
"Yang Mulia memanggil saya?" tanya Cerlina sembari memberi hormat di hadapan Saciel.
"Ya, Cerlina. Aku memanggilmu. Temani aku untuk menemui Oorun," jawab Saciel dengan wajah malas.
"Untuk apa?"
"Aku ingin mengambil Mata Oorun di Hutan Suci," jawab Saciel. Cerlina terperanjat mendengarnya.
"Kak, tapi permata itu sangat langka dan sulit untuk ditambang, untuk apa Kakak...maksudku Yang Mulia membutuhkannya?"
"Avant Heim sedang dalam kehancuran, Cerlina. Aku juga sebenarnya enggan, tapi seluruh Respher diserang dan semua berusaha sebisa mungkin untuk bertahan. Menurut Jegudiel, Mata Oorun bisa menolong mereka untuk sementara waktu sampai ada pengganti Deus," papar Saciel teduh. Cerlina menggigit bibir bawahnya dan menatap Saciel.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat itu," tegas Cerlina, membuat Saciel heran mendengarnya.
"Kenapa?"
"Kau bisa saja mati."
"Aku tidak akan mati sebelum semuanya beres," sergah Saciel.
"Kau tidak peduli padaku?" tanya Cerlina dengan berlinang air mata di pipinya. "Kau mau meninggalkanku seperti Papa dan Mama?"
"...aku tidak akan meninggalkanmu, Cerlina. Jangan menangis," bujuk Saciel.
"Kalau begitu jangan pergi! Tetaplah di sini!" jerit Cerlina. Suaranya bergema hingga koridor dan beberapa pelayan yang lalu lalang mampu mendengarnya. Saciel menghela napas dan mendekati Cerlina, merengkuhnya dalam pelukan. Air mata Cerlina semakin deras mengalir, sesekali isakan keluar dari bibirnya.
"Kau tahu kita tidak bisa mundur saat ini, Cerlina. Aku harus menolong mereka, meski kau mencoba menghalangiku dengan berbagai cara," bisik Saciel lembut.
"Kalau kau...mati...aku tidak sanggup," isak Cerlina. Saciel mengelus kepala gadis berambut ungu itu dengan penuh kasih sayang, sesekali membisikkan kata-kata penghiburan untuknya.
"Kau harus tegar, Cerlina. Kau tidak boleh kalah oleh emosimu."
"Biasanya...kan kau...hiks, yang kalah...dari...hiks emosi," balas Cerlina. Saciel tertawa kaku mendengarnya.
"Kau benar. Nah, sekarang hapus air matamu dan kita akan pergi. Phillip, Lao!"
"Ya, Yang Mulia?" jawab keduanya sembari memberi hormat.
"Selama aku dan Cerlina pergi, kalian harus menjaga keamanan Careol. Paham?"
"Baik, Yang Mulia!"
"Mari pergi," ujar Saciel sembari mengulurkan tangannya pada saudari kembarnya. "Oh iya, tolong jaga Bibi Claudia ketika ia sampai."
"Kami mengerti," jawab Lao. Ketika tangan Cerlina sudah ada dalam genggaman, Saciel menjentikkan jemarinya dan mereka berpindah tepat di depan kuil yang kosong. Tanpa membuang banyak waktu, mereka bergegas menuju tangga dan terkejut ketika tangga akses menuju tempat Oorun sudah hancur berkeping-keping.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Cerlina heran.
"...kurasa Oorun sendiri yang melakukannya," ujar Saciel sembari mendongak. "Semua anak tangganya hancur tak bersisa."
"Apa Dewa Oorun tidak ingin menemui kita?"
"Aku tidak tahu, tapi yang pasti kita tidak akan bisa naik menemuinya. Pegangan," ujar Saciel sembari merangkul adik kembarnya dengan erat.
"Saciel, mau apa kau?" tanya Cerlina setengah panik. Saciel hanya diam dan menjentikkan jarinya, disusul kehadiran sapu terbang di sampingnya. "Kau tidak berniat terbang ke langit, kan?"
"Sayangnya aku berniat untuk terbang," ujar Saciel sembari menaiki sapu itu dengan Cerlina di belakangnya, lalu mengarahkan ke langit dengan kecepatan tinggi. Yang di belakang hanya bisa menjerit ketakutan sembari berdoa memohon perlindungan. Baru saja mencapai lapisan pertama, sapu yang mereka tunggangi menabrak awan yang tebal dan sulit ditembus.
"Ah! Sial, ternyata kita tidak bisa masuk," keluh Saciel.
"Bagaimana sekarang?" tanya Cerlina cemas.
"Mau tidak mau kita harus kembali. Oorun memblokir semua akses kita," balas Saciel. Mereka kembali ke darat dan menghela napas pasrah.
"Kalau begini mau nggak mau harus tetap pergi ke Hutan Suci tanpa bantuan Oorun," ujar Saciel.
"Kita pasti bisa, tenang saja," hibur Cerlina. Saciel mengangguk dan menjentikkan jarinya, memindahkan mereka di depan jalur masuk menuju Hutan Suci.
