
"Ini perasaanku atau sekarang penjagaan jadi semakin lebih ketat dari biasanya?" tanya Ren ketika berjalan mengitari istana bersama Kezia.
"Mama benar. Penjagaannya lebih ketat," celetuk Kezia. Ia berjalan mendekati seorang prajurit yang langsung memberi hormat padanya.
"Kenapa hari ini banyak prajurit berjaga di istana?" tanya Kezia.
"Tadi malam ada penyusup masuk, Tuan Putri. Untuk menghindari kejadian yang sama terjadi, Yang Mulia Raja memberi perintah untuk meningkatkan penjagaan, terutama untuk yang memiliki penciuman tajam," jawab si prajurit. Kezia manggut-manggut dan kembali pada ibunya.
"Ada penyusup masuk, Mama," ujar Kezia. Ren tidak terkejut, melainkan berjalan cepat menuju ruang tahta dimana Frederick menggelar rapat bersama dengan para menteri. Semua menteri langsung berdiri dan memberi hormat pada Ren.
"Ratu, tidak bisakah kau menunggu sebentar di luar? Aku masih sibuk," tanya Frederick tenang. Ren tidak menggubrisnya dan mengusir semua menteri keluar. Satu persatu semuanya keluar, kini hanya tinggal Ren dan Frederick. Frederick menghela napas dan menyuruh prajurit menutup pintu dan melarang siapapun untuk masuk.
"Apa benar ada penyusup masuk ke sini?" tanya Ren tanpa basa-basi. Bukannya terkejut, Frederick membuat gestur agar istrinya duduk di sampingnya. "Frederick Ackermann?"
"Sebaiknya kita bicara baik-baik, istriku," ujar Frederick. Ren menghela napas dan duduk di sampingnya dengan muka ditekuk, membuat sang suami tidak bisa menyembunyikan senyum nakalnya.
"Bicaralah."
"Kau ini tidak sabaran, ya? Baiklah, aku akan cerita. Memang benar tadi malam ada seseorang yang masuk ke sini dan memberikan sebuah undangan, tapi tidak kuterima karena dia terlihat bukan orang baik. Max dan Nero juga melihatnya," ujar Frederick.
"Undangan? Aneh sekali," gumam Ren. Frederick hanya angkat bahu dan mencium punggung tangannya dengan mesra. "Apa dia berbahaya?"
"Ya. Dia ternyata sudah menyakiti Max dengan sihir hitamnya."
"Sihir hitam? Masih ada penyihir yang menggunakan sihir hitam di era ini?" tanya Ren heran.
"Sihir hitam memang ilegal, tapi bukan berarti tidak ada penggunanya lagi. Mereka masih ada, namun menjaga jarak dengan ras lain agar tidak menjadi sasaran penyerangan," jawab Frederick. Ren hanya menghela napas dan mengelus pipinya dengan lembut. "Sudah puas dengan jawabanku?"
"Sebenarnya aku penasaran dengan isi undangannya, tapi kurasa kau tidak tahu apa-apa," keluh Ren.
"Kupastikan itu bukan sesuatu yang bagus, Ratuku. Daripada itu...kenapa rasanya tempat ini jadi banyak orang ya?" sahut Frederick dengan suara dikeraskan. Beberapa bayangan bergerak dari jendela dan memperlihatkan ketiga anaknya tengah cengengesan menunggu di balkon. Frederick membuka jendelanya dan membiarkan mereka masuk.
"Ketahuan, kan?" keluh Nero.
"Mana kutahu, kupikir Ayah terlalu bodoh untuk tidak menyadari kita," balas Max tak kalah sengit. Frederick menjitak ketiga anaknya dengan kesal.
"Tutupi aroma tubuh kalian, bodoh. Kita ini ras demi human, indra penciuman beberapa jenis sangat kuat, apalagi kita yang dari ras serigala. Paham?" omel Frederick. Ketiganya langsung merengut dan telinganya turun seperti anak anjing yang dimarahi tuannya.
"Dan kalian berdua, sudah waktunya mencari calon istri," lanjutnya sembari menunjuk kedua anak laki-lakinya.
