
Pagi telah tiba, ayam jantan mulai memeriahkan keheningan dengan kokokan merdunya. Namun di tempat tidur, sang penyihir masih terlelap di alam mimpinya. Bibi berjalan masuk ke dalam kamar dan membuka gorden supaya cahaya sang surya masuk.
"Selamat pagi Nona. Hari ini cuacanya cerah," ujar Bibi dengan riang. Sang penyihir mengernyitkan kening dan membuka mata, mencoba membiasakan cahaya yang menerpanya.
"Ini hari Minggu. Aku masih mau tidur," ujar Saciel.
"Tidak bisa. Ini adalah hari spesial, ingat? Festival Matahari Merah."
"...kau benar. Astaga tubuhku mati rasa akibat kemarin. Bibi, tolong siapkan..." ujarnya sembari membuka selimutnya dan menemukan Kezia tertidur pulas memeluknya. "...tehnya. Black Pearl ya?"
"Baik, Nona," ujarnya. Setelah ditinggal pergi Bibi, Saciel dengan hati-hati bangkit dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya dengan pakaian resmi. Disanggulnya rambut panjang dengan sanggul setengah berantakan, ditambah dengan jepit rambut emas.
"Yang benar saja? Aku ingin menikmati liburanku tapi masih dijejali tugas...hm?" matanya beralih pada seekor burung elang yang hinggap di pagar balkon. Di punggungnya terdapat sebuah tas kecil yang mampu memuat gulungan surat. "Oh sial. Apa yang mereka inginkan, sih?"
Tangannya mengambil sebuah gulungan dari tas itu, lalu memberikan sepotong kecil daging sebagai imbalan untuk elang itu. Sementara elang itu makan, ia membuka gulungan itu dan membacanya.
Seorang Gadis Serigala Terlihat di Pesisir Pantai Loreta.
"Ini...secarik berita. Tidak mungkin tidak ada saksi mata, kan? Duh, gawat ini."
Matanya terpaku pada gadis serigala yang masih tertidur. Ia tersenyum dan membakar berita itu tanpa sisa. Ia bergegas keluar dan menemui Phillip tengah menyantap garlic bread yang disediakan.
"Dari wajahmu, kurasa kau baru saja membaca berita panas eh?" celetuk Phillip. Saciel hanya diam, tangannya mengambil sepotong scone dan menyantapnya. "Kau takut?"
"Sedikit. Negara kita ini keras terhadap ras demi human, yah atau tepatnya hampir semua ras. Aku tidak menyangka ada yang menemukan Kezia sebelum kita."
"Kurasa beberapa wisatawan yang menemukannya. Tapi karena Kezia tak ada lagi, kurasa mereka tidak akan mencarinya," ujar Phillip.
"Mereka akan mencarinya. Tidak mungkin wartawan akan melepaskan berita yang besar seperti ini."
"Lalu bagaimana? Besar kemungkinan para penjaga dan aparat keamanan akan mencarinya," tanya Phillip.
"Nee, apa mereka akan menangkapku?" celetuk Kezia. Ia berdiri di ambang pintu dengan mata penuh air mata. "Hiks...aku tidak mau."
"Tidak tidak, kau tidak akan kubiarkan tertangkap," ujarnya sembari memeluk gadis itu. "Percayalah."
"Baik nee," ujarnya sembari mengusap air matanya. Ia menyesap teh dan matanya bersinar. "Ini...teh Black Pearl?"
"Oh, kau tau tentang teh?" tanya Phillip.
"Ya! Aku sangat suka dengan teh. Setiap pagi Mama selalu membuatkanku secangkir teh," celetuk Kezia senang. "Tidak kusangka di sini ada Black Pearl."
"Teh ini memang favorit untuk bangsawan, tapi karena sulit mendapatkan tidak semua bisa membelinya. Aku mendapatkan teh ini dari makelarku, tapi dia tidak pernah memberitahuku jati dirinya," ujar Saciel.
"Black Pearl adalah teh dari negaraku, di bagian tenggara. Tepatnya di desa Lumos."
