The Two Empresses

The Two Empresses
Death vs Death



Kuda yang ditunggangi sang ratu muda masih berderap dengan cepat meninggalkan kota menuju daerah utara. Jantung memompa darahnya lebih cepat daripada biasanya, membuatnya sedikit tidak nyaman. Rasa takut dan frustrasi terlihat jelas di wajahnya. Berkali-kali ia bergumam 'jangan bunuh mereka' seakan-akan seperti membaca mantra. Begitu wilayah utara mulai terlihat, aroma karat yang kuat menyapa penciumannya. Ia menghentikan kudanya dan memucat ketika tanah yang dipijak kudanya berlumuran cairan merah pekat. Kemarahan tidak bisa ia pendam lagi. Saciel turun dari kudanya dan berjalan memasuki wilayah utara, mendapati sesosok wanita tinggi tegap dengan baju pengantin hitam serta tudung tengah berdiri di sana. Tangan ramping miliknya berlumuran darah.


"Bedebah! Apa yang kau lakukan?!" maki Saciel. Wanita itu menoleh dan memasang ekspresi dingin, namun seulas senyum pahit terpatri di sana.


"Yang Mulia, selamat siang. Maafkan hamba muncul di sini dengan penampilan tidak pantas untuk menghadap Yang Mulia," sapa Vristhi sembari memberi hormat, seakan-akan ia tengah menghina sang ratu muda. Tubuh Saciel gemetar kuat, namun ia menahan diri untuk tidak membabi buta melawannya. Ia melirik ke segala arah untuk mencari sesuatu dan Vristhi paham dengan bahasa tubuhnya. "Jika Yang Mulia mencari Duke Zografos, dia ada di sini."


Tangannya menyibak gaunnya secara perlahan dan memamerkan sang penyihir tanaman yang terbaring tak berdaya dengan darah mewarnainya. Detik itu juga kesabaran Saciel terputus. Ia mengeluarkan pedangnya secepat kilat dan menebas kepala Vristhi, namun yang ia tebas malah salah satu mayat yang digunakan wanita itu untuk melindungi diri.


"...aku sudah berjanji untuk tidak melakukan ini, tapi kau sudah melukai rakyatku. Vristhi Rosemary, dengan ini akan kucabut gelarmu dan kau akan dieksekusi mati atas dasar pengkhianatan dan pembantaian di kekaisaran Careol," ujar Saciel tegas. Vristhi mulai menyeringai dan tertawa nyaring layaknya hyena. Kegilaan seakan sudah mendarah daging dalam dirinya.


"Haha, eksekusi mati katamu? Apa kau sanggup?" tantang Vristhi. Saciel terdiam, namun kilat keraguan terlihat samar di kedua matanya. Vristhi mengeluarkan kipasnya dan melambaikan sejenak. Kepulan asap gelap muncul di sampingnya dan Hades perlahan mewujud dari balik asap tersebut. Ia menatap Saciel dan Vristhi bergantian.


"Apa kalian sedang latihan?" ujarnya mencoba mencairkan suasana.


"Menurutmu kami sedang bermain-main?" tanya Vristhi sembari memberikan kilat mengerikan dari kedua bola matanya. Hades melirik sekelilingnya dan paham dengan situasi.


"Kau mau apa?"


"Bantu aku menghabisi ratu baru ini," jawab Vristhi kaku. Hades menghela napas dan mengeluarkan sabit kematiannya dengan berat hati. Ia mengayunkan sabitnya dan membuat semua pohon di sekitar langsung mati mengering.


"Ini urusanmu dengan gadis itu, aku tidak mau ikut campur," ujar Hades dingin. "Meski kau bisa memanggilku, bukan berarti kau bisa seenaknya menyuruhku, bocah."


"Heh, baiklah," ujar Vristhi. Ia mengipasi lawannya dengan angin kencang, namun tak mampu menjatuhkan semangat gadis itu. Saciel kembali berlari menerjang dan mengayunkan pedangnya, namun yang ia potong malah sebatang kayu besar.


"Kau melawan apa?" tanya Vristhi setengah menyindir. Ia asyik duduk di atas pohon sembari menyesap teh. Saciel melirik ke atas dengan tatapan menakutkan, namun Vristhi hanya tertawa kecil. "Seram sekali."


"Turun kau, penyihir sialan," ujar Saciel. Vristhi menuruti kata-kata gadis itu dan turun dengan elegan. Ia menepis debu yang menempel di bajunya dan menatap Saciel.


