The Two Empresses

The Two Empresses
Desperate



"Maksudmu Kezia? Atau Nero?" tanya Saciel.


"Sama sajalah, mereka kan sumber informasi kita," jawab Julian lelah. "Mari kembali."


Keduanya berjalan lagi memasuki mansion, menuju ruang tamu dimana Cerlina dan Kezia tengah asyik menikmati kue cokelat dengan krim tebal di atasnya, berpadu potongan biskuit vanilla. Ketika Saciel dan Julian masuk, Kezia sudah menikmati potongan kue yang ketiga.


"Kau ini rakus ya?" celetuk Saciel. Kezia mengangkat kepalanya dan mengulum senyum.


"Kuenya enak, jadi terasa tidak makan banyak," jawab Kezia. Saciel tertawa kecil dan mendaratkan diri di atas sofa.


"Di mana Nero?" tanya Saciel.


"Pulang, katanya mau cek kondisi nii," jawab Kezia.


"Kamu nggak ikut?" tanya Julian.


"Nii bilang jangan," jawab Kezia sendu. Saciel menghela napas, lalu mengambil sepotong kue dan menyantapnya.


"Sepertinya apa yang dia lakukan sudah benar. Sebaiknya kau tidak melihat Max dulu," ujar Julian. Tiba-tiba Nero berjalan masuk dan duduk di samping Kezia dengan muka datar. "Cepat sekali kau kembali."


"Aku tidak mungkin meninggalkan Kezia terlalu lama," ujar Nero sembari mengelus kepala Kezia dengan lembut. "Kondisi Max cukup baik, meski dengan luka itu."


"Kurasa kau harus bersabar untuk bisa mendapatkan ramuannya. Ada beberapa bahan yang perlu dicari," ujar Saciel.


"Di mana? Biar aku yang mencarinya," balas Nero cepat.


"Oh iya, wilayah Ceshier kan ada duyung. Kau bisa mendapatkan darah mereka?" tanya Julian. Nero mengulum senyum sinis.


"Itu hal yang mudah. Butuh berapa banyak?" tanya Nero. Julian menyodorkan sebuah botol kaca kecil setinggi 10 senti. "Hanya segitu?"


"Hanya setetes sih, tapi untuk stok saja," ujar Julian. "Kudengar darah mereka tidak bisa disimpan terlalu lama."


"Karena darah mereka mudah menguap di bawah sinar matahari, makanya tidak banyak orang bisa mengambil darah duyung dengan teknik yang tepat" ujar Nero. Julian sedikit tertarik mendengarnya.


"Oh, berarti teknik punyamu sudah tepat ya?" pancing Julian. Nero tersenyum kecil mendengarnya.


"Kenapa? Penasaran?" balas Nero.


"Oh, ternyata kau tanggap juga orangnya. Tamer memang berbeda, ya?"


"Terima kasih pujiannya. Aku akan mengatakan rahasianya, tapi tidak sekarang. Ada lagi yang kau perlukan?"


"Kurasa tidak. Sisanya bisa kami temukan di sini," ujar Julian. Saciel hanya diam sembari menikmati kuenya. "Cerlina, apa ada kabar dari Lao atau Vristhi?"


"Belum ada," jawab Cerlina sembari menggeleng. Julian diam, lalu bangkit berdiri.


"Mau ke mana kau?" tanya Saciel.


"Kita harus menolong Lao, bukan?" balas Julian. Saciel meletakkan piring dan menggeleng.


"Tadinya itu memang rencanaku, tapi kalau sampai bertemu Vristhi yang sedang tidak bagus suasana hatinya, yang ada bakal ada pertumpahan darah," celetuk Saciel. Julian menelan ludah mendengarnya.


"Aku...baru ingat harus mulai merebus bunga anggreknya," ujar Julian sembari berjalan cepat meninggalkan ruangan itu dengan wajah sedikit ketakutan. Nero ikut berdiri dan mengecup punggung tangan Cerlina.


"Tuan Putri, izinkan saya pergi untuk melakukan tugas hamba mencari darah duyung," ujar Nero dengan lembut. Cerlina terkikik mendengarnya.


"Panggil saja Cerlina, jangan Tuan Putri. Berhati-hatilah dalam perjalananmu," ujar Cerlina teduh. Ia memberi berkat di atasnya dan tersenyum. "Semoga Dewa Oorun menyertaimu."


Nero mengangguk dan menepuk kepala Kezia dengan lembut, mengecup puncak kepalanya serta pipinya. Ia berjalan keluar sendirian. Kini para wanita tinggal di ruang tamu.


"Yang punya rumah malah sibuk, sebaiknya kita kembali saja," ujar Saciel.


"Kembali? Apa kita tidak membantu mereka?" tanya Cerlina. Saciel menggeleng, membuat Cerlina mau tak mau bangkit berdiri. "Ayo Kezia, kita pulang."


"Aku...sebaiknya menjaga Max nii. Kasihan dia, tidak ada yang bersamanya," ujar Kezia sendu. Saciel mengulum senyum dan mengelus kepalanya.


"Kalau itu yang kau inginkan, tidak apa-apa. Ini untuk mengurangi rasa sakit akibat sihir hitam," ujar Saciel sembari memberikan sebotol air berkilauan.


"Apa ini?" tanya Kezia.


"Air suci dari kuil. Kudengar cukup manjur mengurangi rasa sakit dan menekan penyebarannya."


"Terima kasih nee! Aku pasti akan merawat Max nii dengan baik," ujar Kezia senang. Si kembar mengangguk, lalu Saciel memindahkan gadis itu kembali ke negaranya.


...****************...