"Pantas saja barang ini lebih banyak di pasar gelap dengan harga fantastis," sindir Phillip. "Para bangsawan selalu menyamarkan namanya agar tidak dicekal pemerintah. Kami memanggilnya 'permata hitam'.
"Teh ini adalah kesukaan adikku, tapi aku tidak bisa membawanya karena aku takut menyeretnya dalam masalah."
"Nee punya adik?" tanya Kezia.
"Lebih tepatnya saudari kembar. Nih fotonya," ujarnya sembari menunjukkan sebuah foto tua.
"Rambutnya beda."
"Memang. Keduanya memiliki wajah mirip ibu, mata mirip ayah, rambut mewarisi keduanya," celetuk Phillip. Semuanya tertawa lepas tanpa beban.
"Nona-nona dan Tuan Muda, sarapan sudah siap," ujar Bibi.
"Akhirnya. Mari turun dan makan." Semuanya turun ke ruang makan, di mana Bibi telah menyediakan sarapan berupa french toast dengan madu dan potongan buah segar. Mereka segera duduk dan menyantap sarapan sederhana itu.
"Bibi, setelah sarapan segeralah bersiap untuk festival. Aku akan menyusul setelah pekerjaanku selesai."
"Perlukah saya membuat teh untuk Nona Cerlina?"
"Tentu saja. Nanti akan kuseret dia setelah festival," balasnya dengan seringai nakal. "Dan untukmu, tetap di sini dan bantu Kezia."
"Baik Nona~" gurau Phillip. Selesai sarapan Saciel segera bangkit dan berjalan meninggalkan mansion miliknya. Ia menjentikkan jarinya dan berdiri di depan gedung pusat Careol dengan gestur angkuh. Ia berjalan masuk dan bertemu dengan Tetua Erika yang berwajah masam.
"Oh, kau sedang apa di sini? Kupikir kau pergi mempersiapkan festival," sindir Saciel.
"Aku di sini untuk mengawasimu, gadis nakal," balas Tetua Erika. Jika kau tidak diawasi bisa saja kau melakukan penyelewengan."
"Paling tidak aku tidak korupsi kekuasaan seperti kau."
"Jaga mulutmu! Apa belum puas hukuman kemarin?"
"Wah wah, kau sadis sekali Tetua Erika. Main lukai badan memang keahlianmu? Kenapa kau tidak jadi algojo saja?"
"Kau..."
"Tetua Erika, Nona Arakawa, bisakah kalian berhenti beradu mulut di sini?" celetuk seseorang. Keduanya berpaling dan mendapati seorang maid berbalut pakaian pelayan yang kelewat seksi berdiri di hadapan mereka.
"Kau...maid dari Istana Stjärnan?" tanya Saciel. Maid itu tersenyum dan memberi hormat.
"Namaku Parvati, kepala maid di istana. Sebuah kehormatan bisa menyambut dua tokoh penting di sini."
"Parvati? Nama yang cantik untukmu. Jadi kau membawa barang yang kubutuhkan?" tanya Saciel.
"Tentu saja, Nona. Semua berkas sudah siap," balas Parvati.
"Baiklah, mari bekerja."
Arakawa Mansion
"Festival Matahari Merah itu apa?" tanya Kezia sembari memeluk boneka besar dengan gayanya yang imut.
"Festival untuk menghormati Dewa Oorun yang berjasa menyelamatkan para pengungsi saat perang ratusan tahun yang lalu," papar Phillip.
"Apa kau tau seperti apa wajahnya?"
"Sayangnya tidak. Bahkan tidak ada yang mendeskripsikan rupa seorang dewa."
"Begitu."
"Iya begitu. Ah, kau mau lihat seperti apa festivalnya?"
"Apa boleh?" tanya Kezia, ekornya bergerak cepat.
"Tentu saja, tapi kita harus menyembunyikan telinga dan ekormu. Hmm, kurasa Saciel memiliki ramuan yang cocok untukmu. Bi, di mana ruang penyimpanan ramuannya?"
"Di basement, Tuan Muda!" ujar Bibi. Keduanya segera turun ke basement yang sedikit remang akibat lampu yang mulai meredup. Beberapa kelelawar nampak bergelantungan di lorong.
"Kuharap Saciel mau membersihkan tempat ini," gumam Phillip.
