The Two Empresses

The Two Empresses
Reunion and the Hatred from the Past



"Kau ini memang maid kan?" celetuk Saciel. Parvati hanya tertawa kecil dan mengangguk. Ketegangan tak bisa hilang dari dirinya, tapi ia mencoba tenang untuk menghadapi Parvati.


"Nona tenang saja. Saya bisa menjamin keselamatan gadis serigala kecil yang ada di sini, bahkan demi human yang ada di desa manusia," ujar Parvati.


"Baiklah jika kau berkata begitu. Aku akan pergi, tapi aku harus membawa mereka."


"Saya tidak akan melarang. Permisi," ujar Parvati sembari bangkit berdiri dan berjalan keluar. Saciel bergegas naik ke lantai dua dan masuk ke kamar Kezia.


"Phillip, Kezia, bersiaplah. Kita akan melakukan teleportasi ke desa manusia."


"Hah?! Kau gila? Apa kau benar-benar percaya pada maid itu?" sentak Phillip.


"Aku percaya penuh padanya dibanding mempercayai para tetua bodoh itu. Waktu kita tidak banyak. Ah, kuharap kau punya cukup Mana untuk melakukan sihir teleportasi."


"Uhh, meski cukup, tenagaku masih dibawah 50 persen, jadi aku akan meminjamkan Mana untukmu."


"Kezia ikut?" tanya Kezia.


"Ya sayang, kita akan memastikan siapa demi human yang ada di sana. Tapi teleportasi kita akan cukup jauh dari desa," ujar Saciel.


"Kenapa?"


"Yah, karena manusia dan penyihir memiliki masalahnya sendiri. Nanti saja jelasinnya, ya?" ujarnya sembari mengelus Kezia yang bingung. "Ambil ramuannya, kemungkinan kita membutuhkannya."


"Ini," ujar Phillip sembari memamerkan botol ramuan. "Ramuan transfigurasi kan?"


"Betul. Pegangan padaku, kita akan mulai teleportasinya," ujar Saciel.


"Berhati-hatilah Nona," ujar Bibi.


"Terima kasih Bi. Urusan rumah kuserahkan padamu." Setelah Kezia dan Phillip memegang ujung pakaian Saciel, sang penyihir menjentikkan jemarinya dan berpindah tempat di dekat danau yang airnya sebening kristal.


"Kita...berada di mana?" tanya Phillip.


"Ada di Danau Diamond, sekitar 10 kilometer dari desa manusia," ujar Saciel sembari mengecek peta yang ia bawa. "Wah, kupikir akan lebih jauh dari ini tapi...cukuplah. Ayo bergegas, waktu kita sedikit."


"Kau tidak berencana untuk berjalan, kan?" celetuk Phillip, wajahnya pucat.


"Tidak, tidak. Aku tau banget kamu lemah, jadi aku akan memanggil hewan tunggangan untuk kita. Bagi manamu, aku nggak sanggup menghabiskannya seluruh manaku."


"Oke, serahkan padaku," celetuk Phillip. Tangannya perlahan memancarkan sinar biru lembut dan mengarahkannya pada Saciel.


"Oh, manamu banyak juga. Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih, aku senang bisa mengisi ulang ehehehe."


"Ya sama-sama, duh kau ini memang benar-benar manja ya?" celetuk Phillip. Yang disindir hanya angkat bahu dan membaca mantra. Tangannya yang halus harus ternodai oleh pekatnya cairan merah yang jatuh membasahi tanah.


"Nee, tanganmu berdarah," celetuk Kezia.


"Ini untuk memanggil hewan panggilan," balas Saciel sembari memberikan senyum manis. Perlahan sebuah kaki hewan besar muncul dari bawah tanah.


"Singa?" celetuk Phillip.


"Bukan. Ini hellhound," ujar Saciel. Makhluk besar itu mulai menampakkan diri. Seringai lebar ditambah dengan gigi runcingnya mampu memberikan tekanan pada sekitarnya. Matanya merah menyala, dengan iris berwarna hitam pekat. Tubuhnya dibalut oleh bulu berwarna hitam, namun beberapa luka menjadi tato di tubuhnya. Kezia dan Phillip tercengang melihatnya.


"K...kau gila?! Apa kau cukup waras untuk memanggil hellhound?" maki Phillip.


"Yah, soalnya aku hanya punya hellhound. Aku tidak sempat membuat kontrak dengan hewan lain," balas Saciel sembari menggaruk belakang kepalanya. Phillip hanya bisa menggeram frustrasi melihatnya.


"Apa hellhound itu buruk, nee?" tanya Kezia.


"Bagi penyihir, memanggil hewan kontrak dari neraka adalah tabu," jawab Saciel.


"Dan terkutuk. Tidak semua penyihir mampu melakukannya, bahkan keluarga kerajaan sekalipun. Beruntung kau tidak memanggilnya di Careol," celetuk Phillip.


"Aku tidak mau ada masalah lagi, terutama jika menyangkut urusan gelar dan para tetua itu," sindir Saciel. "Oh iya, hellhound ini jinak. Dia tidak akan memakanmu tanpa perintah dariku."


"Kalimat terakhirmu tidak membuatku nyaman, bodoh," ujar Phillip. Ketiganya segera naik ke punggung sang anjing neraka dan melanjutkan perjalanan.


Chasata Village


Para penduduk desa Chasata tengah berkerumun di sebuah pondok milik seorang paruh baya yang setengah buta. Mereka terpaku pada penampakan laki-laki setengah serigala muda yang tengah terbaring tak berdaya di tempat tidur.


"Manusia serigala itu terluka parah?"


"Bagaimana bisa?"


"Kudengar dia terjatuh dari tebing."


