
"Baik, Tuan Putri," jawab Phillip tenang. "Apa kita akan melakukan teleportasi?"
"Tentu saja. Kita sudah kehabisan waktu," balas Saciel tenang. Ia berpaling pada Kezia yang mulai meneteskan air mata kesedihan dengan wajah sekalem mungkin. "Ssh, Kezia jangan nangis."
"Huwe! Kenapa nee pergi? Jangan pergi, di sini saja," rengek Kezia sembari memeluknya dengan erat. Saciel hanya diam dan mengelus kepalanya. "Nggak boleh pergi!"
"Maaf ya Kezia. Nee harus pergi menyelesaikan urusan di Careol. Kamu sudah di rumah, sekarang waktunya kamu pulang dengan kakak-kakakmu."
"Nggak mau! Mau sama nee!" rengeknya.
"Pergilah, aku yang mengurus anak ini," celetuk Max sembari menariknya mundur. "Serigala kecil, sini kamu."
"Huwa! Nii jelek! Nii jelek!" rengeknya semakin keras. Max mengangkat gadis itu dan membawanya mendekati Nero, lalu berpaling dan memberi isyarat untuk segera pergi. Saciel mengangguk dan berpaling pada Uskup Made.
"Terima kasih sudah membawa kami ke tempat ini. Karena benda pusaka sudah kubawa pulang, izinkan saya membuatkan penggantinya," ujar Saciel dengan senyum tulus.
"Bocah, memangnya kau memiliki benda pusaka?" tanya Uskup Made jahil. Saciel terkekeh, lalu menarik sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk tetesan air dengan topaz sebagai permatanya. "Itu?"
"Yah, bukan benda pusaka sih, tapi ini setara dengan yang asli. Kalungku akan menjaga kalian," ujarnya sembari memberikan kalung itu. "Semoga itu berguna untuk kota ini."
"Terima kasih atas kebaikannya, Nona kecil. Berhati-hatilah saat kembali," ujar Uskup Made sembari memberikan berkat. "Semoga Dewa Aegis melindungi kalian."
"Haha, saya tidak percaya pada dewa tapi terima kasih atas berkatnya," ujar Saciel. Sebelum Saciel pergi, Max menahannya dan berbisik di telinganya.
"Jangan banyak tingkah di sana, penyihir"
"...tidak akan. Aku akan kembali untuk menolong...dan juga menebas kepalamu," ujar Saciel dengan seringainya. Max hanya mengulum senyum tulus dan mengangguk.
"Lebih baik. Pergilah," ujarnya sembari melepaskan gadis itu. Saciel mengangguk dan menggenggam tangan Phillip.
"Sudah siap?" tanya Phillip dengan senyum manisnya.
"Ya. Kapanpun kau siap," ujar Saciel. Phillip segera melakukan teleportasi dan meninggalkan para demi human dan uskup. Kezia makin mengeraskan tangisannya, berharap Saciel dan Phillip kembali padanya.
"Percuma saja kau menangis, chibi. Mereka tidak akan kembali dalam waktu dekat, jadi berhentilah merengek dan kembali ke wujud asalmu," ujar Nero datar. Kezia merengut dan melompat turun, tubuhnya berubah menjadi seorang gadis remaja dengan wajah masam namun keimutan belum hilang darinya.
"Nii kau sangat kejam. Masa kita meninggalkan mereka?" tanya Kezia dingin dengan suara husky.
"Kalau kita ikut mereka ke Respher, sama saja membawa kita lebih cepat ke bawah pisau guillotine," balas Max. "Kita akan bertemu mereka di waktu yang tepat, percayalah."
"Hmph, baiklah," ujarnya sembari memamerkan lidahnya yang ditindik. "Hehe, nii kangen sama nee ya?"
"Diam kau bocah. Kita akan kembali dan mengambil alih tugas di kerajaan. Sepertinya para aristokrat mulai berulah," ujar Max mengakhiri. Mereka segera meninggalkan bagian tenggara dan kembali ke Kota Mizuki, dimana Marchioness menunggu mereka.
"Ke mana dua penyihir itu?" tanya Marchioness.
"Mereka sudah kembali ke negaranya. Marchioness, siapkan kereta kuda. Kami akan kembali ke kerajaan," ujar Max. Marchioness memberikan hormat dan menyuruh pengawalnya untuk mempersiapkan segalanya.
"Tuan Putri, sudah lama tidak bertemu. Anda masih terlihat kecil ya," ujar Uskup Made sembari menahan tawa. Kezia cemberut dan mencubit Uskup Made. "Aduh!"