"Gelap, aku takut," rengek Kezia. Phillip segera memegang tangannya dan menuntunnya menuju rak besar di ujung ruangan. Bermacam ramuan dalam botol kaca beragam bentuk mengisi rak itu. Merah, putih, hijau, biru, transparan mampu menyihir sang serigala kecil hingga terkagum melihatnya.
"Nah, sekarang yang mana ramuan transfigurasinya?" celetuk Phillip. Ia menarik sehelai kertas berisi catatan ramuan dan nomor raknya. "Hmm, rak 13, botol anggur dengan cairan berwarna hitam? Baiklah, rak..."
"Ini?" tanya Kezia sembari menunjuk botol yang Phillip sebutkan.
"Ah, kau benar," balas Phillip. Ia segera mengambilnya dengan sihir dan mengecek ulang untuk memastikan keaslian ramuan. "Yep, ini yang kita cari."
"Apakah itu aman untukku?"
"Tenang saja, ini aman kok. Jika terjadi sesuatu padamu aku akan segera memberikan penawarnya," ujarnya sembari memamerkan sebotol kecil cairan berwarna putih susu. Ia menuangkan isi botol anggur itu ke sebuah sloki dan memberikannya pada Kezia. Si gadis serigala kecil ragu, tangannya memegang sloki dan menatap isinya. Ia tenggak ramuan itu dalam satu tegukan dan meletakkan slokinya di meja. Perlahan telinga dan ekornya meyusut dan hilang, diganti dengan sepasang telinga manusia.
"Ah, syukurlah itu bekerja. Mari kita lihat, ramuan ini hanya bertahan selama 24 jam. Kurasa itu cukup untuk kita menikmati festival," ujar Phillip.
"Hore! Main!"
"Dasar. Ayo kita kembali, kurasa sebentar lagi Saciel akan datang menjemput kita."
"Oke," balasnya. Ia berlari cepat meninggalkan Phillip yang ternganga melihatnya.
"Kurasa kecepatan mereka bukanlah rumor."
Saciel baru masuk ke dalam saat Kezia menerjang dan membuat keduanya jatuh di teras.
"Astaga, Nona tidak apa-apa?" sahut Bibi.
"Tidak apa-apa, tenang saja. Oh, kau sudah minum ramuannya?"
"Iya, ehehehe," balas Kezia. Saciel hanya tertawa kecil dan bangkit berdiri, memberikan sebuah tas belanja padanya.
"Apa ini?"
"Baju untukmu. Pakailah," ujar Saciel. Ekornya bergoyang cepat dan ia berlari ke kamar dengan tas belanja di tangannya. Phillip menghampiri sang penyihir yang berwajah masam.
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Erika sialan itu mengawasiku. Beruntung pelayan istana menemaniku, jadinya aku tidak terlalu bosan mendengar omong kosong wanita tua bangka itu."
"Kasar sekali mulutmu. Wajar sih, kau memang ratunya omong kasar. Apa dia membahas soal Kezia?"
"Tentu saja," balasnya sembari mengurai rambutnya. "Dia bahkan berkoar-koar soal menangkapnya."
"Tipikal Erika. Kami sudah siap berangkat, aku bahkan sudah memanggil kereta kuda untuk kita," ujar Phillip.
"Baiklah, tunggu sebentar. Mau ganti baju dulu," ujarnya sembari naik ke atas. Dengan cepat ia mengganti baju dan mengikat rambutnya asal-asalan. Ia turun dan mendapati yang lain sudah berada di dalam kereta dengan senyuman.
"Ayo nee, cepat! Nanti keburu mulai," sahut Kezia. Saciel bergegas masuk dan menutup pintu, dan kereta kuda itu mulai bergerak meninggalkan mansion.
Cuaca panas tidak menyurutkan kegembiraan semua orang yang hadir di Taman Quetzalcoatl. Tua maupun muda hadir dan memegang bunga dahlia merah.
"Buat apa bunga dahlia?" tanya Kezia.
"Sebagai persembahan untuk Dewa Oorun atas jasanya menolong kami. Dahlia merah bagi kami adalah lambang dari matahari itu sendiri," celetuk Bibi.
