The Two Empresses

The Two Empresses
Anggrek Onyx



"Hah?! Di sana?" pekik Nero. "Ah, tahu begitu harusnya aku pergi sendiri ke sana."


"Bicara pergi sendiri, tanaman itu juga memiliki racun yang berbahaya untuk kita. Katanya Oorun, sih," keluh Saciel. Nero makin mengerang mendengarnya. "Mungkin Julian tahu sesuatu tentang tanaman itu."


"Apa kita akan ke rumahnya?" tanya Cerlina.


"Ya. Ayo pergi sebelum ada pendeta lain yang mengajakku berantem," ajak Saciel sembari bangkit berdiri dan berjalan keluar, namun ia nyaris menabrak seseorang.


"Ah, Saciel?" celetuknya.


"Ilmol ya?" balas Saciel. "Kau masih di sini?"


"Lao memintaku untuk mengawasi kondisi kuil, takutnya ada kudeta," ujar Ilmol. Saciel mengangguk dan pergi secepat mungkin, disusul Nero dan Cerlina di belakang.


...****************...


"Halo, Saciel dan kawan-kawan. Ada yang bisa kubantu?" sapa Julian ketika mereka sampai di kediamannya.


"Pernah dengar Anggrek Onyx?" tanya Saciel cepat.


"Belum pernah. Duduklah, kurasa ceritanya akan panjang," tawar Julian. "Buatkan teh untuk tamu kita."


"Baik sekali dirimu. Tapi beneran kau tidak pernah mendengarnya?"


"Tidak ada nama tanaman itu dalam ensiklopedia keluargaku. Apa karena tanaman itu merupakan tanaman kahyangan?"


"Kau ada benarnya, sih," gumam Saciel. "Tapi tanaman itu ada di Bumi, dan berada di tempat yang sulit dijangkau."


"Di mana?" tanya Julian.


"Di wilayah Ceshier, tepat di jantung pulau tak berpenghuni yang dipenuhi dengan tanaman karnivora dan beracun," ujar Nero. Julian mengedipkan mata mendengarnya.


"Wah, ternyata di sana ya? Tapi aneh, mereka tidak melaporkan apa-apa padaku," keluh Julian.


"Tanaman itu berada dalam perisai suci," celetuk Saciel. Julian makin mengerang mendengarnya. "Kondisi Lao?"


"Jauh dari baik, namun masih memungkinkan untuk diselamatkan. Kita harus bergegas, karena aku belum tahu cara mengolahnya juga," ujar Julian. "Kita bagi tugas."


"Aku dan Nero pergi ke pulau itu, kau dan Cerlina di sini sembari menolong Lau mengurus negara," ujar Saciel cepat.


"Hei, kau mau mengajakku mati cepat? Lupa kalau banyak siren bertebaran di lautan?" singgung Nero. Saciel berjengit mendengarnya.


"Ah iya ya, aku lupa," keluh Saciel. "Ah, persetan dengan siren. Kita harus pergi."


"Biar kubantu," ujar Cerlina sembari memberi berkat pada Saciel dan Nero. "Semoga Dewa Oorun selalu menyertai kalian."


"Terima kasih," ujar keduanya. Nero meraih tangan halus sang Pendeta Agung dan mengecup pipinya dengan lembut.


"Pergi dulu, Sayang," bisik Nero. Wajah Cerlina memerah, ia hanya mengangguk dan memberikan tatapan malu-malu. Saciel menarik Nero dan menjentikkan jemarinya, memindahkan keduanya di pulau tak berpenghuni.


"Oke, kita sampai. Oh iya, untuk amannya kita buat dinding dengan menggunakan Undine," ujar Saciel. Nero mengangguk dan memanggil Undine.


"Tolong ya, Undine," ujar Nero. Undine segera membuat dinding air setinggi 10 meter dan membuat air itu tidak bisa ditembus. Saciel berjalan memutari pulau untuk mencari celah, namun hampir tidak ada celah. Hanya ada sebuah jalur kecil seukuran kucing tersembunyi di balik semak. "Kau menemukan sesuatu?"


