The Two Empresses

The Two Empresses
Betrayal



"Eh? Vristhi mengamuk? Apa yang terjadi?" tanya Phillip.


"Karena tidak bisa membobol ruangan tempat Duke Requiem, Archduchess langsung melampiaskan kekesalannya pada prajurit di istana. Stevan dan Parvati mencoba menghentikan, namun mereka malah disegel dan dicampakkan di pusat kota," papar orang itu. Phillip merinding, mengingat Vristhi yang biasanya kalem jarang mengamuk. Sekalinya marah, semua orang bakal kena imbasnya. Ia turun dari kereta dan membantu orang itu berdiri.


"Pergilah ke tempat yang aman dan beritahu penjaga untuk membuat perisai," ujar Phillip cepat. Orang itu mengangguk dan pergi secepat yang ia bisa. Phillip menyuruh kusirnya untuk kembali tanpa dirinya, lalu berteleportasi hingga sampai di depan istana yang lengang.


"Uh, seharusnya aku membawa Saciel saja kemari," gumam Phillip sembari bergidik, namun ia tidak bisa mundur begitu saja. Hati-hati ia berjalan memasuki istana dan terkejut mendapati nyaris semua prajurit terkapar di lantai. Tak jauh dari sana ia melihat sesosok wanita yang dikenalnya berdiri dengan tangan dipenuhi darah. Cheongsam hitam yang ia pakai malah terkesan seperti jubah malaikat kematian. Tatapannya kosong seakan-akan jiwanya sudah mati.


"Vristhi!" panggil Phillip. Vristhi tak bergeming, namun ia melangkah masuk ke bagian dalam istana dengan tombak hiasan yang diambilnya entah do mana. "Vristhi Rosemary!"


"Marquess! Syukurlah Anda ada di sini," sahut seseorang sembari berlari ke arahya. Phillip menoleh dan mendapati seseorang sepantaran dengannya.


"Ada apa?" tanya Phillip.


"Uhh, Nona Parvati meminta saya untuk menemui Anda. Katanya mereka butuh bantuan Anda," ujarnya. Phillip menggigit ujung jarinya dengan frustrasi.


"Lalu bagaimana dengan Vristhi?"


"Saya juga tidak bisa membantu lebih banyak," ujar pemuda itu hati-hati. Phillip beberapa kali menolehkan kepala, namun ia masih bingung harus memilih yang mana. "Marquess."


"Ugh! Menyebalkan! Kau pergi ke rumah Duke Zografos dan minta Pendeta Agung untuk mengurus Parvati serta Stevan. Bisa?" tanya Phillip cepat. Pemuda itu mengangguk dan langsung lari tanpa disuruh, sementara Phillip berlari ke dalam dan mendapati Vristhi memegang kipasnya. "Mati aku."


"Phillip, kaukah itu?" tanya Vristhi lirih.


"Ya, ini aku. Kau sudah kelewatan, Vristhi. Hentikan semua ini sebelum..."


"Kau berani memberi perintah padaku?" potong Vristhi, menatap tajam ke arah Phillip. Phillip seketika bungkam dan menatapnya balik. "Phillip Arlestine, kau masih mau hidup?"


"Vris...tidak, Archduchess Rosemary, tidak bisakah kita bicara baik-baik?" bujuk Phillip.


"Untuk apa? Jika bicara baik-baik bisa membawa Lao keluar, aku akan mendengarkan. Boldstone sialan, dia menuduh Lao menggunakan sihir hitam dan memenjarakannya. Tidak hanya itu, dia juga menyegelnya dengan sihir rumit. Sekarang dia menghilang," ujar Vristhi dingin.


"Aku akan meminta Saciel mengeluarkan Lao, tapi bisakah kau simpan kipasmu?" ujar Phillip dengan kata-kata manis. Vristhi memiringkan kepala dengan elegan.


"Kau pandai berkata manis, ya? Tidak heran ada rumor kalau kau itu playboy yang cukup dikagumi para gadis. Tapi aku tidak akan jatuh dalam omong kosongmu."


"Aku serius. Bisakah kau tenang dan ceritakan padaku apa yang terjadi pada Lao saat ini?" tanya Phillip. Vristhi diam sejenak, lalu menurunkan kipasnya.


"Lao menderita. Jejak sihir hitamnya makin meluas, kini sudah mencapai leher. Ia kesulitan bernapas dan tak bisa menggerakkan tangan. Tapi tidak ada yang merawatnya di dalam penjara, mereka malah menyakitinya tanpa ampun. Aku tidak bisa menghancurkan segelnya, tidak bisa sama sekali," ujar Vristhi.


