The Two Empresses

The Two Empresses
Perseteruan



"...meski dia bukan anak kecil, aku masih belum bisa melepaskannya begitu saja," keluh Saciel sembari menghela napas. "Aku masih belum bisa memaafkan diriku yang sudah membunuh Vristhi."


"Yang Mulia, tindakan Anda sudah tepat. Tidak perlu merasa bersalah kepada Nona Tania," hibur butler. Saciel kembali menghela napas berat dan mengangguk, lalu bergegas menuju ruang tahta untuk mengambil tongkat kerajaan dan mengetuk lantai dengan keras hingga perisai muncul dan melingkupi wilayah istana.


"Stevan! Parvati!" panggilnya tegas. Kedua pelayan istana langsung muncul sembari memberi hormat.


"Awasi istana seketat mungkin dan rawat korban dengan sepenuh hati," titah Saciel.


"Baik, Yang Mulia," jawab mereka serempak. Saciel melepaskan energinya ke langit Careol dan menyembuhkan semua orang yang terkapar di jalanan.


"...tidak akan kumaafkan. Dia akan menjadi yang terakhir untuk dibunuh," gumam Saciel setengah menggeram.


...****************...


"Marquess! Anda baik-baik saja?" sahut seorang prajurit sembari berlari ke arahnya yang berlumuran darah.


"Ya. Kalian menemukan mereka?" tanyanya dingin.


"Di..." kalimatnya terputus ketika sebuah benda jatuh di depan mereka dan menyebarkan debu hingga menutupi pandangan. Sebuah tawa mengerikan terdengar di telinga mereka.


"Mencariku, bocah petir?" tanyanya. Phillip mengayunkan rapiernya hingga debu menghilang, menampilkan Erika berdiri di hadapannya dengan ratusan pedang siap menyerangnya.


"Erika," ujarnya garang.


"Hei, aku ini masih lebih tua darimu, jadi panggil aku Tetua Erika," ujar Erika sinis. Phillip mengangkat rapiernya dan menatapnya tajam.


"Penyihir yang berani berkhianat tidak pantas dihormati di Careol."


"Hah! Aku suka dengan ketegasanmu, Phillip. Kau mulai terdengar seperti Saciel sekarang."


"...wah, mulai lagi nih," keluh Phillip sembari memasukkan rapiernya ke sarungnya, membuat Erika heran. "Kurasa aku tidak akan melawanmu."


Sebelum Erika menyerap maksud perkataannya, sebuah jarum panjang melesat cepat dan menggores lehernya cukup dalam hingga darah langsung mengalir deras. Di atas sebuah bangunan terlihat Istvan berdiri kokoh dengan tatapan dingin.


"Istvan!" geram Erika. Yang dipanggil hanya diam dan melompat turun di samping Phillip dengan elegan, namun tatapannya masih terpaku pada Erika.


"Marquess, biar aku yang melawannya," ujar Istvan. Phillip hanya mengangguk dan mundur, namun kewaspadaannya masih terjaga. Istvan menyiapkan ratusan jarum di punggungnya, siap menyerang siapapun lawannya.


"Jarum tidak akan sanggup membunuhku, Istvan," cibir Erika.


"Mari kita lihat apakah itu benar, Nek," balas Istvan dengan seringai mengerikan. Bulu kuduknya meremang, tapi ia tidak akan mundur melawan cucunya sendiri. Ia segera menyerangnya, namun Istvan mampu menangkisnya dengan jarumnya.


"Wow, lumayan," celetuk Phillip.


"Hah, ini belum apa-apa," ujar Istvan. Ia mengarahkan jarumnya dan menyerang Erika, namun semuanya mampu ditangkisnya dengan mudah.


"Kau meremehkanku, bocah?" sentak Erika. Istvan hanya diam, namun masih terus menyerang membabi buta. Phillip hanya asyik menonton, namun buyar ketika terjadi ledakan kecil tak jauh dari tempatnya.


"Istvan, aku akan meninggalkanmu," celetuk Phillip sembari berbalik dan bersiap pergi.


"Tunggu, aku masih butuh bantuanmu, Marquess!" sahut Istvan. Phillip berhenti dan melirik, memperhatikan gerak-gerik mereka dan menyeringai.


'Kenapa juga dia di sini?' batin Erika.


JLEB!


"Satu," celetuk Istvan. Rasa sakit mulai terasa di pundaknya. Erika berpaling dan menemukan jarum cucunya sudah menancap dalam di sana.


