The Two Empresses

The Two Empresses
Execution



Malam telah tiba, mengusir sang fajar untuk beristirahat. Sang ratu muda tengah terbaring cemas, sesekali berguling memperbaiki posisi untuk terlelap, namun pikirannya tidak bisa berhenti mengganggunya. Ia duduk di ranjang, menghela napas panjang dan berjalan menuju balkon hanya dengan piyamanya. Angin dingin perlahan menyapu pipinya dengan lembut, membuatnya sedikit menggigil. Ia mengangkat kepalanya, menyaksikan miliaran pasukan bintang tengah beradu memamerkan kilauan. Hati-hati ia memposisikan diri pada pagar balkon dan mengayunkan kedua kakinya.


"Nee?" panggil seseorang sembari memamerkan wajahnya di samping Saciel. Yang dipanggil sontak menoleh dan terkejut, ia nyaris menjatuhkan diri dari lantai dua. Sang pelaku menahan lengannya dan memasang wajah manis.


"Kezia? B-bagaimana kau bisa kemari?" tanya Saciel. Kezia tidak menjawabnya, melainkan memeluknya cukup erat sembari mengusapkan wajahnya pada Saciel dengan manja.


"Nee~ aku merindukanmu," ujar Kezia. Saciel tertawa kecil dan mengelus kepalanya dengan hati-hati agar ia merasa nyaman. "Nee terlihat lelah, apa yang terjadi?"


"Hanya terlalu banyak pikiran," ujar Saciel kalem. "Bagaimana caranya kau kemari? Apa dibantu dengan Nero?"


"Nero nii tidak tahu, apalagi Max nii. Aku kemari dengan usahaku sendiri. Lompat jauh," jawab Kezia.


"Lompat jauh?"


"Ehe, tapi harus membuka segel," ujarnya. Saciel hanya tertawa kecil dan mengecup pipinya. Rasa berat di hatinya mendadak sirna berkat kehadirannya. "Bagaimana rasanya menjadi ratu, nee?"


"Tidak mudah Kezia. Aku harus bisa memprioritaskan rakyat dibandingkan diriku. Bahkan membuat keputusan tersulit di saat aku harus...mengadili temanku sesuai dengan apa yang sudah ia lakukan."


"Keputusan sulit? Apa yang terjadi di sini?" tanya Kezia.


"Masih ingat dengan wanita bau yang pernah menyerangmu?" tanya Saciel.


"Hm? Oh necromancer jahat yang menyerang nii dan nee?" tebak Kezia.


"Dia tidak jahat, hanya sedikit nyentrik. Dia telah membelot dan menyerang kekaisaran ini dengan cara...membantai ratusan orang di wilayah utara," ujar Saciel sendu. Kezia menegakkan telinga dan ekor, matanya membelalak seakan ingin keluar dari tempatnya.


"Kenapa dia melakukannya?"


"Aku juga tidak tahu alasannya, Kezia. Aku harap aku bisa menghentikannya, tapi aku tidak bisa membuat rakyatku menderita. Mereka telah kehilangan orang yang mereka cintai karena dia, mana bisa aku membelanya begitu saja."


"Nee, terkadang kita harus membuat pilihan yang sulit untuk kebaikan orang lain, meski terkadang...kita harus mengorbankan seseorang yang berharga untuk kita," ujar Kezia sendu.


"Apa kau pernah mengalaminya, Kezia?"


"Belum. Kuharap aku tidak harus menjalaninya," jawabnya lirih. Saciel terdiam, beban yang ia pikul malah semakin membebaninya, membuatnya nyaris kesulitan bernapas. Ia tahu persis apa yang dikatakan oleh sang demi human di sampingnya benar, namun sulit untuk diterima begitu saja. Ia mengelus gadis itu dengan lembut, sesekali bersenandung demi menyenangkan perasaannya. Yang dielus malah mengubah ukuran tubuhnya menjadi seukuran anak berumur 5 tahun dan duduk di atas pangkuan sang ratu dengan manja.


"Kau menggemaskan saat masih kecil ya?" ujar Saciel. Kezia hanya tertawa kecil dan memeluknya, lalu menggeram kecil ketika melihat Max datang dari belakang mereka.


"Ternyata kau di sini, bocah bandel. Ah, selamat malam, Yang Mulia," ujar Max sembari memberi hormat. "Mohon maaf atas ketidaksopanan adik saya yang datang jam segini tanpa ada pemberitahuan."