"Hah? Yang benar saja, kami masih muda untuk mencari istri," keluh Nero. Frederick mengulum senyum mendengarnya.
"Jadi ingat saat awal pernikahan kita," gumam Ren.
"Sebaiknya kita tidak perlu membahas ini lebih lanjut. Masih banyak pekerjaan yang tertunda. Mari bekerja lebih giat," ujar Frederick sembari mendorong istrinya keluar menuju ruang kerja.
"Kau hanya tidak ingin membahasnya, bukan? Aku tahu kau ini licik, suamiku."
Sementara itu ketiga anaknya berhenti di taman dengan napas tersengal, keringat bercucuran di pelipis mereka.
"Astaga, aku tidak mau membahas pernikahan," keluh Max sembari menghapus keringat dan duduk di pinggir kolam air mancur.
"Sama. Aku masih terlalu muda untuk berkeluarga, yah walau tidak menolak untuk menikahi Cerlina," balas Nero sembari melamun membayangkan pernikahan bersama sang pujaan hati. Max melepas sendalnya dan melemparnya hingga mengenai kepala pemuda berambut merah itu.
"Duh!"
"Melamun saja, sadar kita masih musuh. Mana mungkin penyihir itu mau menikahimu," cibir Max.
"Mungkin saja, kenapa tidak? Masalah?" balas Nero tak kalah pedasnya. Keduanya mulai larut dalam pertikaian, sementara si bungsun hanya asyik menonton tanpa berniat membubarkan mereka. Tidak lama kemudian beberapa prajurit datang dan melerai mereka.
"Ah, tidak seru. Masa hanya karena pujaan hati saja kalian bertengkar? Bodoh," keluh Kezia sembari membuang tangkai bunga di tangannya yang sudah diremas hingga bentuknya tidak sama lagi. Ia berjalan masuk ke istana, diikuti beberapa pelayan yang siap melayaninya. Gadis itu langsung menyuruh mereka meninggalkan dia untuk beristirahat di kamar tanpa gangguan siapapun. Ia melempar diri ke ranjang yang empuk dan menatap langit-langit dengan tatapan bosan.
"Ah, aku bosan. Enaknya kakak-kakakku. Mereka sudah menemukan belahan jiwanya. Aku? Cih, malah nggak dapat sama sekali. Kenapa sih, semesta tidak membiarkanku menemukan belahan jiwaku?" gerutu Kezia. Ia menghela napas dan berguling ke segala arah.
"Mereka sudah mendapatkan cincin belahan jiwa dari logam rhodium, sementara aku masih harus menunggu setahun lagi untuk bisa mendapatkannya. Ah, aku tidak peduli," gumamnya. Ia bangkit berdiri dan mulai berjalan mengelilingi istana, sesekali tangannya meraih setangkai bunga dan merangkainya menjadi buket bunga sederhana. Ia kembali berjalan dan memberikan buket bunga itu kepada salah satu pelayan yang lewat.
"Tolong tata di ruang makan," ujar Kezia.
"Baik, Tuan Putri," jawab si pelayan. Setelah pelayan tersebut pergi, Kezia kembali berjalan menikmati angin yang menyapa kulitnya dengan lembut. Matanya teralihkan oleh setangkai bunga matahari yang sudah mulai rontok mahkotanya. Bulir-bulir bijinya yang gemuk terlihat kontras dengan tanah.
"Bijinya besar sekali. Apa kutanam saja?" tanya Kezia.
"Kau bisa memakannya, Kezia," celetuk seseorang. Kezia berpaling dan Max berjalan mendekatinya sembari menebas tangkai bunganya. "Hanya perlu memanggangnya sejenak dan jadi."
"Bagaimana caranya mencabuti bijinya?" tanyanya sembari mengangkat bunga besar itu. Max membelah bunga itu dan menyisirnya perlahan di atas meja. Butiran biji mulai berjatuhan dan siap diolah.
"Wow! Aku akan meminta pelayan memasaknya!" sahut Kezia. Setelah memanen biji bunga matahari, Kezia langsung membawanya ke dapur, meninggalkan Max yang masih melotot pada bunga yang ia pegang.
"Hmm, kurasa bunga ini tidak cocok untuk hadiah."