The Two Empresses

The Two Empresses
Bantuan



"Siapa lagi kau? Dan lagi, kau bukan ras penyihir," tanya Saciel kesal. Pria itu masih di posisi dengan senyum sinis.


"Memang aku bukan ras penyihir. Penasaran?" tanya pria itu. Saciel hanya menggelengkan kepala dan melelehkan pistol itu "Ah?"


"Pistol biasa?" sindir Saciel. Ia langsung memasukkan pria itu ke dalam kandang dan fokus lagi pada Dark. "Sampai di mana aku tadi?"


"Kh, sampai kau ingin membunuhku," ujar Dark tersengal. Saciel melonggarkan cengkeraman rantai itu dan menjambak Dark sekuat mungkin.


"Pengkhianat harus mati, bukan?" ujar Saciel dingin. Dark tertawa dan menariknya ke dalam lumpur. "Ah!"


"Ikutlah denganku, Sayang," ujarnya. Saciel hendak kabur, namun dengan cepat pria misterius itu melontarkan jarum beracun padanya, membuat gadis itu tidak bisa berkutik dan hilang dari pandangan.


...----------------...


"Draco sialan, mereka sulit sekali untuk dibunuh," keluh Istvan sembari terus menyerang naga di depannya.


"Heh, percuma saja kau melawanku, bocah!" sindir wanita Draco itu. Tiba-tiba sebuah perisai besar melingkupi dia dan berbagai macam tombak siap dilemparkan.


"Ah? Siapa?" celetuk Istvan. Ia mencari-cari dan mendapati Cerlina tengah berdiri di depan gerbang dengan mengangkat tongkatnya. "Nona Pendeta Agung?"


"Halo. Aku akan membantumu, jadi bersiaplah menyerang kembali," ujar Cerlina dengan senyum terpatri di wajahnya. Wanita Draco itu segera menyabetkan ekornya ke perisai, namun yang terjadi malah sebaliknya. Ekornya terbakar hingga aroma daging panggang menyebar ke seluruh istana.


"Sialan, ternyata penyihir ini juga sama merepotkannya," keluh wanita Draco. Ia kembali ke wujud manusianya dan mengulum senyum palsu. "Kupikir kau hanya orang lemah."


"Aku memang lemah kok, tapi tidak selemah dirimu," sindir Cerlina, masih dengan senyum terpatri di wajahnya. Istvan segera menyiapkan ratusan pedang dan melemparkannya ke arah wanita Draco itu. Beberapa pedang berhasil menancap di tubuhnya, namun sisanya mental.


"Kulitnya keras sekali," keluh Istvan.


"Tidak apa-apa, paling tidak ada beberapa yang berhasil," hibur Cerlina. Ia menembakkan tombaknya, namun wanita Draco itu meraung dan memblok semua tombaknya. "Aduh, susah sekali."


"Dasar lemah," sindir wanita Draco.


"Kasarnya," keluh Cerlina. Istvan turun mendekati Cerlina dan memberi hormat.


"Yang Mulia, sebaiknya Anda tidak ikut bertarung," ujar Istvan.


"Tapi kau terlihat kesulitan, dan kau juga masih muda," balas Cerlina. Istvan hanya mengulum senyum, namun di hatinya ia memaki gadis itu. "Hmm, apa yang seharusnya kita lakukan?"


"Bagaimana jika aku menghancurkanmu?" tanya wanita Draco sembari menghancurkan pelindung dengan kepalan tangannya yang terbakar. "Hah, tidak buruk."


"Wah, hebat sekali," puji Cerlina.


"Ini bukan waktunya untuk pujian, Yang Mulia. Musuh kita itu bukan lawan yang mudah," keluh Istvan sembari berdiri di depan Cerlina. "Lawanmu itu aku."


"Tentu saja, bocah. Wanita di belakangmu itu tidak berguna," jawab wanita Draco kalem. Cerlina hanya diam, namun tangannya meremas tongkat cukup erat. Istvan kembali memasang kuda-kuda dan bersiap menyerang, namun kecepatan sang wanita Draco mengejutkan dirinya. "Mun..."


Sebelum kata-katanya selesai, wanita Draco itu melayangkan tendangan kuat hingga ia terpental jauh ke luar wilayah istana, membuat Cerlina terkejut hingga tak bisa bergerak.


"Hm, selanjutnya kamu sasaranku," ujarnya sembari melirik ke arah Cerlina. "Tapi katanya tidak boleh melukainya. Menyusahkan saja."


"Kenapa kau mengikuti Dark?" tanya Cerlina. Wanita Draco itu terdiam sejenak.


"Orang lain? Jadi Dark..."


