
"Aku pernah mengunjungi tempat itu," ujar Saciel. Oorun mengulum senyum mendengarnya.
"Aku tahu, anakku. Aku selalu memperhatikanmu, bahkan di saat kau sekarat sekalipun," ujar Oorun. Saciel ber-o kecil mendengarnya. "Sudah pernahkah kau mencoba masuk ke dalam hutan kecil di sana?"
"Tidak. Nero melarangku untuk masuk karena terlalu berbahaya, meski hanya memasukkan sebelah tanganku saja."
"Memang benar berbahaya, bahkan mengancam nyawa sekalipun. Tapi tanaman yang kalian butuhkan ada di tengah hutan itu. Kau masih berniat melakukannya?"
"Masih," ujar Saciel tegas. Oorun tersenyum dan membuat sebuah proyeksi tanaman anggrek hitam berukuran kecil seperti melati. "Apa itu tanamannya?"
"Iya, namanya Anggrek Onyx. Warnanya hitam berkilau seperti batu onyx, tetapi kau harus berhati-hati dengan getahnya. Getahnya mampu membuatmu lumpuh untuk beberapa hari," papar Oorun.
"Lalu bagaimana caranya kami masuk dan memetik tanaman itu jika yang kami hadapi adalah kematian?" tanya Saciel.
"Kalau itu kau harus temukan sendiri jawabannya. Biar kuperingatkan, belum ada penawar yang mampu menetralkan getah anggrek itu," ujar Oorun. Saciel mengerang pelan, namun mendadak terlintas sesuatu yang janggal.
"Tunggu sebentar, kalau tanaman itu ada di dunia, kenapa temanku tidak bisa melacaknya?"
"Oh? Si penyihir tanaman itu? Itu karena ada batas suci yang menghalangi agar tidak ada penyihir tanaman mampu mendeteksinya. Tanaman itu masih termasuk tanaman kahyangan, haha," jawab Oorun. Saciel hanya merutuk di depan Oorun, lalu berbalik dan segera meninggalkannya. "Aku belum selesai, anakku."
"Apa yang kau inginkan?" tanya Saciel sembari berhenti dan menoleh. Oorun bangkit berdiri dan menyejajarkan wajahnya pada Saciel.
"Bisakah kau berjanji padaku untuk membunuh Vatra?"
"Kenapa kau tidak membunuhnya sendiri?"
"Karena aku menyayanginya. Aku tidak sanggup membunuhnya dengan tanganku sendiri. Dia masih anakku, darah dagingku dengan seorang manusia," jawab Oorun pahit. Saciel mengerutkan kening dan menatapnya dengan mata sedingin es.
"Lalu kenapa dia malah menyerang kami dan menolak eksistensimu?" tanya Saciel tajam. Oorun diam sejenak dan menghela napas.
"Ceritanya rumit dan sangat membosankan."
"Akan lebih baik jika kau menceritakan kisah membosankan itu," ujar Saciel. Sebelum Oorun membuka mulut, jeritan panjang dan menyakitkan memecah keheningan. "Cerlina!"
Langkah berat dan tegap terdengar. Terlihat sosok besar mendekati taman, namun wajahnya tertutup oleh tudung. Saciel menarik pedangnya, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Orang itu menurunkan tudungnya dan wajah bengis terpatri jelas.
"Hai, Ayah," sapa Vatra dingin. Oorun diam, namun matanya menangkap pemandangan yang tidak menyenangkan.
"Apa yang kau lakukan pada Cerlina dan Nero?" tanya Saciel, mengarahkan mata pedangnya ke arah Vatra.
"Penasaran?" tanya Vatra sembari memamerkan tangannya yang berlumuran darah. Darah Saciel menggelegak, namun ia mencoba menahan diri untuk tidak menyerang membabi buta. "Aku hanya menyingkirkan serangga yang kebetulan bermain di tangga."
"Sialan," maki Saciel. Vatra tertawa mengejek dan maju secepat kilat, memegang kepala Saciel dan membantingnya sekeras mungkin. "Kh!"
"Hentikan, Vatra!" gelegar Oorun. Vatra melepaskan gadis itu dan menatap Oorun dengan kilat kebencian.
"Karena kau, ibu mati. Lalu apa yang kau lakukan? Kau membuangku begitu saja. Tanpa rasa bersalah, tanpa ada tanggung jawab. Dewa bodoh!" maki Vatra.
"Apa yang kulakukan itu untuk kebaikanmu, Vatra."
"Oh, begitukah? Dengan mengorbankan segalanya? Kau memang pantas untuk dibenci dan dibunuh, Ayah," balas Vatra.
"Kau boleh membunuhku, tapi bukan berarti kau bisa menyakiti orang lain," ujar Oorun. Vatra tertawa keras dan melemparkan beberapa potongan tubuh manusia dan demi human. "Kau sudah kelewatan, Vatra!"
"Ini belum seberapa, Ayah. Masih ada banyak yang akan terjadi ini," ujar Vatra dengan senyum sadis. Saciel perlahan bangkit dan melempar pedangnya, namun berhasil ditangkap Vatra. "Lemah."