"Ah, selamat malam," balas Saciel kikuk. Ia segera turun dari pagar dan menurunkan Kezia. Sadar dirinya masih memakai piyama, ia menjentikkan jemarinya agar jaket melapisinya. "Apa kau kemari untuk menjemput Kezia?"


"Ya. Kemari kau, bocah bandel," ujar Max. Kezia merengut dan menggeleng, membuat Max sedikit kesal. "Kezia Ackermann?"


"Nggak mau! Mau sama nee!" sahutnya sembari memeluk kaki Saciel dengan wajah memelas.


"Ayah dan Ibu sudah sadar, kau tidak mau melihat mereka?" tanya Max. Kezia terkejut dan langsung melompat ke dalam pelukan Max.


"Mereka bangun? Bangun?!" jerit Kezia histeris, sembari mencubit kedua pipi Max dengan keras.


"Iya iya, tapi berhentilah mencubitku. Sakit!" keluh Max sembari menjauhkannya dari jangkauan. Kezia segera berhenti mencubit dan tertawa kecil.


"Ehe."


"Ehe ehe, enak saja kau," gumam Max. Ia menatap Saciel, namun dengan cepat memalingkan wajahnya. Serabut merah mulai merambati telinganya, sementara Saciel semakin kikuk.


"Ayo pulang, nii. Pulang!" sahut Kezia.


"Iya, tidak usah berteriak oke. Yang Mulia, saya pamit untuk kembali. Selamat malam," pamit Max dengan gayanya yang elegan.


"Bye bye, nee."


"Selamat malam, berhati-hatilah," ujar Saciel lembut. Max mengambil ancang-ancang dan dalam sekali lompatan mereka menghilang. Saciel menghela napas dan berjalan masuk, tepat ketika ketokan pintu mengisi kesunyian. Ia bergegas membuka pintu dan Phillip sudah berdiri di depan sembari memegang pedangnya.


"Saya mendengar jeritan di sini, apa Yang Mulia baik-baik saja?" tanya Phillip.


"Maaf, tadi ada tamu mendadak," ujar Saciel kalem. "Kau bisa beristirahat sekarang."


"Tamu? Siapa?"


"Kezia."


"Kezia? Yang Mulia tidak sedang bermimpi, bukan?" tanya Phillip ragu. Saciel hanya memutar bola matanya dengan gemas, lalu mendorong Phillip menjauh dari kamarnya.


"Tidurlah, besok akan menjadi hari paling berat untuk kita. Selamat malam," ujar Saciel. Sebelum Saciel menutup pintu, suara Phillip membuatnya terdiam.


"Kau kuat untuk menghadapinya?"


Ia tidak menjawab, melainkan menutup pintu sesegera mungkin dan berbaring di atas ranjangnya yang dingin. Meski sudah diselimuti dengan selimut bulu domba yang tebal, ia masih bisa merasakan dingin yang teramat.


...****************...


Pagi-pagi benar sebelum surya bangkit dari peraduannya, Saciel berjalan menuruni bawah tanah hanya dengan berbalut jaket untuk menutupi piyamanya. Para penjaga terkejut setengah mati dan langsung memberi hormat.


"Yang Mulia, ada perlu apa datang pagi-pagi begini?" tanya penjaga.


"Aku ingin melihat Vristhi. Beri aku ruang," ujar Saciel tegas. Sang penjaga mengizinkannya masuk dan menyuruh yang lain untuk berjaga. Ia berjalan memasuki penjara Vristhi dengan muka datar. Vristhi terbangun dan menoleh, lalu mengulum senyum tipis.


"Masih terlalu pagi untuk melihatku, Yang Mulia. Ada apa?" tanyanya.


"Kau tidak takut dengan kematian?"


"Apa Yang Mulia ragu dengan hukuman ini?" tanya Vristhi sembari duduk dan menatap matanya lekat-lekat. Saciel mengangguk, membuat Vristhi mengerutkan kening.


"Kenapa ragu?"


"Pertanyaan itu hanya Yang Mulia saja yang bisa menjawabnya," balas Vristhi.


"Aku tidak suka kau, tapi aku tidak setega itu untuk mengeksekusimu," ujar Saciel.


"Aku tidak suka kau, aku berani mengambil jalan ini dengan membunuh orang-orang tak bersalah dan aku paham betul aku tidak akan ragu dengan pilihanku. Jika aku jadi kau, aku akan melaksanakan eksekusi tanpa ampun. Kau tahu bukan hal yang mudah menjadi kuat untuk melindungi sesuatu yang penting bagimu. Terkadang korban perlu ada untuk ini," ujar Vristhi. "Hah, aku tidak menyangka akan menasehatimu seperti ini."


