The Two Empresses

The Two Empresses
The Dying Avant Heim



"Jadi kita pergi ke Avant Heim?" tanya Ilmol sembari mengenakan jubah keluarga Phoenix dan memperbaiki rambutnya yang tergerai bebas.


"Kau sudah dengar sendiri perintah Yang Mulia, bukan?" balas Julian sembari memperbaiki sarung tangannya. "Kita harus memberikan pertolongan pada mereka sebagai bentuk relasi kita."


"Memang apa yang bisa kita bantu saat sumber tenaga mereka mati karena dibunuh?" keluh Ilmol. Julian hanya diam, tangannya sibuk menggambar lingkaran sihir di tanah. "Kau dengar aku?"


"Dengar, kok. Makanya kita dikirim ke sana untuk mengetahui apa yang saat ini mereka butuhkan, paham?" balas Julian malas. Selesai menggambar lingkaran sihir, ia merapal mantra dan membuat lingkaran itu bersinar terang. Ia langsung menarik Ilmol masuk ke lingkaran dan keduanya sudah berpijak di Avant Heim yang terlihat suram.


"...seram," gumam Ilmol.


"Kurasa Avant Heim juga terpengaruh akibat kematian Deus. Ayo jalan," balas Julian. Keduanya berjalan menuju ibukota dan terperangah melihat ratusan flügel tergeletak tak berdaya di tanah, beberapa ternyata sudah berada di alam baka.


"Ini...terlalu mengerikan," isak Ilmol. Julian berlari cepat menuju pohon besar di ujung pulau hingga terhenti ketika seseorang memanggil namanya dengan lirih. Ia berpaling, menemukan Jegudiel duduk di bawah pohon dengan salah satu sayapnya patah dan sinar matanya meredup seakan kehilangan harapan. Julian bergegas menghampiri dan memberikan pertolongan pertama dengan ramuan yang ia bawa.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Julian sembari membuat bidai dari kayu panjang yang ada di dekatnya. Ilmol berlari menyusul dan membantunya melakukan penyembuhan.


"...setengah dewa itu...muncul setelah...kalian pergi dan menusuknya...dengan tombak aneh...yang tidak pernah kulihat...sebelumnya," ujar Jegudiel terengah-engah.


"Tombak aneh?" tanya Julian.


"Benda itu...seperti memiliki...pemikiran sendiri. Di tengah...ada...bola mata...iblis."


"...mana mungkin senjata seperti itu ada," kilah Julian.


"Sepertinya aku tahu," celetuk Ilmol sembari meluruskan tulang sayap Jegudiel dan menyambungkannya dengan sihir.


"Kau tahu?" tanya Julian.


"...legenda mengatakan di laut selatan terdalam, ada gua yang tidak bisa dijangkau siapapun, bahkan dewa sekalipun. Gua itu dipenuhi oleh emas dan perhiasan, namun ada satu benda terkutuk yang dibuat dari tulang dan darah raja iblis tertancap di atas batu karang. Sekali menyentuhnya, jiwamu akan ditarik ke dalam kegilaan abadi," ujar Ilmol setengah bergidik.


"Darimana kau tahu?" tanya Julian curiga.


"Uh, ah, dari leluhur...maksudku...dari kakekku. Sebelum perang meletus ratusan tahun yang lalu, pernah terjadi perseteruan dengan bangsa iblis. Salah satu penempa besi mendekati medan perang dan mengambil mayat raja iblis yang sudah busuk untuk dijadikan bahan senjata terbaik. Tapi...sayangnya dia langsung tewas setelah benda terkutuk itu selesai dibuat. Butuh ratusan penyihir untuk menyegelnya," jawab Ilmol takut-takut.


"...kenapa generasi sebelum kita suka sekali melakukan percobaan gila?" tanya Julian lirih, menutup kedua matanya dengan tangannya yang besar. Selesai melakukan penyembuhan, Ilmol memastikan sayap Jegudiel bisa bergerak tanpa masalah.


"Oke, sekarang apa yang kalian butuhkan?" tanya Julian sembari menatap Jegudiel yang mulai terlihat membaik, meski rasa sakit masih terpatri pada wajahnya.


"Sirkuit mana kami terputus dan kemungkinan Avant Heim jatuh semakin tinggi, kami butuh pengganti Dewa Deus," ujar Jegudiel. Julian dan Ilmol berpandangan mendengarnya.


"...ini lebih sulit dari yang kubayangkan," keluh Ilmol.


"Sama. Jadi...uh..."


"Jegudiel."


"Oke, Jegudiel. Kurasa mencari pengganti Deus bukanlah hal mudah. Apa ada alternatif lain untuk sementara waktu?" tanya Julian.


"Kurasa ada, tapi aku harus mengecek lagi di perpustakaan. Bisa bantu aku bergerak?" balas Jegudiel hati-hati. Julian langsung meletakkan lengannya pada pinggang Jegudiel dan lengan Jegudiel di pundaknya.


"Ayo jalan," ujar Julian sembari memapah Jegudiel. Mereka berjalan pelan menuju kediaman Jegudiel dan mendapati Jibril membeku di dalam kristal.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ilmol.


