The Two Empresses

The Two Empresses
Ambush



"Siapa itu?" tanya Istvan tanpa memalingkan wajahnya, namun jarumnya mulai membuat perisai yang siap menancap siapapun yang menyerangnya.


"Aku? Hanya makhluk hidup sama sepertimu, beda ras saja. Bisa kau menyingkir dari situ? Rekan-rekanku perlu lewat."


"Tunjukkan wajahmu, pengecut," gertak Istvan. Yang diminta hanya diam, namun suara langkah kaki mulai terdengar dan muncullah sesosok wanita dari belakang punggung Istvan dengan sisik di sebagian wajahnya. Matanya berwarna kuning menyala dan iris berbentuk belah ketupat, rambut sewarna tanah acak-acakan, taring yang timbul di sisi kiri dan kanan bibirnya. Kedua tangannya dipenuhi bekas luka dan cakar, namun cakar miliknya malah membuatnya makin mengerikan. Istvan berpaling dan sedikit kaget dengan penampilannya.


"Kau dari ras Draco? Apa yang kau inginkan di sini?" tanya Istvan. Wanita itu hanya mengarahkan telunjuknya pada dua orang tua di depannya.


"Mereka."


"Maaf, mereka tawananku. Silakan pergi sebelum aku harus melawanmu," ujar Istvan. Wanita itu tidak bersuara, menelisik pria muda di depannya dengan penuh perhatian. "Kau dengar aku?"


"Begitulah," ujarnya santai. Ia mengerahkan auranya yang berat dan menghancurkan sekitarnya. Istvan mundur sejenak dan menyadari dia melawan ras berbahaya. Ia mengganti semua jarumnya dengan berbagai macam dan ukuran pisau, sementara di tangannya ia menggenggam sebuah pistol berlaras panjang.


"Kau berniat mencari masalah?" tanya Istvan.


"Nak, kau terlalu banyak tanya. Bisakah kau diam dan membiarkannya membawa mereka pergi?" tanya wanita itu sembari menghela napas bosan.


"Jika jawabanku tidak?"


"Siap-siap untuk mati," ujar wanita Draco itu dingin. Ia merubah dirinya menjadi naga dan menghancurkan lorong itu, membuat Istvan mundur dan berteleportasi ke atap istana. Getaran yang kuat dan besar membuat orang-orang panik.


"Apa lagi masalahnya?" keluh Saciel.


"Nona! Ada ras Draco di sini!" sahut seorang kepala keluarga sembari menunjuk ke luar jendela.


"Ras Draco? Ras paling tua setelah flügel?" celetuk Phillip. Dark mengulum senyum tipis dan berdiri di hadapan Saciel sembari menahan dagunya.


"Mari membuat kesepakatan, Sayang."


"Kesepakatan apa yang kau harapkan, pangeran buangan?" tanya Saciel sinis.


"Mulutmu ini manis tapi beracun ya? Cocok untuk menjadi pendampingku," puji Dark. Saciel merinding dan menyingkirkan tangannya dengan halus.


"Aku tidak berniat menjadi pendampingmu, jadi kenapa tidak langsung ke intinya saja?" tolak Saciel. Dark langsung melingkarkan lengannya di pinggang langsing dan memindahkan mereka di ruang tahta.


"Nah, begini lebih baik. Apa kau tahu ceritaku?" tanya Dark sembari duduk di tahta.


"...kau punya waktu 1 jam untuk bicara," ujar Saciel sembari memutar jam pasir di tangannya.


"Baik sekali dirimu. Baiklah, ceritanya sangat~ menarik. Aku yakin kau akan suka," ujar Dark bersemangat.


"50 menit lagi," celetuk Saciel kalem.


"Kau tahu, menjadi pangeran terakhir berarti kau tidak akan mendapat hak untuk menjadi Putra Mahkota, kecuali semua saudaraku mati. Aku sangat berambisi untuk menjadi raja, tapi ayahku menolak dan malah memilih anak haram itu."


"Siapa yang kau maksud?" tanya Saciel heran.


"Kenapa? Bukankah Putra Mahkota terdahulu merupakan anak dari Ratu Alexandria?"


"Hah? Kau bercanda atau terlalu bodoh? Dia itu anak haram, anak seorang selir...bukan, pelayan di istana," jawab Dark dingin. "Oh iya, kau masih terlalu muda untuk tahu hal itu, Sayang."