"Yang kecil di sini kan kamu! Jelek!" bentak Kezia. Uskup Made mundur dan mengelus bekas cubitannya, sesekali mengaduh.
"Kejamnya Tuan Putri. Jangan begitu dong, saya kan hanya bercanda. Saya bersyukur Anda selamat dari tragedi yang menimpa keluarga Anda. Bagaimana dengan Yang Mulia Raja dan Ratu?"
"Kami belum menemukannya," jawab Nero pendek.
"Begitukah? Saya mengerti," ujar Uskup Made.
"Pangeran, Putri, kereta kudanya sudah siap," ujar Marchioness Geliza. Ketiganya segera masuk ke dalam kereta kuda dan pergi meninggalkan Kota Mizuki.
Lao tengah menikmati padang bunga irisnya ketika Saciel dan Phillip muncul di hadapannya, membuat cangkir yang di tangannya jatuh.
"Wow, kalian sudah kembali? Ternyata lebih cepat dari yang kuprediksi," sambut Lao senang. "Bagaimana? Apa kau menemukan cincinnya?"
"Sebelum aku menjawabnya, bagaimana kondisi Cerlina?" tanya Saciel garang. Lao terdiam dan mengalihkan pandangan, menghela napas perlahan sebelum menatap Saciel.
"Kondisi Cerlina tidak begitu bagus. Dia diracuni," ujar Lao. Saciel tersentak dan menarik kerah Lao, membuat Phillip kesulitan menahan dirinya.
"Bajingan! Kau bilang akan melindunginya, tapi kenapa dia bisa diracuni?" maki Saciel.
"Saciel tenanglah!" ujar Phillip panik.
"Para tetua ingin membuatnya sakit, tapi..."
"Akan kubunuh mereka," gumam Saciel marah sembari mencampakkan Lao begitu saja dan berniat pergi, namun tanaman sulur muncul dan membelitnya. "Apa-apaan ini?!"
"Maaf, manis. Kau harus tenang dulu," ujar Julian sambil berjalan mendekati Saciel. "Kau tidak mau ada perang sipil, bukan?"
"Julian, kau berpihak pada siapa sekarang?" tanya Saciel menahan emosi yang berkecamuk. Phillip berdiri di depan Saciel dan mengarahkan rapiernya pada Julian.
"Jangan sentuh Saciel," ancam Phillip.
"Phillip, tenanglah. Kau tidak boleh terbawa emosi di situasi panas ini. Bisakah kau mendengarkanku dulu?"
"Bagaimana caranya aku tenang jika kau mengikat Saciel?" balas Phillip dingin.
"Kalau dia kulepaskan, bisa-bisa ada pertumpahan darah di Careol. Tolong tenanglah dan bujuk dia. Kau yang lebih ahli daripada kami," ujar Julian. Phillip diam sejenak, lalu menurunkan rapiernya dan berbalik menghadap Saciel.
"Aku tidak akan berulah, oke?" ujar Saciel lebih tenang dibanding sebelumnya.
"Aku masih belum percaya jadi maaf Saciel, kau tetap kuikat," celetuk Julian. Saciel hanya melengos dan mengangkat bahu, membiarkan Phillip duduk di samping Lao.
"Cincinnya?" tanya Lao. Phillip mengambil cincin Saciel dari tas kecil dan menunjukkanya pada Lao. "Oh, kau menemukannya."
"Iya, meski kami nyaris dibunuh oleh dewa, flügel dan siren," balas Phillip keki. Lao tergelak dan menyentuh cincin itu dengan rasa penasaran tinggi.
"Dewa hm? Dewa siapa?"
"Deus Ex Machina, brengsek," balas Saciel keras. Lao mengerjapkan mata berkali-kali dan melihat Phillip, namun reaksi lempengnya membuatnya kaget.
"Deus Ex Machina katamu? Gila, kalian habis perang sama flügel apa?"
"Hei, flügel brengsek duluan yang mulai," ujar Saciel membela diri. Julian hanya bisa menggelengkan kepala, pusing dengan tingkah Saciel yang makin kelewatan. "Aku serius!"
"Iya manis, aku tahu. Sudah, diam dulu oke?" ujar Julian pasrah. Lao kembali fokus pada cincinnya dan melihat Saciel.
"Cantik, kau mau maju sebagai calon pewaris tahta bersama Cerlina dan Vristhi?" tanya Lao.
"Hei, kau gila? Aku ini buronan, bagaimana bisa seorang buronan menjadi calon pewaris tahta?" tanya Saciel heran. "Cerlina saja seorang Pendeta Agung."
"Aku bisa mengaturnya jika kau setuju, tapi ada syaratnya."