
"Apa maksudmu dengan kunci? Aku tidak pernah membawa kunci," balas Max, suaranya sedikit bergetar. Deus menatapnya tajam, menyelidiki demi human di depannya dengan cermat.
"Kau bukan demi human biasa. Atau perlu..."
"Ahh, kelamaan! Tak bisakah kau mengirim kami ke Ceshier tanpa harus melalui Oorun?" potong Saciel frustrasi. Deus menghela napas dan berpaling pada Saciel.
"Bocah, kau mau meminta bantuanku?"
"Sekarang apa aku punya pilihan?" tanya Saciel balik. Deus menggeleng, lalu menghantam tanah dengan trisulanya dan memindahkan mereka ke sebuah hutan yang gelap dan suram.
"Di mana ini?" celetuk Phillip.
"Kita ada di desa Lumos," ujar Nero.
"Tempat seperti ini kau bilang desa?" tanya Phillip.
"Benar, ini tempatnya kok. Hampir semua demi human tinggal di kota dan sisanya masih suka menyendiri di hutan dan tempat terpencil. Cek petanya, kurasa kita cukup dengan tempatnya," timpal Max kalem. Saciel mengeluarkan petanya dan menunjukkan pada yang lainnya.
"Hmm, kurasa kita belum di daerah ini. Posisi kita agak jauh dari yang diperkirakan," ujar Nero sambil menunjuk sebuah wilayah di peta, sesekali melihat sekeliling. "Ikuti aku."
Mereka berjalan mengikuti Nero, sesekali Saciel merutuk saat sepatunya masuk ke dalam lumpur atau bajunya sobek akibat ranting tajam.
"Nee, sepertinya nee perlu ganti baju," ujar Kezia.
"Kau benar," jawabnya sembari menghela napas pasrah. Ia menjentikkan jemarinya dan berganti dengan baju yang lebih sederhana dan kuat.
"Ehehe nee tetap cantik!" pujinya sembari memeluk erat. Saciel menepuk kepala Kezia dengan lembut dan menggenggam tangan mungilnya. "Yey~ pegangan tangan."
"Oh kau tidak perlu memanjakannya," cela Max.
"Bukan urusanmu," jawab Saciel ketus. Nero hanya menghela napas dan terus berjalan hingga sampai di sebuah padang teh. Tidak seperti daun teh pada umumnya, daun teh di padang berwarna hitam berkilau bagai sebuah mutiara. Terlihat tetes embun di permukaan daun makin menambah kilauan daun teh.
"Wow," celetuk Phillip dan Saciel bersamaan.
"Tidak heran dinamakan Black Pearl. Sangat cantik," ujar Saciel. Nero memetik sehelai daun dan seketika itu juga daunnya berubah menjadi merah darah. "Eh?"
"Tanaman teh ini beracun, jadi tidak sembarang orang bisa mengolahnya menjadi teh. Perlu keahlian memadai untuk bisa membuang racunnya," ujar Nero.
"Pantas saja mahal dan langka," keluh Phillip. Saciel melihat kembali petanya dan menyadari sesuatu. Ia berjalan ke tengah padang dan menunduk seakan mencari sesuatu di tanah.
"Nee?" panggil Kezia. Saciel merangkak dan mencoba menggali, namun ia tidak mendapati apa-apa. "Apa yang nee cari?"
"Tolong pegang ini dan katakan padaku, lambang apa yang ada di padang teh Lumos?" jawab Saciel sembari memberikan peta pada Kezia. Max dengan cepat merampas peta itu dan mendapati sebuah lambang berbentuk piala emas dengan darah mengalir di atasnya.
"Ini...lambang keluarga penghasil teh Black Pearl, Bloody Wine. Untuk apa kau menanyakan itu?" ujar Max.
"Aku penasaran apa itu hanya lambang keluarga atau ada maksud lain. Misal...segel?" celetuk Saciel.
