
"Jadi keputusannya, kita akan melakukan teleportasi? Kau yakin masih punya mana untuk digunakan?" tanya Phillip. Saciel mengangguk, telapak tangannya mengeluarkan cahaya putih dan menatap Phillip dengan tatapan sinis dan sombong.
"Jangan lupa keluargaku adalah penyihir terkuat di Benua Respher," pamer Saciel sembari melakukan teleportasi. Kaki mereka kini berpijak di dalam hutan. Hutan itu sangat berbeda dengan hutan biasa, hampir seperti dunia dalam lukisan. Terlihat beberapa bola cahaya dengan sayap kecil di samping kiri dan kanan melayang seakan menerangi hutan.
"Apa itu?" tanya Max.
"Lampu Jiwa. Salah satu...er, tanaman khas wilayah ini," ujar Phillip. "Kita berada di dalam wilayah elf."
"Sebentar, apa? Wilayah elf katamu? Jangan bilang kalau pelelangan ilegal itu dikuasai oleh elf," ujar Max menahan emosi. Phillip mengalihkan pandangan dan mengangguk. Dengan cepat Max menarik kerah Phillip dan memaksanya untuk menatapnya.
"Brengsek!"
"Nii, tenanglah!" ujar Kezia sembari menahan Max agar tidak melayangkan pukulan kepada tuan muda Arlestine yang ketakutan.
"Oh iya, elf merupakan makhluk yang paling dibenci ya?" celetuk Saciel.
"Mereka makhluk licik, tidak tahu malu dan yang terburuk," balas Max dingin. Aku yakin para penyihir juga tidak menyukai mereka."
"Yah, tidak semua. Mereka mampu menyediakan apa saja yang kita butuhkan dengan cara yang tidak biasa," ujar Phillip.
"Oh? Apa kau juga salah satu pelanggan mereka?" tanya Max sinis namun dalam.
"Nii, sudahlah. Phillip nii kan sedang membantu," ujar Kezia. Max melempar Philip dan mengelus kepala Kezia dengan lembut. "Uhh nii yang terbaik."
"Aku pernah berurusan dengan mereka, tapi bukan berarti aku pelanggan mereka. Saciel, kurasa kita harus bersiap untuk mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan er...Nero?"
"Tidak masalah. Tapi bagaimana caranya agar kita bisa masuk ke dalam pelelangan?" tanya Saciel. Phillip mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dengan aksen perak berbentuk huruf R. "Hah, sialan. Kau ternyata punya?"
"Kau pikir aku tidak? Aku tidak sebaik yang kau kira, Saciel. Ayo pergi, pelelangan akan dimulai 1 jam lagi. Ah, dan kalian berdua, pakailah sesuatu yang lebar untuk menutupi telinga dan ekor kalian."
"Iya iya, cih. Menyesal aku pergi dengan kalian," gerutu Max sembari mengenakan jubah besar, diikuti Kezia.
"Dan kau gadis nakal, gunakan sesuatu untuk menutupi wajahmu. Jangan lupa, kau ini buronan internasional dan juga yang berbahaya," ujar Phillip sembari memberikan cadar yang menutupi seluruh kepalanya.
"Sialan, bukannya kau juga?" tanyanya sembari mengenakan cadar. Phillip hanya mengulum senyum misterius dan mulai berjalan.
"Dia tidak gila kan?" celetuk Max.
"Nii, jangan begitu," ujar Kezia. "Kurasa Phillip nii punya trik."
"Kurasa bisa jadi seperti itu. Kezia, kau kuat?"
"Iya nee, jangan khawatir," jawab Kezia sembari memberikan senyum manis.
"Berjanjilah untuk bersikap tenang dan baik, oke?"
"Baik nee, jangan khawatir," ujar Kezia menenangkan. Mereka mengikuti Phillip hingga sampai di sebuah alun-alun dengan tenda besar menutupi tempat itu.
"Wah, besar sekali!" ujar Kezia girang.
"Kita ke sini bukan untuk berwisata, oke? Jadi jangan lengah," ujar Max sembari melayangkan pandangan ke seluruh penjuru. Elf, manusia, penyihir dan ras lain berkumpul jadi satu, dengan menutupi wajah mereka menggunakan topeng yang polos namun memberikan aura menakutkan. Saciel tak mampu menutupi rasa takutnya.
"Aku benci topeng itu," ujarnya lirih.
"Sama. Lebih baik kita selesaikan urusan kita dan pergi dari sini," balas Max.
"Hei,ayo masuk. Lebih cepat lebih baik bukan?" panggil Phillip. Mereka segera masuk ke dalam tenda dan duduk di bagian tengah. Beberapa orang memberikan tatapan curiga dan penasaran pada kelompok itu.
"Bisakah aku membunuh mereka?" tanya Max lirih.
"Jangan, kita bisa gagal jika kau bertindak gegabah," ujar Phillip tegas. Seorang lelaki dengan topeng hitam muncul di tengah panggung dengan senyum culas.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya! Hari ini kami membawa beberapa koleksi yang sangat menarik. Mari kita mulai lelangnya!"
"Menjijjikan, rendah, tidak bermoral," rutuk Saciel. Satu demi satu koleksi mulai dikeluarkan, orang-orang mulai menggila, membuang uang mereka demi memuaskan nafsu.
