
"Bagaimana caranya?" tanya Cerlina. Julian hanya diam dan berjalan, disusul Cerlina yang penasaran. "Julian!"
"Aku belum memikirkan caranya, tapi kita harus cepat. Ah, kau harus pergi. Bisa jadi masalah jika kau ikut denganku."
"Kenapa?" tanya Cerlina.
"Kau masih berstatus Pendeta Agung, Cerlina. Aku bisa saja tidak bisa melindungimu," ujar Julian. Cerlina cemberut mendengarnya, lalu menghentikan langkah Julian yang panjang.
"Aku tidak mau diperlakukan istimewa, perlakukan saja aku seperti biasanya," ujar Cerlina. Julian menghela napas mendengarnya.
"Baiklah jika kau berkata begitu. Mari kita pergi, Nona Pendeta Agung," goda Julian sembari mengulurkan tangan. Cerlina tertawa kecil dan menerima uluran tangannya. Hati-hati Julian menuntun gadis berambut ungu itu masuk ke dalam kereta dan ia menyusulnya. Kereta itu bergerak menuju kota yang cukup lengang, namun beberapa orang sesekali melirik ke arahnya.
"Ini perasaanku atau orang-orang heran dengan keberadaan kita?" tanya Cerlina.
"Kau benar, agak aneh melihat warga memperhatikan gerak-gerik kita. Apa ada sesuatu?" balas Julian. Tiba-tiba telur melayang dari sisi timur dan menghantam jendela.
"Keluar kau!"
"Bangsawan sialan!"
"Kalian hanya membuat kekacauan!"
"Kekacauan? Ada apa ini?" keluh Cerlina. Ia berniat membuka pintu, namun Julian menghentikannya. "Hei."
"Cerlina, mereka sedang marah. Jika kau keluar, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu," ujar Julian.
"Tapi mereka ingin didengar," balas Cerlina sembari mendorong Julian pelan dan keluar dari kereta. Semua orang terkejut melihatnya.
"Nona Pendeta Agung!"
"Astaga, Nona Pendeta Agung! Tolonglah kami!"
"Ada apa?" tanya Cerlina lembut.
"Nona Pendeta Agung, setelah kota ini diserang sawah dan ladang kami mendadak rusak. Air sumur dan sungai mulai mengering. Tolong kami."
"Padahal ini belum masuk musim panas. Baiklah, aku akan mengusahakan sesuatu, tetapi mohon bersabar karena kondisi negara kita masih belum stabil," ujar Cerlina.
"Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sudah banyak mantra dan ramuan yang kami coba, tetapi tidak ada hasilnya," celetuk seorang petani.
"Kalau begini terus kami bisa mati kelaparan."
"Pergilah ke kediaman Zografos dan minta pada pelayanku untuk bahan makanan yang kalian butuhkan sementara waktu ini. Bawa surat ini," ujar Julian sembari turun dan memberikan sepucuk surat kepada salah satu petani. Beberapa orang terlihat lega, namun raut ketidaksukaan masih terpancar pada yang lainnya.
"Ini tidak akan menyelesaikan masalah!"
"Aku tahu, tapi paling tidak menolong kalian dari ancaman kelaparan," balas Julian kalem. Para petani berkasak-kusuk, lalu mengangguk. Setelah mereka pergi, Julian menghela napas.
"Apa ini salah satu perbuatan Vatra?" celetuk Julian.
"Entahlah, aku belum tahu. Sebaiknya kita segera pergi," ujar Cerlina. Mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga sampai di depan penjara. "Dia ada di sini?"
"Bukan, kemarilah," ujar Julian sembari mengajak ke belakang penjara hingga tiba di sebuah gubuk kumuh.
"Yang benar saja?" celetuk Cerlina setengah terkejut. Julian membuka pintu dan menemukan tempat itu kosong melompong dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. "Tidak ada siapa-siapa di sini."
"Ada kok," ujar Julian. Ia mendekati sebuah sofa rusak dan mendorongnya, menemukan sebuah pintu menuju bawah tanah di lantai. "Ketemu."
"Astaga, di sini?"
"Salah satu benih menemukannya," ujarnya sembari membuka pintu itu. Ia menyalakan api di tangannya dan berjalan turun. "Pegangan."
Cerlina menggenggam tangannya dan menuruni tangga yang cukup licin dan lembab. Mereka tiba di sebuah lorong panjang, dengan jeruji besi di kedua sisinya.
"Ngh," erangnya, mencoba untuk bangkit namun tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak. Cerlina pucat pasi dan hanya bisa berdiri mematung. "Cerlina! Bantu aku!"
"A-apa?" cicit Cerlina. Lao memberikan botol ramuannya dan menggenggam tangannya kuat-kuat. "Aduh."
"Aku akan mencoba menghancurkan sihirnya, kau bersiap memberikan ramuannya. Paham?" ujar Julian tegas.
"K-kau serius? Sihirnya bukan sesuatu yang mudah untukmu!"
