The Two Empresses

The Two Empresses
Depression



Keduanya kini menjejakkan kaki tepat di depan kediaman Arakawa, di mana Istvan berdiri di depan pintu sembari memainkan pisau dengan wajah suram.


"Kau menakutkan, bocah," sindir Saciel. Istvan diam sejenak, lalu memasang wajah mengejek.


"Yang bocah sekarang kan kamu," balas Istvan. Saciel cemberut dan melipat tangannya. "Daripada itu, aku perlu bicara dengan kalian."


"Ayo masuk," ujar Saciel sembari berjalan secepat yang ia bisa, membuat para lelaki yang melihatnya tertawa. Mereka berjalan masuk hingga ke rumah kaca yang penuh dengan tanaman yang cukup lebat, "jangan lupa beritahu tukang kebun untuk merapikan tempat ini."


"Baik, Nona," balas kepala pelayan. Beberapa pelayan masuk dan menyediakan teh dan cemilan, seorang yang lain datang memberikan sebotol cairan berwarna putih susu.


"Nyonya Claudia berpesan untuk minum ini, Nona," ujar pelayan. Saciel meraih botol itu dan menenggaknya hanya sekali tegukan.


"Wow, tanpa curiga sedikit pun," gumam Phillip. Perlahan tubuh Saciel tumbuh hingga ke ukuran semula tanpa efek samping. Para pelayan bergegas menutupi tubuhnya dengan jubah karena pakaiannya sobek.


"Lebih baik. Nah, apa yang ingin kau katakan, bocah?" sindir Saciel. Istvan cemberut, namun tidak bisa membantah kalau dia yang termuda diantara para 7 Eternal Wizards. Ia menghela napas dan menatap Saciel dengan mata kosong.


"Aku ingin menangkap nenekku. Berikan aku izin," ujar Istvan.


"Harusnya kau minta ke Lao, bukan aku," jawab Saciel cepat. Istvan menggigit bibir bawahnya dan bersimpuh di hadapan Saciel. "Hei!"


"Hanya kamu yang bisa mengizinkanku. Lao saat ini berada di penjara bawah tanah, Vristhi tidak mau diganggu dan satu-satunya yang punya kuasa tertinggi hanya kamu!"


"Julian tidak kau hitung?" tanya Phillip.


"Tidak," jawab Istvan tegas. Saciel meraih Istvan dan membuat gestur untuknya duduk, namun Istvan menolak. "Aku tidak akan berpindah sampai kau mengizinkanku."


"Kenapa kau bersikeras untuk menangkap Erika?" tanya Saciel.


"...karena aku, mereka melarikan diri. Aku harus menebus dosaku," ujar Istvan lirih. Saciel menghela napas dan memijat kepalanya.


"... Phillip, cek ruang kerja ayahku dan cari bukunya. Aku akan urus yang di sini dulu," ujar Saciel. Phillip mengangguk dan berjalan keluar, diikuti para pelayan dengan wajah cemas. "Istvan Garza, lihat aku."


Istvan diam, perlahan mengangkat wajahnya menatap Saciel. Matanya nanar, mencoba menahan malu akan aib keluarganya. Perlahan Saciel mengulurkan tangan dan mengelus kepalanya.


"Istvan, kau terlalu terburu-buru. Apa ada sesuatu yang menghantuimu?" tanya Saciel lembut. Istvan menghela napas dan mengangguk. "Katakan."


"Keluarga besarku menyalahkanku atas gagalnya penangkapan beberapa tetua, terutama Erika dan Yorktown. Ayahku jatuh sakit saat mengetahui Nenek kabur karena melakukan...kudeta," jawab Istvan pahit.


"Sungguh malang dirimu, adik kecilku. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi sendiri, karena aku yakin kau tidak bisa melakukannya pada kerabatmu. Aku akan mengutusmu bersama Ilmol, itu syaratku," ujar Saciel.


"Tapi..."


"Tidak, Istvan. Kau harus ditemani karena emosimu masih belum stabil," tegas Saciel.


"Maaf menyela, tapi bukannya kau juga sama?" balas Istvan lempeng. Saciel terdiam dan berpaling.


"Pokoknya kamu harus bersama orang lain, paham?" ujar Saciel mengalihkan. Istvan mengangguk dan duduk, menyesap teh dengan tatapan kosong. "Aku penasaran kenapa Vristhi tidak mau menemuimu."


"Kurasa karena Lao dipenjara dalam keadaan...er...sekarat?" jawab Istvan ragu-ragu. Saciel tercengang, antara terkejut dan tak percaya dengan jawaban Istvan.