"Berhentilah memanggilku 'Sayang'. Itu membuatku muak," keluh Saciel sembari memandangi jam pasir. Dark mengulum senyum dan mengangkat wajahnya agar sejajar dengan miliknya.


"Saciel, kau tahu semakin lama kau bersikap dingin padaku, semakin kuat rasa ingin menyiksamu saat ini," ujarnya kalem, namun sorot mata dingin itu membuat Saciel merinding. Ia mencoba menenangkan diri dan menatap matanya.


"Apa kau yang meracuni seluruh keluarga kerajaan?" tanya Saciel.


"Benar, Sayang. Tapi jika hanya aku yang selamat, kalian pasti mencurigaiku. Jadi aku membubuhkan racun ke semua makanan dan aku juga ikut serta menyantapnya," jawab Dark tenang. "Yah, beruntung aku meminum penawarnya sebelum menyantap racunnya, jadi aku bisa memalsukan kematianku dan menukar peti mati itu dengan orang lain."


"Kau psikopat," hina Saciel. Dark menyunggingkan seringai lebar dan menampar gadis itu hingga tersungkur di hadapannya.


"Astaga, apa aku terlalu keras padamu?" tanyanya manis. Saciel hanya menatapnya garang, membuat gairah Dark makin meningkat. "Kau membuatku ingin melakukan lebih dari ini."


"Mimpi saja kau," balasnya sembari melempar jarum ke arahnya, namun berhasil ditangkap. Ia mencampakkan jarum itu dan menjambaknya. "Lepaskan!"


"Sayang, kau akan menjadi ratuku. Atau...kau ingin adikmu yang menggantikan?" bisiknya. Saciel tersentak, amarahnya memuncak. Ia menampar pria itu dan kebencian berkilat di matanya. "Bagus! Lakukan lagi, Sayang!"


"Mati kau!" gertak Saciel sembari menendang, namun berhasil dielaknya. Ia mundur beberapa langkah dan melepas capenya, sekaligus sanggul yang sudah dirusak oleh Dark.


"Tunjukkan semua amarahmu padaku, Sayang! Kau layak menjadi milikku!" sahut Dark sembari melepas bajunya dan memamerkan otot-otot yang besar dan kekar. "Kurasa kau cocok melahirkan keturunanku."


"Aku tidak berniat mewariskan kegilaanmu pada anak-anakku kelak," balas Saciel sembari menodongkan pedangnya.


"Akan kubuat kau mewariskannya dengan cepat," ujar Dark sembari maju menerjang. Saciel segera berkelit dan berusaha menebasnya, namun Dark lebih cepat menghindar dan menendang pedang itu hingga menancap di langit-langit. "Tunjukkan padaku semuanya, Sayang!"


"Sinting," maki Saciel. Ia menjentikkan jemarinya dan membakar Dark, namun dengan cepat padam. "Apa?"


"Hanya itu saja kemampuanmu?" tanya Dark bosan. Saciel diam sejenak, lalu memanggil ratusan pedang yang siap diluncurkan kapanpun.


"Oh, menarik," gumam Dark. Gadis itu melepaskan tembakan, namun Dark mampu menghindari semua dan melempar beberapa pedang ke arahnya hingga menggores wajahnya. "Cantik sekali."


"Sialan," maki Saciel.


"Sayang, ini perasaanku atau...kau melemah?" tanya Dark dengan seringai di wajahnya. Saciel terdiam, tidak bisa berkata-kata karena apa yang diucapkannya adalah kebenaran. "Astaga, kasihan sekali dirimu."


"Tidak perlu mengasihaniku. Lagipula itu bukanlah hal yang luar biasa," jawab Saciel. Ia menjentikkan jemarinya dan rantai mulai mengikat Dark. "Aku lemah, sombong dan arogan. Jadi wajar sih kalau aku lebih sering terluka."


Ia melompat ke langit-langit dan menarik pedangnya, lalu melemparnya hingga menambah luka di pipi Dark. Cairan darah perlahan mengalir, membuat Dark sedikit kaget.


"Wah wah, kau galak sekali. Tapi dengan begini pertarungan akan lebih menyenangkan," ujar Dark. Saciel mengulum senyum, lalu mengeratkan cengkeraman rantai sihirnya hingga membuat Dark kesulitan bernapas.


"Cukup sampai di situ, Nona," ujar seseorang di belakangnya. Saciel terkejut dan berbalik, mendapati seorang pria yang menodongkan pistol. "Lepaskan dia."