
"Ini di dalam Hutan Suci, tidak ada yang berani masuk kemari karena rumor tentang kutukan yang berani memasukinya tanpa berkat dari Pendeta Agung," ujar Phillip.
"Pendeta Agung? Kalian percaya dengan sesuatu yang seperti itu?" sindir Max.
'Tingkah si brengsek ini entah kenapa mengingatkanku akan Saciel. Kurasa mereka bakal cocok kalo dipasangkan,' maki Phillip dalam hati. "Yah, tidak semua orang percaya sih."
"Hmph, lucu sekali menganggap adanya dewa di dunia macam ini," celetuknya pedas.
"Nii, sudahlah. Jangan bertengkar," rengek Kezia. Max menghela napas dan mengangguk samar, lalu mengelus kepala gadis kecil itu. "Uhh~ Aku suka dielus."
"Hei penyihir, siapa namamu?"
"Namaku Phillip Arlestine dan tolong berhenti memanggilku penyihir," balas Phillip sinis.
"Hmm kau pasti seorang bangsawan. Berarti kau kenal dengan keluarga...siapa namanya? Anekawa?"
"Arakawa," koreksi Phillip. "Memang apa urusannya denganmu?"
"Oh, hanya masa lalu yang menyakitkan untuk dia," ujarnya santai. Phillip mendengus, namun tersentak dan menundukkan kepala.
"Apa...kau penyebab kematian kepala keluarga Arakawa beserta istrinya?" tanya Phillip lirih.
"Oh, kurasa kau tahu ceritanya," balasnya. Phillip menerjang maju dan mengarahkan belati ke leher Max dengan tatapan bengis.
"Phillip nii!" jerit Kezia.
"Kau...kau biadab!"
"Di medan perang pasti akan makan korban. Mereka saja yang kurang beruntung melawanku," ujar Max. Phillip gemetar menahan emosi, namun perlahan surut dan menurunkan belatinya. Max hanya tersenyum pongah, namun sesekali meringis dan menahan perutnya.
"Beruntung ini Hutan Suci, dimana tidak boleh ada darah setetespun di tanah ini," ujar Phillip. "Yah, kecuali yang luka dari luar."
"Heh, sialan kau."
------------------+++-----------------
Para penduduk memegang berbagai macam alat pertanian untuk melindungi diri. Jess dan Carl sibuk mengatur para wanita dan anak-anak untuk berlindung. Saciel berjaga di gerbang bersama dengan para penjaga, matanya mencari di angkasa yang cukup berkabut. Ia mendapati beberapa titik menuju ke desa Chasata.
"Mereka datang!" teriak penjaga. Saciel tetap bertahan di posisinya, menunggu kedatangan para tentara dari Kota Careol. Matanya terpaku pada sosok yang tak asing baginya.
"Oh sial, kenapa Tuan Muda Comet malah dikirim ke sini?" gumam Saciel.
"Siapa Comet?" celetuk Jess.
"Salah satu dari 7 Eternal Wizards. Para tetua hanyalah pengontrol kami, bukan bagian dari 7 Eternal Wizards. Dan sialnya, orang ini lebih terpaku pada kekuatan dan kekuasaan dibanding dengan pengetahuan dan akal sehat. Suruh penduduk desa menurunkan senjata," ujar Saciel setengah panik. Jess langsung turun dan memberitahu penduduk, sementara Saciel mengenakan helm penjaga dan membuka pintu gerbang. Comet dan para tentara langsung melewatinya tanpa senyuman.
"Di mana kepala desa kalian, manusia hina?" ujar Comet dingin. Seketika aura dingin dan mencekam menyelimuti desa itu, namun Saciel tetap diam. Jess maju selangkah dan memberikan tatapan dingin kepada Comet.
"Berani sekali kau memanggil kami hina. Apa para penyihir memang tidak memiliki tata krama terhadap ras lain?" sindir Jess.
"Cacing sepertimu tidak perlu dihormati. Di mana manusia serigala itu?" balas Comet.
"Hm? Manusia serigala? Ah, yang sekarat itu? Dia kabur."
"Pembohong! Mana mungkin dia kabur!" sentak salah satu tentara.
"Kau bisa mencarinya jika mau," ujar Carl dingin.
"Tidak perlu. Aku tidak merasakan aura sihir demi human itu. Tapi..." Comet menampar Jess hingga ia tersungkur, "seharusnya kau tidak perlu merawatnya."
"Alasannya?" tanya Jess sembari memegangi pipinya yang bengkak.
"Karena itu adalah dosa besar. Bersiaplah untuk mati."
"Jangan seenaknya!"
"Penyihir gila!"
"Wah, gawat. Aku harus menghentikannya," gumam Saciel. Ia bergegas melompat turun dari gerbang dan berdiri di depan Comet.
"Apa ini? Cacing-cacing suka sekali mengganggu," ujar Comet.
"Tuan, seorang penyihir kuat sepertimu tidak seharusnya turun tangan menyerang penduduk desa. Tuan kemari untuk menangkap demi human, bukan? Bukankah akan lebih baik jika mencarinya sebelum ia meninggalkan Respher?" bujuk Saciel. Comet menatapnya lekat-lekat dan mendengus.
