenuhi beragam jenis tanaman dan juga bangkai hewan.


"Baiklah, terima kasih infonya," ujar Nero kalem. "Masih ada yang kau butuhkan?"


"...kau bisa menarik Mandrake dari pot?" tanya Julian.


"Tidak, kau bisa saja malah membunuhku dengan lengkingannya," tolak Nero.


"Padahal kau sepertinya berniat menolong, ternyata hanya basa-basi saja?"


"Bisa jadi. Telinga demi human itu sensitif, terkadang suara yang terlalu keras membuat kami pusing atau paling parah telinga kami berdarah," ujar Nero menerangkan. Julian hanya mengangguk-angguk layaknya ayam yang sedang mematok beras di tanah. "Aku serius."


"Aku juga serius. Baiklah, kita hentikan saja sebelum pembicaraan ini makin ngawur. Kau mau lihat bagaimana mencabut Mandrake dari potnya? Itu akan sangat menarik."


"Bagaimana denganku?" tanya Nero. Julian memberikan headset yang didesain untuk demi human.


"Pakai itu dan jaga jarak. Meski sudah ditutupi, aku yakin suaranya masih bisa terdengar," ujar Julian. Nero mengangguk dan mengambilnya, perlahan memakainya dan memastikan terpasang di posisinya. Mereka pergi ke rumah kaca dan memasuki area mandrake yang tumbuh subur daunnya. Julian memberi kode pada Nero untuk mundur beberapa langkah, menutup telinganya dengan headset dan menggenggam kuat-kuat batang mandrake. Dengan seluruh kekuatannya ia menarik Mandrake itu hingga akarnya yang jelek seperti bayi berkeriput menampakkan diri. Sadar dirinya berada di luar pot, mandrake itu mulai mengeluarkan lengkingan yang membuat dinding kacanya bergetar. Meski sudah ditutupi headset, Nero masih mampu mendengar suaranya walau tidak terlalu keras.


"Umurnya pas," gumam Julian sembari memasukkan kembali mandrake tersebut ke dalam pot baru dan mengisinya dengan tanah serta pupuk. Mandrake itu meronta dan berusaha untuk kabur, namun Julian mampu menahannya hingga ia tak berkutik. Selesai memindahkan tanaman itu, Julian berhati-hati memetik beberapa lembar daunnya dan melepas headsetnya.


"Sudah selesai?" tanya Nero sembari melepas headset dan berjalan mendekati Julian. Julian mengangguk dan memamerkan daun yang baru saja dipanennya. "Oh, baguslah."


"Nah kau mau membantuku atau mau pergi mencari Cerlina?" tanya Julian. Nero berpikir sejenak dan menatap Julian.


"Aku membantumu saja. Kondisi Max mulai tidak stabil," ujar Nero getir. "Sihirnya masih aktif."


"Sihir hitam biasanya akan tetap aktif meski penggunanya mati. Bantu aku mengaduk ramuannya," ujar Julian sembari berjalan keluar dari rumah kaca.


"Hei, kau tahu siapa pengguna sihir hitamnya? Dia pernah menyerang Max meski berada di dalam istana."


"Aku tahu. Kemungkinan yang menyerang Max adalah mantan pangeran negara ini "


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Nero. Julian hanya angkat bahu dan masuk ke dalam ruang kerjanya. "Kau tak tahu?"


"Tidak, hanya Lao dan Vristhi saja yang tahu. Meski penampilanku terlihat tua, umurku masih sepantaran dengan kau," ujar Julian.


"Kalau itu sih Lao dan Vristhi yang akan menuju 40," balas Julian sembari mengiris kecil-kecil daunnya. Nero mengedipkan mata berkali-kali mendengarnya.


"Mereka terlihat ...lebih muda dibandingkan kamu."


"Terima kasih atas pujiannya, brengsek. Bantu aku cepat," ujarnya sembari memasukkan potongan daun ke dalam kuali yang mendidih. "Tinggal satu bahan lagi dan selesai."


Nero meraih sendok pengaduk dan mulai mengaduk, sesekali berjengit ketika letupan-letupan kecil nyaris mengenainya. "Apa semua penyihir bisa membuat ramuan?"


