
"Pantas saja banyak orang tidak menyukaimu. Kau berbeda dengan kepala keluarga Arakawa sebelumnya," ujar Jess.
"Memang. Tapi aku masih punya hati untuk menolong orang," balas Saciel ringan. Jess memberikan senyum hangat dan bangkit berdiri, namun tubuhnya menolak mengikuti perintahnya. Sebelum kepalanya terantuk Carl langsung menarik dan membopongnya ala bridal style.
"Nona perlu istirahat," ujar Carl singkat. Jess hanya mengangguk dan menyamankan posisinya dalam pelukan Carl.
"Aku iri padamu yang mempunyai asisten seromantis ini," goda Saciel. Keduanya malu dan wajahnya merah layaknya kepiting rebus. "Oh aku hanya bercanda. Dan sekarang, aku mesti cepat-cepat menyusul Phillip atau Comet yang akan membantai mereka."
"Kau bilang mereka tidak akan berani masuk ke dalam Hutan Suci?" celetuk Carl.
"Memang, tapi itu jika mereka tidak diberkati oleh Pendeta Agung. Dan satu lagi, tidak boleh ada yang menumpahkan darah di wilayah itu."
"Memangnya kenapa?" tanya Jess.
"Dari rumor yang beredar, kau akan dikutuk bersama dengan keturunanmu kelak."
"Dan siapa yang bisa melakukan itu?" tanya Carl.
"Aku tidak tahu. Tidak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam, bahkan pendeta sekalipun."
"Tapi...kau baru saja mengirim teman-temanmu ke sana. Apa tidak apa-apa?"
"Aku tidak masalah jika mereka masuk ke sana, Jess. Yang kutakutkan adalah Comet yang tanpa pikir panjang masuk dan membunuh mereka," balasnya sendu. "Aku harus pergi, terlalu lama bisa saja membuat mereka dalam bahaya."
"Tunggu, bawalah kuda ini untuk menemanimu," ujar Jess sembari menahan tali kekang kuda cokelat di sampingnya.
"Tidak, aku tidak bisa merepotkanmu terlalu banyak," tolak Saciel halus.
"Hei, kau sudah menyelamatkan desa ini jadi anggap saja impas," ujar Jess. "Dan aku paling tidak suka dibantah."
"...oh, baiklah. Tidak ada buruknya juga aku mengikuti keinginanmu," ujar Saciel pasrah sembari mengambil tali kekangnya. Ia melompat naik ke punggung kuda dan berkuda meninggalkan Desa Chasata.
"Semoga jalanmu dimudahkan oleh Dewa Oorun," gumam Carl dan Jess.
†**********************************************†
"Kita mau ke mana sih?" celetuk Max bosan. Phillip berdecih dan mengabaikannya, berusaha tidak mempedulikan celetukan Max yang makin menjadi-jadi.
"Kezia, bisakah kau sumpal mulut kakakmu dengan benda apapun? Telingaku bisa berdarah jika begini terus," ujar Phillip.
"Umm aku tidak bisa melakukannya nii," balas Kezia takut-takut. Phillip akhirnya menyerah, tetap mengendalikan kudanya menuju ke bagian terdalam hutan.
DUAR!!
"Apa-" kalimatnya terputus melihat hutan bagian depan terbakar. "Siapa yang berani membakar tempat suci ini?!"
"Phillip nii?! Apa itu para prajurit?!" jerit Kezia.
"Hm? Mereka ingin membunuh kita?" tanya Max.
"Ini serius, brengsek!" maki Phillip. Mereka bergerak cepat, diikuti si jago merah yang mulai menyusul kecepatan mereka.
"Hahaha, penyihir itu emang nggak bisa tenang ya? Mau kubantu?" tanya Max setengah mencela.
"Boleh sih, tapi kalo kau kehabisan darah jangan salahin aku," cela Phillip. Max menyeringai dan bangkit berdiri.
"Max nii?"
"Tidak apa-apa, aku bisa kok," ujar Max. Ia membangkitkan kekuatannya dan memegang sebilah sabit besar.
"Jangan bunuh orang di sini," ujar Phillip mengingatkan.
"Aku tahu, tenang saja," ujar Max sembari mengayunkan sabit dan angin besar menerpa serta memadamkan api dengan cepat. "Mudah sekali."
'Kurasa gosip itu memang bukan sekedar gosip. Werebeast atau demi human memang kuat,' ujar Phillip dalam hati. Ia tak menyadari sesosok besar mengejar dari atas langit.
"Oi, penyihir! Atas!" sahut Max. Phillip tersentak dan mendongak, lalu meraih Max dan Kezia dan melakukan teleportasi sebelum sosok itu menjatuhkan diri dan menghancurkan yang ada di bawah.
"Oh brengsek, ternyata Comet," maki Phillip. Ia masih memegangi keduanya, pandangannya terpaku pada Comet yang menatapnya dengan tatapan bengis.
"Arlestine, ternyata kamu pengkhianat?" tanyanya dingin.
"Ahahaha, bukan. Aku hanya mengikuti perintahnya," ujar Phillip. "Apa kau tidak bertemu dengannya?"
"Oh, benarkah? Jangan bilang dia kabur," cemooh Max. Phillip dan Kezia pucat, berusaha menutupi rasa takut yang menyelimuti mereka.