"Tempat ini dekat dengan desa manusia, bukan?" tanya Cerlina.
"Ah, iya. Kita bisa mampir sejenak jika kau ingin melihatnya," ujar Saciel. Cerlina diam sejenak dan berpaling pada Saciel.
"Ya?"
"Berjanjilah padaku kau akan mengubah segalanya," ujar Cerlina sendu, tatapannya terlihat menahan air mata.
"Aku..."
"Yang Mulia! Syukurlah Anda di sini," sahut seseorang. Keduanya berpaling dan mendapati Parvati berlari ke arah mereka. "Kembalilah ke istana segera. Utusan dari Ceshier datang menemui Anda."
"Hah?! Tapi..."
"Yang Mulia, Anda harus kembali," potong Parvati. Saciel diam sejenak, bimbang antara bertahan atau pergi.
"Pergilah, aku bisa melakukannya sendiri," ujar Cerlina lembut. Saciel terkejut dan berpaling pada saudara kembarnya.
"Cerlina, tapi tempat itu berbahaya," ujar Saciel. Cerlina tertawa kecil mendengarnya.
"Kali ini biar aku yang menghadapi bahaya, kau temuilah utusan Ceshier. Kita tidak boleh mencoreng muka kita di hadapan bangsa lain," nasehatnya. Saciel menghela napas dan menepuk kedua bahu Cerlina.
"Aku mengerti, tapi kau pergi dengan Parvati. Dia akan membimbingmu masuk."
"Parvati kan sibuk," kilah Cerlina.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya bisa menemani Anda," ujar Parvati. Saciel mengulum senyum kemenangan dan memeluk Cerlina dengan erat.
"Hati-hati, ya?" bisiknya sembari mengecup pipi Cerlina dan pergi hanya dalam waktu kurang dari sedetik, meninggalkan dua wanita muda dengan suasana yang cukup canggung.
"Mari, Nona Arakawa," ujar Parvati. Keduanya berjalan memasuki Hutan Suci. Baru beberapa langkah masuk, Cerlina mendengar suara-suara yang menggema di kepalanya.
"Pendeta Agung, akhirnya kau kembali."
"Eh? Parvati, kau mendengarnya?" tanya Cerlina sembari memegang telinganya.
"Mendengar apa, Nona?"
"...umm, bukan apa-apa," balas Cerlina ragu. Mereka terus berjalan dan suara itu makin keras, membuat Cerlina mulai ketakutan.
"Parvati, di sini tidak ada hantu, kan?"
"Eh? Tentu saja tidak ada, Nona. Kenapa?" tanya Parvati. Baru mau membuka mulutnya, seekor naga menukik turun dan menangkap Cerlina, lalu membawanya pergi
"Parvati!" sahut Cerlina. Parvati yang kaget langsung mengeluarkan sayapnya dan bersiap terbang, namun naga lain menahannya dengan membuatnya sibuk bertarung. Naga yang membawa Cerlina melesat membelah angkasa hingga mencapai wilayah terdalam Hutan Suci. Hati-hati diturunkannya Cerlina dan pergi begitu saja.
"...aku di mana?" tanya Cerlina frustrasi.
"Selamat datang, Pendeta Agung," sapa suara itu lagi. Cerlina mencoba mencari sumber suara itu, namun yang ia temukan hanyalah gunung batu di belakangnya.
"Mendongaklah," ujarnya lagi. Cerlina mendongak dan terkejut melihat bahwa benda yang ia kira gunung batu adalah bagian tubuh dari naga alpha. Ia jatuh terduduk, kakinya sudah tidak sanggup menahan rasa takutnya.
"Ah....ah?"
"Tidak perlu takut, Pendeta Agung. Aku tidak akan melukai ibuku sendiri," ujarnya.
"... bagaimana...bisa...kau...bicara padaku?" tanyanya terbata-bata.
"Aku bicara melalui telepati, Pendeta Agung. Kami para naga bisa berkomunikasi, hanya saja tidak semua ras mampu mendengar suara kami."
"Tunggu, kau tadi bilang ibu? Aku bukan ibumu," ujar Cerlina. Terdengar suara tawa renyah di kepalanya.
"Pendeta Agung, kau terpilih oleh alam karena kemampuanmu yang bisa mendengar suara kami. Sejak generasi pertama, semuanya bisa mendengar kami."
"Aku tidak tahu...kemampuan itu. Kenapa tidak ada yang memberitahu apapun soal itu?" tanya Cerlina.
"Ah, karena sebenarnya para tetua bodoh itu tidak ingin kau tahu segalanya. Mereka mengubah semuanya, bahkan beberapa pendeta yang sudah lama bekerja di kuil agar kau tetap naif."
"Kau tahu...segalanya?" tanya Cerlina.
"Kami terhubung oleh Oorun yang merupakan segalanya. Dialah semesta kami dan kau ibu kami, pelindung kami. Kau terlihat sangat resah, apa yang membuatmu resah, Pendeta Agung?"