"Jangan," ujar Phillip hati-hati. Sosok yang sangat familiar itu penuh luka, namun tak mampu menutupi wajah tampannya. Rambut hitam dengan aksen merah nyaris mirip dengan api berkilau ditimpa lampu sorot. Matanya terlihat kosong tanpa emosi maupun semangat untuk bertahan. Sepasang telinga serigala dan ekor menjadi bukti bahwa koleksi satu ini merupakan yang paling mahal dan sulit untuk didapatkan.
"Tuan dan Nyonya, inilah koleksi terakhir sekaligus bintang hari ini! Seorang demi human dari Benua Ceshier yang terisolasi dari benua Respher! Tidak hanya itu, demi human kita adalah seorang tamer paling pro diantara tamer lainnya!"
Seakan mendapat perintah, demi human itu mengangkat kepala dan menatap lekat-lekat naga di depannya. Naga itu menyerang dan mencakar dadanya, namun hal itu tidak mengganggunya. Ia menahan kepala naga itu dan berbisik dengan sangat pelan, bahkan tak ada seorang pun yang mendengarnya.
"Apa yang dia lakukan?" bisik seseorang.
"Menakutkan."
"Aneh."
"Dia sedang berbicara dengan naga itu," bisik Kezia. Seakan menjawab semua keraguan orang, naga itu perlahan tunduk dan memberi hormat pada demi human itu. Semua orang mulai tertarik dan bersiap untuk menawar.
"Lihatlah bagaimana demi human itu menjinakkan naga! Mari kita mulai dengan 100 juta Furst!" kobar si MC.
"300 juta!"
"400 juta!"
"Mereka gila," ujar Saciel sembari terkikik. "Membuang uang demi mendapatkan demi human. Menarik."
"450 juta!" sahut Phillip.
"450 juta! Masih ada yang berani menawar lebih tinggi?" tanya MC.
"600 juta," celetuk sesorang. Saciel melirik ke arahnya dan mendapati senyum licik khas Lao.
"Heh, brengsek. Ternyata dia mengikuti kita," ujar Saciel dingin.
"Mau bagaimana? Tawaran dia tinggi, aku tidak membawa banyak," tanya Phillip.
"600 juta! Masih ada yang mau menawar lagi?"
"Apa boleh buat," ujarnya pasrah. Ia mengangkat tangan dan mengulum senyum di balik cadarnya. "1 miliar Furst."
Satu ruangan menjadi hening, tidak ada yang mampu berkata-kata. Sang MC sempat terdiam sejenak, namun segera sadar dan mengangkat tangan.
"Terjual 1 miliar untuk nona bercadar di sana!" sahutnya. Si lelaki hanya mengulum senyum, menerima kekalahan dengan tenang. Namun sorot matanya yang dingin mampu membuat Saciel sedikit bergidik. "Setelah acara selesai, silakan datang ke belakang panggung untuk menyelesaikan pembayaran."
"Kau membeli dia dengan 1 miliar Furst? Itu...."
"Santai saja Phillip, uang segitu tidak ada nilainya dibanding dengan nyawanya," potong Saciel tegas. Ia bergegas pergi ke panggung belakang dan mendapati MC tengah memborgol Nero dengan hati-hati.
"Selamat datang, Nona. Saya sudah menyiapkan demi human ini untuk segera dibawa. Apa kau sudah menyiapkan uangnya?" tanya si MC, keserakahan tak dapat ia tutupi. Saciel menghela napas dan mengeluarlan selembar cek dengan nominal yang disepakati. Sang MC terkejut dan memeriksa cek itu setelah berada di dalam genggamannya.
"Nona, Anda merupakan buronan internasional. Anda tidak takut jika saya melaporkan kepada pihak berwajib?"
"Dan apa kau akan melakukannya? Berarti uang dan pelelangan ilegalmu akan musnah, kau paham maksudku kan?" tanya Saciel tenang. Si MC mengangguk dan melepas borgol yang mengikat tangan Nero. "Terima kasih."
"Senang berbisnis dengan Anda, Nona Arakawa. Saya harap Anda tidak dijebloskan ke penjara dalam waktu dekat."
"Manis sekali kata-katamu. Ayo pergi," ujar Saciel dingin. Langkah cepatnya menuntunnya keluar dari pelelangan, disusul Nero yang menunduk selama perjalanan. "Tidak bisakah kau mengangkat kepalamu agar sedikit terhormat?"
"Kehormatanku sudah hancur saat aku menjadi barang lelang," ujar Nero lirih. Saciel berbalik dan mengangkat wajahnya agar dia menatap matanya.
"Aku membelimu bukan untuk menjadikanmu budak, tetapi ada keluargamu yang mencarimu," ujarnya tegas. Sebelum Nero mampu berkata-kata, Kezia berlari menghambur dan memeluk erat Nero.
"Nero nii!"
"Ah? Kezia?" panggilnya lirih. Hati-hati dielusnya gadis itu dan menikmati aroma tubuhnya yang menenangkan. Matanya menangkap sosok tegap Max yang berdiri tak jauh darinya dengan senyum lega.
"Mari pergi dari sini," ajak Phillip. Saat ia berbalik, seseorang berdiri di hadapannya dengan senyum culas. "Ah, sialan."