The Two Empresses

The Two Empresses
Rencana



3 hari setelah pertemuan


Lao berdiri sendirian di aula kuil Dewa Oorun. Matanya terpaku pada sebuah lukisan hutan berkabut dengan kilauan di beberapa titik.


"Apa aku membuatmu menunggu lama?" tanya Cerlina sembari berjalan memasuki aula.


"Tidak sama sekali, Pendeta Agung," balas Lao sembari memberi penghormatan. Cerlina melambaikan tangan dan memberi isyarat untuk mengikuti dirinya. Keduanya berjalan meninggalkan aula dan masuk ke ruangan besar dengan sofa empuk dan coffee table berhias marmer.


"Duduklah. Akan kuminta seseorang membuatkan teh untukmu," ujar Cerlina lembut.


"Tidak perlu, biar aku saja," ujarnya sembari menjentikkan jemari dan satu set teko beserta cangkir-cangkirnya muncul di atas meja. "Kuharap kau...ah, Anda tidak keberatan."


"Bisakah kita tinggalkan formalitas ini?" tanya Cerlina lirih. Lao hanya mengangguk, lalu membuat perisai kedap suara agar tidak ada orang yang mendengar.


"Sebaiknya aku menambah keamanan, hanya untuk jaga-jaga," ujar Cerlina tenang. Ia menjentikkan jemarinya dan beberapa roh serigala berjaga di luar ruangan. "Bisakah kau memanggilku Cerlina saja? Pendeta Agung tidak cocok untukku."


"Baiklah nona kecil. Kau memang imut ya, benar-benar seorang lady sejati. Tidak seperti saudarimu yang agak sedikit...yah, barbar?" komen Lao.


"Dibandingkan barbar, dia lebih seperti seorang gentleman yang memiliki sikap buruk," balas Cerlina sembari tertawa kecil. "Jadi, apa yang kau inginkan dariku?"


"Aku ingin mengajakmu bekerjasama dalam suatu rencana, tapi keputusan tetap di tanganmu. Silakan baca laporan ini dulu sebelum memutuskan," ujar Lao sembari menyodorkan laporan. Cerlina membacanya sekilas dan terkejut. Hati-hati diletakkannya laporan itu walau tangannya gemetar.


"Sejak kapan?" Cerlina bergumam.


"Ya?"


"Sejak kapan mereka merencanakan ini?" tanya Cerlina lirih.


"Aku tidak tahu kapan, tapi ini info yang kudapatkan dari Julian," ujar Lao.


"...bagaimana dengan Saciel?"


"Kami akan menjauhkannya dari masalah ini dan juga kamu."


"Aku? Tapi aku bukan kepala keluarga Arakawa," celetuk Cerlina.


"Meski bukan sebagai kepala keluarga, kau masih terhitung sebagai perwakilan. Kalian kan kembar, kekuatan kalian saja setara," ujar Lao.


"Aku tidak sekuat kakakku. Dia lebih bersinar, lebih percaya diri dan dikagumi banyak orang."


"Jangan begitu. Kau juga kuat kok, percayalah," hibur Lao. "Oh iya, Saciel berhasil mengalahkan Vristhi."


"...er, kau tidak membicarakan Vristhi Rosemary sang necromancer kan?" tanya Cerlina meragukan.


"Astaga manis, katakan padaku adakah orang lain yang memiliki nama Vristhi di seluruh daratan Respher?" ujar Lao sembari menahan tawa.


"Tidak," jawab Cerlina malu. "Tapi...bukankah Vristhi selalu unggul saat melawan Saciel?"


"Sejujurnya manisku, Saciel adalah yang paling kuat diantara 7 Eternal Wizards. Perkara kenapa Vristhi selalu unggul saat melawan Saciel karena ia selalu terburu-buru dalam pertarungan. Kadang, emosinya mudah tersulut walau tidak seperti Comet."


"Kau benar," ujar Cerlina lirih.


"Kuberitahu satu hal. Vristhi menggunakan mayat kedua orangtuamu untuk melawannya."


"A..apa?! Itu merupakan pelecehan terhadap keluargaku!" bentak Cerlina. "Mana dia? Akan kuberi pelajaran!"


"Sabar! Sabar, duh. Kau dan Saciel sama saja, sama-sama emosian. Duduklah, tenang oke?" ujar Lao menenangkan, tangannya menepuk Cerlina agar sang Pendeta Agung tidak melepaskan emosinya.


"Huft, baiklah. Tapi aku ingin wanita tidak tahu diri itu dihukum sesuai dengan tindakannya," ancam Cerlina.


"Baik, baik. Aku akan menghukumnya nanti, tapi bisakah kita fokus dengan masalah kita?"


"... hmph, mulut berbisamu benar-benar berbahaya," ujar Cerlina. "Lalu apa jaminanmu?"