"Huh, hanya jarum kecil tidak akan melukaiku cukup parah," ujar Erika sembari mencabut paksa jarum tersebut hingga darahnya muncrat.


"Belum, Nek. Belum," ujar Istvan kalem. Erika membanting jarum itu dan menyerang dari segala arah, mencoba menggoreskan luka dan memotong nadi cucu kesayangan dan satu-satunya. Yang diserang hanya menangkis, namun ia tidak menyadari sebuah pedang besar melesat ke arahnya dan menusuk perutnya hingga tembus ke punggung. Darah langsung mengalir deras dari lubangnya.


"Kh," erangnya. Erika hanya memperhatikan gerak-gerik Phillip, namun sang Marquess tidak bereaksi apapun, masih tetap di tempat sembari menguap.


'Dia tidak menolongnya?' batin Erika. Saat Erika tidak fokus, Istvan langsung melempar 3 jarum miliknya dan menembus kaki kanannya.


"Argh!"


Istvan langsung mencabut pedangnya, menusuknya di ulu hati Erika dan melompat mundur. Semua jarum yang melindunginya langsung dilempar ke sekeliling Erika.


"Marquess!"


"Baiklah, ini dia!" sahut Phillip sembari membuat palu petir dan menghantam salah satu jarum itu. Aliran listrik yang dihasilkan langsung merembet ke semua jarum, bahkan jarum yang tertancap di tubuh Erika. Tubuh rentanya langsung ambruk akibat setruman setingkat 1 juta volt yang langsung mengenai tubuhnya. Aroma kulit terbakar dan asap menguar darinya.


"Wow, cara yang licik sekali," ujar Phillip sembari mengecek Erika dengan hati-hati. "Kau dari awal merencanakan ini?"


"...tidak juga. Kebetulan Marquess ada di sini, jadi bisa membantuku melawannya. Karena...aku belum pernah berhasil mengalahkan nenekku," ujar Istvan sembari berjongkok di dekat Erika. "Mati?"


"Ya. Mana ada makhluk hidup yang bertahan dengan sengatan listrik tinggi seperti itu?" ujar Phillip. Ia langsung membakar jenazahnya dan berjalan meninggalkan Istvan.


"Kau menyesal?"


"Tidak. Justru aku merasa lega karena berhasil menghapus aib keluargaku," ujarnya sendu. Phillip menghela napas dan menepuk pundaknya cukup kuat.


"Kau melakukan yang terbaik, Istvan. Kerja bagus," ujar Phillip tulus. Perlahan air mata yang sudah lama dibendungnya mengalir di kedua pipinya. Rasa sakit yang menghimpitnya sudah hilang, namun kehilangan orang yang disayanginya malah membuatnya tak sanggup berdiri. Phillip berdiri di sana, menemani sang remaja itu menumpahkan semuanya di situ. Seorang lelaki tua berjalan mendekati dengan kebencian menguar darinya.


"Beraninya....kau membunuh Erika dengan tangan kotormu. Tidak akan kumaafkan, tidak akan kumaafkan, tidak akan kumaafkan! Bunuh! Bunuh!"


"Akhirnya kau menunjukkan batang hidungmu, Boldstone!" sahut Phillip senang. Ia membelakangi Istvan dan menarik rapiernya dengan senyum sinis. "Kupikir kau bersembunyi saking takutnya."


"Takut? Aku? ...tidak setelah kau dan ****** itu menghancurkan Careol!" sahut Boldstone sembari menghantam tanah dan membentuk golem raksasa.


"Aduh, sialan. Batu ya?" keluh Phillip sembari menyarungkan kembali rapiernya. "Mau nggak mau harus pakai tenaga."


"Biar ku...kh!"


"Kau masih terluka, Istvan. Diam saja oke?" ujar Phillip kalem. Istvan hanya mengangguk dan mulai menyembuhkan diri, sementara Phillip melepas kedua sarung tangannya dan membakarnya di udara. Ia mencengkeram kerah Istvan dan melemparnya jauh-jauh, lalu menepukkan kedua tangannya dengan puas.


"Dengan ini aku bisa bertarung dengan maksimal," ujarnya senang. Ia menggosokkan kedua tangannya dan aliran listrik mulai menyelimutinya. Boldstone hanya diam, mencoba menganalisa gerak-gerik sang ajudan yang kadang tidak bisa diterka. Phillip mengatur napasnya hingga stabil, lalu berpaling pada Boldstone.


"Jangan kaku begitu, kelihatan banget batunya," sindir Phillip.