
Pemuda yang berdiri di hadapan Phillip menyunggingkan senyum licik, namun sorot matanya lembut. Phillip mundur beberapa langkah, waspada dengan keberadaannya yang cukup mendominasi.
"Kau ketakutan sekali, Phillip. Aku hanya ingin menyapa saja," ujar Lao santai.
"Meski kau hanya mengatakan itu, paling tidak berhentilah menebarkan aura kematian. Itu menakutkan," balas Phillip. Lao tertawa keras dan menepuk pundak Phillip.
"Maaf, sudah kebiasaanku," bisik Lao dingin. Phillip tak mampu menutupi rasa takut dan gemetar yang menyelimutinya. "Jadi Saciel, kau beneran membuang 1 miliar Furst untuk demi human...bukan, *tamer *ini?"
"Apa ada masalah dengan keputusanku?" tanya Saciel kalem.
"Yah, tidak ada masalah. Aku haus, bagaimana jika kita minum teh dulu? Kudengar di sini ada kafe yang terkenal karena seorang pattisier handal bekerja di sana," tawar Lao.
"Kalau kau yang membayarnya, boleh saja. Aku dan yang lainnya kebetulan lapar sekali," jawab Saciel. "Tunjukkan jalannya, Lao."
"Dengan senang hati, Tuan Putri," ujar Lao girang. Mereka berjalan berdampingan menuju kafe, namun suasana suram dan tegang tidak luput dari rombongan kecil itu. Kezia bergelayut manja di lengan Saciel, namun mengkeret begitu melirik Lao yang menyunggingkan senyum.
"Gadis kecil itu menarik," celetuk Lao. "Seakan-akan bukan seorang demi human biasa."
"Kami keturunan bangsawan," ujar Max.
"He? Benarkah? Bangsawan atau...keluarga kerajaan?" tanya Lao. Max mengerutkan kening, namun mengabaikan pertanyaan itu dan berdiri di samping Saciel. Lao menyunggingkan senyum dan berhenti di depan sebuah bangunan dengan arsitektur Yunani yang dirambati oleh tanaman ivy pada pilarnya. "Oh, kita sudah sampai."
"Oh? Kelihatannya menjanjikan. Kau traktir ya? 600 juta masih di tangan kan?" celetuk Saciel sembari berjalan masuk, diikuti yang lainnya. Lao berjalan paling akhir, mencoba menahan lidahnya agar tidak melontarkan makian pedas pada penyihir berambut merah itu. Baru saja melemparkan pantatnya pada kursi, suara Saciel yang cukup menggema di dalam ruangan mengejutkannya.
"Bawakan semua menu istimewa kalian, teh Noir Rosé satu teko dan premium steak untuk 6 orang."
"Hei, kau gila apa? Memangnya yang kau pesan itu sedikit?" tanya Phillip panik. Saciel tidak bergeming, melirik ke Lao yang mengerutkan kening. "Saciel!"
"Diamlah, Phillip."
"Saciel manis, jangan terlalu kasar pada Phillip. Nanti wajahmu cepat tua, lho," sindir Lao.
"Hohoho, tenang saja. Kecantikanku tidak akan pudar oleh waktu karena aku abadi," sindir Saciel pedas.
"Nee, aku takut," bisik Kezia. "Orang itu...lebih mengerikan dibanding kakak necromancer."
"Aku tahu, tenang saja. Dia tidak akan berbuat macam-macam di sini," hibur Saciel sembari mengusap lembut kepala gadis kecil itu. "Meski aku ragu dengan kata-kataku sendiri.
"Aku tidak segegabah itu, Saciel. Daripada itu, aku punya kabar untukmu. Dari Nona Pendeta Agung," ujar Lao dengan misterius.
"Oh? Menarik. Kurasa kau berniat menyeret adikku ke dalam politik huh?" tanya Saciel dingin. Setelah semua pesanan sudah dihidangkan, Lao memamerkan sebuah cincin dengan segel lambang keluarga Arakawa.
"Kau! Brengsek, dari mana kau dapatkan benda terkutuk itu?" maki Saciel. Lao meletakkan cincin itu di atas sepotong sachertorte dan mengulum senyum tipis. "Jawab, Lao Requiem!"
