The Two Empresses

The Two Empresses
Broken



"...kau baik-baik saja? Matamu kok hitam kayak panda?" celetuk Cerlina sembari menyantap roti isi daging dengan sayuran, matanya memperhatikan kantung mata Saciel yang hitam.


"Gara-gara begadang," jawab Saciel sekenanya. Ia meraih roti isi dan menyantapnya dengan pelan, membuat Cerlina makin heran. Bibi menuangkan teh dan memberikannya pada Saciel. "Terima kasih, Bibi."


"Apa Nona sedang ada masalah dengan urusan percintaan?" tanya Bibi. Saciel terkejut setengah mati hingga tersedak, membuat Bibi dan Cerlina segera menolongnya.


"Kenapa... percintaan?" tanya Saciel sembari menenggak habis secangkir teh panas hanya dengan beberapa tegukan.


"Insting, mungkin?" celetuk Bibi. Saciel mengerang dan bangkit berdiri, lalu meninggalkan meja makan. "Nona?"


"Aku mau kerja dulu. Bawakan aku biskuit di kantor," ujar Saciel.


"Tidak biasanya dia bertingkah seperti itu," gumam Cerlina. Bibi tertawa kecil mendengarnya.


"Itu sudah pernah terjadi saat Nona Saciel berumur 12 tahun. Kala itu, ia naksir sama anak bungsu Count Montreal dan hampir seminggu tidak nafsu makan," papar Bibi. Cerlina ber-o kecil mendengarnya.


"Dia menggemaskan juga ternyata," celetuk Cerlina. Kepala pelayan masuk dan memberi hormat.


"Nona Cerlina, Tuan Requiem...maksud saya Duke Requiem datang untuk menemui Nona," ujar kepala pelayan. Cerlina mengangguk dan menyelesaikan sarapannya, lalu bergegas turun ke aula dan mendapati Lao menanti dengan Julian.


"Selamat datang, Lao," sapa Cerlina.


"Terima kasih sudah memberikan waktu kepadaku, Nona Pendeta Agung. Bisa kita mengobrol sejenak?" tanya Lao sembari memberi hormat, begitu juga dengan Julian.


"Tentu saja. Mari pindah ke ruang tamu," ujar Cerlina sembari berjalan, diikuti para lelaki di belakang. "Tolong siapkan cemilan dan teh untuk tamu kita."


"Baik, Nona," jawab kepala pelayan. Setelah mereka semua duduk, Lao menyerahkan selembar kertas beserta pena.


"Apa ini?"


"Surat persetujuan untuk mengadakan pemilihan putri mahkota," ujar Lao. "Rakyat mulai meragukan para tetua dan beberapa bangsawan menyatakan untuk mendukung pemilihan ini," ujar Lao.


"Dengan kondisimu yang seperti orang mati kau sempat-sempatnya mengurus negara?" tanya Cerlina heran.


"Yah, kita tidak bisa berlama-lama di sini, nak. Kau punya kuasa tertinggi setelah para tetua, jadi kau punya hak untuk menyetujuiku atau menolak."


"...sudah berapa orang yang menyetujui ini?"


"Perwakilan dari 7 Eternal Wizards yaitu aku, para dewan, lalu bangsawan dengan status tertinggi serta perwakilan dari rakyat," celetuk Julian.


"Berarti tidak ada yang minta persetujuan dari para tetua?" tanya Cerlina.


"Perwakilan tetua, Erika malah kabur bersama Yorktown. Boldstone saat ini berada di ruang interogasi untuk dimintai keterangan," jawab Lao. Cerlina menghela napas dan menandatangi kertas itu setelah membacanya dengan seksama.


"Kapan pemilihan putri mahkota akan dilakukan?" tanya Cerlina.


"Kalau semuanya berjalan lancar, kurasa dalam waktu 3 hari akan dimulai," jawab Lao.


"Kau juga harus bersiap, mengingat kau juga merupakan kandidat putri mahkota," ujar Julian. Cerlina mengerang kecil, namun mengangguk untuk mengisyaratkan ia paham dengan tanggung jawabnya. "Di mana Saciel?"


"Saat ini dia sedang bekerja. Kau ingin bertemu dengannya?" balas Cerlina. Julian hanya menggelengkan kepala. "Oh iya, apa ada kabar mengenai orang yang meracuniku?"


"...tidak ada," ujar Julian.


"Tidak ada? Apa maksudmu?" tanya Cerlina kesal.


"Aku dan Istvan sudah mencari ke segala wilayah bahkan padang pasir, tetapi tidak ada jejak dari gadis kuil itu," papar Julian.


"Apa dia mati?"


"Aku ragu," ujar Lao. "Ada kemungkinan dia masih hidup, tapi tidak di dimensi ini."


"Apa ini karena Vatra?" tanya Cerlina.


"Bisa jadi, dia kan setengah dewa," keluh Lao.


"Kalian sedang membahas apa?" tanya Saciel sembari masuk ke ruang tamu.