Suasana di kota Careol saat ini cukup lengang, namun tidak di satu tempat. Sebuah toko roti sederhana terlihat dipadati oleh pengunjung, baik dari kalangan atas hingga kalangan bawah. Aroma mentega dan krim segar menyebar hingga ke tengah kota. Phillip yang baru sampai sedikit kaget melihatnya.


"Aduh, kok ramai sekali sih? Padahal hanya mau beli sebentar terus pergi. Hmm, bagaimana ya?" keluh Phillip. Ia berdiri agak jauh dari toko roti, menimbang-nimbang akan pilihannya untuk masuk atau pergi. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan mengantri.


"Hm? Marquess Arlestine?" panggil seseorang. Phillip menoleh dan mendapati seorang kepala pelayan berdiri tak jauh darinya sembari membawa kotak kue.


"Ah, kau kepala pelayan dari Schariac, bukan? Sedang apa kau di sini?" tanya Phillip. Ia membungkuk dan memamerkan kotak kue.


"Nonq ingin makan kue, jadi saya pergi untuk membelinya," jawab kepala pelayan.


"Bagaimana kabar Tania?"


"Nona Tania sehat dan tidak ada masalah."


"Begitu. Katakan pada Tania aku akan mengunjunginya. Ada pekerjaan untuknya," ujar Phillip. Kepala pelayan mengangguk dan bergegas pergi. Saat giliran Phillip tiba, ia bingung akan banyaknya pilihan kue yang cantik dan menggoda. "Bungkus semua. Setiap jenis 1 kue."


"Baik, Tuan," jawab si pegawai. Dengan cekatan ia memasukkan pesanan Phillip dalam 3 kotak besar. "Semuanya 100 Furst, Tuan."


Phillip memberikan uangnya dan membawa ketiga kotak kue itu meninggalkan toko roti yang padat sesak. Sang kusir yang menunggu kaget dan bergegas mendekati Phillip.


"Kenapa Tuan tidak memanggil saya? Aduh maafkan keteledoran saya," ujar si kusir sembari mengambil kotak-kotak roti. Phillip hanya tertawa kecil mendengarnya.


"Bawa aku ke rumah Tania Schariac."


...****************...


Kepala pelayan masuk ke ruang kerja, mendapati gadis berusia sekitar 10 dengan rambut berwarna turquoise sepundak dengan pita berwarna kuning keemasan tengah duduk memandangi langit dengan boneka beruang di pelukannya.


"Nona, ada pesan untuk Anda. Marquess Arlestine akan datang untuk menemui Nona."


"Kak Phillip? Baiklah, siapkan segalanya untuk menyambut Kak Phillip!" ujar Tania girang. Kepala pelayan mengangguk dan bersiap, sementara Tania melompat kegirangan. Ia berlari ke kamar dan memanggil pelayan untuk membantunya berganti pakaian.


Sepuluh menit berlalu, Phillip telah sampai di kediaman Schariac. Ia terkejut begitu turun dari kereta, seluruh pelayan rumah menyambutnya. Tania terlihat cantik dalam balutan sailor dress berwarna putih dengan aksen royal blue. Boneka beruang miliknya juga diberi pita berwarna senada.


"Selamat datang, Kak Phillip," sapa Tania sembari memberi hormat.


"Sambutan yang cukup megah ya, untuk seorang marquis seperti saya," ujar Phillip sembari memberi hormat dan mengecup punggung tangan kecil Tania. "Duchess terlihat sehat ya?"


"Gelar duchess belum menjadi milikku," balas Tania. "Masuklah, hari ini aku menyiapkan jamuan."


"Aduh, Nona berlebihan menyambut saya. Tetapi saya sangat terhormat menerima undangan jamuan Anda," ujar Phillip sembari mengulurkan tangan. Tania menerimanya dengan senang hati dan keduanya berjalan masuk menuju ruang tamu dimana para pelayan siap untuk menyajikan cemilan.


"Jadi apa yang ingin Kak Phillip sampaikan?" tanya Tania setelah mencicipi tehnya dengan elegan. Phillip berubah menjadi serius namun masih dengan senyumnya.


"Saciel memintamu untuk bekerja mencari bahan ramuan yang kurang," ujar Phillip. Tania mengangkat sebelah alis mendengarnya.


"Oh, apa itu ramuan untuk Kak Lao?"


"Tepat sekali, Tania. Kami kekurangan tenaga untuk mencari bahan, makanya Saciel memintamu untuk membantu," ujar Phillip. Tania mengulum senyum mendengarnya.


"Kenapa aku?" tanya Tania meremehkan. Phillip sedikit kaget dengan perubahan suasananya, namun ia tetap bersikap tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Karena kau masih bagian dari 7 Eternal Wizards," balas Phillip. Tania dengan hati-hati meletakkan cangkirnya dan menatap Phillip.


"Aku memang bagian dari 7 Eternal Wizards, tapi aku tidak merasa bagian dari mereka," ujar Tania dingin.


"Tania, ada apa denganmu?" tanya Phillip heran. Tania menundukkan kepala dan tertawa kecil. "Tania?"


"Aku bisa gila jika menjadi bagian dari 7 Eternal Wizards. Mereka terlalu kuat, tidak seperti aku yang masih bocah, lemah dan penakut," ujar Tania. "Aku takut."


"Tania, kemarilah," ujar Phillip sembari mengulurkan tangan. Tania tidak berpindah dari tempat, namun air mata perlahan mengalir di pipinya.


"Aku tidak layak menjadi kepala keluarga Schariac," ujar Tania lirih. "Sihir bonekaku masih jauh dari harapan."


"Tania, ayo kita bertarung," ujar Phillip.