The Two Empresses

The Two Empresses
Awal Perang



Phillip berjalan mendekati Cerlina dan duduk di sampingnya dengan wajah lelah. Cerlina memusatkan seluruh perhatian padanya dan mengelus pipinya dengan lembut.


"Kau baik-baik saja?" tanya Cerlina.


"Aku akan baik-baik saja kalau Saciel dan Lao baik-baik saja," keluh Phillip. "Astaga, kenapa hampir setiap hari selalu ada pertempuran? Kini, dua dari 7 penyihir terkuat malah tepar. Eh, sebentar, 3 deng."


"Apa ada kabar dari Istvan?"


"Belum ada, tapi kudengar dia baik-baik saja. Hanya retak tulang dan kaki terkilir."


"Phillip, apa benar dewa bisa memiliki anak?" tanya Cerlina. Phillip menatapnya lurus dan mengangguk, membuat Cerlina menghela napas. "Kami bertemu dengan salah satu anak dewa."


"Lalu?"


"Dia...anak dari Dewa Oorun dan juga...setengah manusia," ujar Cerlina. Phillip terdiam dan menghela napas pasrah. "Kupikir kau akan terkejut."


"Aku sudah tidak kaget lagi dengan itu. Tapi...kenapa dia menyerang kita?" tanya Phillip. Cerlina menggelengkan kepala dan menatap lantai, berharap lantai itu bisa berlubang hanya dengan menatapnya. Mereka tidak sadar Saciel berjalan menuruni tangga dengan memakai baju tidur dilapisi syal besar.


"Keadaan di Careol sedang panas. Semua orang bingung apa yang terjadi dan tahta masih kosong seperti biasanya. Kalau begini terus negara ini bisa diserang," keluh Phillip.


"Tidak selama kita bisa memperkuat kekuatan militer kita," ujar Saciel. Keduanya terkejut dan berbalik. Saciel mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"


"Kau sudah sadar?" celetuk Cerlina.


"Begitulah. Kalian kenapa muram? Habis dibantai sama dewa?" gurau Saciel.


"Lebih tepatnya setengah dewa," ujar Cerlina. Saciel memposisikan diri di sofa dan meletakkan kepalanya di atas tangannya. "Dan kau pasti tidak percaya."


"Siapa?"


"Anak Dewa Oorun," ujar keduanya. Saciel terkejut dan menegakkan tubuhnya.


"Hah, apa? Oorun katamu? Baru tahu aku dia punya anak," celetuk Saciel.


"Apalagi aku," keluh Cerlina. "Sebenarnya wajar saja dewa memiliki anak, bahkan anak haram sekalipun. Tapi Oorun tidak pernah terlihat dekat dengan dewa manapun, bahkan manusia, kecuali pengikutnya."


"Hei, mereka kan tidak pernah mempublikasikan kehidapan pribadinya," celetuk Phillip. "Lalu... kudengar Vristhi nyaris kalah melawannya."


"Tidak mengherankan. Dia kan tahunya mengendalikan undead, bukan bertarung secara brutal," sindir Saciel. Ia tak sadar Vristhi sudah berdiri di belakangnya dengan raut wajah mematikan, membuat Cerlina dan Phillip mati kutu. "Kalian kenapa?"


"Sa-ci-el~ kau belum mau jadi undead milikku kan?" tanya Vristhi dengan suara dibuat serendah mungkin, membuat Saciel bergidik dan berbalik. "Hm?"


"Belum dan menjauhlah, kau mengerikan," ujar Saciel sembari mundur perlahan dan duduk di samping Phillip. Vristhi menghempaskan diri di sofa yang sempat diduduki sembari menatap tiga sekawan di hadapannya. "Apa?"


"Phillip, kau berniat untuk menikahi dua gadis ini?" tanya Vristhi. Phillip menggelengkan kepalanya dan memasang wajah nelangsa.


"Tidak, terima kasih. Mereka lebih cocok jadi teman dibandingkan kekasih. Bagaimana keadaan Lao?"


"Dia baik," jawabnya singkat. Saciel hendak bersuara, namun ia urungkan. Seorang pelayan masuk dan membawakan cemilan serta teh. Sementara menunggu pelayan menuangkan teh, Saciel mengeluarkan secarik saputangan berinisial M dengan wajah lelah.


'Ini anak kenapa memegangi saputangan milik demi human itu? Apa mungkin...ah, tidak mungkin. Mereka kan musuhan,' batin Phillip sembari menggelengkan kepala.


