
Phillip kembali bersama Max dan Nero dengan muka ditekuk. Saciel hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia tahu persis apa yang ada di pikiran mereka.
"Ada apa ini?" tanya Nero.
"Kuharap kau punya alasan logis karena telah memanggil kami," geram Max. Kezia hanya mencicit dan memeluk Saciel dengan erat. Saciel menghela napas pelan dan meminta keduanya untuk duduk terlebih dahulu.
"Aku mau merubah rencana. Kita akan pergi mencari cincin keluargaku," ujar Saciel. Max dan Nero terdiam, namun raut tidak suka terlukis jelas di wajah mereka.
"Kenapa kami harus membantumu mencari benda terkutuk itu?" tanya Max sarkas.
"Nii! Tidak boleh begitu!" bentak Kezia.
"Aku paham kalian tidak setuju dengan rencana ini. Tapi keadaanku sangat terdesak, ditambah lagi adikku menjadi sandera para tetua. Kalau aku tidak segera mencari benda itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kalian," ujar Saciel kalem.
"Memangnya apa istimewanya benda itu bagimu?" tanya Nero
"Tidak terlalu istimewa untukku, tapi untuk orang lain. Ada rumor bahwa cincin milikku dan salah satu dari 7 Eternal WIzards adalah bukti sah bagian dari keluarga kerajaan inti," jawab Saciel.
"Ha? Sebentar, apa? Jadi 7 keluarga yang kalian bicarakan itu adalah keluarga kerajaan?" tanya Max meragukan.
"Aku tahu kau tidak percaya, bahkan aku sendiri. Tetapi sejarah kerajaanku banyak yang disamarkan, sehingga aku baru mengetahu kebenaran itu baru saja."
"....jadi kau ingin menguasai kerajaan?" tanya Max.
"Sejujurnya aku tidak tertarik. Aku hanya ingin mencari benda terkutuk itu dengan cepat dan mencoba menyelamatkan apa yang menurutku berharga," ujar Saciel.
"Kezia akan bantu! Kezia sayang nee," ujar Kezia riang.
"Tidak ada yang bertanya pendapatmu, bocah," ujar Nero. Kezia mengerucutkan bibirnya dan menangis keras, membuat Nero merasa bersalah dan menghiburnya sekuat tenaga. Setelah Kezia tenang, Max menghela napas dan menggaruk belakang telinganya.
"Sejujurnya aku tidak setuju, tapi karena kau mau menolongku hingga saat ini, akan kubantu. Hanya saja, kau harus memastikan keselamatan keluargaku," ujar Max.
"Baiklah. Keselamatan keluargamu akan menjadi prioritas di sini," balas Saciel.
"Ngomong-ngomong soal cincin, apa kau tahu dimana kita akan mulai mencarinya?" tanya Nero. Saciel mengeluarkan secarik peta separuh dan melambaikannya di depan mereka.
"Bisa dibilang aku tahu, tapi sayangnya peta yang kudapatkan hanya separuh. Mau tak mau kita akan sedikit...kesulitan dalam mencari. Apa kalian masih mau ikut?"
"Tidak masalah," celetuk Max.
"Hmm, kalau dua orang ini sudah bilang ya, aku ikut juga deh," ujar Nero pasrah. Saciel mengulum senyum dan menundukkan kepala serendah mungkin. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku...benar-benar berterima kasih atas kebaikan kalian, meski kita merupakan musuh," ujar Saciel.
"Angkat kepalamu, jalang. Aku tidak memberi izin untuk menundukkan kepalamu," ujar Max garang. "Sebagai gantinya, kau akan menjalani latihan sparta untuk meningkatkan staminamu."
"Apa? Enak saja! Memangnya aku lemah?" bentak Saciel.
"Nggak sadar? Saat ini kau saja tepar. Belum lama ini kau sakit setelah pertarungan. Mau mengelak lagi?" tantang Max. Saciel terdiam dan wajahnya memerah malu. Ia merutuki kelemahannya dan kebodohannya dalam berargumen dengan pemuda berambut tosca itu. "Bodoh."
"Siapa yang kau panggil bodoh, bodoh?" maki Saciel. Mereka malah larut dalam pertengkaran kecil, sehingga dokter dan perawat membentak mereka karena suaranya menggema hingga lorong klinik. Phillip berusaha keras menahan diri untuk tidak tertawa, namun usahanya gagal.
"Siapa yang kau panggil bocah tengik, setan?" maki Phillip. "Memangnya umurmu berapa?"
"26. Kuyakin kau baru 21," ujar Max. Phillip terdiam dan melihat ke arah lain. Sementara Phillip terdiam, Saciel asyik bermain dengan Kezia dengan bonekanya. Namun kesenangan itu berakhir ketika Max mengangkat Kezia menjauh darinya.