"Bagaimana bisa jejaknya meluas lebih cepat dari perkiraan?"


"Aku melihat seseorang masuk ke ruangannya dan menyuntikkan cairan hitam ke tubuhnya, tapi aku tidak tahu apa itu dan ...aku juga tidak menghentikannya."


'Lebih rumit dari yang diperkirakan,' batin Phillip. "Archduchess, mari hentikan semua ini dan kita pergi menolong Lao."


"...aku..."


"Tidak akan membiarkannya berhenti," ujar seseorang. Ia muncul dari balik Vristhi dan mengulum senyum culas.


"Diamlah," ujar Vatra dingin. Ia melayangkan tendangan hingga ujung bibir Phillip berdarah. "Gadis ini adalah bawahanku, setidaknya untuk sementara."


"Kau berkhianat? Vristhi!" bentak Phillip. Vatra menarik kerahnya dan mendaratkan pukulan keras hingga terdengar suara 'krek'. "Kh!"


"Hidungmu retak? Atau patah?" gumam Vatra. Ia mencampakkan pemuda itu dan berbalik menatap Vristhi. "Ini belum selesai."


"Aku tahu," ujar Vristhi getir. Ia menggenggam erat kipasnya dan menggigit bibir bawahnya. Vatra perlahan maju dan mengelus bibirnya dengan sedikit tekanan.


"Tidak perlu melakukan itu, mau kubantu membuatnya terluka?" tanya Vatra. Vristhi menyentakkan tangannya dan mengelap bibirnya. "Tidak perlu menatapku seperti itu. Selama kau menurutiku, akan kubantu kau menyelamatkan pangeranmu."


"Jika aku mendapati kebohonganmu satu saja, kupenggal kepalamu," ancam Vristhi. Vatra hanya angkat bahu dan berjalan melewati Phillip.


"Ah, bunuh orang ini," ujar Vatra sembari menunjuk Phillip. Vristhi tidak bereaksi. "Atau aku saja yang melakukannya? Kau tidak becus dalam hal ini."


"Apa maksudmu?" tanya Vristhi.


"Kau tidak membunuh prajurit di luar sana, hanya membuat seolah-olah mereka sekarat. Kau pikir aku ini bisa dibodohi?" bisik Vatra tajam. "Pilihlah, dia atau pangeranmu yang mati?"


Vristhi kembali menggigit bibir bawahnya dan bersimpuh di hadapan Vatra, tatapannya mulai nelangsa. Ia mengepalkan tangannya terlalu kuat hingga jarinya memutih, namun tak mampu menggerakkan hati Vatra.


"...akan kulakukan," ujar Vristhi. Vatra menepuk kepala gadis itu dan berjalan mundur, menyandarkan punggungnya pada dinding.


"Vristhi! Kau tidak sungguh-sungguh, bukan?" tanya Phillip panik. Yang dipanggil menghela napas dan menarik kipasnya, mengubah materialnya menjadi besi setajam pedang. "Vristhi?"


Ia membuka kipas itu dengan tatapan dingin, namun kilat kehangatan terpercik sejenak.


"Sampai jumpa di neraka, Arlestine. Akan kukirimkan mayatmu pada Saciel."


"...tidak sudi!" bentak Phillip. Sebelum Vristhi berhasil memenggal kepalanya, Phillip langsung menyerang dengan sambaran petir yang kuat dari langit. Jerit kesakitan yang terkesan seperti raungan keluar dari bibir Vristhi hingga ia tak sadarkan diri dan dari balik bajunya terlihat bekas sambaran mulai muncul. Vatra yang melihatnya hanya ber-o kecil. Setelah berhasil melepaskan diri dari rantai, ia berbalik dan menatap Vatra dengan kilat kebencian.


"Kau tidak membunuhnya?" tanya Vatra.


"Kau pikir aku sepertimu yang membunuh siapapun tanpa pandang bulu?" tanya Phillip dengan kemarahan yang tidak bisa ia tutupi. "Lebih baik kau saja yang kubunuh!"


"Aku tidak mau meladenimu," ujar Vatra sembari mengambil Vristhi dengan rantai. "Dia akan kubawa."


"Kau! Letakkan dia sekarang juga!" bentak Phillip sembari menggenggam tombak petir.


"Kau tidak akan mampu melukaiku, bocah. Tidak akan pernah," cibir Vatra sembari berpindah di depan Phillip dan menghantam tengkuk sekeras mungkin hingga ia tidak sadarkan diri. "Apa sebaiknya kubunuh saja?"


"Tidak secepat itu," ujar Stevan sembari berdiri diantara mereka.


"Brengsek, kau ada di sini?"