"Ada jalur kecil di bagian utara, tapi terlalu kecil untuk kita masuk," ujar Saciel. Nero mengecek jalur itu dan berpikir sejenak.


"Bagaimana jika kita bakar semuanya?" tanya Nero.


"Tadinya aku juga mau melakukannya, tapi karena banyak tanaman langka jadi kuurungkan niatku. Aku bisa saja mengecilkan tubuhku, tapi...bodohnya aku masih belum bisa mengendalikannya," ujar Saciel merasa bodoh.


"Mari kita coba saja," ujar Nero. Perlahan tubuhnya dipenuhi bulu, badannya yang tinggi tegap menyusut hingga sebesar anak anjing. Perubahan fisiknya yang separuh manusia kini berubah total menjadi anak serigala dengan mata bulat menggemaskan.


"...ya ampun, imut banget," ujar Saciel gemas.


'Ayo cepat, aku nggak mau lama-lama di tempat ini,' celetuk Nero melalui telepati.


'Wah, keren!' ujar Saciel. Ia mengecilkan tubuhnya seukuran botol kecil dan naik di atas punggung Nero. "Ayo jalan!"


Nero perlahan mengendap-endap memasuki jalur, sesekali menghindari duri yang melintang dan tanaman karnivora kecil yang mampu menelan tubuhnya. Jalur yang dilalui berliku-liku dan panjang, membuat Nero dan Saciel hampir menyerah karena sulitnya medan yang ditempuh. Begitu sampai di jalur bercabang, Nero berhenti.


"Aduh, jalan mana yang harus kita lewati?" keluh Saciel.


'Aku juga tidak tahu. Ah, kenapa aku tidak memakai dia saja?' balas Nero.


Nero tak menggubris, mengetuk tanah dengan kakinya yang kecil dan perlahan muncul beberapa golem tanah dari balik tanaman.


'Di mana jalur yang benar menuju Anggrek Onyx?' tanya Nero. Para golem menunjuk ke arah kiri, namun ada satu yang mengarah ke kanan.


"Lho, eh? Kok kamu ke kanan?" tanya Saciel. Golem satu itu membuat gerakan isyarat, namun Saciel gagal paham. "Uhh gimana?"


'Dua jalur ini sama-sama mengarah ke tanaman itu, hanya saja...setiap jalur ada rintangan tersendiri. Yang ditunjuk sekelompok golem ini dipenuhi oleh duri beracun, sementara yang satu terdapat tanaman karnivora.'


"Semua pilihan sama-sama berat, tapi kurasa tanaman karnivora lebih menguntungkan dibanding duri beracun," ujar Saciel.


Nero diam sejenak, sesekali memalingkan wajahnya. Ia mengambil jalur kanan dengan langkah kecilnya.


"Kau yakin?" tanya Saciel. Nero hanya mengangguk, lalu terhenti ketika beberapa tanaman karnivora berdiri melintang di jalurnya. "Wah, sial."


'Bakar saja,' ujar Nero. Saciel menjentikkan jemarinya dan api mulai melahap tanaman karnivora tersebut hingga menjadi abu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan hati-hati karena tanaman karnivora membentuk pagar di kedua sisi mereka, siap menyantap apapun yang lewat.


"Apa kau tak punya peri hutan?" tanya Saciel.


'Tidak mudah bekerja sama dengan peri hutan. Mereka cukup keras kepala,' balas Nero. 'Dan sayang aku belum menjalin kontrak dengan mereka.'


"Sayang sekali," keluh Saciel. Sepuluh menit sudah berlalu, mereka kini mencapai jantung pulau yang dikelilingi oleh tanaman aneh berwarna jingga. "Tanaman apa ini?"


'Aku juga tidak tahu. Seharusnya kita mengajak si tukang tanaman itu,' ujar Nero. Saciel turun dari punggung Nero dan perlahan mendekati tanaman tersebut. 'Hei, kau gila apa?'


Saciel tidak menggubrisnya. Ia mengeluarkan sebilah pisau perak dan mengiris daunnya. Perlahan pisau yang dipegangnya berubah warna menjadi kelam. "Beracun."


