
"Ada apa?" tanya Cerlina saat melihat Daniel turun kembali dengan murka.
"Ada orang sinting yang berani mengacak-acak wilayahku," ujar Daniel ketus. "Sialnya api hitam menyelimuti hutan."
"Api hitam katamu? Bawa aku ke sana!" pinta Cerlina. "Itu bukan api hitam biasa."
"...cepat, waktu kita tidak banyak," balas Daniel sembari berlari secepat yang ia bisa, namun Cerlina menggenggam tangannya dan memindahkan mereka secepat kilat di depan rumah Daniel. Para minotaur yang berkumpul berusaha keras memadamkan api, namun tak ada hasilnya.
"Dewa Oorun, berikan aku kekuatan," gumam Cerlina sembari mengangkat tongkatnya setinggi mungkin. Cahaya lembut perlahan menyinari seluruh area hutan dan memadamkan api hitam dengan cepat.
"Lho, ngapain ada penyihir di sini?" sahut seseorang sembari melompat turun dengan tudung menutupi seluruh wajahnya. "...huh?"
"Siapa kau?" tanya Daniel sembari mengeluarkan kapak biasa dari sarungnya.
"Hm, repot nih," keluhnya tanpa mempedulikan pertanyaan Daniel, matanya terpaku pada Cerlina yang memasang ekspresi datar.
"Hei, kau tuli?" tanya Daniel lagi.
"Nggak, hanya tidak ada kepentingan denganmu saja," jawabnya sembari menjentikkan jarinya dan membuat Daniel terpental jauh. "Nah, sekarang apa yang harus kulakukan dengan penyihir ini?"
"Kau pasukan Vatra?" tanya Cerlina.
"Bingo! Ternyata kau pintar juga, walau harus kuakui kau lemah," balasnya riang.
"Bukankah semakin lemah lawannya, semakin mudah untukmu membunuh?" tanya Cerlina dengan senyum tipis yang terlihat sinis. "Ah, kau bisa melepas tudungnya, elf."
"...wah, ketahuan ternyata," ujarnya sembari menyampirkan tudungnya dan memamerkan telinga panjang khas elf.
"Melacak mana adalah kemampuanku," ujar Cerlina. "Nah, bisakah kau pergi dan berhenti merusak wilayah di sini?"
"Aku bisa dibunuh Tuan Vatra kalau pergi begitu saja. Paling tidak menghancurkan wilayah ini cukup," balas elf itu.
"Kalau begitu akulah lawanmu," ujar Cerlina sembari mengangkat tongkatnya dan membuat perisai yang melingkupi seluruh wilayah minotaur.
"Kau membuat ini agar aku tidak kabur?"
"Nggak, hanya memastikan tidak ada yang mengacau dari luar," balas Cerlina. Elf itu tertawa keras dan langsung menerjang dengan pisau di tangan, berhasil melukai lengan atas Cerlina cukup dalam.
"Huh, kukira kau sama dengan kembaranmu, ternyata levelnya jauh sekali," cibir elf itu. Cerlina hanya diam memandangi darah yang mengalir dengan tenang, lalu berpaling pada elf tersebut.
"Memang kau pernah melawan kakakku?" tanya Cerlina.
"Belum sih, hanya melihatnya dari jauh saja. Tapi kurasa seru juga kalau bisa melawannya," jawab si elf. Cerlina terkikik, membuat elf itu merasa diremehkan. "Apa maksudmu tertawa seperti itu?"
"Oh, maafkan aku. Habis, melihat levelmu ini kurasa kakakku tidak akan mau menjadikanmu lawannya. Kau terlalu lemah," sindir Cerlina.
"Lemah katamu? Jangan bercanda denganku, sialan!" maki elf itu sembari menyerang dengan cepat dan brutal. Cerlina bergegas mundur dan menghindari semua serangan, meski beberapa berhasil mengenai tubuhnya hingga pakaiannya koyak.
"Sini kau, bocah kurang ajar! Pendeta muda yang hanya menjual diri tidak pantas mengejekku!" maki elf itu.
"Sejak kapan aku jual diri? Kasarnya," keluh Cerlina sembari mengaburkan pandangan elf itu dengan bunga salju.
"Kh! Mataku!"
"Perih?" tanya Cerlina sembari mencipratkan air dari gentong di dekatnya. Tubuh elf itu basah, namun tidak menyurutkan emosi elf itu untuk menyerang.
"Kubunuh kau!"