"Nggak mau! Mau sama nee!" jerit Kezia.
"Dia butuh istirahat. Kamu sama aku saja," ujar Max kalem. Kezia makin meronta dan memukul Max cukup keras, namun tak mampu merobohkan pertahanan sang kakak yang lebih kuat. "Jangan manja."
"Nii jelek! Jelek! Aku benci nii!" rengek Kezia.
"Kalau benci nanti kubuang kamu," ujar Max dingin. Kezia langsung terdiam, namun air mata tetap mengalir dan bibirnya cemberut.
"Nii jahat," ujar Kezia lirih. Max menepuk punggung gadis kecil itu dan membawanya keluar, meninggalkan mereka yang diam-diaman.
"Nero, roh apa saja yang bisa kamu kendalikan?" tanya Saciel tiba-tiba. Nero tidak segera menjawab, melainkan menatapnya lekat-lekat hingga membuat Saciel tidak nyaman. "Kau tidak perlu menjawab jika tidak ingin menjawabnya."
"Bukan itu. Aku penasaran denganmu. Kau bukan tamer, tapi...kau memiliki sesuatu yang aku tidak punya. Hellhound ya?" celetuk Nero. "Aku bisa membaca kontrak dari manamu. Kau memilki kontrak yang menarik, warna manamu sedikit berbeda dari penyihir kebanyakan. Apa hellhound menguras manamu?"
"Mungkin saja, aku tidak tahu. Aku mempelajari sihir ini setelah perang dan yang berhasil kupanggil ya hellhound itu. Efeknya saat pertama kali aku memanggilnya yaitu mimisan hingga pingsan."
"...kalau begitu kau harus memperbarui kontrakmu. Jika seperti itu terus, kau bisa saja termakan oleh kegelapan. Atau parahnya, hellhound bakal memakan jiwamu," saran Nero.
"Dan bagaimana caranya aku memperbaikinya?" tanya Saciel.
"Umm, bertarung habis-habisan," jawab Nero. Saciel terenyak dan menggelengkan kepala, frustrasi dan heran akan jawaban tidak terduga yang dilontarkan sang tamer.
"Apa itu bisa menjamin?"
"Kau pikir aku mengendalikan Undine dengan jalan pintas? Aku menghabiskan waktu 8 bulan untuk bisa menjinakkannya, walau harus menghabiskan mana lebih dari yang kumiliki. Bagaimana? Dari warna mana dan staminamu kau hanya punya waktu kurang dari setahun," ujar Nero dengan senyum licik."Katanya kau yang terkuat."
"Hah, sialan kau. Baiklah, mari kita lakukan sekarang," jawab Saciel antusias.
"Bentar bentar, kau gila? Badanmu saja baru saja dibedah dan kau mau bertarung dengan hellhound? Pikirkan kesehatanmu!" tolak Phillip panik.
"Hellhound itu saja sudah menjadi salah satu pemicu staminanya terus turun hingga drop sekarang ini. Kau mau melihatnya sekarat?" ujar Nero kalem. Phillip kehilangan kata-kata dan menggigit bibir bawahnya.
"Mari kita lakukan sekarang. Badanku kaku kalau tiduran terus," ujar Saciel. Ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar, diikuti Nero dan Phillip. Max yang masih mengasuh Kezia sedikit terkejut dengan kehadiran gadis penyihir itu.
"Nee? Nee mau ke mana?" tanya Kezia. Saciel mengulum senyum dan mengelus rambutnya dengan lembut.
"Mau ke lapangan luas. Mau ikut?"
"Mau! Mau sama nee!" ujar Kezia sambil memeluknya erat. Max hendak melontarkan pertanyaan, namun sikutan Nero di rusuknya cukup membuatnya mengurungkan niat. Mereka berjalan menuju lapangan luas jauh dari pemukiman, namun cukup dekat dari hutan. Saciel berdiri di tengah dan menarik napas dalam-dalam.
"Phillip! Buat perisai besar melingkupi lapangan ini!" sahut Saciel. Phillip membuat pelindung dan membuat pembatas sihir antara Saciel dengan lainnya. Setelah semuanya siap, Saciel menarik sebilah pisau dan membaca mantra dengan lirih. Sebuah lingkaran sihir muncul di tanah dan dengan cepat ia menyayat pergelangan tangannya hingga darah mengalir menodai lingkaran sihir itu. Perlahan-lahan bagian tubuh hellhound mulai tampil hingga seluruh tubuhnya mampu membayangi Saciel.
"Halo, manis. Mari kita bertarung," ujar Saciel dengan kilat kegilaan di bola matanya.