"Kau kenapa?" tanya Cerlina.


"Eh? Ah nggak. Lho, saputangan siapa itu?" tanya Phillip sembari menunjuk Saciel. Yang ditanya menggoyangkan saputangan dengan wajah datar.


"Nggak usah pura-pura, bodoh. Aku tahu kau itu aslinya penasaran kenapa aku memainkannya, kan?" balas Saciel ketus. Phillip menyunggingkan senyum kaku, pikirannya berputar cepat mencoba mencari alasan agar ia tidak dicurigai. "Aku lupa mengembalikan benda ini."


"Tidak akan. Kau lupa Requiem punya koneksi dengan neraka?" jawab Vristhi.


"Apa maksudmu?" tanya Saciel.


"Dia juga bagian dari 'yang dekat dengan kematian', sama sepertiku. Mana ada orang gila yang nekad menyerangnya," ujar Vristhi malas.


"Yah, kau benar. Tapi..." kata-katanya terputus ketika kepala pelayan datang dengan wajah pucat.


"Nona, para pendeta datang untuk menjemput Nona Cerlina."


"Berani sekali mereka datang kemari di saat sedang kacau begini. Usir mereka," ujar Saciel.


"Maaf Nona, tapi...ada Tetua Boldstone juga," lanjut si kepala pelayan.


"Suruh dia pulang. Katakan padanya Pendeta Agung perlu rehat dari tugasnya," balas Saciel.


"Tambahkan, sampai ada hasil dari penyelidikan Cerlina Arakawa akan tetap di sini," celetuk Vristhi. Kepala pelayan mengangguk dan meninggalkan ruangan.


"Apa masih belum ada hasil" tanya Phillip.


"Kudengar kasusnya malah ditutup, aneh kan?" balas Vristhi.


"Tidak mengherankan berhubung para tetua campur tangan dalam masalah ini," celetuk Saciel. Mereka terkejut ketika Tetua Boldstone masuk dengan paksa dengan kemarahan tersirat di wajahnya. "Hei, apa-apaan kau?!"


"Kubilang serahkan Pendeta Agung sekarang. Apa kau tidak bisa mendengar perintah meski sebentar?" amuk Tetua Boldstone.


"Tidak bisakah kau lebih beradab? Ini kediaman Arakawa, bukan rumahmu Boldstone," tanya Saciel tenang. Ia mulai mencoba lebih tenang dalam menghadapi orang-orang yang tidak menyenangkan, meski masih ada rasa untuk memaki sekeras mungkin.


"Beraninya kau berkata seperti itu padaku yang seorang tetua."


"Kedudukanku lebih tinggi karena aku Archduchess. Kau masih mau melawanku?" tanya Saciel. Tetua Boldstone diam, namun gemeretuk giginya tidak ia sembunyikan, membuat Saciel menyunggingkan senyum sinis. "Boldstone?"


"Saya...minta maaf atas kelakuan saya, Nona..."


"Nona, katamu? Kau yakin?" potong Saciel.


"... Archduchess Arakawa." Saciel tersenyum puas dan mempersilakan Tetua Boldstone duduk. "Saya kemari karena ingin menjemput Pendeta Agung."


"Oh, baiknya dirimu. Tapi...setelah inside percobaan pembunuhan yang terjadi pada Cerlina, aku ragu bisa menyerahkan dia kembali."


"Kau..."


"Boldstone, kau beruntung masih hidup setelah berani menghina Archduchess Arakawa. Kau belum mau menghadap Dewa Oorun hari ini, bukan?" gertak Vristhi. Boldstone bangkit berdiri dan gemetar melihat beberapa pasang mata menatap tajam dirinya. Ia bergegas pergi tanpa salam, membuat Saciel dan Vristhi tertawa terpingkal-pingkal.


"Aduh, gila! Apa kau lihat wajah pucatnya itu?" tanya Saciel.


"Kalian keterlaluan, meski nggak salah juga sih," tegur Phillip sembari menahan tawa.


"Ini menyenangkan, tahu? Setelah ini apa yang akan kita lakukan?" tanya Vristhi.


"Bagaimana jika kita mencari cara untuk menyembuhkan Lao dulu?" celetuk Cerlina.


"Aku sih setuju saja, mumpung tidak banyak kerjaan," jawab Saciel. Lao berjalan menuruni tangga dan menepuk puncak kepala Saciel.


"Tidak perlu, Manis. Sebaiknya kalian fokus pada urusan dalam negeri dulu saja," ujar Lao kalem.