
Jegudiel tertawa keras dan menapakkan kakinya di tanah, senyum penuh kemenangan tidak hilang dari wajah tampannya. Ia membuat bola cahaya besar di tangan kirinya dan menatap tajam ke arah Saciel.
"Kau tahu kami lebih berbahaya darimu, Saciel. Hanya karena kau merupakan pahlawan, bukan berarti kau yang terkuat bukan?" sindirnya. Saciel hanya menghela napas dan berdiri di belakang Phillip, membuat Jegudiel heran dengan tingkahnya. "Apa-apaan ini?"
"Maaf, aku masih dalam masa penyembuhan. Jadi izinkan bawahanku untuk maju menggantikan diriku," jawab Saciel dengan gaya lemahnya. Max dan Nero heran, namun Phillip memucat.
"Kau serius? Padahal kau baru saja menantangnya dan berniat membenamkan wajahnya di tanah," tanya Phillip.
"Nggak usah berpura-pura lemah dan lawan saja dia. Kau mau lukaku terbuka?" balas Saciel kalem.
"Apa-apaan? Lukamu sudah tertutup seutuhnya, pakai alasan konyol segala. Ya sudah deh, demi kamu apa sih yang nggak?"
"Kalian pacaran?" tanya Max, raut wajahnya sedikit kesal.
"Nggak," jawab keduanya tegas. Phillip menarik rapiernya dan mengarahkannya pada Jegudiel.
"Beraninya mengarahkan senjata pada Tuan Jegudiel!" maki salah satu flügel.
"Dia saja sudah memamerkan taringnya, kenapa aku tidak boleh? Aku mana mungkin menghadapi orang bersenjata dengan tangan kosong. Otakmu konslet?" sindir Phillip. Flügel tadi hanya bisa berdecih dan mundur, mengawasi sekitar dengan sihir mereka.
"Hanya serangga tak berguna yang berani menantangku," celetuk Jegudiel.
"Tapi serangga ini bisa saja membuatmu kesakitan," balas Phillip sombong.
"Akan kubuat kau menutup mulutmu yang sombong!" sahutnya sembari melempar bola cahaya itu. Phillip dengan cepat maju dan melemparnya jauh-jauh hanya dengan rapiernya, mengenai pohon besar di tengah pulau. "Heh, ternyata kau lumayan."
"Terima kasih atas pujiannya. Tapi itu belum apa-apa."
"Apa maksudnya?" tanya Kezia.
"Masih ada sesuatu yang lebih mengerikan dari itu," celetuk Max. Saciel mengerutkan kening, namun tidak mengatakan sepatah kata dan fokus terhadap pertarungan di depan mata. "Tetapi kita menghabiskan banyak waktu."
"...kau benar. Phillip, habisi dia dalam satu serangan!" sahut Saciel. Phillip mengangguk dan memperbaiki postur tubuh.
"Maaf, aku harus cepat atau Saciel membunuhku," gumam Phillip sembari menancapkan rapiernya. Perlahan rapier miliknya mengeluarkan percikan kilat dan langit kembali mendung seperti saat ia melawan Max. Jegudiel tersentak dan melesat ke arahnya, namun Phillip lebih cepat. Ia menghantam rapiernya dengan palu raksasa yang terbuat dari petir. Pulau itu kini diselimuti petir dan seluruh flügel terkapar, tak terkecuali Jegudiel. Beruntung Saciel bergerak cepat membuat perisai agar serangan Phillip tak mengenai mereka.
"Jangan ada yang bergerak. Petir miliknya bisa bertahan lama sesuai keinginan pengendalinya. Kau tak mau terkapar kan?" ujar Saciel.
"Wow, Phillip nii keren," puji Kezia dengan mata berbinar. Phillip hanya tersenyum, tubuhnya diselimuti petir yang meliuk-liuk bagaikan ular.
"Manusia! Beraninya kau menyerang Avant Heim!" gelegar seseorang. Pulau itu berguncang keras, membuat petir perlahan menghilang. Tiba-tiba sesosok raksasa turun dengan aura kuat, amarah terlukis di wajahnya. "Kau tak punya malu!"
"Kami memang tak punya malu karena ciptaanmu yang menyerang duluan!" sahut Saciel. Phillip segera mundur dan berdiri di depan Max.
"Siapa orang besar itu? Lagaknya seperti dewa saja," celetuk Max.
"Dia emang dewa, anjing liar. Deus Ex Machina," jawab Saciel dengan lirikan maut. Lelaki bertubuh tiga kali lipat itu memegang trisula, pakaiannya tak mampu menutupi otot-otot yang menghiasi tubuhnya. Sepasang mata berwarna ungu gelap tak menunjukkan kehangatan, hanya hampa dan dingin.
"Ternyata kau, bocah tengik. Terakhir aku bertemu denganmu kau masih kecil sekali, seperti sebutir kacang."
