The Two Empresses

The Two Empresses
Persiapan



"Malam ini? Apa tidak terlalu cepat untuk pergi?" tanya Phillip.


"Sayangnya semakin lama kita di sini, semakin cepat mereka menangkap kita. Aku akan mencari kereta kuda untuk kita," jawab Saciel sembari menghela napas.


"Biar aku saja yang mencari. Kalian bisa bersiap-siap," celetuk Nero sembari mengangkat tangannya. "Kurasa aku tahu di mana aku bisa mendapatkannya."


"Terlalu berbahaya untuk..."


"Kau tidak perlu khawatir, Tuan. Aku bisa jaga diri," potong Nero cepat. Phillip sedikit tersinggung, namun ia abaikan perasaan itu dan mengangguk. "Berapa kuda yang kau butuhkan?"


"Dua lebih baik," balas Saciel. "Kau bisa menggunakan ini untuk membayarnya," lanjutnya sembari memberikan beberapa helai cek dengan tanda tangannya. "Kau tinggal tulis nominal uang dan selesai."


"Memangnya ini berlaku?" tanya Nero sembari menerimanya dengan hati-hati.


"Lembaran yang kau terima itu berlaku di benua Respher. Itu namanya cek, alat pembayaran pengganti uang yang mudah dibawa ke mana saja. Kau hanya perlu menukarnya di tempat khusus," papar Phillip.


"Hebat. Sepertinya budaya ini bisa dilakukan di Respher," ujar Nero. "Tapi kertas ini bisa saja dipalsukan."


"Tidak semudah itu. Kertas ini menggunakan material khusus, lalu diberikan segel dan tanda tangan. Harga 1 lembar kertas ini saja bisa mencapai 1000 Furst," ujar Saciel.


"Memangnya uang segitu bisa untuk apa saja?" tanya Kezia.


"Uang segitu bisa untuk menyewa kamar penginapan selama 10 hari dengan fasilitas makan 3 kali sehari," ujar Phillip.


"Atau membeli 1 buah gaun dengan kualitas cukup baik," jawab Saciel.


"Wow, keren," celetuk Kezia.


"Lalu kalau dikonversi, harga jualku jadi berapa dalam mata uang Ceshier?" tanya Nero.


"Hmm, Ceshier menggunakan mata uang Prollos. 1 Prollos bernilai 20 Furst jadi..." gumam Phillip.


"Yah kasarnya sih 50 juta Prollos," ujar Saciel. Ketiga demi human itu terkejut setengah mati.


"50 juta Prollos?!" sahut Nero.


"Itu sih seharga mansion di wilayah pedesaan," ujar Max.


"Uang banyak!" sahut Kezia. Saciel hanya tertawa kecil dan mengelus kepala Kezia.


"Sebaiknya aku segera pergi," ujar Nero sembari mengenakan jubah besar dengan tudung yang menutupi separuh wajahnya. Ia bergegas meninggalkan ruangan setelah mengecup pipi Kezia.


"Aku akan membeli beberapa penawar racun dan obat lainnya," ujar Phillip sembari meninggalkan yang lain.


"...aku di sini saja, menemani kalian," ujar Max. Ia duduk di sofa dan mulai membaca koran, namun wajahnya mulai berkerut. "Bahasa apaan ini?"


"Pakai ini untuk membantumu," ujar Saciel sembari memberikan sebuah kacamata sihir. Max awalnya ragu, namun diterimanya dan dipakainya dengan keraguan yang tidak bisa ditahan. Seketika itu juga ia terkejut karena ia bisa membaca tulisan pada koran dengan mudah.


"Sihir memang aneh ya?" celetuk Max. Saciel hanya diam, asyik mengepang rambut Kezia yang cukup panjang.


"Nee, kita akan baik-baik saja kan?" tanya Kezia. "Nee tidak akan sakit lagi kan?"


"Akan kuusahakan, Kezia manis. Semoga saja tidak terjadi apa-apa," jawab Kezia senetral mungkin. Kezia memberikan senyum manisnya dan memeluk Saciel cukup erat hingga Saciel merasa seperti diremukkan oleh anak gajah.


"Kezia, lepaskan dia. Kau tidak lihat wajahnya sudah mulai biru?" celetuk Max tanpa mengangkat kepalanya. Kezia bergegas melepaskan, mendapati Saciel langsung rakus menghirup udara sebanyak mungkin demi mengisi paru-parunya yang hampir kosong.


"Nii jelek," ujar Kezia.


"Kau juga sama jeleknya," ujar Max kalem. Kezia langsung melompat dan duduk manis di pangkuan Max dengan tatapan imut. Max menghela napas dan perlahan mengelus gadis kecil itu dengan rasa sayang.


"Perbedaan umur kalian jauh sekali ya?" celetuk Saciel. Max dan Kezia terdiam, suasana canggung memenuhi ruangan itu. Saciel merasa bersalah menanyakan hal yang cukup sensitif bagi mereka. "Maaf, kau tidak perlu menjawabnya."


"Baiklah," balas Max canggung. Kezia terlihat gelisah, sesekali ekornya terlihat turun dan melingkari tubuhnya.