"Huf, aku lelah sekali. Melawanmu sama saja seperti melawan gorila," celetuk Vristhi pura-pura lemah.


"Jangan bercanda, Vristhi. Kau belum mengerahkan seluruh kemampuanmu," balas Saciel dingin. Vristhi menyembunyikan separuh wajahnya, namun kilat mengerikan terpancar dari sepasang matanya yang seperti almond.


"Menarik. Kita lihat siapa yang akan bertahan di ajang perang ini," ujar Vristhi dingin. Saciel menghela napas, lalu menggenggam kuat-kuat pedangnya. Vristhi membangkitkan semua mayat yang tergeletak di tanah dengan wajah dingin, berbanding terbalik dengan Saciel yang siap muntah melihat penampakan tidak sempurna dari mayat-mayat itu. Ia sempat ragu, namun tiba-tiba semua mayat itu ambruk sebelum mendekati Saciel.


"Maaf aku terlambat, Yang Mulia," ujar seseorang sembari berjalan mendekati Saciel dengan senyum ramahnya. Vristhi terkejut setengah mati, sementara Saciel merengut melihatnya.


"Darimana saja kau?" tanya Saciel kesal. Ia mengulum senyum dan melepas topinya dengan elegan.


"Merindukanku, Yang Mulia?" sapanya dengan gaya flamboyannya yang khas.


"Tidak sama sekali. Darimana saja kau? Lama sekali perginya," keluh Saciel sembari menyarungkan pedangnya.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Ada beberapa hal yang harus saya selesaikan terlebih dahulu. Nah, biar saya yang mengurusnya, Yang Mulia bisa fokus mengecek Duke Zografos," jawab Lao. "Halo, Vristhi."


"Bagaimana bisa kau bergerak dengan leluasa seperti itu?" tanya Vristhi masih terkejut dengan kehadirannya.


"Yang Mulia dan yang lain menolongku, Vristhi. Kebetulan saja Yang Mulia bisa membuka segel kuno itu," balas Lao. "Nah, bagaimana jika kita selesaikan masalah ini terlebih dahulu? Kau sudah membantai orang-orang tak berdosa ini, maka harus diadili sesuai dengan dosamu."


"Kau tidak mengerti apa yang kulakukan, Lao."


"...aku paham sekali apa yang kau lakukan, Vristhi. Tapi ini sudah kelewatan," ujar Lao sembari mengeluarkan tombaknya. "Ah, halo Dewa Hades. Bisakah Anda menyingkir agar kami bisa bertarung sepuas hati?"


"Baiklah," jawab Hades santai. Perlahan kabut menutupi dirinya dan ia menghilang sekejap mata. Vristhi kesal melihatnya.


"Sayang, jangan cemberut dong. Wajah cantikmu jadi banyak kerutannya lho," goda Lao. Vristhi mengibaskan kipasnya hingga angin berhasil melukai pipi sang pemimpin 7 Eternal Wizards cukup dalam. "Padahal sebenarnya kalau bisa aku ingin memakai cara damai, tapi sepertinya mustahil jika menghadapimu yang sekarang."


"Kenapa kau tidak bisa diam sebentar saja?" gumam Vristhi. "Jika kau diam, semua pasti akan berjalan lancar. Kau tidak perlu membuang energimu untuk menyelamatkan kekaisaran yang penuh dengan omong kosong ini."


"Bisa kau keraskan suaramu? Aku tidak mendengarnya?" tanya Lao sembari menghapus darah yang mengalir pelan di pipinya. Vristhi mengulum senyum tipis, perlahan berubah menjadi seringai picik yang mengerikan.


"Khukhukhu, aku tidak akan mundur, Lao. Aku harus terus maju untuk hidup dan tidak akan kubiarkan kau menghalangiku!" sahut Vristhi. Ia kembali menggerakkan mayat bergelimpangan di dekatnya dengan seringai masih terpatri di wajahnya. "Mari kita saling menghancurkan satu sama lain hingga salah satu dari kita mati!"


"Haha, apa kegilaan sudah mulai merembet di otakmu?" tanya Lao. Ia menjentikkan jemarinya, namun para mayat tidak terjatuh seperti semula.


"Ah, sial."