"Dia hanya bawahannya," potong wanita Draco. "Nah, matilah," lanjutnya sembari mengayunkan cakarnya, namun seseorang menariknya dan membantingnya dengan keras. "Kh!"


"Ah. N... Nero?" celetuk Cerlina, terkejut melihat sosok familiar berdiri di depannya dengan seringai menakutkan. Ia berbalik dan menatapnya dengan tatapan khawatir.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas. Cerlina mengangguk, suaranya tenggelam akibat rasa lega dan senang. Nero mengelus kepalanya dan menggenggam jemari halus miliknya. "Kupikir aku kehilangan dirimu."


"Tidak, aku baik-baik saja. Tapi...bagaimana kau bisa sampai ke sini?" tanya Cerlina.


"Itu rahasia. Tunggulah di sini, biar kuhabisi Draco itu," ujarnya sembari mengecup tangannya, membuat Cerlina terkejut dan wajahnya merah padam. Nero mengulum senyum manis dan berbalik menghadap wanita Draco dengan tatapan dingin. "Kau bosan hidup hah?"


"Mau apa ras demi human ada di sini?" tanya wanita Draco sembari bangkit dengan kebencian yang memantul di kedua bola matanya. Nero hanya diam dan mengeluarkan sebuah cambuk dengan shuriken besar di ujungnya.


"Beraninya kau mencoba menyakiti wanitaku. Akan kubuat kau merasakan neraka," ancam Nero.


"Hah! 'Wanitaku' katamu? Kalian tidak ditakdirkan bersama. Kenapa? Karena kalian itu musuh sejak lama," sindir wanita Draco. Nero hanya menghela napas dan mengayunkan cambuknya hingga merobek kaki wanita Draco itu. "Kh!"


"Musuh? Mungkin saja kata itu akan berubah dalam waktu dekat," ujar Nero kalem. Ia kembali melepaskan cambukan dan memutuskan salah satu lengannya.


"Argh! Sialan!" maki si wanita Draco. Ia segera mundur dan berubah menjadi naga dan melepaskan napas apinya, namun Nero dengan cepat memanggil Undine dan membuat perisai air yang besar.


"Kalau lawannya naga, berarti aku harus panggil naga dong? Keluarlah, Komodo Dragon."


Seekor naga berwarna cokelat gelap dengan sisik mirip ular muncul dari lingkaran sihir. Ia tidak bersayap, namun tulang punggungnya dipenuhi duri tajam dan cakarnya ramping untuk ukuran naga besar. Sepasang mata hitam gelap tanpa iris membuatnya makin menakutkan. Tubuhnya lebih panjang dan ramping, membuat si Draco terkejut.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan naga ini?!" raungnya. Nero hanya angkat bahu, lalu memberi isyarat padanya untuk menyerang. Naga itu bergerak cepat dan mencakarnya, berusaha menggigit kakinya namun berhasil dihalangi oleh Draco. Nero bergegas menggendong Cerlina dan membawanya ke tempat aman di menara istana.


"Ah?"


"Kau di sini saja, oke? Aku akan kembali," ujar Nero sembari mengelus pipinya dengan lembut. Cerlina hanya mengangguk dan menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah layaknya kepiting rebus. Nero segera melompat ke atap istana dan menonton pertarungan monster di halaman istana dengan tatapan bosan. "Ah, tahu begini aku bersama dia saja."


"Hei! Ternyata itu ulahmu?" tanya Phillip sembari berdiri di sampingnya dengan Istvan yang tak sadarkan diri. "Bagaimana bisa kau kemari?"


"Hellhound gadismu mendatangiku dan bilang kalau tuannya dalam masalah, jadinya aku datang dengan jalur pemanggilan."


"Hah? Memang bisa?" tanya Phillip ragu. "Bukannya kau perlu seseorang untuk memanggilmu?"


"Tidak juga. Aku bisa berteleportasi dengan cara itu, asal aku pernah melakukan kontak dengan tamer lain," ujar Nero.


"Jadi kau ke sini...sendirian?"


"Begitulah. Max dan Kezia sibuk dengan urusannya, jadinya aku yang pergi. Nanti kalau mereka tahu aku hilang, pasti akan datang kok. Tuh bocah mau kau apakan?" tanyanya sambil menunjuk Istvan.


"Mau kubawa pulang nanti. Apa kau lihat Saciel?" balas Phillip. Nero hanya menggelengkan kepala, membuat Phillip berdecih dan berniat untuk pergi.


"Oi, sebaiknya kau bantu aku mengurus musuh dulu," ujarnya sembari menunjuk beberapa orang bersenjata menyerang.