'Bagaimana kita melewati pagar ini? Tanaman yang kita butuhkan ada di tengah sana,' tanya Nero. Saciel terdiam sejenak, mencoba mencari celah dengan memutarinya. Nero hanya diam sembari memperhatikan agar gadis itu tidak melakukan hal sembrono. 'Bagaimana?'


'Percuma, pagarnya terlalu rapat. Mau tak mau kita harus membakarnya,' balas Saciel. Nero mengibaskan ekornya dengan lemas.


'Tidak bisakah kau memindahkan tanaman itu ke tempat lain?'


'Ah, benar juga. Kenapa aku tidak terpikirkan?' ujar Saciel girang. Ia menandai tanaman itu dengan lingkaran sihir dan menteleportasinya. "Selesai!"


'Bagus, ayo pergi,' celetuk Nero. Saciel mengembalikan ukuran tubuhnya, namun ia hanya berhasil membuat dirinya menjadi bocah berumur 10 tahun.


"Ah! Sialan, aku gagal!" pekik Saciel.


'Paling tidak kau masih berupa manusia,' ujar Nero. Ia kembali bertransfigurasi menjadi manusia dengan muka betenya. "Ayo jalan, bocah."


"Siapa yang kau panggil bocah, sialan?" maki Saciel dengan suara anak-anak. Nero menahan tawa melihatnya. "Jangan ketawa!"


"Aku tidak tertawa. Ayo," ujar Nero sembari berjalan duluan, disusul Saciel dengan langkah kecilnya. Mereka mencapai sebuah pohon beringin raksasa yang rimbun, dengan akar-akarnya menggantung untuk melahirkan bibit-bibit pohon. "Wow, besarnya."


"Dan itu tanaman yang kita cari," ujar Saciel sembari menunjuk ke tanaman anggrek yang menempel di balik tirai akarnya. "Aku akan mencabutnya dengan sihir, bersiaplah."


"Oke," balas Nero. Saciel mencoba menarik anggrek itu dengan sihir, namun perisai menepisnya dan malah mebalasnya dengan menyetrumnya.


"Gah!"


"Wah, susah ya?" sindir Nero. Saciel bangkit berdiri dan menghela napas, mencoba mengatur emosinya. "Bagaimana ini?"


"Hmm, terpaksa harus membawa Cerlina," gumam Saciel.


"Hei, jangan membawanya dalam kematian," gertak Nero.


"Mau gimana lagi? Satu-satunya orang yang mungkin bisa membuka perisai suci hanya dia," balas Saciel tak kalah garangnya. Nero hendak berargumen, namun ia mengingat bahwa nyawa saudaranya dalam genggaman maut dan memutuskan untuk diam. "Meski kau menolaknya, aku akan tetap membawanya."


Saciel membuat lingkaran sihir besar di tanah dan perlahan Cerlina muncul tepat di atasnya. Cerlina sedikit kaget dan melihat sekelilingnya.


"Di mana aku?" tanya Cerlina setelah pulih dari kekagetannya.


"Di pulau tak berpenghuni, Lina. Bisa minta tolong? Kau mampu membuka perisai suci di sana?" cerocos Saciel sembari menunjuk anggreknya. Cerlina berpaling dan melihat anggrek itu dengan minat tinggi.


"Hmm, bisa sepertinya. Ini tidak terlalu rumit," jawab Cerlina girang. Ia mengulurkan tongkatnya dan membaca pujian dalam bahasa asing, membuat ujung tongkatnya bersinar terang bersamaan dengan perisai yang membungkus anggrek tersebut. Perlahan sinar itu meredup. "Sudah."


"Mudahnya. Permisi," ujar Saciel sembari merapalkan mantra dan mencabut dengan hati-hati anggrek itu dengan sihir. Setelah seluruh akarnya tercerabut dari tubuh beringin itu, ia membawanya mendekat. "Wah, hitamnya benar-benar pekat."


"Benar, seperti onyx. Tak heran namanya sesuai," ujar Cerlina.


"Sekarang kita kembali saja," ujar Nero. Si kembar mengangguk dan menghantam tanah dengan tongkatnya, lalu memindahkan mereka kembali ke Careol.