'Duh, kok jadi nggak enak gini sih? Apa yang sebaiknya aku lakukan?' gumam Saciel dalam hati. Pikirannya buyar ketika seseorang mengetuk pintunya dan masuk dengan sekeranjang buah segar dan ranum.


"Ada parsel untuk Nona," ujar si perawat. Saciel mengerutkan kening melihatnya.


"Maaf, saya tidak tahu. Saya hanya mendapati parsel itu sudah ada di meja resepsionis dengan catatan untuk dibawa ke kamar nona berambut merah," jawab si perawat.


"Baiklah, terima kasih sudah membawanya," ujar Saciel. Setelah perawat itu meninggalkan mereka, Kezia maju dan mencium parsel tersebut.


"Aku tidak mendapati aroma tubuh si pengirim," ujar Kezia polos.


"Eh?"


"Kezia benar, tidak ada aroma tubuh si pengirim misterius ini," lanjut Max.


"Aku kembali...wah, ada parsel buah. Dari siapa?" tanya Phillip beruntun.


"Aku tidak tahu. Tidak ada nama pengirimnya," balas Saciel. "Cepat sekali kau membelinya. Jangan bilang kau mendapatkannya di pasar gelap."


"Seenaknya saja kau bicara. Aku beli di toko obat, oke? Nih struk pembayarannya, plus tanda tangan pegawai yang melayaniku dan juga cap tokonya," balas Phillip kesal, menyerahkan struk pembayaran. Saciel mengambil struk itu dan mencermatinya dengan seksama, lalu dikembalikan dengan senyum canggung.


"Jangan marah, aku kan hanya memastikan," ujar Saciel. Kezia membuka parsel itu dan mengambil sebuah apel dan duduk kembali di pangkuan Max.


"Apel!" sahutnya.


"Iya itu apel. Dimakan sampai habis oke?" ujar Max kalem. Kezia mengangguk dan memakannya dengan lahap. Nero masuk tanpa suara dan memberikan sisa lembaran cek.


"Kereta kudanya sudah siap. Kita bisa pergi kapanpun," ujarnya lirih. Saciel dan Phillip terkejut, tidak menyadari keberadaan Nero sudah sangat dekat dengan mereka.


"Oh, oke. Terima kasih sudah mencarikan kereta kudanya," ujar Saciel sembari menyimpan sisa cek yang diberikan.


"Bagaimana jika kita pergi sekarang? Menunggu malam akan terlalu lama. Kita sudah siap kan?" celetuk Max sembari meletakkan korannya.


"Kau tidak mau makan dulu?" tanya Saciel. Suara gemuruh lahir dari perut Max, membuat wajahnya merah padam menahan malu.


"Aku juga lapar," celetuk Nero.


"Phillip, kau bawa mereka makan dulu," ujar Saciel berusaha sekuat mungkin untuk tidak tertawa.


"Baiklah. Ayo pergi," ajak Phillip. Ia menggendong Kezia dan berjalan keluar, disusul Max dan Nero. Saciel duduk di sofa dan menghela napas, pikirannya tidak bisa fokus. Ia sangat merindukan saudari kembarnya meski sudah bertatap muka sejenak. Pikirannya kalut, tidak tahu apakah yang ia lakukan sudah tepat atau belum.


"Seandainya saja Papa dan Mama masih hidup, mungkin saja aku bisa bebas menjadi diriku sendiri," gumamnya. Ia menutup mata perlahan, tanpa sadar sudah terlelap ke alam mimpi.


...****************...


"...ngun. Ayo bangun."


"Ngh?" keluh Saciel. Ia membuka mata dan mendapati Phillip berdiri di hadapannya dengan tatapan cemas.


"Kau baik-baik saja?" tanya Phillip. Saciel meregangkan tubuhnya dan menguap sejenak.


"Ya, aku baik-baik saja. Hanya tertidur," jawabnya setengah mengantuk. Phillip menghela napas dan memberikan pakaian padanya.


"Ganti bajumu, kami akan menunggu di luar," ujar Phillip. Setelah ia keluar, Saciel bergegas mengganti pakaiannya dan menggerai rambutnya. Ia melipat rapi baju klinik dan berjalan keluar, mendapati rombongannya sudah siap di atas kereta kudanya.


"Ayo cepat, jangan buang-buang waktu," keluh Max. Saciel hanya mengangguk dan langsung naik, duduk di samping Kezia yang menatapnya penuh kebahagiaan. Max segera menghela tali kekang agar kuda-kudanya bergerak menarik kereta dengan kecepatan sedang.


"Kuharap kita bisa benar-benar selamat saat menginjakkan kaki di wilayah flügel," ujar Phillip.


"Bisakah kau tidak berlebihan? Kau malah membawa pikiran negatif untuk orang lain. Apapun yang terjadi, kita harus siap," ujar Saciel kesal.


"Maaf."


"Nee, apakah flügel itu jahat?" tanya Kezia.


"Dibilang jahat...aku tidak tahu, Kezia. Tapi mereka berbahaya untuk dijadikan musuh. Aku belum pernah bertemu mereka secara langsung," jawab Saciel.


"Kuharap mereka bukan makhluk jahat," gumam Kezia.