"Padahal kita tidak tau seperti apa rupa Dew Oorun itu," gumam Saciel.
"Hush, jangan bilang begitu. Kau mau kena hukuman lagi?" sindir Phillip disertai senggolan kecil.
"Iya iya, maaf. Ah, itu Cerlina," ujarnya sembari melayangkan pandangan pada barisan biarawati yang mengiringi Cerlina. Ia membiarkan rambut ungunya tergerai, namun sebuah jepit rambut berbentuk dahlia menghiasinya. Wajahnya tidak tertutup oleh tudung, sehingga banyak orang terpana akan kecantikan dan senyum manisnya. Tubuhnya dibalut oleh pakaian kebesaran Pendeta Agung, namun masih ada celah untuk memamerkan lekuk tubuhnya bak model di atas panggung.
"Cantiknya. Mirip sekali dengan nee," celetuk Kezia.
"Tentu saja, kami kan kembar. Walau harus kuakui dia lebih cantik sih."
"Mungkin karena dia lembut bagaikan bunga dan kau barbar seperti orang gua," celetuk Phillip.
"Hahahaha, lucu sekali," balas Saciel. Festival dimulai dengan tarian oleh Cerlina diiringi oleh beberapa gadis kuil. Para biarawan mulai mempersiapkan air suci yang disertai kelopak bunga dahlia merah. Selesai menari Cerlina berdoa di depan kuil dan memercikkan air suci kepada para pengunjung.
"Dan ini dia puncak acaranya," ujar Saciel sembari menjentikkan jari dan kembang api keluar dari tangannya. Semua orang yang hadir turut serta melakukan hal yang sama.
"Wow, ini indah sekali."
"Nah, kau bisa jajan jika kau mau. Ini," ujar Phillip sembari meletakkan uang di tangan Kezia. "Selamat menikmati."
"Asyik! Bibi, ayo temani aku."
"Baik, Nona Kezia. Nona Saciel, hati-hati," pamit Bibi.
"Ahahaha, aku pasti baik-baik saja," ujar Saciel. Ia bergegas menuju tenda Cerlina dengan cepat. Ia bertransformasi menjadi kucing dan menyelinap masuk ke dalam tenda.
"Meong."
"Selamat datang kucing nakal. Silakan duduk," celetuk Cerlina sembari menahan tawa. Saciel kembali ke tubuh aslinya dan mengeluarkan termos kecil dari balik lengan baju.
"Permata hitam untuk Nona Pendeta Agung," balasnya. Ia menjentikkan jari dan dua cangkir muncul di atas meja.
"Seharusnya kau menculikku saja dari tenda ini."
"Kau gila? Bisa-bisa aku dibantai sama pengasuhmu," balasnya riang. Ia menuangkan tehnya dan memberikan cangkir itu pada Cerlina.
"Ah, aroma ini benar-benar seperti surga. Penuh dengan kenangan akan kebersamaan kita," ujarnya. Ia menyesapnya sedikit dan tersenyum. "Benar-benar enak."
"Sekarang mulai susah untuk mendapatkan teh ini. Yah, kau taulah teh ini bukan buatan Respher. Dan lagi susahnya barang Ceshier untuk masuk ke sini."
"Aku tau. Aku jadi ingat saat Papa membawa pulang teh ini, penuh luka dan lebam. Mama sampai marah bukan?"
"Ya iyalah, Papa sih main baku hantam sama penjaganya. Jelas kalah kalau adu kekuatan," balasnya sambil tertawa.
"Iya juga ya, ahahahaha."
Keduanya menghabiskan waktu bersama hingga makan siang. Saciel buru-buru pergi sebelum gadis kuil datang membawa makan siang untuk Cerlina. Ia berjumpa dengan rombongannya dengan senyum sumringah.
"Nee!" sahut Kezia. Ia memeluk Saciel erat, seakan tak ingin dipisahkan. "Aku kangen sekali."
"Aku cuma pergi sebentar, sayang. Ayo makan, aku lapar sekali."
"Kebetulan. Kulihat restoran langgananmu buka stand di sana," ujar Phillip sembari berjalan dan diikuti oleh yang lainnya.