"Akan kujawab jika kau bisa menjaga sikapmu, Nona. Duduklah," ujar Lao. Saciel kembali duduk dengan kemarahan terpatri kuat di wajahnya. Lao menyesap tehnya dan memainkan cincin itu, lalu menatap Saciel dengan sorot kemenangan. "Mendiang ayahmu yang memberikannya."
"Omong kosong! Cincin itu sudah hilang di generasi kakekku," bantah Saciel.
"Bagaimana jika itu hanyalah sebuah kebohongan?" tanya Lao dingin. Saciel terenyak dan menatap nanar pada cincin itu. "Kau tahu kenapa ayahmu tidak memberikan benda berharga ini kepadamu atau Cerlina?"
"Maaf Phillip, tidak bisa. Ini adalah hal yang sangat sensitif untuk disela," jawab Lao tegas. Phillip tak mampu berkutik, tatapannya jatuh pada cincin yang menjadi pusat perhatian mereka. Saciel terdiam sejenak, tatapannya kosong.
"Saciel, lihat aku," panggil Lao. Saciel mengangkat wajahnya dan menatapnya hampa. "Kenapa kau tidak mengecek keaslian cincin itu?"
Seakan disambar petir, jemari panjang dan halus miliknya langsung merampas cincin itu dan memeriksanya. "Ini...palsu."
"APA?" sahut yang lain. Lao tertawa girang sambil sesekali memukul meja keras-keras.
"Jadi...itu mainan?" tanya Kezia. "Kenapa kau melakukan hal itu?"
"Pertanyaan bagus, ahahaha. Maaf, ehem. Cincin yang asli memang hilang, tapi tidak benar-benar hilang. Aku ingin tahu seberapa kuat mentalnya gadis temperamental ini...gah!"
"Bersiaplah masuk ke neraka, bajingan!" maki Saciel sembari menarik kerah Lao. Kezia berjuang setengah mati menahan Saciel yang mencoba menancapkan pisau mentega ke kepalanya. Tamu yang lain hanya bisa menonton, beberapa mulai bergosip. Max dan Nero hanya menikmati, tidak berniat menolong sama sekali.
"Tapi Lao, kalau kau punya yang palsu, berarti kau tahu di mana yang asli bukan?" celetuk Phillip.
"Tentu...kah! Saja! L-lepaskan aku," pinta Lao. Saciel menjatuhkannya tanpa ampun dan duduk dengan gaya bagaikan raja tiran yang siap membantai sang terdakwa. "Ohok!"
"Bicara sebelum kupotong lidahmu," titah Saciel garang. Setelah berhasil meraup oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya, Lao duduk dengan gaya elegan dan menyodorkan sebuah peta."Aku tidak ingin peta..."
"Ini peta untuk mendapatkan cincinnya, tapi yang kupunya hanya separuh jalan," potong Lao. Saciel mengerutkan kening dan mengambil peta itu. "Kurasa kau tahu jalurnya."
"Aku tidak yakin, tapi aku merasa pernah melewatinya."
"Nee, perlukah kita mencari cincin itu?" tanya Kezia.
"Aku tidak punya banyak waktu menemanimu, penyihir bodoh," celetuk Max. Saciel meletakkan peta itu dan menyantap sepotong kue dengan lahap.
"Kurasa dia bimbang," celetuk Nero.
"Nee?"
"Lupakan saja cincin itu. Aku tidak membutuhkannya," ujar Saciel kesal. "Tidak ada orang bodoh yang mau mencari cincin tidak berguna itu."
"Tidak berguna katamu? Para tetua saja menginginkan cincin ini dan kau malah membuangnya begitu saja?" tanya Lao heran.
"Memang apa istimewanya cincin itu?" tanya Kezia.
"Yah, itu rahasia. Tapi bawalah peta ini. Mungkin kelak kau membutuhkannya," ujar Lao. Ia bangkit berdiri dan meninggalkan meja.
"Hei, jangan lupa traktirannya!" sahut Saciel. Lao mengacungkan jempol dan membayarnya, lalu pergi meninggalkan kafe.
"Rencanamu selanjutnya apa?" celetuk Phillip.
"Masih sama. Tidak perlu khawatir."