"Benarkah? Kupikir dia kalah dalam perang dan kabur."


Kerumunan itu langsung senyap ketika seorang gadis muda berpenampilan nyentrik datang, diikuti pemuda yang lebih tua darinya.


"Aku tidak ingat tempat ini adalah sirkus. Kembali bekerja dan jangan usik orang itu. Kalian tidak tahu adat, bergosip tepat di dekat orang sakit," sindirnya pedas. Mereka hanya diam, satu per satu mulai meninggalkan pondok itu.


"Nona, Anda benar-benar menyeramkan," celetuk pemuda di belakangnya.


"Sudah lama sekali Anda tidak berkunjung, Kepala Desa."


"Tolong panggil aku Jess, Paman. Saya kemari sebagai keponakan Paman, bukan kepala desa," ujarnya ramah.


"Kau memang gadis yang baik. Tidak heran ayahmu sangat membanggakanmu," ujar Paman Olan.


"Jadi, bagaimana kondisinya saat ini?" tanya Jess.


"Dia masih belum sadarkan diri, tapi lukanya tidak mengancam nyawanya."


"Begitu, syukurlah. Aku baru saja mendapat kabar dari Kota Careol bahwa salah satu dari 7 Eternal Wizards akan datang menjemput laki-laki itu."


"Oh? Mungkinkah itu dari Arakawa?" tanya Paman Olan.


"Entahlah, menurutku tidak ada bedanya. Hanya saja, aku belum melihat prajurit penjaga datang untuk mengisolasi desa kita."


"Nona, ada laporan dari barikade. Seekor anjing neraka terlihat sedang mengarah ke desa," celetuk pemuda di belakangnya.


"Anjing neraka? Oh, kurasa aku tahu siapa itu. Perintahkan penjaga gerbang untuk menyambut mereka, Carl."


"Baik Nona."


××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××


"Oh, Desa Chasata sudah mulai terlihat. Kita hampir sampai," celetuk Saciel.


"Ugh, itu bagus. Entah kenapa perutku mual, apa karena aku gugup?" balas Phillip.


"Nee, apa mereka jahat?" tanya Kezia.


"Tidak, mereka tidak jahat. Tenang saja, nee dan nii akan melindungimu," balasnya sembari mengelus kepalanya dengan penuh sayang. Sang anjing neraka berhenti agak jauh dari gerbang, perlahan merendahkan tubuhnya agar penumpangnya bisa turun.


"Kenapa kita tidak berhenti di depan gerbang saja?" tanya Phillip sembari meloncat turun.


"Kita tidak bisa menakuti warga desa, oke? Jangan berlagak bodoh," sindir Saciel. Setelah semuanya turun, anjing neraka itu menghilang di balik asap tebal. Mereka berjalan mendekati gerbang dan mendapati beberapa penjaga siaga di sana.


"Apakah Anda utusan dari Kota Careol?" tanya si penjaga.


"Ya. Tapi maaf, saya tidak membawa surat perintah dari pihak kerajaan. Apa ini cukup?" tanyanya sembari menunjukkan emblem lambang keluarga Arakawa.


"Bagaimana ya? Kami tidak..."


"Silakan masuk. Kepala desa ingin bertemu dengan Anda sekalian," potong Carl sembari keluar dari balik gerbang.


"Tuan, tapi mereka tidak memiliki surat perintah," ujar si penjaga.


"Mandat dari kepala desa adalah mutlak. Apa kau menyangsikannya?"


"Mohon maaf atas kelancangan saya" ujar si penjaga. Mereka bergegas membuka gerbang tanpa suara.


"Ikuti saya," celetuk Carl. Mereka berjalan memasuki desa diikuti dengan tatapan bingung, takut dan sangsi dari para penduduk.


"Kenapa mereka melihat kita seperti itu?" tanya Kezia.


"Karena mereka takut pada penyihir, bahkan padamu juga," celetuk Carl.


"Hubungan penyihir dengan manusia sedikit tidak bagus, Kezia. Akan kujelaskan nanti," bisik Phillip. Mereka tiba di depan sebuah rumah minimalis yang berada di ujung desa. Jess berdiri di sana dengan senyum ramahnya.


"Suatu kehormatan bisa menyambut Anda sekalian di sini. Nama saya Jess White, kepala desa Chasata."


"Suatu kehormatan pula kami bisa berada di sini. Saya Saciel Arakawa, beserta dengan kedua teman saya Phillip Arlestine dan Kezia Ackerman. Saya yakin Anda paham situasinya."


"Tentu saja. Mari, akan saya tunjukkan tempatnya," ujar Jess. Mereka berjalan menuju pondok Paman Olan, dimana beberapa penjaga bersiaga penuh.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Phillip.


"Dia selamat, tapi masih belum sadarkan diri. Saat ini yang bisa kita lakukan hanya menunggu," ujar Jess. Mereka masuk ke dalam pondok dan memberi salam pada sang tuan rumah.


"Baiklah, berhubung tempatnya tidak terlalu luas sebaiknya salah satu dari kalian tinggal di sini," ujar Jess.


"Aku akan menunggu di sini," celetuk Phillip.


"Serius?" tanya Saciel.


"Sudah cepatlah, waktu kita tidak banyak," potong Phillip. Saciel mengangguk. Bersama dengan Kezia mereka segera menuju kamar sang pemuda setengah serigala itu terbaring.


"Silakan," ujar Jess sembari membuka pintu. Keduanya segera masuk dan mendapati pemuda itu tertidur.


"Nii!" jerit Kezia. Ia segera memeluknya dan terisak, berbeda dengan Saciel yang berdiri mematung di sana. Wajahnya pucat, kilat kebencian terlihat jelas di matanya.


"Kenapa...dia ini kakakmu?"