"Hmm itu adalah dasar ilmu sihir, jadi ya bisa. Tapi paling hanya yang sederhana saja," ujar Julian sembari mencermati resep ramuannya. "Seharusnya aku minta Claudia saja yang membuat, tapi dia sudah cukup tua untuk melakukannya."


"Siapa?"


"Oh, itu pengasuh si kembar. Dia adalah ahli pengobatan di sini."


"Kenapa kau tidak membuatnya di rumah Cerlina saja?" tanya Nero.


"Hampir semua bahannya ada di rumahku dan akan merepotkan kalau harus berpindah ke rumah Cerlina. Aku sudah konsultasi dengan Claudia dan dia bilang ramuannya sudah bagus," jawab Julian.


"Baguslah," ujar Nero. Selama sepuluh menit mereka tidak bersuara, hanya suara api yang menjilati pantat kuali dan gelegak cairan berwarna cokelat saja yang mengisinya.


"Oh iya, di mana si partner abadi Saciel? Bocah petir itu," tanya Nero.


"Kudengar sedang beristirahat karena melawan Vatra dan Vristhi. Nero nyaris menjatuhkan sendoknya.


"Hah? Dia kalah?"


"Jelaslah, lawannya itu berat, ditambah dengan temannya sendiri," balas Julian kesal. "Aku tidak mengerti jalan pikiran Vristhi."


"Siapa Vristhi?"


"Kau belum pernah bertemu ya? Mungkin di waktu lain kau akan bertemu dengannya," ujar Julian. Tiba-tiba pintu terbuka lebar, bersamaan dengan masuknya Cerlina yang mengulum senyum manis.


"Aku kembali. Ah, halo Nero," sapa Cerlina. Nero bergegas menyambut dan memeluknya dengan erat.


"Selamat datang. Bagaimana perjalananmu?" tanya Nero dengan senyum merekah.


"Lebih cepat dari yang kami perkirakan. Para peri hutan mau bekerja sama dan membantu kami, ini buktinya," balas Cerlina sembari memamerkan sebotol air berkilau.


"Bagus, dengan ini ramuannya selesai," ujar Julian sembari mengambil alih botol itu dan menuangkan tiga tetes ke dalam kuali. Perlahan warna cairannya berubah menjadi bening seperti air. "Sudah selesai. Eh, di mana Saciel?"


"Dia langsung pergi ke istana untuk mengurus beberapa hal. Kurasa juga mencari cara untuk mengeluarkan Lao dari penjara. Katanya disegel dengan sihir yang rumit."


"Dan kurasa hanya Vatra saja yang bisa membukanya," celetuk Julian. Cerlina hanya diam, antara menyetujui atau tidak bisa menyanggah. "Sihir itu luas, ada yang sederhana hingga rumit."


"Kalian kan penyihir, masa tidak bisa?" keluh Nero.


"Tidak semua penyihir itu sanggup membongkar semua sihir yang ada di dunia. Bisa saja ada sihir yang lebih kuat dibandingkan kami. Tidak ada yang lebih hebat dibandingkan dewa," balas Julian.


"Dewa ya? Aku tidak terlalu percaya dengan mereka, walau kuakui bertemu setengah dewa saja mampu menghajarku habis-habisan," keluh Nero. Julian hanya diam sembari memasukkan ramuannya ke dalam beberapa botol kecil dan dua botol besar. Ia lalu memberikan sebotol kecil pada Nero.


"Ini untuk Max. Satu sendok makan saja sudah lebih dari cukup," ujar Julian.


"Terima kasih," ujar Nero sembari mengambil botol kecil itu. "Lalu bagaimana dengan Lao?"


"Soal itu biar kami yang urus, kau uruslah Max," ujar Julian.


"Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Nero sembari melompat ke luar jendela.


"Dia tidak menciummu?" tanya Julian sembari berpaling pada Cerlina. Serabut merah mulai mengisi wajahnya.


"Tidak," jawab Cerlina kalem. "Biarkan dia fokus dengan keluarganya dulu."


"Kau ini baik sekali," puji Julian. Ia menyimpan botol kecil lain di sakunya dan menyembunyikan dua botol besar di balik tumpukan buku tebal. "Mari pergi ke penjara untuk mengunjunginya Lao."