"Kenapa kita tidak tanya dengan mereka saja? Kurasa mereka bisa memberikan petunjuk," celetuk Nero. "Ikut aku, kita bisa bertemu mereka."
"Oh bagus, dari tadi dong. Aku tidak perlu menggali tanah," keluh Saciel sembari menepuk tangannya dan mengikuti Nero ke arah berlawanan.
"Siapa juga yang menyuruhmu menggali? Bodoh," celetuk Max kasar.
"Kupikir aku akan menemukan sesuatu, maaf kalau aku bodoh," balas Saciel keki. Phillip hanya bisa geleng-geleng kepala, sudah capek melihat tingkah dan sindiran mereka.
"Bisakah kalian berhenti ngoceh dan jalan saja? Aku pusing," bentak Nero. Keduanya terdiam dan berjalan hingga sampai di sebuah rumah sederhana dengan berbagai macam tanaman yang aneh dan berbahaya menurut Saciel. Seorang demi human wanita paruh baya tengah duduk di kursi goyang, tangannya asyik memainkan benang dan membentuk sebuah syal yang baru separuh jadi.
"Permisi," ujar Kezia. Wanita itu berhenti dan mendongak, lalu mengulum senyum ramah. Ia segera bangkit dari kursi dan mendekati mereka tanpa rasa khawatir.
"Halo, apa ada yang bisa kubantu?" tanyanya tenang. Ia melirik ke arah Phillip dan Saciel, namun sama sekali tidak mengeluarkan aura kebencian, malah aura menenangkan dan membuat Saciel heran akan reaksinya.
"Kami..."
"Ingin tahu jika ada seorang penyihir datang kemari dan menitipkan sesuatu pada Anda," potong Saciel cepat. Tak ia hiraukan tatapan kesal Nero yang cukup mengganggu, apalagi cibiran kecil dari Max. Wanita itu tidak terkejut, namun tatapan menyelidik tidak bisa ia sembunyikan.
"30 tahun yang lalu, aku ingat sekali. Di bawah tumpukan salju, aku menemukan seorang penyihir tak sadarkan diri. Aku membawanya pulang dan menyembunyikan dia dari para prajurit, waktu itu sungguh mencekam. Para prajurit yang menemukan penyihir di wilayah ini akan langsung dibantai dan mayatnya menjadi makanan bagi hewan liar. Nah, sebelum kulanjutkan, bagaimana jika kita ke dalam?" paparnya.
"Bagaimana ini?" bisik Phillip.
"Masuklah. Aku sudah terlalu tua untuk menyerang kalian," guraunya sembari membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk. Sepasang mata sebening madu milik Saciel mulai memeriksa isi rumah dan terkejut saat menemukan sehelai foto tua di atas perapian. Wajah yang sangat familiar untuknya berfoto dengan senyum lebar.
"Kakek?" ujarnya lirih dan meraih foto itu dengan gemetar. Wanita itu mengambil sebuah kotak kecil dan mengulurkannya pada Saciel.
"Dia memintaku untuk menyimpan ini dengan pesan agar memberikannya pada keturunannya," ujarnya hati-hati. Saciel menerima kotak itu dan membukanya, menemukan sebuah kunci dengan desain rumit yang ia yakini hanya seorang penempa terbaik saja yang bisa membuatnya. "Perjalananmu belum berakhir di sini."
"...terima kasih sudah menolong kakekku," ujar Saciel dengan membungkuk dalam. Wanita itu menahannya dan menggelengkan kepala.
"Aku hanya menolong sesama makhluk hidup, itu saja. Meski kita masih dalam perang, namun bukan berarti aku membenci kalian," ujarnya kalem. "Kalian pasti lelah, beristirahatlah sejenak sebelum pergi."
"Ah, tidak perlu. Kami sebaiknya langsung pergi saja," tolak Phillip halus.
"...kita di sini dulu saja. Ada yang perlu kubicarakan," ujar Nero. Wanita itu mempersilakan mereka duduk, lalu ia pergi ke dapur.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Phillip.