"Hmph, dia itu pengecut. Lemah, bahkan aib untuk keluarganya sendiri," caci Comet.
"Yah, maaf kalo aku ini aib untuk Arakawa! Tapi paling tidak, aku nggak sebodoh dirimu Comet Phoenix!" balas Saciel sembari loncat dari kuda. Comet menyeringai dan tertawa keras.
"Akhirnya kau datang, Arakawa! Ke mana saja kau?"
"Aku? Kau buta? Aku dari tadi ada di Chasata kok," balas Saciel kalem, berjalan ke arahnya tanpa takut.
"Aku tidak buta dan aku tidak melihatmu di sana."
"Berarti kau buta! Kau bahkan tidak bisa melihat sihir yang kugunakan," sindir Saciel. Comet terpancing emosinya dan melemparkan bola api, namun berhasil ditangkis dan dipadamkan gadis itu.
"Kau berniat dikutuk?" tanya Saciel.
"Hah! Memangnya kutukan itu ada?" tanya Comet meragukan. "Kuyakin kau bukan orang yang percaya seperti itu."
"Ya nggak sih. Tapi, tidak ada salahnya untuk berhati-hati kan?" balas Saciel tenang.
"Apa kau takut?" sindir Comet.
"Semua orang punya ketakutannya sendiri, termasuk dirimu," celetuk Saciel.
"Tidak, aku tidak punya rasa takut."
"Ah, sayang sekali. Kalau begitu, mari kita bertarung sampai mati," ujar Saciel menyeringai. Comet menyeringai dan maju menerjang Saciel. Ia menarik sebilah pedang dari sarungnya dan mencoba menggoreskan luka pada lawannya. Namun Saciel mampu mengelak dan sesekali melemparkan sindiran dan makian.
"Dasar ******! Berhenti bergerak supaya aku bisa membunuhmu!"
"Kalau begitu bergeraklah lebih cepat, bodoh," balas Saciel. Comet mempercepat gerakannya, namun ia masih tidak dapat melukainya. Ia berjalan mundur, namun terhenti oleh pohon besar di belakangnya. Comet tanpa segan langsung menghujamkan pedang di dada kiri Saciel. Darah mengucur dengan cepat membasahi pakaian Saciel.
"Saciel!"
"Nee! Nee!!!"
"Hm? Kupikir dia sekuat itu," gumam Max. Comet menarik kembali pedangnya dan menatap Saciel yang sedikit pucat.
"Sudah kubilang, bukan? Kau itu lemah, pengecut dan aib," ujar Comet. Saciel tersenyum dan membiarkan darahnya membasahi tanah. "Kau siap mati?"
"Mungkin~ tapi tidak sebelum kau," ujarnya senang. Comet mengerutkan kening dan tersentak, ia mulai merasakan tubuhnya terbakar dan kepalanya berkunang-kunang. Ia mencoba bertahan, namun tubuhnya melemah dan ia jatuh berlutut. Perlahan tangannya mulai diselimuti oleh kristal, lalu diikuti oleh kaki dan kepalanya.
"Apa-apaan ini?!" jerit Comet. Saciel tertawa dan berlutut di hadapannya, mengangkat wajahnya agar ia melihatnya.
"Sudah kubilang kan? Kau seharusnya berhati-hati dengan kemungkinan yang ada," ujar Saciel tenang.
"Dasar lacur! Kau tahu kutukan itu ada?!" maki Comet. Saciel hanya mengulum senyum dan membiarkan Comet yang hanya bisa memaki dan menunggu waktu hingga kristal menutupi seluruh tubuhnya.
"Hahaha, aku menang," ujar Saciel lirih. Ia ambruk, tubuhnya masih terluka parah dan darah belum berhenti mengucur.
"Nee!" panggil Kezia. Ia berlari ke arahnya dan mencoba menghentikan darah dengan menekan lukanya, namun gagal.
"Kezia, minggirlah," ujar Phillip tenang.
"Nggak! Nggak mau! Aku nggak mau meninggalkan nee!"
"Kezia, biarkan dia menolong gadis itu," ujar Max sembari menariknya mundur. Phillip segera berlutut dan membaringkan kepala Saciel di pangkuannya. Perlahan ia meletakkan tangannya dan membuat Saciel diselimuti oleh cahaya biru lembut. Luka yang menganga di dadanya perlahan menutup dan darah berhenti mengalir. Setelah lukanya benar-benar menutup, Phillip memposisikan Saciel untuk duduk dan bersandar pada batang kayu besar.
"Ngh," erang Saciel.
"Bodoh, kau ini mau mati apa?" gerutu Phillip sembari mengulum senyum tipis. Kezia menghambur dan memeluk Saciel erat-erat.
"Nee!" jeritnya sembari menangis keras. Saciel mengelusnya pelan dan tertawa kecil.
"Maaf, ya? Ini satu-satunya jalan untuk menang," ujar Saciel lirih. Max berjalan mendekati dan memandanginya dengan tatapan meremehkan.
"Kau memang lemah," sindirnya. Saciel hanya menatapnya lekat-lekat dan mendengus.
"Paling tidak aku tidak sebodoh orang itu," ujarnya sembari menunjuk Comet yang mengkristal.
"Kau benar."