
Pantai Loreta
Perwakilan 7 Eternal Wizards kini menjejakkan kaki di atas pasir berwarna pink sembari menatap portal sihir di depan mereka. Ilmol yang baru pertama kali melihatnya dihinggapi oleh rasa penasaran yang tinggi.
"Portal ini menuju ke mana?" tanyanya.
"Yang pasti bukan tempat yang aman untuk kita, jadi menjauhnya dari situ," ujar Lao kalem. Ia maju dan mencoba menyentuhnya, namun mendapat reaksi penolakan hingga tangannya terluka parah.
"Ah?!" jerit Ilmol.
"Tidak apa-apa, hanya luka bakar," ujarnya kalem. Ia mengeluarkan sepasang sarung tangan dan memakainya.
"Tidakkah kau menyembuhkannya dulu?" tanya Vristhi.
"Kalau hanya luka biasa aku bisa menyembuhkannya, tapi ini luka akibat sihir hitam. Akan lebih sulit menyembuhkannya."
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Ilmol. Lao terdiam sejenak, lalu mengambil sehelai daun dan mengubahnya menjadi boneka.
"Aku ingin tahu apa yang ada di balik portal ini," ujar Lao. Boneka itu bergerak cepat dan masuk melalui portal. "Nah, sekarang kita hanya bisa menunggu."
"Gimana jika kita bertarung dulu? Aku melihat gadis cantik di sini," ujar Dark sembari mengeluarkan pedang dari sarungnya. Ilmol segera berdiri di hadapannya dengan dual sword di kedua tangannya. "Oh? Kau dari keluarga Phoenix ya? Apa mereka sudah mengganti tradisi?"
"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawabnya," balas Ilmol sembari memasang kuda-kuda. Dark tertawa keras dan memasang wajah sedingin mungkin.
"Kau sombong sekali. Kuharap aku bisa memotong lidahmu saat ini," balas Dark. Ilmol maju menyerang dan mengayunkan pedangnya, namun Dark berhasil menangkis dan menendang Ilmol sejauh mungkin. "Lumayan. Tapi masih jauh dari standarku."
"Standar apa?" tanya Ilmol.
"Standar untuk menjadi istriku. Kau masih jauh di bawah Saciel," balas Dark dengan seringai mengerikan. Ilmol merinding mendengarnya. Vristhi menepuk pundak Ilmol dan mengangkat tangannya, memanggil para undead dari bawah pasir. "Oh, necromancer! Menarik, menarik!"
"Diamlah, pengkhianat. Orang sepertimu pantas untuk mati sebagai penebusan dosamu," celetuk Vristhi. Dark tertawa keras hingga jatuh karena perutnya sakit.
"Duh, perutku. Haa, kau ini benar-benar sangat berbahaya. Aku tidak mau mengalah hanya karena kalian wanita. Hei, Lao! Kenapa kau biarkan mereka melawanku, sementara kau berdiri di sana seperti patung, hah?!"
Lao tidak menggubrisnya, melainkan hanya menggenggam tombaknya dengan erat. Ilmol kembali maju dan menyerang, diikuti undead Vristhi sebagai umpan. Dark mampu berkelit dan memotong undead dengan mudah, sementara pedangnya beradu dengan milik Ilmol dengan cepat. Sesekali tendangan, pukulan, sikutan dan sihir ikut andil dalam penyerangan. Vristhi kembali memanggil undead, kali ini ia memanggil undead hewan buas.
"Hah! Trik kuno!" sahut Dark sembari membakar undead dengan lidah api berwarna hitam. "Aku lebih kuat darimu."
"Entahlah, aku tidak yakin," ujar Vristhi. "Skakmat."
Pergerakan Dark terhenti total, namun hanya bola matanya yang masih bisa bergerak. Meskipun ia memaksakan diri untuk bergerak, tubuhnya tidak mau menuruti keinginannya. Pedang yang ada di tangannya dilepaskan begitu saja, seakan tubuhnya berada di bawah kendali.
"Ini...mantra yang pernah kau lakukan padaku, bukan?" celetuk Ilmol. Vristhi hanya diam dan memantau situasi. Lao bergerak maju dan berdiri di hadapan Dark dengan emosi dingin.
"Matilah," bisik Lao sembari bersiap menghujamkan tombak. Mendadak saja sebuah panah mengarah ke Laos sehingga membuatnya mundur dan mencari dalangnya. "Tunjukkan dirimu!"
Tidak ada siapapun di tempat itu. Hanya mereka. Lao mencoba melihat sekeliling, namun tidak dapat menemukan yang ia cari. "Apa ada portal sihir lain?"
"Tidak, hanya ada 1 saja," ujar Ilmol sembari memastikan portalnya. Ia terkejut setengah mati ketika seseorang keluar dari portal itu dan menyeret boneka milik Lao yang dipenuhi darah. "Mu..."
"Tidak buruk untuk seorang pemimpin," ujarnya dengan suara berat dan rendah. "Hm? Hanya bertiga?"
"...siapa kau?" tanya Lao.
"Aku? Hmm, pertanyaan yang sulit. Tapi silakan anggap saja aku temannya orang di sana," jawabnya sembari menunjuk Dark yang masih kaku. Lao hanya diam, sesekali mengecek kedua rekannya yang ambruk dan terluka parah. "Berani sekali matamu berpaling dariku."
