The Two Empresses

The Two Empresses
Dilemma



Saciel berjalan menuruni tangga ruang tanah bersama Lao dengan pakaian sederhana. Para penjaga langsung memberi hormat ketika mereka sampai di depan pintu penjara.


"Aku ingin bertemu Vristhi," ujar Saciel. Salah satu penjaga langsung mengarahkan mereka ke sel paling ujung, dimana Vristhi sedang asyik membuat boneka jerami berwajah seram untuk ukuran normal. Setelah menyuruh penjaga pergi, Saciel membungkuk sedikit agar bisa melihat dengan jelas wajah tenang Vristhi. Tidak ada raut kebencian dari kedua bola matanya.


"Vristhi," panggilnya. Yang dipanggil menoleh dan memberikan hormat dengan elegan, meski tidak sesuai dengan bajunya yang mulai kotor dan sobek di beberapa sudut.


"Selamat datang, Yang Mulia," sapa Vristhi.


"Kau masih ingat dengan kata-kata dariku saat kita bertarung?" tanya Saciel.


"Tentang pencabutan gelar dan eksekusi mati, bukan? Tentu saja aku ingat," ujar Vristhi santai.


"Santai sekali untuk orang yang akan dieksekusi," celetuk Saciel. Vristhi hanya tertawa dan memiringkan sedikit kepalanya.


"Apa saya harus takut dengan hal itu?"


"...entahlah, kau bebas bereaksi sesuka hati," jawab Saciel kalem. "Jadi apa yang kalian rencanakan?"


"Mereka tidak pernah membahasnya saat bersamaku. Tidak ada kepercayaan dalam diri mereka padaku, jadi percuma bertanya."


"Kalau begitu kuubah pertanyaannya. Kenapa kau membelot?" tanya Saciel. Ada jeda hening cukup panjang sebelum terdakwa mendesah lirih.


"Alsan pribadi yang tidak bisa dipertanyakan," balas Vristhi. Saciel tidak bersuara, melainkan melirik pada Lao yang hanya membisu tanpa ekspresi. Gadis itu memajukan sedikit tubuhnya dan bertanya lagi.


"Kenapa kau membelot?"


"Trik itu tidak akan membuatku membuka mulutku, Yang Mulia."


"Percaya diri juga kau. Baiklah, aku tidak akan membuatmu bicara, toh sudah tidak ada gunanya juga," ujar Saciel sembari menegakkan tubuhnya.


"Kau tidak penasaran dengan ke mana perginya Dark?" celetuk Vristhi. Saciel diam sejenak dan mengangkat sebelah alisnya.


"Kau berniat bernegosiasi?"


"Entahlah," jawab Vristhi sekenanya. Saciel hanya berbalik dan meninggalkan penjara bersama Lao, namun pikirannya masih tertuju pada apa yang disentilkan Vristhi.


"Kau penasaran?" tanya Lao setelah keluar dari penjara.


"Sedikit. Meski aku penasaran sekalipun, aku tidak mau mempercayainya semudah itu," jawab Saciel. "Menurutmu?"


"Aku netral," balas Lao. Mereka kembali ke ruang tahta, dimana Phillip tengah membereskan berkas-berkas yang telah diurus.


"Sudah selesai?" tanya Phillip. Saciel hanya mengangguk dan duduk, namun pikirannya sudah pergi entah ke mana. "Kau baik-baik saja?"


"Ambilkan berkas keluarga Rosemary. Aku merasa pusing mengurus yang ini," ujar Saciel. Phillip menyerahkan berkas keluarga Rosemary dengan heran, sementara Saciel hanya diam sembari mempelajarinya. Setelah mempelajarinya kurang dari sepuluh menit, ia meletakkan berkas itu dan menatap Lao.


"Tidak ada lagi keturunan Rosemary yang masih hidup selain Vristhi?"


"Tidak ada, Yang Mulia. Kepala keluarga terdahulu wafat ketika menyerahkan kepemimpinan pada Vristhi lima tahun yang lalu, sementara Vristhi hanya anak tunggal," jawab Lao. "Apa Yang Mulia ragu untuk mengeksekusi Vristhi?"


"Karena dia adalah keturunan terakhir dan juga pemegang peran penting dalam ekonomi kekaisaran, wajar aku ragu. Tapi hukuman tetap akan dilakukan," ujar Saciel.


