
Saciel yang masih terlelap tidak sadar ketika Parvati masuk bersama beberapa pelayan. Ia baru membuka mata ketika sang kepala maid membuka tirai dan sinar mentari menyilaukan ruangan.
"Selamat pagi, Yang Mulia. Hari ini acara Anda cukup padat, mari bersiap," ujar Parvati senang. Saciel bangun dari tidurnya dan menguap sejenak sebelum matanya mulai beralih ke beberapa pelayan yang menyiapkan semuanya.
"Aku bisa melakukannya sendiri, Parvati. Bawa mereka keluar," ujar Saciel dengan suara berat. "Lagipula aku tidak terbiasa dimandikan orang lain di hari normal."
"Jika itu keinginan Yang Mulia, baiklah. Tapi nanti kami tetap akan membantu Anda merias diri," ujar Parvati. Saciel hanya mengangguk dan membiarkan pelayan keluar sebelum ia menjejakkan kaki untuk ke kamar mandi. Tigapuluh menit ia habiskan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Tak lama kemudian beberapa pelayan masuk dan mulai mendandaninya sesimpel mungkin.
"Yang Mulia, sepertinya sudah waktunya untuk mencari dayang untuk Anda," ujar Parvati. Saciel terdiam sejenak sebelum kembali menggerakkan ujung penanya.
"Untuk apa? Kurasa pelayan di sini sudah banyak," tanya Saciel.
"Dayang diperlukan untuk membantu Yang Mulia mengurus beberapa hal yang tidak bisa dilakukan oleh pelayan," papar Parvati.
"Huf, sebenarnya aku bisa mengurus semuanya sendiri tapi...kurasa kau ada benarnya juga. Tolong siapkan daftarnya agar aku bisa memilih."
"Baik Yang Mulia," balas Parvati sembari memberi hormat dan pergi. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu dan sosok Phillip memasuki ruang kerjanya dengan tatapan lempeng.
"Terima kasih sudah menerima tawaranku menjadi ajudan, Phillip," ujar Saciel dengan senyum kemenangan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Suatu kehormatan bisa melayani Anda, Yang Mulia. Jadwal Yang Mulia hari ini cukup padat, kuharap Anda sudah menikmati sarapan," ujar Phillip.
"Aku tidak nafsu makan," balas Saciel malas.
"Tidak bisa begitu, Yang Mulia. Paling tidak setangkup roti dan secangkir teh cukup untuk mengisi tenaga. Akan saya sampaikan untuk menyiapkan sarapan," tegur Phillip.
"Ngh, bolehkah berupa sereal saja?"
"...baiklah, Yang Mulia. Sereal cokelat dengan potongan buah dan krim?" tawar Phillip. Saciel mengangguk, membiarkan Phillip mengurus sisanya. Ia kembali fokus pada lembaran kertas yang ada di hadapannya. "Yang Mulia baik-baik saja?"
"Kenapa bersikap formal padaku? Biasanya cukup nama saja, bukan?" tanya Saciel.
"Yang Mulia, posisi saya sudah jauh di bawah Anda, mana mungkin saya berani memanggil nama Yang Mulia begitu saja," ujar Phillip sembari menghela napas.
"...kemarin Oorun datang dan berkata nama keluargaku akan diganti sesuai dengan nama keluarga kerajaan."
"Heh, kapan? Kok aku tidak melihatnya?"
"Jelas tidak, soalnya dia menghentikan waktu," keluh Saciel. "Dan dia datang saat pesta penobatan."
"Dewa itu sekarang sering bersosialisasi dengan Anda dan Lady Cerlina di sini ya? Apa ada sesuatu diantara kalian?" tanya Phillip. Saciel hanya menggeleng dan meletakkan penanya saat melihat Stevan masuk bersama dengan makanannya. "Mari pindah dulu sebelum menyantapnya."
Saciel pindah ke meja lain dan perlahan bersantap dengan sarapan sederhana. Stevan menuangkan secangkir teh Earl Grey dan meletakkan di meja.
"Yang Mulia, banyak undangan yang masuk pagi ini," ujar Phillip sembari meletakkan setumpuk undangan di meja kerjanya.
"Undangan ya? Sepertinya aku bakalan bekerja lebih panjang dari siapapun," keluh Saciel.
"Itu yang akan kuhadiri, segera jadwalkan," ujar Saciel. Phillip mengecek undangan tersebut dan memberi hormat, lalu pergi. "Stevan, apa ada kabar dari Lao?"
"Sampai saat ini saya belum mendengar kabar dari Duke Requiem, Yang Mulia. Perlukah saya kirim surat untuknya?" jawab Stevan.