"Kau serius?"


"Aku tidak bohong. Boldstone sepertinya tahu Lao terkena sihir hitam dan dia...menyerang bagian itu hingga Lao terkapar," balas Istvan. Saciel menggigit ujung kuku jempolnya dengan gemas. Ia bangkit berdiri dan menatap Istvan.


"Nee! Nee! Tolong!" jerit Kezia dengan air mata berlinang. Saciel terdiam melihatnya. "Nee?"


"...kamu siapa?" tanya Saciel kaget. Kezia semakin menangis keras hingga rumah kacanya mulai retak. Saciel kalang kabut, mencoba mencari celah agar gadis muda di hadapannya berhenti menangis. Matanya menangkap sebuah kue dan bergegas meraihnya, memasukkannya ke dalam mulut Kezia dan membuatnya berhenti menangis. "Kamu siapa?"


"Ini aku nee...hiks, Kezia," ujar Kezia sembari mengunyah dan menangis di waktu bersamaan.


"Kezia yang kukenal masih bocah berumur 6 tahun, bukan gadis berumur 16 tahun sepertimu," jawab Saciel meragukan. Kezia cemberut mendengarnya. "Oke, anggaplah aku percaya kau ini Kezia. Apa yang kau lakukan di sini?"


"Nee tidak percaya padaku," balas Kezia sembari melingkarkan ekornya. Saciel makin bingung menghadapinya.


"Siapa dia?" tanya Istvan dengan wajah penasaran. Kezia mengangkat wajahnya yang masih cemberut. "Kau mengingatkanku akan orang itu. Siapa ya? Oh, demi human yang berniat membunuh nenekku."


"Itu kakakku, Max. Nee, ini aku~," ujar Kezia setengah membujuk.


"Tapi bagaimana bisa? Kau kan...masih kecil?" tanya Saciel bingung.


"Kami para demi human bisa mengubah wujud sesuai keinginan, dari tua hingga muda. Kami kan berumur panjang," balas Kezia. Saciel menghela napas mendengarnya.


"Begitukah? Astaga kupikir kau ini orang asing. Ada perlu apa kau kemari dan bagaimana caranya kau ke sini?"


"Nee, tolong nii. Dia sekarat!" jawab Kezia. Tangisnya pecah kembali. Saciel segera memeluknya dan menepuk pelan kepalanya. "Nero nii tidak ada di rumah, jadi aku minta tolong sama penyihir untuk membantuku kemari."


"...berarti Nero tidak bilang ke dia ya?" gumam Saciel.


"Eh?"


"Ah, tidak apa-apa Kezia. Oke apa yang terjadi pada Max?" tanyanya cepat.


"Nii... punggungnya menghitam dan kesakitan. Wajahnya pucat dan demam tinggi," papar Kezia dengan berlinang air mata. "Saat kupaksa dokter kerajaan untuk buka mulut, nii...terkena sihir hitam."


"Aku mengerti, sabar ya? Kita akan menemukan jalan untuk menolongnya. Sekarang hapus air matamu dan tenang, oke?" hiburnya sembari memberikan sehelai saputangan. Kezia mengangguk, mengambil saputangan itu dan menghapus air mata dan membersit hidungnya. "Anak pintar."


"Saciel, aku menemukan....siapa dia?" ujar Phillip sembari berjalan masuk dengan buku usang di tangannya, tatapannya jatuh ke arah Kezia yang masih di dalam pelukan Saciel.


"Ini Kezia."


"Bentar, kau serius? Tunggu, kurasa kau benar," balas Phillip sembari melihat gadis itu dengan tatapan menyelidik. "Tapi bagaimana dia bisa kemari?"


"Akan kuceritakan lain waktu. Apa yang kau temukan?"


"Bukunya. Ada di laci paling bawah, tepatnya di laci rahasia," ujar Phillip sembari menggoyangkan buku itu. "Dan sayangnya aku tidak menemukan cara mengolah tanaman itu."


"Apa? Yang benar saja?" bentak Saciel. Phillip menggelengkan kepala dan membuka bukunya pada bagian yang sobek. "Sepertinya ada yang merobeknya."


"Apa ini perbuatan Papa?" tanya Saciel.


"Aku ragu. Tuan adalah orang yang sangat suka buku dan tidak akan segan untuk memarahi siapapun yang merusak buku," ujar Phillip. Saciel bergidik mendengarnya.


"Kau benar. Lalu siapa yang melakukannya?"