"Yang Mulia, maaf jika menyela. Yang Mulia tidak perlu mengkhawatirkan soal ekonomi kekaisaran. Meski keluarga Rosemary sudah berakhir, masih ada keluarga lain yang bisa menjadi penopang ekonomi," ujar Phillip. Saciel menghela napas dan mengangguk. Lao diam, tidak memberikan pendapat sedikitpun dari sanggahan Phillip.


"Lao, kau sudah mengejar Vristhi seberapa jauh?" tanya Saciel.


"Sebenarnya tidak jauh juga, hanya di sekitar perbatasan saja. Selain itu aku menemukan hal menarik mengenai tempat persembunyian mereka," ujar Lao.


"Hal menarik?" tanya Saciel.


"Mereka membuat sebuah sumur dengan berbagai mayat dibuang ke dalamnya. Tidak hanya itu, mereka juga mengumpulkan darah para korban dalam beberapa botol."


"Apa yang mereka inginkan dengan benda itu?"


"Sayangnya saya tidak bisa melanjutkan penelusuran dikarenakan adanya pelindung aktif yang setara dengan milik dewa. Dan sesuai dengan apa yang dikatakan Vristhi, ia sama sekali tidak terlibat dengan hal itu."


"Aneh, bukankah Vristhi juga bagian dari mereka?" celetuk Phillip. Mereka larut dalam pikiran masing-masing, mencoba mencari jawaban atas tindakan yang dilakukan Vristhi, namun mereka hanya semakin terikat pada simpul yang tak ada ujungnya.


"Apa Vristhi hanya dijadikan kambing hitam?" celetuk Saciel.


"Tidak, Yang Mulia. Jika memang Vristhi dijadikan kambing hitam, tidak perlu membuatnya melakukan hal itu. Mungkin...dia melakukan itu karena dirundung seseorang?" ujar Phillip.


"Lao, lakukan interogasi lagi," ujar Saciel cepat. Lao sedikit kaget mendengarnya.


"Siapa lagi? Kurasa orang yang cocok untuk bertanya pada Vristhi hanya kau. Sana pergi," usir Saciel sembari mengibaskan tangan. Lao hendak membantah, namun mengingat yang memberi perintah adalah sang ratu, ia hanya mengangguk dan pergi.


"Phillip, kurasa yang menjadi sumber masalah adalah Lao," gumam Saciel. Phillip mengerutkan kening dan membungkuk sedikit agar bisa menangkap maksudnya.


"Maaf Yang Mulia, tadi Yang Mulia bilang apa?"


"Aku bilang, yang menjadi sumber masalah adalah Lao," ulang Saciel kalem.


"Kenapa Yang Mulia bicara seperti itu?" tanya Phillip penasaran.


"Hanya perkiraan saja, mengingat meski Vristhi bersikap dingin pada Lao, ia sangat peduli padanya. Apa kau tidak tahu apa-apa? Informasi atau...ancaman?"


"...maaf Yang Mulia, saya tidak bisa mendengar percakapan antara Vristhi dengan Vatra. Tapi saya ingat sekali wajahnya menegang setelah Vatra berbicara dengannya. Apa ada sesuatu pada Lao?" tanya Phillip.


"Kau mungkin tidak percaya, tapi ada bom sihir di jantungnya," ujar Saciel.


"Bom sihir, Yang Mulia? Sejak kapan?" tanya Phillip heran.


"Sejak awal dia dipenjara. Kurasa Lao juga sudah mengetahuinya, hanya saja dia bersikap masa bodoh dengan itu. Aku baru mengetahuinya setelah memberikan penawar racun. Salah satu bulu sayap yang kupegang jatuh di atas dadanya dan terbakar dengan cepat, jadi kurasa...itu bukanlah sihir yang bisa kita nonaktifkan dengan mudah," papar Saciel. "Vatra pasti memegang kunci untuk membuka bom itu."


"Jadi Vristhi melakukannya karena tekanan dari Vatra demi menyelamatkan Lao?"


"Ya. Tapi...kurasa tidak akan mudah membuatnya bicara jujur perkara ini. Dia akan mempertahankan keegoisannya agar Lao tidak mengetahui kebenaran pahit yang dialaminya. Aku lelah, bisakah aku istirahat?" keluh Saciel sembari memijit pelipisnya.


"Baik, Yang Mulia. Akan saya sampaikan pada dayang agar membangunkan Yang Mulia saat makan siang," ujar Phillip. Saciel mengangguk samar dan berjalan ke kamarnya dengan tatapan nanar.