"Tidak perlu, itu hanya akan merepotkan dia. Panggil semua menteri, aku ingin mendengar laporan dari mereka."
"Baik, Yang Mulia," balas Stevan. Setelah membereskan peralatan makan yang digunakan sang ratu, Stevan langsung keluar. Saciel kembali fokus pada pekerjaannya sampai tidak sadar seekor burung gagak berulang kali mengetuk jendela menggunakan paruhnya. Parvati yang baru masuk dengan daftar nama yang melihatnya.
"Yang Mulia, lihat. Ada seekor burung gagak mencoba masuk," ujar Parvati. Saciel berpaling dan membiarkan burung itu masuk dengan tatapan heran. Ia baru sadar ada cincin di cakarnya ketika burung itu mengepakkan sayapnya yang hitam legam. Hati-hati diambilnya cincin itu dan dengan seksama melihatnya.
"Kau datang dari mana, gagak?" tanya Saciel dengan tatapan tajam, namun tidak ada ketakutan dalam diri gagak itu. "Heh, lupa aku kalau kamu itu burung. Perlu kulacak siapa...ah!"
Burung gagak itu tiba-tiba meledak dan menjadi abu, membuat Saciel dan Parvati waspada. Saciel langsung meletakkan cincin itu dan menyegelnya.
"Yang Mulia, apakah ini ancaman?" tanya Parvati.
"...bukan, Parvati. Ini adalah peringatan agar aku tidak mencoba mencari tahu siapa pengirim cincin ini, meski aku sudah tahu siapa orangnya. Perketat penjagaan, kita tidak bisa lengah melawan orang psikopat," ujar Saciel tegas. Parvati mengangguk dan bergegas pergi.
...****************...
"Mereka memperkuat penjagaan," ujar Dark sembari memantau perbatasan dengan teropongnya. "Kurasa Saciel sudah tahu siapa pengirimnya."
"Dia tidak bodoh, Dark. Kau saja yang terlalu gegabah untuk mendapatkannya," ujar Vatra. Ia berpaling dan menatap Vristhi yang termenung agak jauh dari tempat mereka. "Kau yakin di sini tempat yang paling lemah sihirnya."
"Aku yakin, kau bisa bertanya pada pangeran buangan itu," jawab Vristhi pedas. Dark berniat menarik pedangnya, namun Vatra melirik dengan tajam dan membuatnya berhenti.
"Kau sebaiknya berhati-hati dengan perkataanmu, bocah. Pangeran bodoh ini tidak bisa diatur," celetuk Vatra dingin. "Dan aku juga tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak membunuhmu."
"...akan kuingat itu," ujar Vristhi. Vatra kembali fokus pada perbatasan, sementara Dark dan Vristhi beradu pandang dengan penuh kebencian. Vatra perlahan menggerakkan jemarinya dan mengubah bebatuan di sekitarnya menjadi manusia beserta ternaknya. Ia langsung memberi perintah mahkluk jejadian itu pergi melewati perbatasan. Tak lupa ia tempelkan lingkaran sihir bom di bagian punggungnya.
"Mau kau apakan itu?" tanya Vristhi penasaran. Vatra tidak menjawab, melainkan menarik keduanya menjauh dari tempat persembunyian mereka saat ini. "Jawab aku!"
"Kau akan tahu nanti," balas Vatra sembari berhenti cukup jauh dari titik awal dan mengawasi makhluk buatannya yang sedang diwawancarai oleh pasukan penjaga. Setelah diizinkan masuk, mereka berjalan menuju desa terdekat tak jauh dari perbatasan dan meledakkan diri, membuat penjaga terkejut dan ratusan orang terluka.
"Apa....apa yang kau lakukan?!" bentak Vristhi sembari menarik kerah Vatra dengan emosi memuncak. Vatra menepis tangan wanita itu dengan tatapan dingin, membuat Vristhi makin emosi melihatnya.
"Kau lupa saat ini aku sedang memulai pestanya?"
"Pesta yang kau maksud itu ini? Sialan," maki Vristhi.
"Heh, kau tidak akan bisa kabur, bocah. Saat ini kau sudah menjadi bagian dalam rencanaku. Jika kau berniat untuk membelot, aku akan langsung membunuh orang itu," ujar Vatra sinis. Vristhi hendak menyerang, namun ia sudah tidak berdaya di hadapan orang itu. Mulutnya kini terkatup dan ia hanya bisa diam di tempat. Vatra tertawa kecil dan memasang tampang mengerikan pada wajahnya.
"Nah, apa yang akan kau lakukan, Yang Mulia?"