"Paling tidak aku mencobanya," ujar Julian. Ia melepaskan Cerlina dan menyentuh jerujinya. Sebuah lingkaran sihir yang rumit muncul dihadapannya, membuat Julian terpana. "Sihir ini sudah lama sekali."
Ia mulai menggerakkan kedua tangannya, mencoba memecahkan lingkaran sihir tersebut. Sementara Julian sibuk, Cerlina hanya diam sembari menatap Lao yang terengah-engah. Perlahan aroma daging terbakar tercium, membuat Cerlina tersentak dan berpaling. Julian menatap kedua tangannya yang dipenuhi luka bakar dengan frustrasi.
"Sialan!"
"Julian, kau baik-baik saja?" tanya Cerlina lirih. Julian hanya mengibaskan tangannya dan perlahan lukanya hilang tak berbekas.
"Terlalu sulit. Aku tidak bisa membatalkannya," ujar Julian kesal. Cerlina terdiam sejenak, lalu menarik tongkatnya dari balik lengan bajunya. "Mau apa kau?"
"Mencoba seperti yang kau lakukan," ujar Cerlina sembari mengulurkan tongkatnya. Perlahan lingkaran sihir itu berubah, namun hanya bertahan sebentar. Cerlina tidak pantang menyerah, ia kembali mencoba memecahkannya.
"... kupikir kau ini anaknya lemah hati," celetuk Julian.
"Kau tidak salah, kok," ujar Cerlina setelah terdiam cukup lama. "Mungkin karena efek dipisahkan sejak kecil, aku tidak punya keberanian seperti Saciel. Padahal aku kembarannya, tapi aku terlalu lembek."
"Kau memang kembarannya, tapi bukan berarti kamu jiplakannya Saciel secara karakter. Kalian tetaplah individu yang berbeda," ujar Julian. "Dan kau tidak lembek. Kau benar-benar mirip dengan mendiang Archduchess Marie Arakawa."
"Aku senang mendengarnya," ujar Cerlina. Ia mendadak terpental dan menghantam jeruji besi di belakangnya hingga beberapa tulangnya retak. "Ugh!"
"Cerlina!" sahut Julian. Ia bergegas mengeceknya dan berhati-hati membaringkannya di lantai. "Tulangmu retak?"
"Sepertinya. Tapi aku sudah berhasil memecahkan sedikit lingkaran sihirnya," ujar Cerlina lirih. Julian mengeceknya dan terpana.
"Kau benar. Tapi masih banyak yang perlu dirombak," ujar Julian. "Ah, sial. Ada seseorang yang datang."
Suara langkah kaki yang mendekat mulai terdengar. Julian bersiap menyerang, sementara Cerlina mengulurkan tongkatnya. Keduanya langsung menghela napas lega ketika sosok yang mereka kenal muncul.
"Ciel!"
"Kau mengagetkan saja!" keluh Julian. Saciel yang mendengarnya malah bingung.
"Memang kenapa sih? Ah, kalian sudah menemukan Lao ya?" ujar Saciel. Ia melihat lingkaran sihir dan berpikir sejenak. "Apa kalian mencoba mengutak-atik?"
"Iya. Tapi gagal," celetuk Julian.
"Berhasil sedikit," keluh Cerlina. Saciel kembali fokus pada lingkaran sihir dan menatap Lao.
"Lao, kau bisa mendengarku?" tanya Saciel. Lao hanya mengerang, membuat Saciel berlutut di dekatnya dari balik jeruji besi. "Setelah kubebaskan kau, berjanjilah padaku untuk membawa pulang Vristhi."
"Apa-apaan kau ini? Dia masih di ambang kematian dan kau menyuruhnya..."
"Diam, Julian. Ini urusanku dengan Lao," potong Saciel tegas. Julian tersentak dan berniat menyerang, namun Cerlina menahannya. Setelah suasananya cukup kondusif, Saciel kembali fokus pada Lao. "Dia sudah berkhianat, tapi aku memberikan kesempatan padanya jika dia pulang."
"...aku...mengerti," bisik Lao. Saciel mengangguk dan menghantam lingkaran sihir itu. Api mendadak tersulut dan melahap tangannya, namun Saciel tidak berjengit sedikit pun. Ia kembali menghantamnya hingga hancur berkeping-keping. Lao dan Cerlina menganga melihatnya.
"Bagaimana bisa kau menghancurkan lingkaran sihir itu begitu saja?" tanya Julian heran. Saciel memamerkan tangannya yang terbalut bulu berwarna putih berkilau. "Bulu?"
"Ini dari sayap malaikat, punya Parvati dan Stevan. Kudengar cukup ampuh untuk sihir kuno," ujar Saciel. "Nah, cepat masuk dan obati Lao. Cerlina biar aku yang urus."
"Baiklah," balas Julian. Ia membobol pintu jeruji dan membantu Lao menenggak ramuannya hingga habis.
"Pindahkan dia ke rumahnya dan rawat sampai sembuh."