"Bagaimana jika...keselamatan Saciel?" ujar Lao.


"Kau cari mati?" ancam Cerlina. Aura mematikan terpancar just dari tubuhnya.


"Tapi kalian juga gagal membawanya pulang. Berarti jaminan itu gagal."


"Tidak juga. Masih ada 3 orang lagi yang akan menghadapinya," ujar Lao kalem.


"Kau yakin sekali bisa membawanya pulang," sindir Cerlina.


"Bagaimana pun, dia adalah wanita. Staminanya masih belum terkontrol dengan baik. Tenang saja, aku jamin dia akan pulang," ujar Lao meyakinkan. "Jadi, bagaimana dengan kerjasama kita?"


"Kau tahu apa yang akan kita lakukan berpotensi menjadikan kita pengkhianat bukan?" tanya Cerlina.


"Aku tahu. Jadi pilihlah, Nona Pendeta Agung. Waktu kita tidak banyak."


"...baiklah. Aku akan mendukung kalian. Tapi aku tidak bisa memberikan bantuan sepenuhnya karena posisiku," ujar Cerlina.


"Tidak masalah," balas Lao. "Kita harus memperjuangkan apa yang benar untuk kita."


----------++--------++-----------++----------


"Oh, kau yakin mau pergi? Wajahmu sepucat kertas tuh," sindir Max saat melihat Saciel tengah mengenakan mantel.


"Kita sudah membuang waktu di sini," balas Saciel singkat.


"Heh, bukannya itu salahmu yang ambruk setelah pertarungan dengan necromancer itu?" sindirnya lagi. Saciel hanya mendelik, namun ia tidak berkata-kata dan menyibukkan diri dengan perbekalan.


"Nee~ aku mau tinggal di sini," pinta Kezia.


"Tidak. Kita tidak boleh mengganggu habitat para naga, Kezia. Kita harus pergi," ujar Saciel tegas. Kezia cemberut, tangannya langsung memeluk bayi-bayi naga yang asyik bermain.


"Perlukah saya memberikan hukuman pada Nona Ackermann?" tanya Parvati.


"Tidak, tidak perlu. Seret saja dia," ujar Max. Kezia tersentak dan mukanya makin kucel, telinganya turun dan ekor berada di antara kakinya.


"Astaga, manis sekali seperti anak anjing yang ketakutan," puji Parvati.


'Aku heran dengan pujianmu yang tidak masuk akal,' batin Phillip. "Sudah selesai beres-beresnya?"


"Sudah," jawab Saciel singkat. Matanya melirik ke arah Max yang menggendong Kezia dengan satu tangan.


"Huwe! Nggak mau!" jerit Kezia.


"Nyawa kita dalam bahaya, oke? Jadilah anak baik," hibur Max sembari berjalan mendahului. Yang lain berjalan mengekor tanpa suara. Beberapa anak naga berjalan mengikuti, namun Parvati mengusir mereka dengan tatapan tajam dan dingin.


"Aku benci nii," gumam Kezia.


"Kalau kau membenciku, nanti kutinggal di perbatasan saja," balas Max. Kezia memeluk erat kakaknya dan mencubit pipinya.


"Nggak boleh!" sahut Kezia. "Nee! Nii mau meninggalkanku!"


"Tinggal sama aku saja nanti, biar kakakmu pergi sendiri," ujar Saciel sambil mencoba meraih Kezia, namun ditampik oleh Max.


"Jangan sentuh dia, penyihir," ujar Max dingin. Saciel terdiam, lalu kembali berjalan sembari merutuki pemuda demi human di dalam hatinya.


"Sa-ci-el sayang~ Mau pergi ke mana kau? Kota Careol bukan ke arah sana," ujar seseorang. Semua tersentak dan berbalik, mendapati Julian berdiri di belakang mereka dengan senyum memesona. Phillip berdiri di depan Saciel dengan gestur melindungi, sementara Max dan Kezia menajamkan kewaspadaan mereka.


"Selamat siang, Tuan Zografos," ujar Parvati sembari memberi hormat.


"Sudah lama tidak bertemu, Parvati. Jadi...kau ikut membantu mereka?" tanya Julian tenang.


"Anda benar. Saya membantu Nona Arakawa dan Tuan Arlestine untuk membawa pergi dua demi human ini ke negara mereka."


"Kau tahu konsekuensinya, bukan? Kau akan dicap sebagai pengkhianat di negara ini. Yah, meski sebenarnya dua penyihir di sana sudah jadi buronan," balas Julian sembari menunjuk ke arah Saciel dan Phillip. "Saciel, ayo pulang. Kau sudah pucat seperti orang mati di sini."


"Jangan menghalangi, Julian. Meski kau mematahkan kaki dan tanganku, aku akan tetap pergi," tolak Saciel.


"Jika itu yang kau minta, akan kukabulkan permintaanmu," ujar Julian dingin.