
"Apa kegilaan bocah Arakawa itu menular sampai dia mulai terlihat seperti psikopat?" gumam Yorktown. Ia menelisik dengan cermat dari ujung kaki hingga ujung kepala sang gadis kecil untuk menemukan setitik celah yang bisa menguntungkannya.
"Ini perang, lho. Terlalu lama berpikir hanya akan membuatmu mati di tempat," keluh Tania sembari menggerakkan bonekanya untuk menyerang. Yorktown langsung mengibaskan tangannya dan membakar boneka itu menjadi abu dengan api hitamnya.
"Wah, sayang sekali bonekanya hancur," keluh Tania lirih. Jarum jam miliknya berdetik dan berhenti di angka 1, bersamaan dengan kembalinya boneka Tania ke bentuk semula.
"Bagaimana...sialan."
"Ahaha, ini baru permulaan. Yang sebenarnya akan segera dimulai," ujar Tania. Para boneka kembali mengayunkan senjata mereka, namun Yorktown mampu berkelit dan membalas semua serangan dengan api hitamnya. Lao melirik Tania, menyadari gadis itu masih jauh dari kata kuat karena butiran keringat mulai bercucuran di pelipisnya. Ia langsung memulai penyembuhan dan menghela napas, mencari cara bagaimana bisa mendapatkan kembali boneka voodoo yang masih di genggaman Yorktown.
"Hei, bisa mendengarku?" sahut seseorang di dekat telinganya. Lao terkejut dan berpaling ke segala arah, mencari seseorang yang memanggilnya.
"Kawan, aku ada di telingamu persis," lanjutnya. Lao reflek memegang telinga dan menemukan tanaman sulur yang melilit di telinganya.
"Julian?"
"Iya ini aku. Gimana kondisi di sana?"
"Kurang menguntungkan. Yorktown pakai voodoo, mana bonekanya aku pula. Saat ini Tania sedang bertarung, tapi aku ragu dia bertahan lama," ujarnya sembari mengawasi Tania yang masih menyerang. "Kau di mana?"
"Uh, susah kalau kuberitahu di mana. Yang jelas posisiku terlalu jauh dari kalian," jawab Julian.
"Cih, menyebalkan. Kupikir kau akan menolong kami," cibir Lao.
"Haish, jangan bikin aku kesal. Aku sedang mencari cara menolong kalian," balas Julian keki. "Tadi kau bilang apa? Boneka voodoo?"
"Iya voodoo."
"Wah, beratnya hidupmu, ketua. Pokoknya jangan sampai tuh boneka ditusuk lagi, bisa-bisa kau malah mati duluan," celetuk Julian. Lao makin bete mendengarnya.
"Kau tidak memberitahu pun aku juga sudah paham, sialan."
"Hehehe, maaf," elak Julian santai. Selesai menyembuhkan diri, Lao bergegas berdiri dan mengambil tombaknya yang tergeletak. Matanya mengawasi Yorktown yang masih beradu sihir dengan Tania, tangannya dengan erat menggenggam tombaknya sembari mengatur napas.
"Oke, tetap tenang, Lao. Kau bisa, pasti bisa. Oi, Julian, kau dengar aku?"
"Jelas sekali. Kau butuh bantuan?"
"Apa ada tanaman di dekat Yorktown?" tanyanya.
"Uhh tidak. Kurasa dia membakar habis tanaman di sekitarnya agar aku tidak macam-macam," balas Julian.
"Tidak masalah, soalnya aku tidak mau berurusan dengan tanaman yang bersimbah darah," celetuk Lao sembari melempar tombak itu dengan cepat dan berhasil memotong lengan Yorktown yang memegang boneka voodoo, lalu berteleportasi dan mengambil bonekanya.
"Sialan!" maki Yorktown. Tania yang melihat kesempatan itu langsung mengarahkan pistol dan menembaknya, membuat Yorktown tak bisa berkutik dan membeku di tempat. Jarum jam miliknya mengarah di angka 4.
"Apa itu?" tanya Lao.
"Membekukan waktunya," ujar Tania sembari mengatur napasnya yang tersengal. Lao menyimpan boneka itu di sebuah kantung sihir dan bergegas membantu Tania untuk rehat sejenak. Keringat sudah membasahi bajunya.
"Sepertinya sihirmu menguras tenaga ya?" tanya Lao simpati.
"Bisa jadi," balas Tania lirih. Sebuah sulur mendadak muncul dari balik bangunan terdekat Yorktown dan langsung membelitnya erat-erat, lalu Julian menyembul dari bunga besar yang tumbuh di sulur lain yang merambat ke arah Tania dan Lao.
"Halo," sapanya riang. Lao memasang ekspresi datar dan memukul kepalanya sekuat mungkin hingga ia terhuyung.
"Aduh, hei! Apa-apaan kau?"
"Mau kupukul lagi, hah?" balas Lao kesal. "Sudah datang telat, enak aja kau tinggal tangkap dia. Lihat nih, Tania saja sampai seperti ini."