"Kau pikir trik yang sama akan berlaku?" tanya Vristhi menghina. Lao bergerak maju dan mulai menebas semua mayat itu tanpa ampun. Darah bercipratan seperti cat yang disiram ke atas kanvas dengan kasar. Vristhi tidak tinggal diam begitu saja melihat boneka mayatnya terpotong oleh lawannya. Ia terus mengeluarkan beragam mayat dari segala ras yang ia miliki untuk melawan.


"Ah, sudah lama sekali kita tidak bertarung seperti ini. Tapi aku tidak akan mengalah," ujar Lao. Ia kembali berdansa sembari menebas para mayat dengan cepat dan elegan, membuat Saciel terpesona melihatnya. Gadis itu tersadar dan mulai mengecek sang duke dengan hati-hati. Ia mendekatkan telunjuknya pada lubang hidungnya dan menghela napas lega ketika angin hangat berhembus pelan.


Sementara Saciel fokus pada Julian, Lao sudah basah kuyub oleh darah. Di satu sisi Vristhi masih tetap berdiri tanpa noda sedikitpun pada pakaiannya.


"Hanya ini?" tanya Lao.


"Oh, tentu saja tidak. Itu baru permulaan," ujar Vristhi sembari memamerkan peti mati dengan simbol keluarga Requiem di sampingnya. "Kau merindukannya?"


"Ibumu? Aku tidak menginginkan mayat lemah, tapi yang ini sepadan dengan yang kuinginkan," ujar Vristhi dengan senyum culas. Perlahan mayat itu membuka matanya dan menatap Lao dengan tatapan kosong. "Kau pasti merindukannya."


"...kau keterlaluan, Vristhi. Kau berjanji tidak akan menyentuh yang ini. Seberapa parah kau ingin membuatku marah?" tanya Lao dalam.


"Sampai kau membunuhku, Lao. Khukhu, dia sangat manis bukan?" ujar Vristhi. Pria itu menghela napas dan memainkan tombaknya dengan santai. Tiba-tiba ia menancapkan tombak itu sedalam mungkin dengan amarah terpancar dari dirinya.


"Akan kukabulkan permintaanmu," ujar Lao dingin. Pemuda itu menerjang maju dan mengayunkan tinju kosongnya, namun Lao dengan cepat menepis. Ia memutar tubuhnya dan menendang tepat di ulu hati. Pemuda itu terdorong, namun sakit tidak ia rasakan. Ia kembali menerjang dan menyerang membabi buta. Lao menghindari semua serangannya, sesekali mencoba menyerang kembali. Seakan memahami jalan pikiran Lao, ia menyisipkan pisau di lengan baju, lalu menancapkannya tepat di perut sisi kirinya. Lao terkejut, namun ia bergegas mundur sembari menyembuhkan diri. Ia mencabut pisau itu dan melemparnya jauh-jauh. Matanya berpaling pada Vristhi yang mengendalikan mayat itu.


"Kakak, fokus," ujar si mayat sembari menendangnya sejauh mungkin. Lao menabrak batu besar dengan keras hingga kepalanya pusing. Darah mulai mengalir di pelipisnya.


"Kau bisa membuatnya bicara?" tanya Lao.


"Lebih tepatnya aku memasukkan jiwanya kembali, jadi dia selayaknya penyihir biasa," balas Vristhi. Lao manggut-manggut mendengarnya.


"Ah ya, aku ingat sihir itu. Jadi sepertinya aku harus lebih serius ya?" ujar Lao. Ia berlari cepat ke arah pemuda itu dan menahan kepalanya. Air mata perlahan mengalir dari kedua bola mata pemuda itu.


"Tolong...aku," bisik si pemuda lirih. Lao merangkulnya dengan erat sembari menepuk pelan pundaknya. Sekali lagi pemuda itu menusuk Lao dengan pisau, kali ini pisau yang sudah dilumuri racun. Lao hanya diam dan berbisik padanya.


"Tidurlah, Tuoli. Dia tidak akan bisa mengontrol jiwamu lagi." Ia menarik keluar jiwa pemuda itu dan memberikan segel berbentuk jaring laba-laba, membuat Vristhi berjengit.


"Jadi pilihanmu membuatnya tidak bisa bereinkarnasi? Cerdas sekali," ujar Vristhi. Lao menghilangkan jiwa itu dan meletakkan mayat Tuoli ke dalam peti tanpa suara. "Tapi itu berarti kau juga tidak bisa bereinkarnasi."