"Cacing ini ternyata pintar juga. Kita pergi," ujar Comet sembari memutar tubuhnya. Sebelum kakinya melangkah, seseorang melempar batu dan mengenai kepalanya. Ia berpaling dan mendapati seorang anak menggenggam beberapa batu di tangannya.
'Mampus! Ini anak kok bisa keluar dari persembunyian?' maki Saciel dalam hati.
"Jangan sakiti Kak Jess, orang jelek!" teriak si anak. Comet menatapnya dengan tatapan bengis, membuat Saciel berlari ke arah anak itu dan berguling menghindari api biru yang dilontarkan Comet.
"Kau baru saja bertemu dengan iblis, bocah," ujar Comet. "Bakar tempat ini."
Dengan cepat para tentara membakar seluruh desa tanpa tersisa apapun. Beberapa orang terbunuh dan terluka. Aroma daging terbakar memenuhi desa itu. Jess dan Carl mendapat luka bakar besar di punggungnya. Comet tersenyum puas dan meninggalkan Chasata, diikuti para tentara.
"Ke...napa...kau tidak... melindungi...kami?" tanya Jess sembari meremas lengan Saciel. "Kau...sama saja...dengan mereka."
"Tidak, aku tidak sama dengan mereka. Aku terpaksa melakukan ini untuk kalian," bantah Saciel.
"Dan membuat penduduk desa terluka?! Di mana hati nuranimu, lacur!? Kau tidak lihat banyak dari kami yang meregang nyawa?!" maki Jess.
"Aku tahu, tapi ini belum seberapa. Jika aku menolong kalian, bisa saja mereka akan kembali dan menghancurkan tempat ini."
"Tempat ini...sudah hancur, keparat," ujar Jess lelah.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melakukan ini. Kupikir...salah satu tetua itu yang akan datang. Aku tidak memprediksi kehadiran anggota 7 Eternal Wizards."
"Ganti...semuanya dengan nyawamu! Kau biadab! Aku salah percaya padamu! Seharusnya aku tidak mengizinkanmu masuk!"
"Kalau begitu kau hanya akan cepat dihancurkan," ujar Saciel ringan. Jess termangu dan meninju wajahnya yang cantik.
"Kau...iblis! Sialan kau!"
"Hei Jess, tenanglah! Kau mau membunuhku?" tanya Saciel.
"Jika itu bisa menyelamatkan pendudukku, aku dengan senang hati akan melakukannya!" jerit Jess.
"Jika aku jadi kau, aku tak akan melakukannya," ujar Saciel.
"Apa... maksudmu? Kau ingin aku merelakan orang-orang yang tak bersalah mati di tangan ******** itu? Kau ini waras tidak?"
"Waras, kok. Tapi tolong lihatlah sekelilingmu," ujar Saciel tenang. Jess melihat sekelilingnya dan terperanjat.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jess setengah tidak percaya. Bangunan yang tadinya hancur Dan terbakar kini pulih seakan-akan tidak ada api yang menghancurkan tempat itu. Beberapa orang yang tewas terbakar berlalu lalang tanpa luka apapun. Tidak ada aroma daging terbakar, raungan dan tangisan. Hanya kesibukan sehari-hari mereka yang mengisi tempat itu.
"Ini...ilusi?" tanya Jess. Ia tidak merasakan sakit lagi. Ia berpaling dan mendapati Carl menatapnya dengan tatapan cemas.
"Bukan, ini kenyataan. Kau ingat segel yang kau pasang di beberapa titik? Itu adalah sihir ilusi dengan resiko besar. Jika aku salah perhitungan, kalian akan benar-benar tewas," ujar Saciel.
"Aku...tidak mengerti," ujar Jess.
"Jadi, aku membuat duplikat desa dan seluruh penduduk ini di dimensi lain. Sebelum Comet datang aku langsung memindahkan jiwa kalian ke dalam duplikat dan berakting seakan-akan kalian menderita."
"Membuat...duplikat? Memindahkan jiwa? Apa itu bisa dilakukan?"
"Sudah kubilang, ini sihir dengan resiko tinggi. Ada kalanya duplikat yang dibuat tidak sesuai dengan yang asli atau duplikat tidak dapat merasa sakit ketika dilukai," papar Saciel.
"Kau... melakukannya sampai sejauh itu?" tanya Jess heran.
"Ini cara terbaik yang bisa kulakukan, meski resikonya memang besar. Akan lebih baik jika kita berpura-pura tempat ini dihancurkan, dibandingkan dengan melawan Comet. Aku yakin dia akan kembali untuk menghancurkan tempat ini jika ia belum puas," ujar Saciel. "Maaf, aku tidak mengatakan apa-apa soal ini."
"...kau memang gila," ujar Jess sembari tersenyum. "Dan terima kasih, kau sudah menyelamatkan kami dengan kegilaanmu itu."
"Aku harus gila untuk mengelabui orang seperti Comet."