"Kau lupa aku masih dilindungi Oorun?" tanya Vatra merendahkan. Saciel mengulum senyum dan menambah intensitas panas api, membuat Vatra sedikit berjengit. "Api apa ini?"
"Api hitam dengan kekuatan suci," jawab Saciel. Vatra segera mematikan apinya, memamerkan tubuhnya yang terluka. "Kurasa itu cukup mempan."
"Cih, sialan," maki Vatra. "Kau beruntung, bocah." Ia segera pergi dengan sekali putaran, meninggalkan penyihir dan dewa itu.
"Kau baik-baik saja?"
"Tidak. Hidungku berdarah, kurasa hampir patah. Ah, Cerlina!"
Saciel bergegas turun, mendapati Nero dan Cerlina terkapar di anak tangga dengan darah mengalir dari perut mereka. Cepat-cepat ia melakukan pertolongan pertama dan mencoba mencari ramuan penyembuh. Oorun yang melihatnya langsung menurunkan kekuatan sucinya untuk menyelamatkan mereka berdua.
"Kenapa kau tidak turun?" tanya Saciel.
"Aku tidak bisa turun sekarang. Belum saatnya," ujar Oorun. Saciel mengerutkan kening, namun memilih diam dan membantu mereka memperbaiki posisi.
"Cerlina, sadarlah," panggil Saciel sembari menepuk pelan pipinya. "Hei, Nero. Bangun."
"Ngh, Ciel?" panggil Cerlina lirih. Saciel menghela napas lega, lalu berpaling pada Nero yang masih belum sadarkan diri. "Ah, ada.."
"Sudah tidak apa-apa. Bangunkan Nero, oke? Aku masih ada urusan dengan Oorun," ujar Saciel. Setelah memastikan Cerlina kuat, Saciel kembali ke atas, dimana Oorun tengah memandangi sebuah liontin berbentuk oval dengan wajah sedih. "Ceritakan sekarang."
"Kau ini memang tidak sabaran ya, anakku? Tapi baiklah. Itu kejadian yang sudah sangat lama. 50 tahun lalu, aku turun ke bumi untuk mengurus sesuatu dengan Hades. Dan aku bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik, secantik dirimu. Dia hanya manusia biasa, lemah dan tak berdaya tanpa perlindungan orang lain."
"Wow, kok rasanya sedikit menghina ya?" potong Saciel. Oorun hanya tertawa kecil.
"Memang benar, kan?" balik Oorun. Saciel hanya mengangkat bahu, membuat gestur untuk Oorun melanjutkan ceritanya. "Sampai di mana tadi? Oh, ya gadis itu. Namanya Oluphemi."
"Nama yang cantik," ujar Saciel tulus.
"Memang nama yang cantik, tapi karena nama itu ia juga tewas secara tragis," ujar Oorun. "Aku terpikat oleh kecantikan serta kebaikan hatinya, dan kami menjalin hubungan gelap. Vatra adalah buah percintaan kami dan aku tidak menyesalinya. Tapi, aku yang sudah terlalu lama berada di Bumi mulai dijadikan gosip di kahyangan."
"Kenapa menjadi gosip?"
"Tidak lazim seorang dewa untuk berlama-lama di Bumi. Karena itu aku meninggalkan Oluphemi yang tengah mengandung Vatra. Nama itu kuberikan padanya agar ia selalu hangat layaknya perapian. Ternyata aku salah."
"Apa Oluphemi meninggal...karena sebuah insiden?" tanya Saciel.
"Deus membunuhnya tepat saat Vatra berumur 10 tahun, di depan matanya. Alasannya sederhana, rasa cemburu. Deus mencintainya juga, tapi tidak bisa meraihnya karena terlalu sibuk mengurusi flügel. Lucunya, dia tidak membunuh Vatra dan aku tidak berdaya untuk menolongnya. Semua mata tertuju padaku."
"... kurasa kau memang pantas mati karena dosa itu. Tapi kenapa dia melampiaskannya pada kami, seluruh penghuni Bumi?" tanya Saciel heran. Oorun terdiam lama, seakan tidak mau menjawab pertanyaan itu. "Kau tak mau bicara?"
"Untuk yang ini aku tidak bisa menjawabnya. Sebaiknya kau pergi dan temukan anggrek itu sebelum temanmu mati," ujar Oorun sembari menjentikkan jemari dan memindahkan Saciel kembali ke kuil.
"Ah, sialan. Dia menghindari pertanyaanku," keluh Saciel. Ia bergegas menemui Cerlina dan Nero yang tengah duduk di ruang tamu kuil tanpa rasa takut. "Nero, kita akan pergi ke pulau darah itu."
"Pulau darah? Tunggu, kau tidak merujuk pada pulau tak berpenghuni itu kan?" tanya Nero.
"Aku sedang membahas yang itu," ujar Saciel.
"Nggak nggak, untuk apa kita ke sana? Kau sudah tahu betapa berbahayanya tempat itu, bukan?" tolak Nero ketakutan.
"Kita harus ke sana. Karena... tanaman obatnya ada di sana."