"Huf, huf. Bocah ini, kau belum pernah terluka kan? Akan kubuat kau berdarah-darah sampai ajal menjemput," ancam elf dengan tatapan mematikan, meski matanya merah akibat bunga es yang dilempar Cerlina.
"Nggak mau!" sahut Cerlina sembari mengetuk tanah dengan ujung tongkat dan ratusan pisau dari es muncul dari tanah, mencoba menusuk si elf. Namun reaksi elf itu lebih cepat dari serangan Cerlina, sehingga ia berhasil kabur dan berdiri di atas dahan pohon terdekat.
"Es? Jadi kau ini tipe penyihir es?" tanya si elf.
"Mungkin. Aku baru pertama kali menggunakan sihir ini," balas Cerlina santai. Ia melempar tongkatnya dan mengubah tongkat itu menjadi panah perak berkilau dengan bunga es menyelimuti rangkanya.
"Heh, sialan. Ternyata kau pintar bermain drama hah?" sindir elf.
"Hmm mungkin?" balas Cerlina ragu. Daniel bergegas maju dan menyerang elf dari belakang, namun instingnya menyelamatkan dan ia berhasil mengelak sebelum kapaknya memotong leher. Ia menendang Daniel lagi dan turun dengan urat mengisi lehernya.
"Keparat! Kalian benar-benar mencari mati, hah!?" maki elf.
"Kan yang mulai kau duluan, kenapa marah?" tanya Cerlina sembari memiringkan kepalanya. Elf tersebut makin kesal dan memanggil roh peri dalam jumlah yang tidak sedikit, ada sekitar 100 peri berkumpul di situ dengan berbagai jenis.
"Serang dia!" ujarnya sembari menunjuk Daniel dan Cerlina. Para roh itu menyerang dengan beragam kemampuan, mulai dari mengendalikan tanaman, menghembuskan napas api, membuat angin topan dan bahkan mengendalikan hewan sekitar. Sebelum Cerlina menembakkan anak panah, Daniel sudah berdiri di depannya dan mengayunkan kapaknya dengan kekuatan penuh hingga para roh itu tersapu oleh angin yang dibuatnya.
"Wow," celetuk Cerlina kagum.
"Ini masih belum selesai, bocah. Cepat lakukan sesuatu," ujar Daniel sembari menahan serangan para hewan yang berhasil lolos. Cerlina terkesiap dan langsung menarik busurnya, melepaskan tembakan mengarah elf. Sebelum elf itu mementalkan serangannya, panah itu meledak dan ratusan es tajam melukai elf itu.
"Ugh!"
"Hei, belakang!" sahut Daniel. Cerlina berbalik dan terpental jauh akibat tendangan seseorang dari belakang.
"Anak kesayangan Ayah memang berbeda ya? Ah, irinya," celetuknya sembari menarik tudung itu dan memamerkan wajahnya yang datar.
"Tuan Vatra!" sahut si elf.
"Sial, kenapa dia...ada di sini, uhuk!" gumam Cerlina disela batuknya. Vatra melirik ke arah Cerlina dengan tatapan dingin.
"Ah, kebetulan aku mau mengecek hasil pekerjaan anak buahku, ternyata ada serangga yang bernyali mengacaukan," jawab Vatra.
'Gila, jaraknya padahal jauh, kok dia bisa mendengar suara...'
"Kau lupa aku setengah dewa?" potong Vatra sembari menyeringai. Daniel terkejut mendengarnya.
"Setengah dewa? Kau bercanda?"
"Tidak," jawab Vatra sembari meledakkan Daniel hanya dengan meremas tangannya. Darah langsung bercipratan, bahkan mengenai elf.
"Oh tidak," bisik Cerlina sembari menahan air mata di pelupuk mata. "Oh tidak, tidak!"
Vatra langsung berteleportasi tepat di depan Cerlina dan menariknya dengan kasar, memamerkan tangannya yang berlumuran darah.
"Kau masih jauh untuk bisa mengalahkanku, bocah. Wah, wah, kau takut?" sindir Vatra. Cerlina merinding, tubuhnya gemetar dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Heh, tidak buruk melihatmu seperti ini. Kalau Ayah kuberikan kepalamu, reaksinya bagaimana ya?" celetuk Vatra sembari menarik keluar pedang dari balik sarung dan mengarahkan ujungnya tepat di leher Cerlina. "Ada kata-kata terakhir, bocah?"
"Kh!"
"Kalau begitu, sampai jumpa di neraka, anak kesayangan Ayah," ujarnya sembari mengayunkan pedang.