"Wah, apa kau tersinggung?" tanya Lao sembari menarik kuat tombaknya. Orang bertudung itu memiringkan sedikit kepalanya dan mengeluarkan sebilah pedang besar dari balik tudungnya. "Tampaknya banyak ruang kosong di balik tudungmu ya?"
"Begitulah," jawabnya bosan. Ia maju menerjang dan mengayunkan pedangnya, membuat Lao harus berkelit sebelum mati terbelah dua. Ia kembali menyerang dengan menghujamkan pedangnya, namun Lao lagi-lagi berkelit dan menendangnya. Orang bertudung itu mencengkeram kerahnya dan mencoba membantingnya, namun gagal. Lao mengambil jarak beberapa meter dengan napas tersengal. "Teleportasi ya?"
Lao diam, membuat orang bertudung itu kesal dan kembali melawannya. Serangan demi serangan dilancarkan, namun hanya adu kekuatan. Tidak ada satupun serangan yang mengandung sihir. Lao melompat mundur dan melempar tombaknya dan berhasil ditangkis oleh lawannya. Tidak hanya itu, Lao melempar pasir untuk mengaburkan pandangan, namun ia tidak memperkirakan bahwa tudungnya menutupi nyaris semua wajahnya. Sebuah pukulan telak berhasil mendarat di perut Lao hingga ia terpental.
"Hm, hanya segini saja kekuatan kalian? Kupikir akan sekuat apa, tapi ternyata lemah sekali. Lebih lemah daripada bayi," hina orang bertudung. Ia tidak menyadari Ilmol sudah ada di belakangnya dan siap menebas. Tanpa ragu Ilmol menebas orang itu, namun tebasannya tidak dalam dan hanya berhasil melukai punggungnya. Orang bertudung itu terkejut dan mencoba menendang, namun Ilmol mampu berkelit dan melukai orang itu di bagian lengannya.
"Oh? Kurasa kau mulai mencoba menyerang, hm?"
"Aku tidak sudi diremehkan olehmu," balas Ilmol. Pria itu tertawa dan menyunggingkan senyum iblisnya.
"Menarik. Perlihatkan lagi apa yang kau miliki di balik tubuh rapuhmu itu."
Sementara Ilmol dan orang bertudung itu saling beradu senjata, Lao berusaha bangkit untuk mendekati Vristhi yang masih terluka parah dan tak sadarkan diri, namun tubuhnya menolak untuk bergerak. Dengan segenap kekuatannya, ia menyembuhkannya dari jarak yang cukup jauh. Vristhi perlahan membuka matanya dan mendapati sosok Lao yang mulai pucat. Ia menatap tombak yang menembus perutnya dengan tatapan kosong, lalu menariknya sekuat tenaga hingga tercabut dan mulai melakukan penyembuhan diri. Ia bangkit mendekati Lao dan meletakkan kepalanya di atas pangkuannya.
"Kau...keracunan?" tanya Vristhi. Lao tertawa kecil dan melepaskan sarung tangannya, memamerkan tangan yang terluka. Namun yang mengejutkan, lukanya malah menjalar hingga lengannya seperti racun. "Racun sihir hitam."
"Jalur mana milikku sudah kotor, Vristhi. Aku harus segera memperbaikinya sebelum aku...mati."
"Jangan berharap kau mati di sini, brengsek. Aku tidak akan membiarkannya," ujar Vristhi sembari menggigit bibir bawahnya. Lao mengulum senyum dan mengelus kepalanya.
"Fokus tolong Ilmol sekarang," ujarnya lirih. Vristhi terdiam, namun akhirnya mengangguk dan meletakkan Lao perlahan. Ia berjalan maju dan mengeluarkan sebuah peti mati berukuran besar dengan kilat kemarahan yang tak pernah ia tunjukkan.
"Ilmol, mundurlah. Orang itu akan melawanku," ujar Vristhi tegas. Ilmol tersentak dan mundur, sementara Vristhi membuka peti mati itu. Isinya membuat Ilmol kaget setengah mati.
"Nona, itu..."
"Diamlah. Aku yang akan menanggungnya," potong Vristhi sembari membangkitkan ras Draco yang tertidur abadi di dalam petinya. Draco itu membuka matanya dan perlahan merayap keluar, memandangi Vristhi dengan kilat kebencian.
"Necromancer sialan. Kau berniat menggunakan mayatku untuk kepentinganmu?" tanyanya.
"Tentu saja. Kau tidak punya pilihan lain, bukan?" balas Vristhi dingin. Ras Draco itu tidak membalas, ia langsung menerjang dan menyerang orang bertudung itu hingga ia sedikit terdesak. "Ilmol, pulang dan bawa Lao ke kediaman Arakawa."
"Nona Vristhi, bagaimana denganmu?" tanya Ilmol cemas.
"Berhenti memanggilku Nona. Aku akan baik-baik saja, kau cukup urus Lao," balas Vristhi. Ilmol hendak bersuara, namun ia tekan kembali karena keputusan Vristhi sudah bulat. Ia membantu Lao untuk berdiri dan berteleportasi, meninggalkan Vristhi yang masih berdiri tegap di medan pertempuran. Setitik air mata mengalir di pipinya.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati, meski harus mengorbankan nyawaku. Ah iya, kenapa kau tidak kumanfaatkan juga?" ujarnya lirih. Tangannya mulai bergerak, begitu juga Dark yang masih berada dalam kendalinya.
"Atas nama 7 Eternal Wizards, aku Vristhi Rosemary akan bersumpah mengalahkan kalian, meski harus mempertaruhkan nyawaku!"