"Itu adalah salah satu bentuk pertahanan kami untuk menghemat mana, meski kemungkinan mati juga cukup tinggi," balas Jegudiel. Ia menunjuk rak buku tinggi yang cukup remang-remang dan sulur menghiasinya.


"Kau bisa mengambil buku dengan sampul hitam, nomor 150 dari kanan," ujar Jegudiel. Julian langsung mengerahkan sulur itu untuk mengambil buku yang dimaksud sesuai dengan deskripsinya. Setelah buku itu di tangan, ia memberikannya pada Jegudiel. Dengan cepat ia membuka buku itu di bagian tengah dan menunjukkan isinya. Kedua penyihir itu kebingungan karena bahasa yang dipakai tidak mereka kuasai. Ilmol langsung menjentikkan jemari dan dua pasang kacamata sudah berada di tangannya. Ia memberi satu pada Julian dan langsung dipakai.


"...kristal Mata Oorun merupakan satu-satunya sumber mana terbesar yang ada di daratan Eurashia?" baca Julian.


"Aku tidak bisa...bukan, tidak mau masuk ke Hutan Suci," tolak Ilmol.


"Tempat itu terlalu menakutkan," lanjut Julian.


"...sudah kuduga ini akan sulit. Apa kalian bisa menyampaikannya pada Ratu Saciel?" tanya Jegudiel.


"Bisa. Akan kuhubungkan kau dengan Yang Mulia," ujar Julian cepat, sembari menggerakkan sulur untuk mendekat dan membuat sebuah gramafon kecil.


"Apa ada tanaman di sekitar Yang Mulia Ratu?" tanya Ilmol.


"Sebentar, Ilmol. Aku sedang...ah, Yang Mulia? Apa yang Mulia bisa mendengarku?"


"...Julian?"


"Halo, Yang Mulia. Bisa kita bicara?" tanya Jegudiel cepat, membuat kedua penyihir itu sedikit kaget dengan kelakuannya yang jauh dari kata sopan.


"Jegudiel, ya? Ada yang bisa kubantu?" tanya Saciel santai, seakan sudah tidak peduli dengan adat.


"Apa boleh Avant Heim meminta...ah tidak, membeli Mata Oorun?" tanya Jegudiel to the point. Ada jeda cukup lama setelah mendengar proposal Jegudiel.


"Untuk apa?" tanya Saciel hati-hati.


"Dari buku yang kubaca, Mata Oorun mampu memberikan mana untuk kami kaum flügel. Kami sangat membutuhkannya untuk keberlangsungan hidup kami," papar Jegudiel.


"...dengan situasi seperti ini, akan sulit bagi kami bergerak sesuka hati masuk ke dalam Hutan Suci," balas Saciel.


"Kami tidak punya banyak waktu untuk menunggu, Yang Mulia. Dengan kondisi seperti ini, kami hanya mampu bertahan kurang lebih seminggu," lanjut Jegudiel menahan emosi. Terdengar hela napas pendek, sesekali suara orang lain masuk.


"Aku akan mencoba sebisa mungkin. Ada lagi yang kalian butuhkan?" balas Saciel tenang.


"Obat-obatan saja cukup," jawab Jegudiel.


"Baiklah, akan kukirimkan obat-obatan setelah ini. Apa Julian ada di sana?"


"Saya di sini, Yang Mulia," celetuk Julian.


"Apa kau mampu meracik obat-obatan sementara waktu di sana?"


"Dengan bahan seadanya, saya rasa bisa, Yang Mulia," balas Julian. "Apa Yang Mulia membutuhkan Ilmol untuk mengambil Mata Oorun?"


"Tidak, aku hanya perlu dewa sial itu untuk membantuku. Phillip tidak mungkin meninggalkan tempat ini, apalagi Lao."


"Tapi Yang Mulia, Anda lebih penting untuk berada di Careol," sergah Julian. "Tidak bisakah Anda mengutus yang lain saja?"


"...saat ini aku hanya bisa mengatur, Julian. Kalau aku mati, Cerlina akan menjadi ratu berikutnya," ujar Saciel lirih.


"Kau...maksudku, Yang Mulia! Saya tidak rela jika Anda sampai mati sebelum semuanya selesai!" bentak Julian. Ilmol dan Jegudiel tidak menyangka jika Julian berani membentak ratu yang dikenal temperamental tersebut.


"Tugasku adalah menolong rakyat, bukan mempertahankan kerajaan. Jaga mulutmu, Julian," gertak Saciel. Julian semakin kesal hingga tak sadar meremas sulur yang melilit di tangannya hingga mati.


"Memangnya Dewa Oorun akan menolong kita? Bukannya para dewa tidak bisa ikut campur urusan duniawi?"


"Kalau dia berani menolak permintaanku, akan kupastikan dia mengalami nasib yang sama dengan Deus," balas Saciel. "Aku harus pergi. Dalam waktu 30 menit, semua obat-obatan akan dikirim."


"Tunggu, Yang...," kalimatnya terputus ketika Saciel membakar habis bunga gerbera di kursinya sebagai alat komunikasi.


"Panggil Cerlina kemari. Dan jemput Bibi Claudia untuk membantu menyiapkan semua obat yang diperlukan di Avant Heim."