"Ya ya, terserah katamu, Yang Mulia. Aku menuntut keadilan di sini. Dia," ujarnya sembari menunjuk Jegudiel, "seenaknya saja menantangku hanya karena aku datang. Aku kemari hanya untuk mencari warisan keluargaku."
"...nggak flügel nggak dewanya, sama-sama bajingan ya?" maki Saciel kalem. Deus Ex Machina terkejut, wajahnya merah padam dan mengarahkan trisulanya tepat di hadapannya.
"Kau memang tak tau diri. Beraninya kau menghinaku!" gertak Deus Ex Machina. Saciel hanya memiringkan kepala dengan wajah lelah, seakan-akan sudah tak tahan dengan kelakuannya.
"Bisakah aku tidak bertarung untuk hari ini saja? Kenapa setiap dalam perjalanan aku harus berakhir di dalam perseteruan yang nggak habis-habis? Memangnya aku dewa perang apa?" keluh Saciel.
"Jika saja kau bisa mengontrol mulutmu itu, tidak ada yang akan mengajakmu berduel."
"Pemikiranmu kolot. Semua orang berhak berpendapat, bukannya dibungkam."
"Nee," cicit Kezia.
"Bakal lama ini," keluh Nero lirih. Deus Ex Machina melirik ke arah kelompoknya, lalu kembali pada Saciel. Dia terdiam sejenak, lalu menarik kembali trisulanya.
"Karena kesalahan Jegudiel, kau dan teman-temanmu boleh tinggal di sini selama mungkin," ujar Deus Ex Machina. Saciel tertawa terpingkal-pingkal, membuat sang dewa heran akan tingkahnya.
"Bukankah sudah kubilang kami hanya datang untuk mengambil warisan keluargaku? Kenapa juga aku menghabiskan waktu di sini terlalu lama? Perjalanan panjang menungguku," balasnya diselingi tawa yang tak bisa berhenti.
'Kenapa anak ini mencari benda itu? Apa ini...berkaitan dengan ramalan?' batin Deus Ex Machina. "Nak, katakan padaku kenapa kau mau bersusah payah mencari barang yang dibuang kakekmu?"
"Aku mau menghentikan kekacauan di Careol, itu saja," jawabnya pendek. Deus Ex Machina ternganga, namun berubah menjadi tawa menggelegar dan mengejutkan seluruh makhluk di Avant Heim.
"Kau memang benar-benar keturunan orang itu. Karena itu, aku akan memberikan separuh peta yang hilang," ujar Deus Ex Machina, sembari mengambil secarik kertas usang di tangan Jegudiel dan menyerahkannya pada Saciel. "Semoga beruntung."
"Terima kasih," jawab Saciel sembari menerima dengan senyum sumringah dan mencocokkannya dengan peta yang ia bawa. "Cocok!"
"...tapi entah kenapa peta ini...lebih mirip dengan peta di salah satu wilayah Ceshier?" celetuk Nero saat melongok ke peta yang baru saja berhasil disatukan.
"Ah, ini kan di daerah penghasil Black Pearl!" celetuk Kezia setelah mengintip petanya. "Desa Lumos!"
"...gimana caranya kakek masuk ke wilayah musuh? Sekali masuk dengan sihir kan bakalan langsung ketangkap," gumam Saciel.
"Bantuan dari dewa, bocah. Aku ingat sekali dia datang kepada salah satu dewa di Respher dan memohon untuk masuk ke wilayah Ceshier," celetuk Deus Ex Machina.
"Siapa? Siapa dewa itu?" tanya Saciel cepat.
"...Kau mengenalnya, nak. Dewa yang selalu kalian sembah dan juga penguasa semua dewa," ujarnya kalem. Saciel terdiam sejenak dan menyadari sesuatu yang menurutnya sangat mustahil.
"Nggak, nggak mungkin! Oorun tidak ada di dunia ini!" sahut Saciel. "Dia tidak ada!"
"Kalau kau menganggapnya tak ada, berarti aku ini apa di hadapanmu?" tanya Deus dengan tatapan dingin. "Eksistensi kami adalah nyata, jadi jangan pernah meragukannya."
"Tapi kami tidak pernah melihat wajahnya dan tidak ada literatur yang membahasnya secara nyata," celetuk Phillip.
"Tidak melihat bukan berarti tidak ada. Kau terlalu sombong hanya karena kau kuat," tegur Deus. Semuanya terdiam dan menunduk, tak berani melihat sang dewa yang berwibawa.
"Bagaimana caranya kami bisa bertemu dengannya?" celetuk Max. Deus berpaling padanya dan mengernyitkan kening.
"Bocah, kau memiliki kunci untuk pergi ke wilayahmu sendiri. Untuk apa kau menemui Oorun?"