"Ya maaf, aku memang berada di utara dan baru selesai mengurus keroco-keroco yang menyerang. Tania, kau oke?" tanya Julian. Tania hanya sanggup mengangguk saking kehabisan tenaga.
"Mari kita pindahkan Tania dulu," ujar Lao sembari menggotong gadis itu dengan hati-hati, sementara Julian membuat sangkar bulat untuk memastikan Yorktown tidak kabur.
"Tania memang keren, salut aku," puji Julian.
"Ya, dia hebat," lanjut Lao dengan senyum khasnya. "Aku tidak akan kesulitan lagi kalau Tania berkembang seperti ini."
"Hahaha, jadi nggak rela melihatnya tumbuh dewasa," ujar Julian sembari melakukan pertolongan pertama pada Tania yang sudah tak sadarkan diri. "Gadis ini akan tumbuh cemerlang."
"Dan pasti bisa mengalahkan Saciel," celetuk Lao.
"Aku perlu panggil prajurit dulu," ujar Julian sembari berjalan ke arah berlawanan, sementara Lao melanjutkan langkahnya menuju istana. Beberapa prajurit yang melihat langsung menghampiri.
"Duke Requiem, apa yang terjadi dengan Nona Schariac?" tanya salah satu prajurit.
"Panjang ceritanya. Tolong bawa Tania ke istana, aku masih harus mengurus yang lain," balas Lao sembari menyerahkan Tania dengan hati-hati. Setelah memastikan mereka pergi dengan aman, Lao kembali ke tempat Yorktown dikurung dan terkejut melihat sangkar yang dibuat Julian hancur tak bersisa dan tidak ada siapapun di sana.
"Bagaimana bisa?" celetuk Lao heran.
"Ah, ada yang mengambilnya," celetuk Julian sembari berlari ke arahnya dengan beberapa prajurit di belakangnya.
"Siapa?"
"Dari ras Draco," jawab Julian kesal. "Aku lupa kalau dia masih ada di sekitarnya."
"...ah, sialan. Aku bahkan tidak menyadari badannya yang besar," keluh Lao sembari menepuk jidatnya cukup keras.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Julian.
"...sebaiknya kita kembali saja. Percuma mengejarnya, toh Yorktown tidak bisa bergerak."
"Yakin?"
"Yakin. Ayo," ajak Lao sembari berbalik dan berteleportasi, disusul Julian dengan para prajurit.
...****************...
"...kau terlihat berantakan," celetuk Phillip saat melangkah menuju ruang tahta bersama Istvan di sampingnya.
"Kau sama saja," balas Lao keki. "Mau bertemu Yang Mulia?"
"Iya," jawab Phillip singkat. Mereka berjalan masuk ke dalam ruang tahta dan memberi hormat pada gadis berambut merah yang tengah duduk dan berdiskusi dengan Stevan.
"Yang Mulia," sapa mereka. Saciel berpaling dengan ekspresi tenang.
"Bagaimana kondisi Careol?" tanyanya.
"Banyak rakyat yang terluka, namun tim medis yang berjaga mampu bertindak cepat untuk menangani situasi. Kami berhasil mengalahkan Erika dan Boldstone," ujar Phillip.
"Kami berhasil menangkap Yorktown, namun ia berhasil kabur dibantu oleh rekannya," lanjut Lao.
"Kerja bagus. Paling tidak kita berhasil mengurangi jumlah musuh, tapi..."
"Tapi Vatra masih belum menampakkan diri," potong Phillip. "Kita masih jauh dari kata aman, Yang Mulia."
"Kau benar, Phillip. Kurasa dia sengaja tidak menunjukkan diri untuk mengatur strategi," keluh Saciel.
"Yang Mulia, sebaiknya kita bertindak cepat sebelum korban bertambah," celetuk Istvan.
"Kita tidak bisa gegabah, Istvan. Kita bahkan tidak tahu pergerakan musuh," tolak Saciel.
"Yang Mulia! Yang Mulia!" panggil Ilmol sembari berlari masuk ke ruang tahta dengan wajah pucat. "Yang Mulia, salah satu dewa tewas!"
"Apa?!" sahut yang ada di dalam ruang tahta.
"Siapa yang tewas?" tanya Julian.
"...dewa Deus Ex Machina."
"...bagaimana bisa dewa mati?" tanya Istvan.
"Tidak ada yang mustahil, Istvan. Ini pasti perbuatan Vatra," celetuk Saciel. "Bagaimana dengan para flügel?"
"Saat ini mereka terpuruk, Yang Mulia. Kekuatan mereka juga menurun drastis dan saat ini tengah mencari bantuan dari negara lain," balas Ilmol.
"Ilmol, Julian, pergi dan bantu Avant Heim. Mereka sudah membantuku, sekarang waktunya membalas kebaikan mereka," titah Saciel.
"Baik, Yang Mulia," sahut Ilmol dan Julian.