"Apa ini demi Lao?"


"Hm? Lao? Entahlah, aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Saciel. Untuk apa aku memikirkan lelaki itu?" balas Vristhi dengan senyum sinis.


"Kau mungkin bisa menipuku, tapi kau tidak bisa menipu dirimu sendiri. Sampai sekarang kau masih bersikeras untuk menjadi orang jahat?"


"Jahat? Aku? Atas dasar apa kau bisa mengatakan aku ini jahat? Apa hanya karena satu noda kau bisa mengatakan aku jahat?" tanya Vristhi. Saciel diam, tidak tahu harus menjawab apa. "Tidak ada orang yang terlahir jahat begitu saja, Saciel. Pasti ada satu yang akan menjadi pelatuknya."


"Yang Mulia, sedang apa Anda di sini? Astaga, Yang Mulia masih memakai piyama?" keluh Phillip sembari mendekati dan menggenggam tangannya. "Mari kembali, Yang Mulia."


Saciel hanya mengangguk. Ia berbalik dan berjalan bersama Phillip meninggalkan Vristhi yang menghela napas lega. Ia hanya diam seribu bahasa, membiarkan para dayang dan pelayannya melayani dia.


"Kurasa ini bukan waktunya untuk setengah hati, Yang Mulia," ujar Parvati lembut. Saciel menoleh dan memasang ekspresi terluka. "Seorang ratu harus tegas, tidak bisa setengah-setengah."


"Baiklah, aku paham. Terima kasih masukannya. Ah, tolong yang sederhana saja," ujarnya ketika melihat salah satu dayangnya membawa sebuah gaun yang cukup mewah. Setelah berganti baju, Saciel keluar dari kamar bersama dengan dua dayang di belakangnya. Phillip yang sudah menanti di bawah membari hormat dan mengulurkan tangan, namun tangan panjang dan pucat milik Lao dengan cepat meraih pergelangan tangan Saciel. "Ah?"


"Selamat pagi, Yang Mulia. Mohon maaf atas tindakan kasar saya. Hari ini saya yang akan mendampingi Yang Mulia. Mari," ujar Lao sembari mengecup punggung tangan Saciel. Saciel hanya mengangguk dan berjalan keluar bersama Lao, disusul Phillip di belakangnya. Lao membantu Saciel masuk ke dalam kereta, sementara Phillip memegangi dua ekor kuda untuk ditunggangi Lao dan dirinya. Setelah menutup pintu kereta, Lao langsung melompat ke atas punggung kuda dan bergerak seirama dengan kereta kuda kerajaan menuju alun-alun kota. Sudah banyak orang berdiri mengelilingi panggung sederhana dengan guillotine berdiri gagah. Pisaunya berkilau ditimpa cahaya mentari menunjukkan seberapa tajam benda itu. Vristhi bersama dengan dua prajurit berdiri di atas panggung. Wajahnya tidak terlihat sedih, namun dari dalam kereta Saciel bisa merasakan tatapan pasrah darinya.


"Kau harus kuat demi rakyat, Saciel. Harus," gumam Saciel. Setelah kereta kuda kerajaan berhenti dan pintu terbuka, Saciel perlahan turun dibantu oleh Lao yang mengulum senyum tipis. Mereka bergerak menuju balkon sebuah hotel yang disediakan untuknya.


"Wahai rakyatku! Kita semua berdiri di sini untuk mengadili...ah?"


Kata-katanya terputus ketika semua orang berhenti, bahkan waktu pada jam besar. Ia menoleh dan mendapati Oorun berdiri di sampingnya dengan senyuman.


"Apa kau berniat menghentikannya?" tanya Saciel garang.


"Tidak, aku tidak akan mengganggu pemerintahan manusia. Hanya ingin menonton saja. Pilihlah pilihan yang menurutmu benar," ujar Oorun santai. "Kau sudah siap menjalaninya?"


Saciel mengangguk. Oorun menepuk pelan kepala Saciel dan mengecup dahinya.


"Anak pintar. Mungkin kejadian ini akan membuatmu trauma, tapi ingatlah untuk tetap menjadi penyihir yang rendah hati. Jangan sampai kau dikuasai oleh egoisme dan keserakahan."


Selesai memberi nasihat, ia menghentikan sihirnya dan berdiri santai sebagai anak kecil dengan topi menutupi rambutnya. Saciel hanya menghela napas dan kembali menatap rakyat yang menunggunya.