"Lagi?"


"Ini serius, aku sedang mengumpulkan tanda tangan untuk persetujuan diadakan pemilihan ini," balas Lao. Saciel menghela napas dan menatap lekat-lekat kedua tangan Lao yang berselimutkan sarung tangan. "Jangan fokus pada tanganku."


"Kita harus menyelamatkan dirimu," gumam Saciel.


"Untuk apa? Negara masih membutuhkan kita."


"Lalu siapa yang akan mengurus 7 Eternal Wizards kalau kau mati? Kau bahkan tidak punya keturunan," balas Saciel. Lao terdiam cukup lama, membuat Julian angkat bicara.


"Saciel benar, Lao. Kalau kau sampai mati, kita tidak bisa mencari pemimpin lain," ujar Julian. Lao menghela napas dan menatap Saciel.


"Kau sudah dengar soal taman kahyangan dari Julian ya?" tanya Lao. Saciel mengangguk, membuat Lao kembali menghela napas. "Memang ada kemungkinan kita bisa mendapatkan tanaman obat dari taman kahyangan, namun tidak ada yang tahu di mana tempatnya. Jadi...kurasa tidak ada gunanya."


"Kita harus berusaha. Aku akan mencari cara, kau pikirkan saja urusan negara. Bibi, siapkan semua perlengkapanku."


"Hei, siapa suruh kau pergi? Kau tidak boleh meninggalkan Careol," ujar Lao.


"Kau tidak bisa menghalangiku, Lao. Akan kutemui dewa sialan itu dan kudapatkan tanaman obat itu,' balas Saciel. Ia meninggalkan ruang tamu, disusul Cerlina dengan terburu-buru. "Mau apa kau?"


"Membantumu untuk bertemu dengan dewa sialan," balas Cerlina dengan senyum manis. Saciel tersenyum puas dan mengangguk. Mereka melangkah ke luar, di mana kereta kuda sudah menunggu untuk mengantarkan tuannya pergi. "Bawa kami ke kuil Oorun."


"Eh? Kau gila?" tanya Saciel.


"Tidak. Tempat itu adalah tempat yang ideal untuk bertemu Oorun," balas Cerlina. Sang kusir mengangguk, membuat Saciel tidak punya pilihan selain menyetujui dan masuk ke dalam kereta kuda. Mereka segera meninggalkan kediaman Arakawa, membuat Lao menghela napas menyerah.


"Sepertinya percuma saja kau melarang mereka," celetuk Julian.


"Biarkan saja. Mereka sudah jauh dari jangkauan kita, yang bisa kita lakukan saat ini hanya mendukung. Ayo pergi, urusan kita masih banyak," ujar Lao dengan senyum tulus. "Oh iya, sekalian panggil Vristhi untuk datang ke tempatku."


"Baik."


...****************...


"Yang Mulia, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ujar kepala pelayan kerajaan.


"Siapa?" tanya Max. Sebelum kepala pelayan kerajaan menjawab, Dark melenggang masuk dengan santai tanpa ada rasa takut. "Oh?"


"Salam, Yang Mulia Putra Mahkota. Izinkan hamba untuk menyampaikan beberapa hal pada Anda," sapa Dark dengan nada manis.


"Kau tidak punya sopan santun ya?" sindir Max sembari memangku kepalanya dengan tangan kanannya. "Baru kali ini aku menemukan orang tak beradab masuk ke istana seperti itu."


"Oh, begitukah? Bukannya Yang Mulia juga sama saja?" balas Dark sinis. "Oh, apa saya menyinggung Yang Mulia?"


"Tidak, lanjutkan," ujar Max. Kepala pelayan hendak menyergah, namun Max mengangkat tangan untuk membuatnya diam.


"Yang Mulia Putra Mahkota beserta anggota keluarga kerajaan sudah berani menginjakkan kaki di wilayah Careol tanpa izin," balas Dark dengan senyum dingin. Max tertawa kecil dan melambaikan tangannya.


"Begitukah? Berarti kita sama-sama berada dalam posisi kurang menguntungkan, seperti itu?" tanya Max.


"Lebih tepatnya, hanya kau yang berada di situasi yang tidak menguntungkan."


"Oh? Kau punya nyali ternyata," ujar Max sembari menarik sabitnya dari balik tahta. "Mau kupenggal kepalamu?"


"Saya ragu Yang Mulia sanggup melakukannya," balas Dark sembari menjentikkan jemari, disusul suara ledakan dari luar. "Satu."


"Keparat kau!" maki Max sembari menerjang dan mengayunkan sabitnya. Dark mengelak, namun tangan kirinya tidak selamat. Sebelum berhasil mundur, Max kembali mengayunkan sabitnya dan menghancurkan mata sebelah kanannya.


"Argh!"


"Kau masih berani bertingkah?" tanya Max sembari mengarahkan mata sabitnya di leher Dark.


"Tentu saja, kau pikir aku takut?" balas Dark sembari menarik Max dan membakarnya dengan api hitam