"Aku tidak perlu reinkarnasi, karena itu memang tujuanku," ujar Lao sembari berbalik dan menarik tombaknya. Ia mengambil ancang-ancang dan melempar tombak itu hingga menusuk Vristhi tepat di rusuknya. Wanita itu memuntahkan darah dan tertawa layaknya orang sinting.


"Lagi! berikan aku rasa sakit yang lebih...ugh!"


Ia kembali memuntahkan darah, namun bukan karena tikaman tombak. Lao mengulum senyum dan memamerkan sebuah bola jiwa berwarna putih. Vristhi terkejut dan berusaha bergerak, namun Lao meremas bola itu dan darah kembali dimuntahkan.


"Hah...hah...sialan kau," ujar Vristhi. Lao kembali meremas kuat-kuat hingga Vristhi terjatuh dan tak sadarkan diri. Lao terdiam lama, tatapannya kosong. Saciel yang menyadari keanehan temannya langsung menepuk pelan pundaknya.


"Lakukan yang menurutmu terbaik," ujar Saciel lembut. Lao menghela napas beberapa kali dan menyimpan jiwa Vristhi ke kantung dimensinya.


"Bagaimana dengan Julian?"


"...dia kehilangan mata sebelah kanan dan patah tulang," ujar Saciel.


"Paling tidak dia masih hidup," ujar Lao. "Bagaimana dengan...korban? Aku malah menambah buruk keadaan mereka."


"Kita satukan mereka dengan sihir. Tapi bagian yang sudah tidak memungkinkan sebaiknya tidak perlu diurus," jawab Saciel. Mereka langsung bekerja tanpa suara dengan cepat. Semuanya beres tepat ketika prajurit bantuan datang menolong.


"Maafkan kami terlambat, Yang Mulia," ujar kepala prajurit sembari memberi hormat.


"Tolong bawa jenazah para prajurit, sisanya langsung dimakamkan. Aku tidak akan memindahkan mereka dari tanah kelahiran mereka," titah Saciel. Para prajurit langsung bergerak cepat dan menyelesaikan tugas mereka. Beberapa peti mati berisi jenazah prajurit penjaga perbatasan langsung pergi menuju Careol.


"Lalu bagaimana dengan...uh...dia?" tanya salah seorang prajurit sembari menunjuk Vristhi yang tergeletak.


"Belenggu dia dengan rantai sihir kuno dan bawa ke penjara. Dia akan diadili sesuai dengan dosanya. Ah, bagaimana dengan Dark?"


"Marquess Arlestine sudah mengurusnya. Saat ini mantan pangeran Dominic sudah di penjara."


Saciel hanya mengangguk dan berniat menaiki kudanya ketika tangan panjang dan kokoh menghentikannya. Sebuah senyum menyapanya dengan ramah.


"Kau terlihat lelah, Yang Mulia. Akan lebih pantas jika Yang Mulia naik ke dalam kereta kuda yang sudah disiapkan," ujar Lao sembari menunjuk kereta kuda kerajaan yang siap dengan pengawal.


"Bawa kudaku dengan hati-hati. Dan kau, ikut aku," ujar Saciel sembari menarik Lao masuk ke dalam kereta dan menyerahkan tali kekangnya pada seorang prajurit terdekat. Setelah pintu tertutup, ekspresi frustrasi dan lelah langsung melunturkan sikap elegannya.


"Kau melakukan yang terbaik, Yang Mulia," ujar Lao.


"Terbaik apanya? Kita kehilangan banyak orang akibat membiarkan Vristhi pergi begitu saja. Kalau tahu begini akhirnya, sudah kuseret dia pulang sebelum menyelamatkanmu," keluh Saciel sembari mengacak-acak rambut merahnya.


"Mungkin ini adalah takdir yang harus ditempuh olehnya," celetuk Lao.


"Kau percaya pada takdir?"


"Tidak, tapi aku percaya kita bisa mengubah masa depan kita dengan usaha sendiri," balas Lao. Saciel termenung sejenak dan menghempaskan diri pada sandaran.


"Lao, jika aku harus mengeksekusi Vristhi, apa kau akan membenciku?" tanya Saciel.


"Aku akan membenci diriku sendiri seumur hidupku. Apa yang dia lakukan bukanlah salahmu, melainkan aku yang tidak bisa menemaninya di saat sulit. Apapun keputusanmu, aku akan ikut. Tetaplah menjadi ratu yang adil sesuai nuranimu."


"Benar-benar sulit. Tolong bangunkan aku jika sudah sampai," ujar Saciel sembari menutup mata dan larut dalam mimpinya.