"Persiapkan eksekusinya!" sahut Saciel. Kedua prajurit itu memposisikan Vristhi tepat di bawah guillotine, sementara Phillip maju ke panggung dengan pedang di tangannya.


"Apakah kau eksekutornya?" tanya Vristhi.


"Lao memintaku untuk melakukannya. Dia...tak sanggup," ujar Phillip getir. Vristhi tertawa kecil mendengarnya.


"Aku percayakan semuanya padamu. Ah iya, kemarikan telingamu," ujar Vristhi. Phillip mengerutkan kening dan berlutut, membiarkan Vristhi membisikkan sesuatu di telinganya. Setelah selesai bicara, Phillip berdiri dengan wajah datar, mengangkat pedangnya tepat di dekat tali guillotine.


"Laksanakan!"


...****************...


Sudah dua jam eksekusi berakhir. Saciel meringkuk di dalam kamar mandi, tubuhnya basah akibat keringat dingin yang tidak henti-hentinya mengalir. Para dayang mulai cemas karena ia tidak keluar setelah eksekusi dijalankan. Parvati yang mendengarnya langsung pergi menemui Phillip.


"Marquess Arlestine, Yang Mulia mengurung diri di kamar mandi. Ini sudah dua jam," ujar Parvati. Phillip bergegas menuju peraduan sang ratu dan masuk begitu saja. Para dayang terkejut melihatnya.


"Marquess, tidak sopan masuk ke dalam kamar Yang Mulia begitu saja," sahut salah satu dayang.


"Yang lain keluar, biar aku yang mengurusnya," ujar Phillip. Para dayang sempat ragu, namun begitu melihat wajah datar Phillip yang menakutkan, mereka bergegas pergi meninggalkan kamar. Phillip mengarahkan kakinya menuju kamar mandi dan mengetuk pintu.


"Yang Mulia?" panggilnya. Tidak ada jawaban. "Saciel, jika kau mendengarku, keluar dari kamar mandi sekarang."


Hening. Perlahan suara pintu terbuka terdengar dan Saciel memamerkan dirinya yang terlihat rapuh. Ia memegang lengan Phillip sembari menundukkan kepala.


"Phillip? Phillip."


"Semua sudah berakhir, Saciel. Semua sudah berakhir," ujarnya lembut. Hati-hati diangkatnya dalam pelukan dan membawanya ke ranjang. "Kau harus istirahat. Jangan sampai kau sakit."


Ia membaringkan gadis itu dengan lembut dan mengecup punggung tangan Saciel.


"Aku akan memanggil dayang untuk membantumu mengganti baju," ujarnya. Ia memberi hormat dan keluar, dimana para dayang menunggu dengan cemas.


"Bantu Yang Mulia ganti baju," ujar Phillip. Para dayang langsung masuk dan menutup pintu, sementara Phillip berjalan menuju ruang tahta. Lao berdiri di sana sembari memegangi sebuah buket bunga mawar hitam dengan wajah sendu.


"Duke Zografos, ada yang bisa kubantu?" tanya Phillip.


"Ah, tadinya aku mau menemui Yang Mulia, tapi sepertinya tidak bisa ya?" balas Lao.


"Maaf, Yang Mulia saat ini sedang beristirahat. Ada pesan yang perlu saya sampaikan?"


"Tidak, aku akan menemuinya lain waktu. Terima kasih," ujar Lao. Sebelum Lao melangkah, Phillip langsung bersuara.


"Nona Vristhi berpesan padaku, jaga diri baik-baik. Jangan tenggelam dalam kesedihan terlalu lama."


Lao membatu, perlahan air mata mulai mengalir di pipinya. Ia menatap bunga mawar hitam yang dibawanya dan mendekapnya. Dengan cepat ia menghapus air mata dan tersenyum pada Phillip.


"Terima kasih. Beritahu Yang Mulia besok jam 10 aku ingin bertemu dengannya," ujar Lao ringan. Phillip mengangguk, hendak bergerak menemani Lao keluar namun ditolak. "Aku bisa pergi sendiri."


Setelah Lao pergi, Phillip mengurus beberapa dokumen yang belum sempat disentuhnya sembari mengarahkan pelayan untuk mengurus semua keperluan Saciel. Ia terkejut melihat Tania berdiri di belakangnya dengan air mata masih mengalir deras di kedua pipinya.


"Nona Schariac?"


"Kenapa Saciel membunuh Kak Vristhi!?"