"Perjalanan ini. Sebenarnya kami sudah berada di benua Ceshier dan inilah tujuan akhir kita. Kami tidak ada kewajiban untuk menolong kalian lagi," ujar Nero tegas. Phillip menggertakkan giginya dan menahan diri untuk tidak memukul meja.
"Apa maksudmu? Kau berniat meninggalkan kami?" geram Phillip.
"Yah, dia ada benarnya juga sih. Tujuan utama kita kan kembali ke Ceshier," celetuk Max santai. Saciel hanya menutup mulut, mencoba mengamati situasi.
"Brengsek! Setelah apa yang kami lakukan untuk kalian dan ini balasannya? Saciel bahkan menebusmu untuk menyelamatkanmu!" bentaknya dengan menunjuk Nero.
"Nii?" cicit Kezia.
"Diamlah sebentar Kezia, kita harus menarik batas untuk perkara ini. Semakin kita terlibat jauh ke pemerintah, semakin besar bahaya yang akan dihadapi," ujar Max. Saciel menghela napas dan menarik Phillip untuk duduk, lalu menatap Nero dengan tatapan kalem.
"Kau benar. Lebih baik menarik batas untuk ini atau mati," ujar Saciel.
"Nii! Jangan begitu! Kita..."
"Kezia, diam," potong Nero sadis. Gadis kecil itu berhenti dan gemetar. Saciel kembali menghela napas dan menarik bibirnya agar membuat sebuah senyum.
"Jadi ini akhir perjalanan kalian?" tanya Saciel.
"...ya. Inilah akhirnya," celetuk Max. Ada rasa pahit di hatinya, namun ia buang jauh-jauh demi kebaikannya. Wanita itu kembali dengan sepoci teh Black Pearl yang baru saja ia racik.
"Nak, bagaimana jika secangkir teh untuk menenangkan perasaan kalian?" tawarnya. Dengan cekatan ia menuangkan teh ke beberapa cangkir berukiran emblem keluarganya.
"Terima kasih," ujar Saciel sembari mengambil secangkir dan menyesapnya. Aroma pekat malt berpadu mawar menenangkan pikirannya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Nero lekat-lekat.
"Aku tidak bisa membiarkanmu pergi sekarang," ujar Saciel. "Masih ada yang harus kita selesaikan."
"Bukankah urusan kita sudah selesai?" tanya Nero.
"Kau yakin? Kau tidak ingin menangkap penculik kalian?"
"Heh, kau ingin mengangkat kasus ini? Kuyakin ini akan sangat sulit dari permasalahanmu."
"Tidak masalah, aku hanya perlu kepastian. Aku...tidak mau berpisah dari Kezia. Dia sudah kuanggap bagian keluargaku," ujar Saciel malu. Kezia terpana dan langsung memeluknya dengan kebahagiaan meluap.
"Aku sayang nee! Sayang nee!" sahutnya riang. Saciel memeluknya kembali dan mencium pipinya.
"Aku memang penasaran dengan penculikan kami, tapi tidak ada petunjuk yang pasti," ujar Max lirih. "Kau hanya ingin menahan kami kan? Karena kekuatan kami?"
"Analisa yang bagus. Jadi bagaimana?" tanya Saciel. Max dan Nero berpandangan, lalu kembali menatap Saciel.
"Baiklah. Lagipula kami tidak mungkin langsung kembali ke kota tanpa persiapan apa-apa," ujar Nero pasrah. "Dan aku mau informasi tentang tetua yang kalian bicarakan di belakangku."
"Boleh saja," ujar Saciel sembari menawarkan tangannya, yang langsung disambut oleh Nero. "Dan aku ingin informasi tentang kalian."
"Informasi macam apa?" tanya Max.
"Semuanya. Dari yang paling remeh hingga rahasia kalian," ujar Saciel.
"Tidak bisa. Ada hal yang tidak boleh kau ketahui," tolak Max. "Tapi masih bisalah untuk beberapa informasi. Sebaiknya kita segera pergi."