Sementara itu, Lao turun ke bawah tanah dan mengusir semua penjaga dengan ancaman akan membuat mereka menderita jika tidak menuruti. Semua penjaga langsung pergi secepat yang mereka bisa, meninggalkan Lao sendirian. Ia masuk ke ruangan Vristhi yang tengah duduk sembari memeluk lututnya.


"Bukankah Saciel sudah bertanya padaku? Kenapa kau ikut turun dan campur tangan?" tanya Vristhi tanpa mengangkat wajahnya.


"Pertama, nama yang kau sebut itu adalah ratu di kekaisaran ini, jadi kuharap kau bersikap sopan. Kedua, ini adalah perintah dari Yang Mulia," ujar Lao kalem. Ia mengambil kursi dan duduk di depan Vristhi. "Lihat aku."


Vristhi mengangkat kepalanya dan menatap pria di depannya dengan tatapan yang tidak bisa diterjemahkan oleh Lao. Ia perlahan menurunkan kedua kakinya dan memperbaiki postur duduknya.


"Apa yang membuatmu berkhianat?" tanya Lao.


"Tidak ada alasan khusus, kebetulan aku dan Vatra memiliki tujuan yang hampir searah," jawab Vristhi.


"Tujuan yang hampir searah? Apa yang kau maksud adalah pembantaian?"


"Membantai orang bukan tujuanku, itu adalah tugas yang dia berikan padaku," jawab Vristhi tenang. Lao menatap matanya lekat-lekat dan tidak mendapati kebohongan darinya. "Kau pikir menyenangkan membunuh orang yang lahir dari tanah yang sama?"


"Lalu kenapa kau tetap melakukannya?"


"Jika tidak Vatra akan membunuhku," jawab Vristhi santai. "Aku sudah pernah gagal melakukannya saat kau tidak ada, dan dia berharap aku tidak melakukan kesalahan yang sama."


Lao diam, mencoba mencerna semuanya dengan emosi yang sangat kuat antara kemarahan Dan frustrasi. Ia menghela napas beberapa kali hingga emosinya kembali stabil.


"Apa tujuanmu?" tanya Lao.


"Itu rahasia," ujar Vristhi tegas. Ada kilat ketegasan yang terpancar agar Lao jauh-jauh dari masalah ini. Nuraninya tergelitik untuk mengorek lebih dalam, namun ia tahu bertindak gegabah hanya akan menjauhkannya dari kebenaran. Ia mencoba meraih tangannya, namun dengan cepat Vristhi menarik tangannya menjauh dari Lao.


"Tidak ada gunanya kau menghiburku, Lao. Apa yang kulakukan adalah dosa yang tidak bisa dimaafkan. Kematianku sudah dekat," ujar Vristhi tenang.


"Kau berencana mati begitu saja?" tanya Lao. Vristhi hanya diam, membuat Lao semakin yakin Vristhi berusaha menyembunyikan isi hatinya sedalam mungkin. "Vristhi, apa kau tidak memiliki keinginan untuk masa depanmu?"


"Masa depanku sudah padam. Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan. Aku sudah tidak memikirkannya lagi."


"Bagaimana denganku?" tanya Lao.


"Kau?"


"Kau tidak memikirkan perasaanku? Padahal aku sangat peduli padamu. Bukan, peduli tidak cukup untuk mewakilinya. Aku..."


"Buang perasaanmu itu, Duke Requiem. Itu hanya akan melemahkan keyakinanmu," potong Vristhi tegas. Lao merasa sakit dan mual mendengarnya, namun ia menahan diri untuk membuatnya kuat di hadapan wanita yang mengisi relung hatinya.


"Vristhi, kau masih tidak bisa menerimaku?" tanya Lao.


"Tidak. Perasaanku padamu sudah mati sejak aku berkhianat," ujar Vristhi sembari berbalik menghadap tembok. "Percuma kau terus mempertahankan rasa itu hanya untuk kepuasan sesaat."


"Kepuasan sesaat katamu? Belasan...puluhan tahun aku mengenalmu dan hanya dalam waktu kurang dari sebulan kau sudah berubah sejauh ini. Apa yang telah terjadi padamu?" bentak Lao. Vristhi hanya diam, punggungnya masih menghadap Lao. Lao hanya mendengus dan berbalik dengan hati yang sudah terluka. Ia berjalan meninggalkan ruangan itu, tanpa menyadari air mata kesedihan mengalir deras di kedua mata sang mantan archduchess. Vristhi tahu, apa yang ia lakukan padanya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, tapi ia tidak berniat mundur demi ego. Ia masih berdiri tegak, mencoba menutupi sisi lemahnya yang mulai menggerogoti tubuhnya.